Seriusan saat ini aku mempunyai dua pekerjaan sekaligus? Auto kaya, nih. Modal ijazah SMA bisa punya gaji hampi delapan jutaan benar-benar seperti mimpi. Aku menampar pipiku beberapa kali untuk menyadarkan. Sampai Sita sedikit risih dengan tingkah anehku.
“Ada pelanggan, g****k. Kok malah cengar-cengir sendiri, sih!” katanya. Seketika kesadaranku kembali terkumpul, kemudian melirik seseorang yang kini berdiri di depan meja kasir. Dia Damar. Ngapain jamet miskin itu datang ke mari?
“Ngapain, lo?” tanyaku ke Damar. Sita melongo sejenak, mungkin berpikir bahwa tingkahku nggak sopan. Tapi dia Damar, sehingga aku nggak sudi untuk sekadar berbasa-basi padanya.
“Lo ke mana aja? Gue khawatir nyariin lo dari kemarin. Lo tinggal bareng Gala, ya. Tadi dia ngabarin gue.” Ekspresi khawatir terlihat dari wajahnya. Walapun aku nggak bisa menebak apakah dia hanya berpura-pura atau beneran khawatir.
“Itu lo tahu!” jawabku asal kena. Dari sini aku tahu bahwa Galaksi dan Damar benar-benar saling mengenal. Mendengarnya membuatku sedikit bernapas lega. Setidaknya Galaksi bukan orang jahat, kan?
“Pulang, dong, Ra. Soal rumah, gue minta maaf, deh. Gue janji, kalau udah punya banyak duit bakal beli rumah yang lebih layak buat kita tinggali. Ya?”
“Mata lo! Gak usah khawatir sama gue. Gue udah gede. Lo urus aja rumah butut lo dan ganti duit gue. Pokoknya duit rumah yang kemarin harus dibagi dua!” tegasku. Damar hanya menggaruk bagian kepalanya yang tak gatal.
“Tapi ... Damara. Gue butuh duit lagi.”
Mendengarnya membuat mataku menyipit tak percaya. “Apa? Lo datang cuma karena duit gue, kan? Bukan benar-benar mau tahu kabar gue gimana. Iya, kan?”
“Gue khawatir. Tapi gue butuh duit sepuluh juta buat—”
“SATPAM!”
“Ra, kok main satpam segala, sih?”
“Keluar lo!” kataku, memberi gestur mengusir.
“Damara. Astaga. Lo tega banget!”
“SATPAM!”
“IYA GUE KELUAR!”
Dan Damar pergi dari jangkauanku. Raut wajahnya terlihat memberenggut kesal. Masa bodoh, ah. Lagi pula, orang seperti itu memang harus dikerasin sesekali.
Tak berselang lama, seorang satpam berlari kecil ke arah meja kasir. “Ada apa, Mbak?” tanyanya sambil menaikan resleting celana. “Tadi habis pipis. Ini juga buru-buru.”
“Telat lo, ah!”
***
Capek banget bolak-balik dari toko ke rumah pakai kendaraan umum. Biasanya aku memakai motor matic bututku, tapi kemarin Damar mengambil kuncinya agar aku tidak kabur. Sayangnya, aku tetap dengan keputusan bulatku untuk minggat, sehingga saat ini aku benar-benar tak punya apa pun selain diri sendiri. Bahkan aku sudah kehilangan motor matic butut itu.
Ponsel dalam tas selempangku bergetar, sebuah pesan dari Galaksi kuterima. Omong-omong, kami sudah bertukar nomor ponsel sejak tadi pagi.
Galaksi : Password rumahnya 010996.
Oh iya. Aku hampir lupa dengan kenyataan bahwa password rumah ini bukan lagi tanggal lahirku.
Tanpa balasan, aku membuka pintu rumah dan mulai beraktifitas. Galaksi mengirimiku pesan lagi, katanya dia mau makan malam pakai pecel. Aku menggaruk kepala saking bingung. Mana bisa aku bikin pecel?
Belum apa-apa saja udah nyusahin. Dasar Galaksi Andromeda mahluk pluto! Kubuat makanan seadanya, merebus beberapa sayuran dan membeli bumbu pecel instan. Mau enak, mau nggak enak, masa bodoh, lah.
Sekitar pukul tujuh malam suara mobil Galaksi terdengar. Buru-buru aku ngibrit dari dapur menuju kamar—kamar tamu—lalu berpura-pura tidur. Pintu rumah terbuka, derap langkah kaki terdengar. Sepertinya Galaksi sedang memasuki kamarnya.
“Damara!” panggilnya. Kunaikan selimut lalu merapatkan mata. Berpura-pura budeg sesekali nggak apa, kan?
“Damara!”
Kontan saja aku berpura-pura ngorok biar meyakinkan. Di luar, Galaksi terdengar berdecak sebal. Derap langkahnya mendekat, dia mengetuk pintu kamarku.
Tok tok tok.
“Lo di dalem, kan? Kamar gue nggak lo rapihin, ya? Ko masih acak-acakan kayak tadi pagi, sih?”
Hening. Aku masih mempertahankan sandiwara murahan ini. Suara ngorokku dibuat kencang agar dia tahu bahwa aku sedang tidur.
“Cewek, kok, ngoroknya kayak kuli!” umpatnya. Pintu kamar terbuka, dia masuk kemudian menyalakan lampu. Mataku merapat semakin kencang, mulutku dibuat mangap biar meyakinkan. Sepertinya Galaksi duduk di bibir ranjang, dan dengan sekali hentakan dia membuka selimut yang membungkus tubuhku.
“Bangun, g****k!” ucapnya agak kasar. Dia menyentil keningku dan dengan terpaksa aku bangun sambil mengucek mata, berpura-pura menguap di depannya.
“Eh, Gala. Udah pulang?” tanyaku sambil merentangkan tangan. Berpura-pura menggeliat.
“Gak usah sok basa-basi. Kamar gue kenapa berantakan, hah?”
“Ya lo beresin sendiri, lah!”
“Lo kan asisten gue. Fungsinya gue ngegaji lo apa?” tanyanya dengan mata memicing. Aku mendesis mendengarnya. Ini anak benar-benar arogan, ya.
“Gue capek. Gue udah bikin pecel pesenan lo itu, gue udah nyuci baju, gue ngepel rumah juga.”
“Ya resiko, lah! Lo kan mau duit, ya harus berani capek.”
“Iya besok gue bersihin!” kataku, mengalah untuk duit empat juta sebulan bukan hal yang berat, kok.
“Sekarang!”
“Capek!”
Galaksi menautkan kedua alisnya. Dia menyondongkan kepala mendekatiku, mengendus leherku. Refleks aku bergerak menjauh saking risih. Dia bukan maniak s*x, kan?
“Badan lo bau asem. Lo belum mandi, ya?”
Sialan. Emang belum mandi, sih. Tapi ya nggak segamblang itu juga memberi tahunya. Kurasa saat ini pipiku memerah seperti tomat akibat menahan malu.
“Bukan urusan lo!” kataku sambil membuang muka, menyembunyikan rona wajah darinya. Berbanding terbalik dengan Galaksi yang malah cengar-cengir tanpa dosa.
“Sama kalau gitu. Mandi bareng, yok!” Galaksi mengerlingkan mata sambil cengengesan. Refleks, kupukul bahunya hingga meringis kesakitan.
***
Seperti permintaannya, setelah selesai mandi aku pergi menuju meja makan untuk menemani Galaksi makan malam. Galaksi sudah berganti pakaian mengenakan kaos putih polos dan kolor hitam di atas lutut. Otot lengannya begitu kentara, putih dan berurat. Terlihat seksi menurut gadis-gadis kampungan sepertiku.
Sambil menatap layar ponsel, Galaksi mengaduk-aduk pecel di atas mangkuknya sampai tak menyadari eksistensiku.
“Ekhem!” Aku berdeham. Galaksi hanya melirikku sekilas kemudian fokus kembali ke layar ponselnya. Aku mencebik bibir saking kesal, kemudian duduk berseberangan dengannya.
“Ekhem!” Lagi, aku berusaha menyadarkan Galaksi bahwa di depannya ada mahluk hidup.
“Ngapa sih lo? TBC?” tanya Galaksi dengan wajah lempengnya.
“Sialan!”
“Akham-ekhem mulu, risih gue!”
“Ya lo fokus mulu ke hape. Tadi katanya minta ditemenin, sekarang gue dianggap angin lalu.”
Galaksi mengangkat sudut bibirnya sambil memandangku. Di detik selanjutnya, dia menyimpan ponselnya di atas meja dengan posisi menelungkup, lalu bersendang dagu. “Pengen banget diperhatiin, ya?”
“Sama lo? Najis.”
Galaksi malah cengengesan. “Kalau suka beneran ke gue tau rasa, lo!”
“Nggak akan!”
“Perasaan siapa yang tahu. Gimana kalau tiba-tiba gue suka ke lo?”
Bersambung...
Komen di bawah yang bawel sebawel-bawelnya, biar aku semangat buat lanjutin.
Baca ceritaku yang lain, yuk;
1.Perfect Scandal
2. Sesha
Salam dari Biniknya Jungkook :)