Seumur-umur berpacaran dengan Andra, baru kali ini aku mendatangi kamar kost-nya. Berulang kali Andra mengatakan bahwa kamar kost miliknya cukup kecil dan sumpek, sehingga alasan itu selalu dia gunakan agar aku tidak datang ke tempatnya.
“Kecil apanya? Ini lumayan, Ndra.”
Andra menyeret koper ke sudut ruangan tanpa menjawabku. Ia melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu. “Kalau mau mandi, kamar mandinya di belakang.” Andra berkata tanpa menghiraukan ucapanku barusan. Aku ingin protes, tapi hal kecil kayak gini memang biasa terjadi padaku.
“Aku lapar. Dari tadi belum makan.” Aku duduk di sofa kecil dekat televisi seraya mencebik bibir manja. Kuharap Andra akan membelikanku makanan atau mungkin mengajakku makan di luar.
Nyatanya ...
"Ada mie instan di dapur. Aku nggak punya uang buat beliin kamu makanan."
Selalu nggak punya uang. Dasar parasit.
"Aku ada uang. Kalau kamu mau, aku bisa sekalian mentraktirmu." Sebenarnya kalimat yang keluar dari mulutku barusan merupakan sebuah sindiran kecil.
Seketika Andra mengalihkan atensinya dari layar ponsel. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. “Mau aku masakin? Kayaknya kamu lagi ada masalah. Mau cerita, nggak?"
Woah. Reaksinya di luar dugaan.
"Aku ... hanya sedikit beradu mulut sama Damar, tapi bukan masalah serius, kok."
Kulihat Andra menaikan sebelah alisnya. Ia berjalan mendekat, duduk di sampingku lalu mengusap punggungku dengan sayang. "Beneran?" tanyanya.
"He-eh."
Selebihnya Andra hanya mangut-mangut sok mengerti. Ia beranjak dari kasur menuju dapur untuk membuatkanku makan malam. Omong-omong, ini sudah jam tujuh malam.
Andra kembali dengan semangkuk mie instan di atas nampan, lantas menaruhnya di meja. Aku memandangnya seraya tersenyum. Sedikit behagia saat mengetahui bahwa kekasihku bisa bersikap manis.
Walaupun agak aneh, tapi itulah yang terjadi sesungguhnya, bahwa Andra begitu cuek dan polos-polos biadab selama berpacaran denganku. Bahkan kami jarang berkencan, pernah sesekali, itu pun bisa dihitung jari. Di sepanjang setahun perjalanan kisah cinta kami, selalu aku yang keluar modal. Andra menggunakan kekuatan visualnya untuk menarik diriku ke dalam jerat pesonanya. Beberapa kali aku ingin mengakhiri kisah cinta tidak sehat ini, sialnya mulutku selalu terkunci rapat sesaat sebelum berkata-kata.
Ah, benar-benar sial.
“Aku mandi dulu, ya. Dari pagi aku belum mandi," kata Andra.
Lantas seharian penuh ngapain aja?
Kusimpan pertanyaan itu di dalam hati. Menganggukan kepala, memandang Andra yang melenggang memasuki kamar mandi. Ponselnya ia taruh sembarangan di atas meja. Ingin sekali aku membuka ponsel itu hingga mengetahui seluruh isinya. Sial, ia menguncinya menggunakan sensor sidik jari.
Bodohnya, ia tidak menonaktifkan notifikasi layar kunci sehingga sesiapapun yang mengirimkan pesan padanya dapat k****a tanpa repot-repot membuka.
Hendrik
Besok bisa, kan? Cewek lo suruh pulang besok deh, biar kita bisa ngumpul di kostan lo.
Membacanya cukup membuatku sakit hati. Setelah layar ponsel kembali redup, kuputuskan untuk melahap mie instanku hingga rampung tanpa sisa. Apa kedatanganku membawa beban untuknya? Haruskah aku pergi dari sini dan mencari alternatif tempat tinggal lain?
Nyatanya mataku berair, aku terisak pelan seraya menghapus titik air mata dengan ujung lengan baju. Andra mematung di depan pintu kamar mandi seraya mememandangku dengan alis menukik keheranan. "Kamu kenapa?" tanya Andra.
"Pedes."
***
"Kamu udah baikan sama Damar, gitu?"
Aku menangguk pelan, tentu saja berbohong. Kutarik koperku menuju ambang pintu setelah beberapa kali mengucapkan kata terimakasih. kuputuskan untuk berhenti menumpang dari kost-annya setelah semalaman penuh menimang-nimang.
Andra memang kekasihku, tapi aku selalu merasa sungkan setiap kali meminta bantuannya. Entah kenapa. Seperti ada tembok pembatas yang membuatku sedikit menjaga jarak darinya. Tapi aku mencintainya bukan?
Saat aku melenggang pergi meninggalkannya, ia sempat menahan lenganku.
"Aku anterin, ya?"
"Nggak usah." Lagi pula, aku tak tahu harus pergi ke mana.
Aku berbohong padanya dengan mengatakan akan pulang kembali ke rumahku—yang kini sudah dijual—dan ia percaya-percaya saja.
"Beneran nggak mau dianter?" tanya Andra sekali lagi.
"Ojol-ku udah nungguin di pertigaan sana."
"Ya sudah hati-hati, ya." Andra mendekat, mengecup keningku sekilas. Kulambaikan tangan dan berlalu pergi ke luar. Ia mengantarku hingga ke depan pintu. Langkahku berangsur cepat, takut-takut ia membuntutiku dari belakang. Nanti, bisa-bisa alibiku terbongkar.
Ojol-ku memang sudah menunggu di pertigaan. Aku menaikinya sekadar berkamuflase.
"Ke mana, Neng?" tanya si abang ojol.
"Jalan dulu aja, Bang."
Si Abang ojol sempat bingung. Kendati demikian, ia tetap membawaku keluar komplek terlebih dahulu.
“Ke halte aja deh, Bang," kataku sesaat setelah keluar komplek. Sempat bingung, namun halte merupakan pilihan yang paling masuk akal. Biar pun aku tak tahu tujuan, setidaknya bisa kupikir-pikir dulu sesampainya di halte nanti.
Dan si abang ojol menurut, ia membawaku ke halte. Sesaat setelah sampai, aku memberikannya selembar uang lima puluh ribu tanpa kembalian.
Aku termangu seorang diri, bagai anak ayam tanpa induk. Perutku keroncongan karena tak sempat sarapan terlebih dahulu di kost-an Andra. Sialan juga karena ponselku lowbat, sehingga aku tak bisa meminta bantuan siapa pun.
Dan semuanya gara-gara Damar.
Kuseret koperku menuju minimarket terdekat, sekadar mencari makanan untuk ganjal perut. Kutaruh koper di dekat pintu masuk karena satpam sempat menahannya, lantas aku masuk dan celingukan mencari makanan yang bisa kubawa untuk menemaniku menggembel ria. Pilihanku jatuh pada roti sobek, sosis instan dan air mineral, kubayar sebesar tiga puluh ribu rupiah kemudian duduk di kursi depan toko.
Astaga. Bahkan aku membolos kerja untuk hari ini! Gajiku pasti akan dipotong.
Meratapi nasibku yang sial bertubi-tubi, aku membuka sebungkus roti dan melahapnya seraya menahan tangis. Selain Damar, aku tak memiliki siapa pun untuk dijadikan tempat berkeluh kesah. Keluargaku hanya Damar seorang, sayangnya ia mengkhianatiku.
"Eh, copet?!" Seseorang berseru begitu langtang. Kunyahan roti di mulutku berangsur memelan. Kulirik pemilik suara tadi dan menyadari bahwa seseorang tersebut adalah Galaksi. "Lo nangis?"
Kuseka air mataku mengenakan ujung lengan baju, kemudian bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Copet juga bisa nangis, ya?" ejeknya seraya duduk berhadapan denganku. Posisi kami hanya terhalang meja.
"Diem lo!"
Galaksi tertawa-tawa. Matanya melirik aneh penampilanku, kemudian beralih pada seluruh barang bawaanku. Alisnya bertaut skeptis. "Lo mau jadi TKW? Barang bawaan lo banyak banget?"
"Gak usah ikut campur!"
"Santai. Gue cuma nanya."
Dan aku diam. Rasa laparku mendadak hilang. Kusimpan sisa roti di bungkusan ke dalam kantong kresek, kemudian memasukannya ke dalam koper.
"Lo mau pulang kampung, ya?"
"Bukan urusan lo! Lo berisik banget, sih dari tadi!"
"Mau gue anterin? Ke mana? Ke bandara atau ke stasiun kereta?"
Mau ngapain ke bandara? Gue nggak punya tujuan hidup juga. Dewi batinku meringis.
"Ini gue serius, loh. Sekalian mau ngucapin terimakasih karena lo nemuin dompet gue!"
"Barusan lo manggil gue copet. Lo lupa?!" sindirku. Ia hanya cengengesan seraya mengangkat dua jemarinya membentuk huruf V.
"Bentar. Lo tunggu sini. Gue mau beli telur dulu. Gue nggak punya telor di rumah baru. Kecuali yang dua ini!" Galaksi menunjuk ke arah selangkangannya sendiri. Sumpah, anak ini random banget.
Aku memilih untuk memalingkan wajah darinya. Ia cengengesan kemudian beranjak memasuki toko. Sebelum ia melihatku, buru-buru kurapikan barang-barang dan pergi meninggalkan toko.
Aku berjalan kembali menuju halte, terduduk seorang diri seraya memandangi sandal jepit yang kupakai. Air mataku kembali menetes. Benar kata Galaksi tadi, apa sebaiknya aku minggat ke luar negri dan menjadi seorang TKW?
Iya. Dengan begitu, uangku bisa terkumpul sehingga rumah itu bisa kembali menjadi milikku. Aku butuh uang satu milyar untuk menebus rumah peninggalan orangtuaku.
Untuk Damar, jangan harap aku akan memberikan penghasilanku barang secuil. Aku tak sudi.
Klakson mobil membuyarkan lamunanku. Kaca mobil berangsur turun dan menyembulkan sesosok pria yang menyengir polos padaku. Dia Galaksi.
"Masuk, woy!" titahnya. Segera aku memalingkan muka darinya.
"Nggak. Gue nggak kenal sama lo!"
"Gue bukan orang jahat, kali."
"Lo pikir gue percaya? Entar gue di apa-apain lagi."
"Dih! Lo pengen gue apa-apain? Maksud lo gue bakal grepe-grepe lo, gitu?"
Sudut bibirku terangkat satu. Kubuang pandanganku ke sembarang arah saat tiba-tiba Galaksi membuka pintu mobil dan berjalan menghampiriku. "Eh. Gelandangan kayak lo nggak boleh sombong, kali."
"Kurang ajar!"
"Kok gue prihatin banget, sih, lihat lo!"
Iya, memang memprihatinkan.
"Lo mau bantuin gue nggak?" tanyaku. Saat ini Galaksi duduk santai di sampingku. Aku tak tahu maksud pria ini mendekatiku, lagi pula untuk apa kupikirkan?
"Apaan?" Ia bertanya.
"Minjem hp lo."
Galaksi terlihat menyeringai. "Eits. Ada syaratnya."
"Gak usah aneh-aneh. Gue ganti, deh pulsanya."
"Sanggup ganti berapa lo?"
"Dah, buruan. Lo mau bantuin gue nggak, sih?"
Seraya berdecak, ia merogoh saku dan mengambil ponselnya dari sana. Tanganku terayun hendak mengambilnya. Sialan karena ia malah menjauhkan benda pipih itu dari jangkauanku. Kurasa Galaksi hanya ingin mempermainkanku.
"Lo mainin gue, ya?"
"Gue bilang ada syaratnya."
"YA APA?!"
"Gue kepo. Lo kabur ke mana? Lo kayak orang linglung tahu, nggak? Coba kasih tahu gue alasan lo ngegembel kayak gini?"
"Gue kabur dari rumah. Puas lo!"
Mulut Galaksi hanya membentuk hurup O, kemudian membiarkan ponselnya direbut paksa olehku. Kubiarkan Galaksi memandang aneh diriku yang kini menggaruk kepala lantaran bingung.
Siapa yang akan kutelpon? Bahkan aku tak mengingat nomor siapa pun dan sialnya ponselku mati.
Aku berdecak, lantas terisak pelan seraya menyodorkan kembali ponsel milik Galaksi.
"Kok dibalikin?" tanya Galaksi terheran.
"Gue nggak tahu harus ngehubungin siapa."
"Terus?"
"Gue butuh tempat tinggal. Gue mau cari kost-kostan."
"Mau gue anter?" Galaksi bertanya, tubuhnya menyerong agar dapat melihat wajahku dengan jelas.
"Gak usah. Lo sok baik banget, sih?"
"Gue pernah di posisi lo kali."
Aku diam. Galaksi berdiri dari posisinya, kemudian menarik paksa pergelangan tanganku. "Udah, ayo gue anter." Lagi pula aku tak punya pilihan lain untuk menolak. Kuturuti saja semua ajakannya, lantas menaiki mobilnya.
Galaksi duduk di bangku kemudi setelah memasukan koperku ke bagasi. Mobil pun melaju membelah jalanan dan aku hanya bergeming memandang kosong ke luar jendela. Hujan rintik-rintik mengguyur Kota, tetesan air hujan terbawa angin hingga membasahi pipi, lantas kunaikan kaca jendela mobil dan pandanganku beralih lurus ke depan.
Galaksi bergeming di tempatnya. Tangannya memutar musik yang tersambung lewat ponsel. Alunan lagu-lagu yang viral di aplikasi t****k menggema memenuhi telinga. Aku ingin protes, namun tak punya kuasa, hanya berakhir dengan u*****n dalam hati.
Sebenarnya dia hendak membawaku ke mana? Galaksi orang baik, kan? Kuteliti wajahnya lamat-lamat lewat ekor mata. Ah, mana mungkin ada penjahat semanis ini?
Mana mungkin apanya? Bahkan penjahat di drama korea memiliki garis wajah yang mendekati sempurna. Vincenzo contohnya.
Dan ke dua sisi batinku terus berdebat hingga mobil telah berhenti di parkiran rumahku.
"Lo nginep di rumah gue dulu, deh. Besok lagi nyari kontrakannya, sekarang hujan." Galaksi membuka sabuk pengamannya, lantas turun dari mobil dan bergegas membuka bagasi.
Sesaat setelah membuka sabuk pengaman, aku turun dari dalam mobil dan bergegas ke luar dari parkiran menuju pintu utama. Suara roda koper terdengar mendekat dan Galaksi mencengkram pergelangan tanganku sekuat mungkin saat aku mendorong pelan daun pintu.
"Lo mau nyopet di rumah gue?" tanya Galaksi.
Rumah gue?
Seakan kembali tersadar dari lamunan, kuingat-ingat kembali kepahitan yang terjadi sejak kemarin sore. Bukankah rumah ini bukan milikku lagi? Iya benar, rumah ini sudah dijual oleh Damar.
Terus apa hubungannya dengan Galaksi? Kenapa pria itu menyebut bahwa rumah ini miliknya?
Ah. Sialan. Jangan-jangan— "Lo yang ngambil rumah gue? Iya, kan?"
"Maksud lo?"
"Ini rumah gue, g****k. Lo ngapain beli rumah gue?"
"Lo mabok, ya? Rumah ini gue beli dari teman SMA gue. Surat-suratnya masih ada di gue. Belum dibalik nama, kok."
Anjir. Pasti dari Damar.
"D-dari Damar, kan?"
Galaksi masih memasang wajah bingung. "Lo kenal Damar?"
"Itu abang gue."
***
"Jadi Damar ngejual rumah ini tanpa sepengetahuan lo, gitu?"
Aku mengangguk dengan raut wajah sedih tertunduk. Saat ini kami tengah duduk di taman belakang rumah, di balik bebatuan kecil yang menghadap langsung kolam ikan. Tampilan taman masih sama seperti yang terakhir kali kulihat. Gazebo masih terpasang rapi di sudut taman, hammock masih tergantung di antara pohon mangga, dan kursi masih berdiri tegak di bawah pohon ketapang rindang—yang kufungsikan sebagai penadah sinar matahari.
"Tahu gitu nggak bakal gue beli. Mana harganya mahal banget lagi." Galaksi berucap tiba-tiba, tapi aku merasa tidak terima dengan ucapannya barusan. Satu milyar? Mahal?
"Itu murah kali. Lo cuma beli rumah aestethic gue ini senilai satu M. Nggak ada apa-apanya buat gue."
"Eh, kuli! Itu mahal buat gue. Rumah kecil, sumpek kayak begini pengen dihargain berapa? Lima M? Udah kayak rumah sultan aja!"
Bersambung..
Komen dong yang rame, biar aku semangat buat lanjutinnya.
Baca ceritaku yang lain juga, ya; Perfect Scandal dan Sesha.
Salam dari biniknya Jungkook:)