"Enak aja, lo. Lo tahu, nggak? Rumah ini pernah ditawar Lesty Kejora seharga 7 M? Nggak tahu, kan lo? Keluar duit satu M doang udah songong lo. Pelit mah pelit aja!" cerocosku nggak terima.
Seenak jidat saja dia mengatakan bahwa rumahku ini kecil dan sumpek. Ralat, ini bukan rumah lo lagi, Damara. Please, sadar dan terima kenyataan itu.
"Serah lo, deh. Mau ditawar sama Bruno Mars juga gue nggak peduli! Gue iyain aja biar lo seneng," jawabnya enteng. Bukan Galaksi namanya kalau dia nggak bicara dengan gaya santai dan watados.
"Lo nggak percaya? Gue serius, kali."
"IYA GUE PERCAYA," katanya lantang. "Biar cepet," lanjutnya bergumam.
"Kurang ajar!"
"Gue bebenah dulu! Nanti lagi gelutnya," katanya tanpa menoleh sedetik pun.
Selanjutnya Galaksi pergi menuju pantri. Aku dapat melihatnya dari balik kaca pembatas antara taman dan dapur. Dia sedang memasukan telur dan beberapa bahan makanan lainnya ke dalam kulkas. Kalau dilihat dari kejauhan, Galaksi memang sangat manis dan ganteng. Aku mengakui itu tanpa ragu. Tapi setelah mengingat mulut pedasnya yang nggak terkontrol, mendadak pujianku meluap tertiup angin. Nggak jadi, deh. Dia nggak ada ganteng-gantengnya sama sekali.
Dari arah dapur, Galaksi menangkap basah aksiku yang sedang memperhatikannya diam-diam. Pemuda itu menaikan sebelah alisnya sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk kemudian bergumam. "Terpesona, ya?" tanyanya percaya diri. Meski pelan, tapi aku dapat menangkapnya maksudnya dengan jelas. Dia cengengesan sendiri dari dalam sana sementara aku membuang muka.
"Geer," gumamku pelan.
Tanpa menghiraukan Galaksi, aku masuk melewati pantri menuju kamar tamu. Di sinilah aku sekarang. Di kamar tamu-bekas-rumahku sendiri.
***
"Gue numpang di sini semalem lagi, ya. Gue nggak bisa bolos kerja sekarang. Kemarin gue udah bolos kerja, kalau sekarang bolos lagi, pasti gaji gue kepotong banyak."
Galaksi melempar pandangannya dari laptop, kemudian memandangku dengan alis bertaut. "Bayar, lah. Mana ada gratisan," katanya begitu enteng. Punggungnya bersandar ke kaki sofa, sementara matanya kembali fokus pada laptop dan beberapa buku yang bertumpuk di atas meja.
"Kok bayar, sih?" tanyaku. Heran, deh. Perasaan kemarin dia sendiri yang menawariku tumpangan, kenapa sekarang justru dia yang jual mahal?
"Terus, lo mau gratis? Sugar baby aja ngangkang sebelum minta i-Phone 13 ke Om-nya."
"Sialan, gue bukan sugar baby kali."
"Bukan. Gue juga bukan Om-Om, kok." Galaksi mengerlingkan matanya nakal. Kok dia kelihatan imut banget, sih? Ya ampun. Tapi mulutnya itu, lho, sama sekali tak bisa disaring. Visualnya memang membuatku terpana, tapi omongannya melunturkan semuanya.
Tidak, ah, dia nggak ada imut-imutnya sama sekali.
"Galaksi, please!"
"Lo tahu nama gue?" tanya Galaksi diakhiri seringaian. "Pasti lo buka-buka dompet gue, kan?"
"Iya gue buka dikit."
"Dan duit gue kurang tiga ratus rebu. Lo pikir gue nggak tahu?"
Aku hanya bisa diam karena nggak ada celah untukku membela diri. Ah, kupikir dia tidak menyadarinya. "Nanti gue ganti kalau udah bayaran."
"Ngaku, kan, lo!"
"Jadi intinya gue bisa nginep di sini semalam lagi, nggak? Entar pulang kerja gue cari kost-an, biar besok langsung pindahan."
"Selamanya juga boleh," jawab Galaksi ringan.
"Serius?"
"Asal lo mau bersih-bersih rumah, masak, terus siapin keperluan gue. Gue bayar lo segede bayaran lo di toko. Gue males nyari asisten. Syukur-syukur lo mau, jadi gue nggak usah repot-repot buka lowongan."
Wah. Apa ini kesempatan untukku merebut kembali rumah ini? Tapi jangan main iya-iya saja. Jual mahal dulu, kek.
"Em, gimana ya? Gue capek kalau pulang kerja harus kerja lagi."
"Serah lo. Gaji lo di toko berapa, sih? Palingan kurang dari empat juta, kan? Di sini gue gaji lo empat juta, deh. Jadi penghasilan lo sebulan genap delapan juta. Gimana, masih mau jual mahal?"
Si anjir, malah nantangin. Aku menggaruk kepala saking bingung. Bingung harus jual mahal bagaimana lagi. Harga diriku mendadak melorot begitu saja kalau berurusan dengan uang.
Galaksi berlalu begitu saja menuju kamar utama. Meninggalkan laptop dan tumpukan kertas di atas meja. Aku mencebik bibir saking kesal karena Galaksi berlalu di tengah-tengah pembicaraan kami.
Perutku mendadak keroncongan, padahal waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Segera aku pergi menuju pantri, mencari bahan makanan di sana. Membuka kulkas, aku memasak telur dadar dan sosis, tak lupa membuatkannya untuk Galaksi juga. Sengaja aku berbuat baik agar nggak terlalu malu saat mengiyakan tawarannya nanti.
Beberapa saat setelah masakanku matang, Galaksi keluar dari dalam kamar dengan mengenakan handuk sebatas pinggang ke bawah. Rambutnya masih basah dengan tetes air. Sepertinya dia baru selesai mandi. Kalau dilihat-lihat, badannya cukup putih dan kekar, membuat setiap kaum hawa kelimpungan dengan kesan seksinya.
Galaksi berjalan mendekat, wangi sabun mandi terhirup samar oleh hidung. Begitu lembut dan menenangkan. Aku memandangnya sampai lupa cara berkedip, sementara Galaksi hanya menaikan sebelah alisnya heran.
"Apa lo liat-liat?" tanya Galaksi terdengar sinis. Seketika aku membuang pandangan dan pura-pura terbatuk. "Gue merasa terdzolimi diliatin kayak gitu sama lo!"
"Dih, geer!" jawabku tak kalah ketus.
"Lo kayak mau merkosa gue, tahu nggak?"
"Mana ada cewek merkosa cowok!"
“Ada. Lo orangnya!”
“Gak jelas lo!”
Galaksi cekikikan sebagai respon, sementara aku hanya merotasi kedua bola mata.
"Gue ganteng, kan? Udah akuin aja," katanya percaya diri. Galaksi berjalan mendekatiku yang terduduk di atas stool, wajahnya mendekat, meraih daguku untuk menatapnya. "Liat gue, dong!"
"Apaan, sih!" kutepis tangannya kemudian memalingkan wajahku darinya. Dia orang baik, kan? Kok aku jadi takut di apa-apain, ya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang iya-iya?
"Gimana penawaran gue. Lo mau?" tanya Galaksi seraya duduk di atas stool.
“Apa yang membuat gue percaya sama lo?” tanyaku memberanikan diri memandang Galaksi. Dia terlihat menyugar rambut basahnya ke belakang. Otot-otot lengannya kelihatan semakin jelas saat sedang terangkat. Ditambah bulu ketiak tipis-tipis memanjakan mata. Duh, nggak usah ngurusin bulu ketiak segala, Damara!
“Gue temen Damar, Abang lo. Kalau nggak percaya coba telpon aja si Damar. Lo bisa percaya sama gue karena gue dan Damar udah kenal cukup lama.”
Benar juga.
“Serah lo. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa,” ucap Galaksi. Bangkit dari stool menuju dispenser, dia minum segelas air putih dari sana selagi aku masih menimang-nimang.
“G-gue mau ... kalau gajinya beneran segitu,” ucapku agak ragu. Kulihat Galaksi menyeringai di balik gelas kaca.
“Good girl,” ucapnya. Sementara aku hanya menggigit bibir bawah lantaran malu. “Eh, makasih, lho, udah dimasakin.” Galaksi melirik ke meja makan.
“Sama-sama.”
Dan pemuda itu kembali mendekat padaku. Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum tipis. “Gue Galaksi. Panggil aja Gala. Kita belum berkenalan, kan?”
“G-gue Damara,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya ragu-ragu.
Kendati kami sudah tahu nama masing-masing, tapi kami belum berkenalan secara resmi, kan?
Bersambung...
Komen di bawah, ya. Ini lanjut atau jangan?