Bab 6 Di Antara Dua Dunia

1122 Words
Langit sore di halaman rumahnya tampak teduh. Angin berembus pelan, membawa aroma masakan dari dapur, suara sendok beradu dengan panci, dan tawa kecil anaknya yang berlari-lari mengejar gelembung sabun. Dari luar, semuanya tampak seperti kehidupan ideal seorang lelaki berkeluarga. Bramasta berdiri di tengahnya, mencoba tersenyum seolah tidak ada ribuan rahasia di balik dadanya. “Mas, tolong ambilin bawang di kulkas dong!” Suara Raisa memanggil dari dapur. Suara yang sudah ia dengar hampir setiap hari selama enam tahun terakhir. Suara yang lembut, manja di saat tertentu, kadang cerewet… tapi selalu terasa seperti rumah. Bramasta mengangguk dan masuk. Ia membuka kulkas, mengambil wadah berisi bawang yang sudah dikupas Raisa sejak pagi. Rutinitas kecil seperti itu seharusnya membuat hatinya hangat. Memang begitu, tapi, di sela hangat itu, ada dingin yang menusuk—dingin bernama Inari. Raisa tidak menyadari. Langit pun tidak. Mereka melihat Aditya sebagai sosok ayah dan suami yang utuh, yang pulang membawa senyum dan pelukan. Bagi mereka, tidak ada retak, tidak ada kebohongan dan tidak ada pengkhianatan. Hanya Bramasta yang tahu bahwa dia sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki tanpa menghancurkan hati siapapun. Ia meletakkan bawang di meja dapur. Raisa menoleh sekilas, tersenyum kecil. “Thanks, Mas. Eh, nanti malam jangan lupa ya, tetangga mau ada arisan RT. Kamu harus ikut, Mas. Soalnya kamu jarang pulang kan akhir-akhir ini.” “Hmm… iya, Sa. Aku ikut,” jawab Bramasta, membuat suaranya senormal mungkin. Raisa tidak menyadari jeda tipis setiap kali Bramasta menjawab. Tidak menyadari sorot mata suaminya sesekali melayang jauh. Tidak menyadari bahwa di kamar atas, di dalam laci meja kerja Bramasta, ada ponsel kecil yang mati. Ponsel yang bukan untuknya. Ponsel yang selama ini menjadi jalur rahasia antara Bramasta dan perempuan lain… dengan cinta yang dulu seharusnya mati sejak remaja, tetapi tumbuh kembali dengan kuatnya. Inari. Nama itu mengetuk kepala Bramasta seperti gema yang tidak mau padam. --- Setelah makan malam, Raisa menyuapi Langit yang cerewet. Mereka bertiga duduk di meja makan—adegan keluarga yang seharusnya sempurna. Langit bercerita tentang sekolahnya, Raisa terkikik mendengarkan, dan Bramasta… hanya mengangguk sambil mencuri pandang ke arah ponsel utamanya yang tergeletak di meja. Ponsel itu aman. Boleh dipegang siapa pun. Diisi foto-foto keluarga, chat grup kantor, dan notifikasi belanja online Raisa. Bagi siapa pun, itu hanyalah ponsel biasa. Akan tetapi ponsel lain? Ponsel yang berisi nama “Ri Sayang” pada layar pesan? Ponsel itulah dosa. Ponsel itu tetap dimatikan sejak enam hari lalu dan disimpan di laci. Karena ia tahu, cukup sekali saja Raisa memergoki… semuanya akan selesai. Rumah ini, anak mereka dan pernikahan ini. Semuanya bisa berantakan. “Mas?” Suara Raisa memutus lamunan. “Kok, melamun?” “Oh… ngga. Cuma capek.” Raisa menyentuh punggung tangannya. Lembut dan tulus. “Kalau capek, bilang. Kamu kerja banyak banget belakangan ini. Aku takut kamu sakit.” Bramasta menelan ludah. Sakit? Tidak. Yang menyakitkan adalah berdusta pada perempuan baik ini setiap hari. Raisa lanjut berkata, “Kamu sayang aku, kan?” Pertanyaan itu menampar Bramasta lebih keras daripada pukulan mana pun. Ia menarik napas. “Sayanglah. Kamu, kan istriku, Sa.” Jawaban itu bukan dusta. Hatinya memang masih menyayangi Raisa. Masalahnya, ia juga… sayang pada perempuan lain. Dusta yang sebenarnya adalah: dia tidak bisa memilih. Sama sekali tidak bisa. Bramasta masih ingin Raisa di sisinya, tetapi dia juga menginginkan Inari, perempuan yang selalu ada di hatinya sejak dulu dan tidak pernah hilang karena Inari adalah cinta pertamanya. --- Setelah makan malam selesai dan Raisa menidurkan Langit, Aditya masuk kamar kerja. Ia menutup pintu perlahan, duduk di kursi, dan membuka laci. Ponsel itu ada di sana. Ponsel tipis warna hitam dengan stiker kecil di bagian belakang. Ponsel yang dulu sering ia gunakan untuk mengirim pesan-pesan pendek: “Mas otw, Sayang.” “Kamu udah makan?” “Aku kangen. Kamu sehat nggak?” Pesan-pesan yang membuat Inari tersenyum. Pesan-pesan yang membuat perempuan itu merasa tidak sendirian. Sudah enam hari… ponsel itu mati. Enam hari… tanpa kabar. Enam hari… Inari menunggu, mungkin menangis, mungkin sakit hati. Enam hari… Bramasta menutup mata atas luka yang mungkin ia buat. Ia meraih ponsel itu. Jemarinya gemetar. Ingin menyalakan. Ingin membuka pesan dan ingin meyakinkan diri bahwa Inari masih baik-baik saja. Akan tetapi suara Raisa dari kamar tiba-tiba terdengar. “Mas? Kamu udah selesai? Mau nonton bareng nggak?” Bramasta tersentak. Ia buru-buru menutup kembali laci itu. Ponsel itu tidak jadi dinyalakan. “Sebentar, Sa,” balasnya sambil mengatur napas. Ia menarik kursi, duduk menunduk lama. Jantungnya berdetak tak karuan. Ada dua dunia dalam dirinya, saling tarik-menarik sampai terasa menyakitkan. Ia ingin menjadi suami yang baik. Dia juga ingin menjadi lelaki yang dicintai Inari. Dua keinginan yang tidak bisa hidup berdampingan… kecuali seseorang terluka pada akhirnya. Saat ia akhirnya keluar dari kamar kerja, Raisa sedang duduk santai di sofa, memeluk selimut kecil dan menonton drama Korea. Lampu ruang tengah temaram, suasana rumah hangat, aroma lavender dari diffuser memenuhi udara. Pemandangan rumah seperti ini… dulu selalu membuat Bramasta merasa tenang. Sekarang justru membuat dadanya sesak. “Duduk sini, Mas,” ajak Raisa. Ia menepuk sofa di sebelahnya. Bramasta mengangguk dan duduk. Raisa menyandarkan kepala di bahunya. “Aku senang kalau kamu pulang lebih lama dari biasanya.” Bramasta menatap rambut istrinya. Lembut. Mengingatkannya pada semua hal baik di rumah ini. Mengingatkannya pada komitmen yang seharusnya tidak ia khianati. “Sa…” suaranya tercekat. “Kamu bahagia nggak… sama aku?” Raisa terkekeh, tidak merasa ada apa-apa. “Kok tumben nanyanya? Bahagia lah. Kamu kan ayah yang baik, suami yang perhatian… meskipun pulangnya jarang, hehe.” Suami yang perhatian. Ayah yang baik. Kalimat itu terasa seperti ironi terbesar dalam hidup Bramasta. Ia memeluk bahu Raisa, mengusap pelan seolah ingin menebus sesuatu yang tidak bisa ditebus. Malam itu, saat ia memeluk istrinya tidur, aroma tubuh Raisa menguar pelan, membuatnya menutup mata dengan berat. Bukan karena Raisa tidak dicintai. Namun karena cintanya kini bercabang… dan ia tidak tahu bagaimana menghentikannya. Dalam gelap, Bramasta berpikir tentang Inari—tentang apakah perempuan itu sedang baik-baik saja, apakah ia makan, apakah ia menunggu dalam ketakutan dan kerinduan. Ia ingin mengambil ponsel dan menghubunginya. Namun tangan yang memeluk pinggangnya adalah tangan Raisa. Sekarang ia harus memilih untuk tetap diam. Karena menjadi suami setia… setidaknya harus terlihat seperti itu. Karena menjadi lelaki yang dicintai dua perempuan adalah beban yang bahkan ia sendiri tidak yakin bisa dibawa selamanya. Malam itu Bramasta tertidur dengan hati penuh sesak dan kepala penuh suara yang saling bertentangan: Cukup. Dia ingin berhenti, tapi Inari menunggu. Jangan sakiti Raisa. Namun dia pasti akan menyakiti Inari. Pilih satu, tapi Bram mencintai keduanya. Begitulah ia hidup. Di antara dua dunia yang sama-sama ia cintai… dan sama-sama ia sakiti. Untuk kebaikan semua orang, Bram memutuskan menjaga keduanya, cukup dia yang menahan semuanya. Itulah yang dipikirkannya sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD