“Cowok barusan siapa, Ra? Cakep banget!”
Cakep apanya? Gerutuku dalam hati. Memang sih, visual Galaksi sangat menawan dan nyaris sempurna di mata gadis mana pun, tapi aku sudah terlanjur jengkel. Coba saja kalau mulutnya sedikit manis dan tidak asal nyeletuk? Mungkin aku sudah menjadi penggemar rahasianya.
“Lo denger gue nggak, sih?” Sita mengetuk mejaku beberapa kali.
“Iya gue denger.”
“Tadi temen lo?”
Teman bukan, sih? Pertemuanku dengan Galaksi hanya terjadi sebanyak tiga kali. Pertama, saat ia membeli rokok dan dompetnya tertinggal. Kedua, saat kami bertengkar di bengkel. Dan pertemuan terakhir terjadi tadi saat ia mengejekku habis-habisan sekaligus pamer bahwa dirinya hendak membeli rumah.
Cih. Sebagus apa, sih rumah yang akan dibelinya itu?
“Lo banyak ngelamun. Lagi banyak masalah, ya?”
Aku menggeleng pelan. Sebenarnya apa yang tengah kupikirkan? “Nggak. Dia bukan temen gue.”
“Kok kalian kayak deket banget?
“Dia aja yang SKSD!”
“Dih. Munafik, lo. Cowok ganteng gitu mana ada SKSD sama lo!”
Lah, emang kenyataannya seperti itu? Kenapa malah Sita yang ribet?
Setelah menghitung tumpukan uang dari dalam laci, aku membersihkan meja kerjaku dan bersiap untuk pulang. Getar ponsel menggema dari dalam tas selempang yang kutaruh di pinggir keranjang. Aku membukanya dan sedikit mencebik bibir saat melihat nama Damar tertera di layar. Oh iya, bukannya sekarang tanggal satu? Aku yakin maksud dan tujuan Damar menelponku hanya untuk meminta uang. Maka kutaruh kembali ponselku ke dalam tas dan membiarkan Damar memanggilku beberapa kali.
Ini anak kenapa tumben sekali menelponku hingga puluhan kali? Pentingkah? Ah tidak, aku takut dipalak. Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Damar. Meskipun Damar begitu menyebalkan, namun ia tetap kakakku satu-satunya, seseorang yang kumiliki setelah kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu.
Panggilan terputus, beberapa menit kemudian Damar mengirimiku pesan lewat w******p. Aku membukanya lalu mengernyitkan dahi tak mengerti. Damar mengirimiku alamat, juga sebuah foto bukti transfer.
Gilak. Ia mengirimiku uang sebanyak lima puluh juta? Dari mana Damar memiliki uang sebanyak itu?
Kubalas pesannya dengan cepat. Kuterka, ia pasti menang judi, tidak salah lagi.
Damara : Lo dapet duit dari mana?
Tak berselang lama, Damar membalasku.
Damar : Udah lo dateng ke alamat itu. Gue mau ngomong.
***
"DIJUAL? LO NGOTAK NGGAK, SIH?!"
Damar terdiam, bahkan ia tak sanggup menatap kembali mataku. Bisa-bisanya Damar menjual rumah peninggalan orangtuaku—orangtua kami—dan menggantinya dengan rumah butut semacam ini? Bahkan dia tidak membicarakannya dulu denganku. Haish. Benar-benar gila. Saat ini aku ingin membunuhnya.
"NGOMONG LO!"
"Gue banyak hutang, Ra."
"YA URUSAN LO! LO YANG HOBI JUDI NGAPAIN GUE KEBAWA-BAWA? LO NGGAK ADA HAK BUAT JUAL RUMAH GUE KE SIAPA PUN!"
"Eh! Lo pikir gue anak pungut? Gue ada hak juga dong, terhadap rumah itu!"
"YA LO NGOMONG DULU, KEK!”
“Percuma ngomong, lo nggak bakal setuju!”
Rasanya sangat menjengkelkan. Aku mendesis kesal. Kalau bisa, aku ingin mendorong Damar ke arena Squid Game. Bukankah itu lebih bermanfaat?
"Lo jual berapa rumah gue?"
"Satu Milyar."
"Murah banget lagi!" Aku mendesis. Air mata menggenang di pelupuk. Sangat menyedihkan mengetahui rumah penuh kenangan itu telah jadi milik orang lain. "Lo nggak mikirin gue, ya?" ucapku dengan suara bergetar. Damar memandangku dengan wajah penuh penyesalan, lantas merentangkan tangannya untuk memelukku.
"Gue terpaksa, Ra. Sorry!”
"Berapa hutang lo?" tanyaku seraya melepas rangkulannya. Aku tak butuh dipeluk oleh laki-laki menyebalkan semacam dia.
"Enam, Ra."
"Enam juta? Kenapa nggak ngomong sama gue? Gue bisa nyari pinjaman kalau cuma segitu."
"Enam ratus juta.”
"APA?!"
***
Kuseret koper menjauhi pekarangan rumah. Air mata terus mengalir membasahi pipi. Aku tak ingin tinggal bersama Damar lagi. Rasanya tak sudi melihat wajah seseorang yang telah menghilangkan rumahku, rumah yang penuh kenangan. Di sana aku dibesarkan oleh kedua orangtuaku. Mereka merawatku dengan penuh kasih. Apakah Damar tak mengingat itu sebagai sebuah kenangan manis? Kenapa ia tega sekali melenyapkan satu-satunya peninggalan orangtua kami untuk membayar utangnya?
Sebenarnya sisa uang di tangan Damar ada sekitar empat ratus sepuluh juta. Karena utang yang ia miliki berjumlah lima ratus sembilan puluh juta. Sisanya Damar gunakan untuk membayar rumah butut yang kini ditinggalinya. Kalau tidak salah, harga rumah itu sekitar dua ratus lima puluh juta. Kecil, kumuh, dan jelek. Lalu ia mengirimiku sebesar lima puluh juta. Itu berarti uang yang ia punya saat ini sekitar seratus sepuluh juta?
Wah. Kenapa Damar memakai uangnya sendirian? Sialan sekali.
Aku gemas setengah mati saat Damar mengatakan bahwa ia meminjam uang ke rentenir untuk membayar sebagian utangnya. Utang itu terus berbunga sampai beberapa kali ia didatangi preman dan dipukul habis-habisan. Hingga Damar tak memiliki opsi lain lagi. Menjual rumah merupakan titik final dalam pemecahan masalahnya. Damar melakukannya atas kehendak sendiri, tanpa berunding terlebih dahulu denganku.
Langkahku berangsur memelan menyusuri trotoar jalanan. Aku merogoh tas selempang dan mengambil ponselku dari sana. Sumpah, kali ini aku tak mau kalah. Sebuah pesan kukirimkan pada Damar.
Damara : Lo utang 450 juta ke gue. Duit dari rumah itu harus dibagi dua! Gue nggak mau tahu.
Enak saja ia mau memakan uangnya seorang diri. Aku juga punya hak atas rumah itu. Tak berapa lama ponselku berdering.
Damar : Sisanya aja kita bagi dua. Ntar gue kirim 30 juta lagi, ya. Sisanya mau gue beliin perabotan.
Damara : Urusan lo. Gue nggak mau tahu.
Tak ada balasan. Kuyakin Damar hanya menganggap ucapanku sebagai omong kosong belaka. Kurang ajar memang. Sebenarnya siapa yang membeli rumahku? Kenapa orang itu membayar dengan harga murah.
Uang ludes, rumah pun tak punya. Sekarang aku hanya seorang gelandangan!
Kubawa tubuhku terduduk di sebuah kursi di bawah pohon mahoni, lantas berteduh sejenak dari panasnya udara kota. Kutundukan kepala sekadar meratap diri. Mama, sekarang hidupku benar-benar kacau. Aku terisak, teringat ibuku yang bersusah payah memberikan segala hal terbaik selama hidupnya. Kini seorang Damar mengacaukan semuanya.
Lantas harus ke mana aku pergi? Uang lima puluh juta di rekening tak mungkin kuhamburkan untuk menyewa hotel, kan? Mencari kamar kost? Tidak sekarang. Tubuhku benar-benar lelah.
Kuhubungi Andra berkali-kali. Bahkan aku mengiriminya pulsa terlebih dahulu lewat aplikasi belanja online. Barulah ia mengangkat panggilanku pada dering ke tiga.
“Kenapa, Sayang? Terimakasih ya, pulsanya. Padahal nggak usah repot-repot!"
Hilih. Munafik!
"Bisa jemput aku, nggak?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
"Ke mana? Share-loc aja."
Seperti yang ia perintahkan, aku share lokasiku saat ini lewat aplikasi w******p. Ia memintaku untuk menunggunya. Andra berjanji untuk datang padaku dalam tiga puluh menit.
Empat puluh lima menit berlalu, Andra baru menampakan batang hidungnya. Ia menaikan sebelah alisnya saat melihat barang bawaanku. Tentu saja ia kaget karena aku tak memberitahunya mengenai permasalahan yang terjadi antara aku dan Damar, pun mengenai rumahku yang kini sudah terjual.
"Kamu kenapa?" tanya Andra seraya melepas helm-nya. Ia berkaca di spion motor kemudian menyugar rambutnya ke belakang. Kalau dilihat-lihat, sekarang ia semakin tampan.
"Aku butuh tempat tinggal."
"Lho?"
"Aku bisa kan, tinggal di tempat kamu sementara waktu?"
Andra terdiam beberapa waktu. Ia menggaruk kepalanya, terlihat bingung. "Kamu tahu, kan, kost-an aku kecil?"
"Cuma beberapa malam aja, Ndra."
Sekali lagi Andra terdiam saat aku memandangnya dengan ekspresi memohon. Mudah-mudahan Andra bisa memberiku sedikit bantuannya. "Ya udah, deh. Naik."
Ah, syukurlah.
Koper pink milikku ditaruh di bagian depan. Selagi menungguku mengenakan helm, Andra memandangku dengan raut penasarannya. Sebisa mungkin kuhindari kontak mata dengannya. Aku tak siap bercerita pada siapa pun mengenai masalah ini, terlebih Andra. Apa jadinya kalau Andra tahu bahwa rumahku dijual? Ia pasti akan mengira bahwa aku memiliki banyak uang. Walau pun Andra tidak meminta, tapi ia selalu memberiku kode. Dan kalau aku berpura-pura tak peka, dia tak akan mengabariku selama berhari-hari.
Bersambung...
Oke. Ini Bab 3. Aku harus nunggu kontrak selesai baru lanjut. Buat yang suka cerita ini, please komen di bawah, yaa