Bab 5 POV Bramasta

1126 Words
Bramasta tidak pernah membayangkan hidupnya akan seperti ini. Sewaktu kecil, dia tumbuh dalam keluarga yang selalu menanamkan konsep kesetiaan. Ayahnya sering berkata, “Laki-laki itu bukan dari seberapa banyak yang bisa dia miliki, tapi seberapa mampu dia menjaga satu hati.” Namun kenyataan sering kali tidak selembut prinsip. Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan dijalankan oleh teori, tetapi oleh perasaan yang kadang muncul tanpa diundang dan tumbuh tanpa izin. Semua ini dimulai enam bulan lalu. Bramasta masih ingat jelas malam itu—malam yang membuat semuanya meluncur ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Ia baru tiga hari bertugas di Malang, jauh dari rumah, dari Raisa, dari anak semata wayangnya. Rindu selalu ada, tetapi rutinitas membuat jarak tak sepahit kelihatannya. Ia membuka ponsel. Iseng. Lelah. Menginginkan nostalgia yang ramah lalu sebuah notifikasi muncul: Inari Handayani mengomentari foto lamanya di f*******:. Awalnya dia hanya tersenyum. Nama itu… tidak asing. Sangat tidak asing. Inari adalah gadis yang—dulu, sangat dulu—sempat ia taksir diam-diam di SMP. Bahkan sampai SMA, rasa itu masih tersembunyi, tapi ia tidak pernah bergerak. Waktu itu ia pikir Inari tidak akan pernah menoleh kepadanya. Sekarang nama itu muncul lagi. Ia membuka profil Inari, melihat foto perempuan dengan mata teduh yang dulu sering ia tatap diam-diam dari bangku belakang. Tidak banyak yang berubah. Senyumnya masih lembut, auranya masih sama… cuma matanya tampak lebih dewasa, lebih matang dan lebih… terluka. Ia mencari kontak Inari. Di grup reuni SMP yang kebetulan dia bergabung di dalamnya. Ia mengetik pesan yang awalnya hanya basa-basi. Tidak disangka, Inari merespon sehingga percakapan itu semakin lama semakin panjang lalu dia memberanikan diri bertanya. Bram: Nar… kamu sekarang di Malang? Balasan datang cepat. Seolah Inari memang sedang menunggu seseorang berbicara padanya. Inari: Iya, Bram… aku tinggal sendiri di sini. Entah kenapa kalimat itu menusuknya. Tinggal sendiri. Dalam pikirannya langsung muncul bayangan seorang perempuan yang—dulu—selalu tampak kuat, sekarang menanggung hidup tanpa sandaran. Setelahnya percakapan mereka semakin mengalir luas tak terbendung seolah chemistry di antara mereka terbentuk dengan cepat dan kuat meski dalam waktu singkat. Mereka bicara tentang kerjaan, tentang masa lalu, tentang hidup. Awalnya biasa. Biasa… namun hangat. Hangat… namun lama-lama mengikat. Mereka bertemu tiga bulan kemudian. Pertemuan yang seharusnya hanya makan siang singkat berubah menjadi dua jam obrolan tanpa henti. Tatapan Inari masih sama seperti dulu—diam, sopan, tapi menyimpan sesuatu yang membuat daada Bramasta terasa penuh. Saat ia mengantar Inari pulang ke kosnya, dan perempuan itu menatapnya sambil mengucapkan “hati-hati ya, Bram,” Bramasta tahu: ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak boleh bergerak, tapi bergerak. dengan sangat kencang. “Bramasta… kamu sudah sampai rumah?” Itu pesan yang diterimanya malam itu. Pesan yang seharusnya ia biarkan berlalu. Pesan yang seharusnya tidak ia balas, tapi ia balas. Dari situlah semuanya pecah. Bramasta mengajak Inari menikah, secara siri dengan alasan dia masih memiliki banyak hal sebagai pertimbangan. Inari tidak curiga dan Bramasta merasa lega. Bramasta tahu ia salah. Tahu ia jahat. Tahu ia seharusnya berhenti. Akan tetapi bagaimana bisa berhenti jika perempuan yang sudah ia kagumi sejak remaja kini ada di depan mata, sendirian, tegar, damai, dan selalu melihatnya seakan ia rumah? Inari membuatnya merasa hidup. Bukan sebagai suami, bukan sebagai ayah, bukan sebagai kepala keluarga—tetapi sebagai seseorang yang dicintai tanpa syarat. Seseorang yang… dirindukan. Itu candu dan Bramasta telah kecanduan. Bramasta tahu Inari pada akhirnya mengetahui bahwa ia sudah menikah, Ia akan merasa dunia runtuh dan membenci dirinya mungkin. Namun, Bramasta tidak peduli. Ia akan melepaskan Inari sampai hari dimana Inari tahu dan marah. Menunggu perempuan itu pergi. Meninggalkannya seperti seharusnya, tetapi untuk saat ini, dia ingin Inari tetap tinggal. Bukan karena dia tidak punya harga diri—justru karena perempuan itu punya hati yang terlalu besar, suatu saat Bramasta tahu kalau dia akan dimaafkan. Saat Bramasta harus kembali ke kotanya, kembali ke kenyataan setelah memilih istri kedua tanpa diketahui istri pertamanya, Raisa, dia tahu, dia telah menyakiti dua hati sekaligus. Namun, dia tidak bisa meninggalkan dua wanita yang sangat berarti baginya. Sejak hari di mana dia memutuskan berpoligami, hari di mana Inari menjadi istrinya yang kedua. Istri yang ia cintai. Istri yang ia sembunyikan. Istri yang ia pilih dalam diam, Bramasta memutuskan untuk bersikap adil agar keduanya tidak pernah saling mengetahui. Bramasta akan menepati janjinya, membahagiakan Inari dan mempertahankan keluarga kecilnya tetap utuh. Dia akan berusaha memberikan kebahagian pada dua keluarga yang memiliki satu kepala yaitu dirinya. Namun tidak ada kebahagiaan tanpa rasa bersalah. Setiap kali ia pulang ke rumah—rumah yang lain, rumah yang sah—Raisa menyambutnya dengan kopi hangat dan ciuman di kening. Anak mereka berlari memanggil “Ayah!”. Momen-momen itu selalu menampar hati Bramasta. Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku hancurkan semua? Namun saat ia kembali memikirkan soal Malang, ingatan saat dia membuka pintu rumah Inari, melihat perempuan itu tersenyum malu karena sedang memasak sayur kesukaannya… rasa bersalah itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya ingin tinggal. Sesuatu yang membuatnya merasa… dicintai dan dibutuhkan. Inari tidak menuntut. Tidak pernah bertanya. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah meminta apapun selain kehadirannya. Mungkin itulah yang justru membuat Bramasta jatuh semakin dalam. Namun beberapa hari terakhir… ia menghilang. Bukan sengaja. Bukan ingin menyakiti. Akan tetapi karena pekerjaan di kota lain mendadak kacau dan Raisa mencurigainya pulang terlalu sering. Ia harus berhati-hati. Nomor kedua ia matikan. Ia tidak bisa menghubungi Inari. Tidak sempat dan tidak aman. Namun setiap malam, ia memandangi foto Inari di galeri ponselnya. Foto perempuan itu sedang tertawa kecil, diambil diam-diam olehnya saat mereka makan di kafe dan berfoto berdua di kamar mereka. “Maafin aku, Ri…” bisiknya setiap malam. “Aku pulang secepatnya. Tunggu aku.” Apa Inari marah? Apa Inari kecewa? Apa Inari sakit? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Di satu sisi ia ingin berlari kembali ke Malang, memeluk Inari, meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Di sisi lain… Raisa sedang sensitif, anaknya sedang demam, keluarganya sedang penuh kecurigaan. Bramasta terjepit di antara dua dunia yang sama-sama ia cintai. Satu dunia yang ia bangun dengan tanggung jawab dan satu dunia yang ia bangun dengan rasa. Ia mencintai Raisa, tapi ia juga mencintai Inari. Hal itu… adalah dosa terbesar yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan. Mencintai dua wanita dan tidak pernah ingin melepaskan keduanya. Di akhir malam, Bramasta duduk di mobil, menatap lampu kota di kejauhan. Jemarinya gemetar saat memegang ponsel, ingin menyalakan nomor khusus Inari. Ingin berkata bahwa ia tidak pergi. Ingin berkata bahwa ia tidak menghilang. Ingin berkata bahwa cintanya tidak berubah. Akan tetapi ia hanya menghela napas. “Sebentar lagi, Ri, sebentar lagi aku bisa pulang ke rumahmu.” Bramasta sedang menunggu kesempatan. Hari di mana dia bisa menemui istri keduanya tanpa ketahuan oleh istri pertamanya. Sebentar lagi, kesempatan itu akan muncul.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD