Bab 3 Istri Tanpa Nama

1130 Words
Rumah kecil Inari malam itu diterangi lampu temaram kuning yang jatuh lembut ke dinding. Udara Malang yang dingin membuat tirai menari pelan, sementara dari dapur tercium aroma jahe yang baru saja ia rebus. Hatinya berdebar—karena sebentar lagi, lelaki itu akan datang. Suaminya. Suami yang hanya sah dalam buku nikah yang tidak pernah dicetak negara. Suami yang hanya miliknya saat malam datang dan dunia lain tertidur. Bramasta. Pernikahan itu terjadi dua Minggu yang lalu. Bramasta melaksanakan janjinya. Meski sederhana, disaksikan ketua RT dan RW sebagai saksi dan para tetangga terdekat, menggunakan wali dari kyai karena Inari tidak lagi memiliki ayah dan seorang janda, pernikahan itu berlangsung dengan bahagia. Mempelai itu seolah direstui semesta. Ketika suara mobil berhenti di depan rumah, Inari refleks merapikan kerudung tipis yang ia kenakan. Bukan karena ia ingin tampil sempurna—tapi karena ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan setiap kali Bramasta menatapnya seperti perempuan yang benar-benar ia inginkan. Pintu diketuk sekali, lalu dua kali. Inari membuka. Di sana, Bramasta berdiri—dengan jaket semi tebal, wajah sedikit lelah, namun senyum yang hanya ia berikan pada satu perempuan di dunia ini: Inari. “Sayang, aku pulang,” ucap Bramasta sambil menurunkan tas kecil dari bahunya. “Selamat datang, Sayang,” jawab Inari pelan. "Kamu… capek?” Bramasta masuk begitu saja, seolah rumah itu memang rumahnya. Karena bagi tetangga, memang begitu. Pernikahan siri itu sudah dilihat, disahkan secara agama, disaksikan dua orang saksi, dan dilaporkan ke RT-RW sebagai “pernikahan pribadi”. Tidak ada yang peduli kenapa pernikahan itu hanya sederhana atau secara agama saja. Yang mereka tahu adalah Bramasta suami Inari. Hal itu cukup untuk keduanya menjadi pasangan yang legal di mata mereka. “Aku kangen kamu,” bisik Bramasta sambil menarik pinggang Inari mendekat ke dirinya. Inari terkejut sedikit, tapi lebur seketika saat dadaa Bramasta menempel ke dadanya. “Sayang…” suaranya goyah. Bramasta menatapnya dengan tatapan yang membuat seluruh dunia seakan runtuh di belakang mereka. Tatapan yang ia beri hanya pada malam-malam ketika ia jatuh cinta pada perempuan yang sudah lama didambakannya. “Ri,” bisiknya, “sini.” Bramasta memegang wajah Inari seolah sedang memegang benda paling rapuh tapi paling berharga. Mekarnya cinta mereka merayap masuk ketika bibir mereka bertemu—pelan, lembut, lalu semakin dalam seperti badai yang mengetuk pintu. Hujan turun. Angin mengetuk jendela. Akan tetapi di dalam kamar, ada panas yang tidak bisa dijelaskan oleh sains mana pun. Inari merasakan setiap detik itu terlalu indah dan terlalu menyakitkan sekaligus. Karena cinta seperti ini bukan cinta yang sesaat. Setelah sekian lama menutup pintu, dia berani membuka dan merasakan cinta yang sudah lama tak dianggapnya. Di bawah cahaya lampu yang meredup, mereka saling memeluk seperti dua orang yang mencoba bertahan dari dunia yang terus menjauhkan mereka. Sentuhan Bramasta bukan sekadar keinginan; itu kebutuhan yang ia sembunyikan dari hidup resminya. Inari, perempuan yang pernah menjadi korban pengkhianatan, kini menjadi seseorang yang diinginkan. Jari Inari meraba garis rahang Bramasta. Napas mereka bertaut. Dunia seolah berhenti berputar. “Bram…” Inari memanggil namanya di tengah debar. “Hm?” “Kamu jangan pergi ya.” Bramasta menutup matanya, mengusap kening Inari dengan bibirnya. “Aku nggak mau pergi, tapi besok… aku harus pulang dan bekerja, Sayang.” Kata pulang itu menusuk seperti sembilu. Karena pulang bagi Bramasta bukan ke rumah ini. Bukan ke Inari, tapi ke kota lain. Bramasta tidak tinggal di kota ini. Dia hanya datang demi Inari. Inari menarik napas panjang, menahan tangis yang nyaris naik ke tenggorokan. “Peluk aku, Bram. Sampai aku lupa kalau kamu punya rumah lain.” Bramasta menarik tubuhnya erat—terlalu erat—seolah ia juga tidak ingin melepaskannya. Malam itu, mereka mencintai satu sama lain dalam diam yang paling bising, dalam cinta yang paling terlarang. --- Pagi datang seperti musuh. Bramasta duduk di tepi ranjang sambil mengenakan kaus. Cahaya matahari membelah tirai tipis dan jatuh ke wajahnya—wajah lelaki yang sebentar lagi kembali menjadi suami orang di mata dunia. Inari bangun pelan, tubuhnya masih letih, tapi wajahnya lembut. “Sayang udah bangun?” “Sebentar lagi harus berangkat.” Bramasta tersenyum kecil. “Tadi aku beliin kamu roti juga. Kamu makan ya.” Inari mengangguk. Tidak ada kata lain yang bisa ia sampaikan tanpa suaranya pecah. Bramasta meraih ponselnya—yang ia pakai untuk dua kehidupan berbeda. Satu nomor untuk pekerjaan. Satu nomor untuk Inari. Nomor untuk Inari jarang aktif kecuali… malam-malam seperti ini. Malam ketika ia merasa aman untuk berbohong. “Ri,” panggil Bramasta sambil mencium keningnya lagi, “aku offline habis ini. Kalau urgent, kamu WA aja. Nanti aku cek… kalau udah tidak sibuk ya, Sayang. Jangan overthingking.” Tidak sibuk. Kata yang menghina sekaligus menguatkan. Inari berpura-pura tersenyum. “Iya, Bram. Aku ngerti.” “Tapi kamu tau kan…” suara Bramasta merendah. “Aku sayang kamu.” Kalimat itu seperti obat dan racun. “Sayang…” Inari memegang tangannya. “Kalau aku kangen, aku boleh bilang?” Bramasta menatapnya lembut. “Boleh, tapi kalau aku belum balas… jangan kepikiran, ya? Kadang-kadang nomorku yang satu harus aku matiin karena aku bekerja di lapangan.” Paham. Inari sudah sangat paham. “Aku pamit,” katanya sambil memeluk Inari erat sekali. Ketika Bramasta pergi, rumah itu langsung terasa dua kali lebih besar. Dua kali lebih sunyi. Setelah pintu tertutup, Inari duduk diam di sofa. Rambutnya masih berantakan. Matanya masih berbinar sisa malam, tapi dadanya terasa kosong. Hari-hari sepi seperti dulu, kembali menyapanya. Bedanya, sekarang ada seseorang yang ditunggu. Ia mengambil ponselnya. Dia melihat status Bramasta. Online: Barusan lalu hilang—offline. Sinyal dua garis. Nomor satunya kembali aktif. Nomor untuk pekerjaan. Inari menatap layar itu lama sekali. Ia ingin mengetikkan pesan. Sayang, hati-hati. Meski baru berangkat, aku sudah kangen. Sampai ketemu lagi. Dia menatapnya, jempolnya tidak bergerak. Pesan itu tidak terkirim. Karena ia tahu… Ia tidak boleh memulai percakapan. Ia tidak boleh tampak menuntut. Ia tidak boleh minta waktu lebih dari yang Bramasta tawarkan. Ia harus jadi wanita tenang, yang harus menunggu. Inari memutuskan meletakkan ponselnya. Satu jam berlalu. Dua jam. Inari sibuk mencuci baju, menyapu rumah, memasak, memaksa dirinya tertawa sendiri agar tidak tenggelam dalam rindu. Sore tiba. Ponsel berbunyi. Pesan masuk. Bramasta: Cek rekening ya, Sayang. Belanja yang kamu mau. Inari menutup mulutnya, menahan isak kecil yang tiba-tiba muncul. Harusnya ia bahagia. Harusnya ia lega. Namun kenyataan itu malah membuatnya semakin sadar: Ia tidak bisa marah. Tidak boleh ngambek. Tidak boleh menuntut. Karena setiap protesnya akan dijawab dengan uang. Dengan “aku sayang kamu”. Dengan malam-malam singkat yang terasa seperti surga sesaat. Akan tetapi, Inari tidak mau mengecewakan. Dia sudah mendapatkan kebutuhan emosional dan finansial. Dia tidak boleh serakah. Inari menghela napas panjang dan membalas: Inari: Iya, Sayang. Terima kasih banyak. Lancar terus rezekinya yaa. Pesan terkirim dan hanya dibaca. Inari hanya memeluk dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD