Bab 4 Sepi yang menggerogoti

1051 Words
Tiga hari pertama sejak kepergian Bramasta, Inari masih bisa menenangkan dirinya sendiri. Dia memang sangat rindu, tapi Bramasta juga bekerja sehingga dia tidak mau menjadi istri manja yang tidak tahu diri dengan menuntut banyak waktu dari suami tercintanya. Inari mencoba selalu berpikir positif meskipun nomer ponsel Bramasta selalu tidak aktif. Dia mungkin lagi sibuk. Dia mungkin lagi di jalan atau mungkin lagi n stress dengan pekerjaan. Ia berusaha meyakinkan diri sambil mengecek ponsel setiap sepuluh menit. Online: tidak. Centang: satu. Panggilan: nomor tidak dapat dihubungi. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa… Dia istri yang bisa memahami kesibukan suami. Dia terbiasa menunggu. Ini bukan pertama kali. Inari selalu mencoba menguatkatkan dirinya. Namun ketika hari keempat datang tanpa kabar, Inari mulai kehilangan nafsu makan. Matanya berat, kepalanya panas. Tubuhnya meriang, tapi ia tetap memaksakan diri berangkat mengajar ke SD tempat ia bekerja. Di kelas 3A, anak-anak ribut minta dia baca cerita. Biasanya Inari tersenyum. Hari itu ia hanya mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa lagi dikatakan oleh hatinya yang berteriak untuk dipahami dan disayangi. Inari adalah guru yang sabar. Dia sangat disukai oleh murid-muridnya. Bertahun-tahun menjadi janda tanpa anak atau suami, murid-muridnya adalah penghibur hatinya yang gersang dan mengalami kemarau. Kehadiran Bramasta adalah seperti hujan pertama setelah kemarau selama lima tahun. Sayangnya, hujan itu hanya datang dalam waktu singkat. Kini, dia merindukan bau tanah setelah hujan, bukan retakan tanah karena kemarau. "Bu, Ina... ayo main denganku... " Murid-muridnya merengek. Inari memaksakan diri untuk tersenyum. “Nanti ya, Bu Guru pusing,” katanya sambil menahan napas agar suara seraknya tidak terlalu jelas. Anak-anak langsung diam, penuh simpati. Mereka menyukai Bu Inari—guru yang selalu sabar, selalu lembut, bahkan ketika marah pun suaranya tidak pernah naik. Usai jam pelajaran, ia duduk sendirian di ruang guru. Menatap ponsel yang tetap kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada tanda bahwa suaminya masih mengingatnya. Tenggorokannya perih. Dadanya sesak. Bukan hanya karena flu—tapi karena ketakutan yang merayap pelan-pelan ke tubuhnya. Mas kenapa? Mas baik-baik aja? Atau… Mas pilih diam aja karena lagi sama keluarganya? Ia membuang pikiran itu jauh-jauh, tapi tetap kembali saat ia menutup mata. Sore harinya, setelah pulang sekolah, Inari memaksa dirinya pergi ke warung dekat rumah untuk membeli obat. Tubuhnya gemetar; sakitnya semakin menjadi. “Bu Inari… lho, kok pucet sekali?” tanya Bu Ramlah, pemilik warung, sambil menatapnya penuh iba. “Sedikit meriang, Bu,” jawab Inari dengan suara lemah. “Suamimu mana, Nak? Kok sudah seminggu nggak keliatan mobilnya parkir?” Pertanyaan itu masuk ke d**a Inari seperti semacam pisau kecil yang ditancapkan pelan-pelan. Tidak mematikan, tapi menyakitkan. “Oh… Mas Bram lagi tugas di luar kota, Bu,” jawabnya sopan. “Memang cuma bisa pulang sebulan dua kali paling banyak.” “Walah, pantesan nggak keliatan. Kemarin sempat ada yang nanya lho… katanya kok sepi rumahmu.” Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak bermaksud jahat. Namun dalam hati Inari, ia terasa seperti peluru. Ia tersenyum kecil. “Iya, Bu. Makasih ya. Saya beli paracetamol-nya dua.” “Jaga kesehatan, Nak. Kasihan kalau sakit sendirian.” Sakit sendirian. Inari hampir runtuh mendengar kata itu. Karena itu kenyataan yang tidak bisa ia bantah. Benar, sejak dulu dia selalu sendirian saja saat sakit, tetapi Bramasta membuatnya kembali tahu arti memiliki seseorang di sisinya, meski sekarang dia kembali sendirian. Bu Ramlah memandangnya iba, tapi tidak menambah gosip apa pun. Tetangga-tetangga lain pun sama. Mereka sering membicarakan Inari—tentang suaminya yang jarang datang, tentang status pernikahan siri yang mereka semua tahu—tapi tidak pernah di depan wajah perempuan itu. Karena Inari baik. Terlalu baik untuk digunjingkan secara terang-terangan. Ia berjalan pulang dengan langkah sempoyongan. Begitu sampai rumah, ia langsung merebah di kasur. Tubuhnya menggigil. Dahinya panas. Napasnya berat. Ponselnya bergetar. Detik itu juga darahnya seperti berhenti mengalir. Ia membuka layar dengan jantung meronta. Ternyata hanya notifikasi marketplace. Bukan dari Bramasta. Inari memeluk gulingnya erat-erat. Air mata yang ia tahan meleleh begitu saja. “Mas… kamu dimana…” bisiknya lirih. “Kok nggak ada kabar…” Ia mencoba menelepon lagi. “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.” Hatinya terjun bebas. Biasanya Bramasta hanya hilang 12 jam. Paling lama satu hari, tapi ini sudah hampir seminggu. Apa dia sengaja menjauh? Apa dia punya wanita lain? Apa ia sedang memprioritaskan pekerjaannya? Atau… apa ia sedang mempertimbangkan kembali posisi Inari dalam hidupnya? “Jangan mikir yang jelek, Ri… jangan,” katanya pada dirinya sendiri sambil terisak kecil. Ia mengambil obat, meminum air hangat, lalu mencoba tidur. Namun tubuhnya panas dingin dan pikirannya tidak berhenti berlari. Setiap bunyi dari ponsel membuatnya terbangun. Setiap tidak ada bunyi membuatnya sakit. Malam tiba. Sunyi menelan rumah itu bulat-bulat. Tidak ada suara mobil Bramasta. Tidak ada ketukan pintu. Tidak ada “Ri, aku kangen kamu.” Hanya napas Inari yang tersendat-sendat menahan tangis. Ia memandang plafon yang berputar pelan karena demamnya semakin tinggi. Inari memeluk dirinya. Kesepian merayap perlahan seperti kabut. Untuk pertama kalinya sejak menikah siri, ia merasakan ketakutan yang paling tidak ingin ia akui. Jangan-jangan… begini memang nasib seorang istri yang ditinggal LDM sama suaminya. Hanya bisa Menunggu. Menanti. Terbaring sakit tanpa ada tangan yang mengelap keringatnya. Tanpa ada suami yang membacakan doa di sisi ranjang. Tanpa bisa mengeluh, tanpa bisa menuntut. Ia menikah, tapi tetap hidup seperti perempuan yang sendirian. Saat matanya hampir terpejam, ponselnya bergetar. Suaranya pelan, tapi cukup untuk mengembalikan detak jantung Inari. Dengan tangan gemetar, ia meraihnya. Layar menyala. Satu pesan masuk. Dari nomor Bramasta—nomor khusus untuknya. Bukan nomer untuk pekerjaan atau rekan kantor. Inari langsung menahan napas. Akan tetapi bukan kata-kata manis. Bukan “Aku kangen kamu, Ri.” Bukan “Maaf sudah hilang.” Pesannya hanya: Bramasta: Ri… kamu lagi dimana? Hanya itu. Dingin. Tiba-tiba. Seperti seseorang yang tidak hilang karena rindu—tapi hilang karena sesuatu lain yang tidak ingin ia jelaskan. Di d**a Inari muncul firasat buruk. Firasat yang membuat sakitnya semakin menggigit. Namun ia tetap membalas, meski dengan tangan gemetar: Inari : Di rumah, Sayang… Kenapa? Tidak langsung dibalas. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit lalu… Bramasta: Nanti aku telpon. Jangan keluar rumah malam ini. Hati Inari terjatuh. Ada apa? Kenapa begitu nada pesannya? Kenapa ia tiba-tiba kembali bersikap dingin dan membuat hatinya semakin berdebar ketakutan? Inari tidak suka berprasangka tapi sikap Bramasta membuatnya melakukan apa yang paling dibenci olehnya. Itu menyakitkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD