“Kamu udah makan?” tanya Galaksi seraya menaruh semua barang belanjaannya di atas laci. Pemuda itu duduk di kursi samping ranjang pasien kemudian mengusap rambut Damara dengan hati-hati. “Udah makan roti tadi bareng Sita,” jawab Damara. Galaksi hanya tersenyum kemudian mangut-mangut mengerti. Sita yang duduk di sofa pojok ruangan hanya bisa lirik-lirik sekilas kemudian berdeham pelan. Ingatan tentang kejadian tadi, di mana Damara dan Galaksi berciuman di atas ranjang pasien masih berputar di otak kotornya. Saat ini, Sita hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan Galaksi dan Damara yang lebay macam remaja baru mengenal cinta. Lain hal-nya dengan Damara yang merasa tidak enak hati akan keberadaan Sita, Galaksi justru bersikap santai dan cuek, padahal di belakang sana ada Sita yang sudah me

