“Mbak Kiana jadinya mau makan siang pakai Sore - Malam atau Sushi Yukiza?” tanya Sarah. Kiana yang sedang terpekur di depan meja makan hanya menggeleng pelan. Selera makannya lenyap dan Kiana tak tahu harus mengembalikannya dengan cara apa. Dua bubble pesan dari Ruben lime menit yang lalu terasa mengguncang hatinya. Dia terpukul mengetahui bahwa pria itu telah menikah dan memiliki istri. Ah. Jika boleh jujur, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kiana berharap jika Ruben belum memiliki tambatan hati, apalagi istri. Namun, sayang seribu sayang dia harus menelan pil pahit bahwa Ruben sekarang sudah menjadi milik orang lain, dan Kiana tak boleh merebutnya apa pun yang terjadi. “Mbak Kiana enggak apa-apa? Kok mukanya agak pucet, ya.” Sarah mendekati Kiana dan menempelkan punggung tanga

