Galaksi memandang Damara yang memejamkan mata di sampingnya. Tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut satu-satunya benda yang kini melindungi mereka dari semilir angin luar yang masuk lewat celah jendela. Damara bergerak memunggungi Galaksi, kemudian kembali terlelap. Pemandangan ini membuat Galaksi lupa dengan semua beban yang bertumpu di pundaknya. Bila mereka saling mencintai dan mendukung, maka semua akan terasa mudah. Dalam sekali gerakan, Galaksi memeluk Damara dari belakang, mencari-cari posisi nyaman untuknya memejamkan mata. Berakhir dengan Galaksi yang membenamkan wajahnya di balik ceruk leher sang gadis. “Ini masih siang, lho, Gal. Lo nggak mau bangun buat makan siang?” tanya Damara tanpa menoleh. Galaksi hanya bergumam pelan sambil mengusap pelan permukaan

