Bab 7 Firasat Seorang Istri

1033 Words
Terkadang, beberapa hal menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan meskipun terlihat wajar dan normal. Tidak ada badai atau perubahan besar yang mencolok. Namun, hati seorang istri selalu punya cara sendiri untuk merasakan apa yang tidak dikatakan. Raisa mulai menyadarinya sejak beberapa Minggu lalu. Perubahan kecil pada suaminya, Bramasta. Sebelumnya, Bramasta melamun dengan ritme yang ia kenal, diam, menatap satu titik, tetapi tetap bisa merespons ketika Raisa memanggilnya. Namun belakangan ini, lamunan Bramasta seperti… kosong. Sore ini, Raisa sedang melipat baju di kamar ketika Bramasta lewat di depan pintu, gelisah, berjalan mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu. Raisa memperhatikan diam-diam. “Mas?” panggilnya lembut. Bramasta berhenti. “Hm?” “Kamu cari apa?” “Ng… nggak. Tadi kayaknya ketinggalan charger.” Padahal charger ada di meja. Raisa tahu, karena dia tadi yang merapikannya. Akan tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Namun tetap saja… Ada sesuatu yang mengganjal. Malam harinya, ketika Bramasta sedang mandi, Raisa membereskan kamar kerja suaminya. Sudah lama ia tidak merapikannya, mungkin dua Minggu. Kertas-kertas menumpuk, pulpen tanpa tutup di mana-mana. Raisa menghela napas pelan. Dalam merapikan laci-laci meja kerja, tangannya berhenti pada satu laci yang jarang dibuka. Biasanya laci itu berisi berkas kantor dan buku catatan. Tidak menarik, tapi entah mengapa malam ini, Raisa membuka laci itu. Sesuatu membuat seluruh tubuhnya berhenti sesaat. Sebuah ponsel. Ponsel kecil berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bramasta tidak pernah menceritakan padanya kalau memiliki ponsel lain. Raisa menatapnya lama. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia menyentuh ponsel itu dengan gemetar, mengangkatnya perlahan. Benda itu mati, tidak ada tanda-tanda baterai atau notifikasi. “Mas punya ponsel ini? Sejak kapan?” bisiknya pada diri sendiri. Ia menelan ludah. Di kepalanya berputar banyak kemungkinan, beberapa masuk akal, beberapa terlalu menakutkan. Akan tetapi Raisa tidak menyalakan ponsel itu. Ia tidak berani. Sesaat, ia memejam mata, menahan napas panjang, mencoba menepis pikiran-pikiran buruk. Ia meletakkan ponsel itu kembali di laci… persis seperti semula. Ia takut Bramasta akan tahu bahwa ia menyentuhnya. Dia tidak mau bertengkar dengan suaminya. Bramasta pasti memiliki alasan. Dia berusaha meyakinkan diri. Begitu ia menutup laci, suara pintu kamar mandi terbuka. Bramasta keluar sambil mengeringkan rambut. “Sa, kamu ngapain di sini?” Raisa tersenyum lembut, meski dadanya masih berdebar. “Beresin meja Mas. Berantakan banget.” Bramasta tertegun sesaat—reaksi kecil, setengah detik saja, namun cukup untuk membuat hati Raisa kembali mengencang. Seperti reaksi orang yang takut rahasianya terbuka. Akan tetapi kemudian Bramasta tersenyum seperti biasa. “Hehe iya, makasih ya.” Raisa hanya mengangguk. Namun rasa ganjal di hatinya tidak hilang. Besoknya, setelah mengantar Langit, putra semata wayang mereka, ke sekolah, Raisa sedang mencatat pengeluaran rumah tangga. Ia membuka aplikasi bank Bramasta di laptop karena biasanya ia yang mengatur kebutuhan rumah. Baru saja hendak membuat daftar belanja bulanan, matanya menangkap satu transaksi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Transfer ke: INARI HANDAYANI Nominal: Rp 2.500.000 Tanggal: Seminggu lalu Nama itu asing. Dia tidak pernah mendengarnya. Raisa menatap layar laptop dengan napas tercekat. Hatinya mencelos. Ia menunggu satu menit… dua menit… berharap dirinya salah baca. Namun, tidak. Transaksi itu nyata. Namanya jelas. Sangat jelas. Raisa menutup mulutnya—menahan suara yang entah apa. Shock? Sakit? Bingung? Ia sendiri tidak tahu. Tubuhnya bergetar kecil. Tiga menit ia hanya diam, memeluk diri sendiri. Setelah cukup menenangkan diri, ia menata wajahnya. Menyatukan tenang yang ia miliki sekalipun sedikit memaksa. Raisa memutuskan untuk bertanya. Oleh karena itu, ia menunggu Bramasta pulang. Ia tidak ingin berprasangka, tidak ingin bertengkar atau menuduh. Ia hanya ingin konfirmasi dan penjelasan yang cukup dari suaminya. Nominal uang itu cukup besar dan Bramasta tidak memberitahunya. Jadi, itu cukup menjadi alasan agar suaminya memberinya jawaban. --- Malamnya, saat Bramasta baru saja meletakkan tasnya, Raisa mendekat dan berkata pelan, “Mas… boleh aku tanya sesuatu?” “Boleh. Kenapa?” Raisa membuka aplikasi bank di ponselnya. Ia memperlihatkan satu transaksi itu. “Ini… uang apa ya, Mas?” Bramasta hanya butuh satu detik untuk panik. Satu detik yang sangat terlihat oleh istri yang sudah mengenalnya enam tahun. Namun ia cepat sekali memulihkan diri. “Oh itu… kenalanku. Dia jual barang, aku beli. Sekalian bantu dia.” “Barang?” Raisa mengulang pelan. “Ya, kayak… kayu untuk dekor. Gitu. Nanti aku tunjukin fotonya.” Raisa mengangguk. Tidak menuduh dan tidak marah. Hanya menatap dengan tatapan yang ingin percaya tapi tidak bisa sepenuhnya. “Oh gitu… ya sudah.” Bramasta tampak lega—atau berusaha terlihat lega. Saat Raisa hendak pergi ke dapur, Bramasta memanggilnya. “Sa, sini bentar.” Ia masuk kamar, mengambil sebuah kotak kecil. Saat membuka, Raisa melihat gamis cantik berwarna krem lembut, model sederhana tapi elegan dan sebuah kotak kecil lainnya berisi gelang emas tipis. “Ini buat kamu,” kata Bramasta, tersenyum lembut. “Aku lihat kemarin di toko, kayaknya bagus buat kamu.” Raisa terpaku. Itu adalah hadiah yang sangat manis. Terlalu manis, bahkan. Ia tersenyum kecil, memeluk Bramasta. “Makasih, Mas…” "Sama-sama, istriku sayang." Bramasta membalas pelukannya erat seolah ingin menutupi sesuatu, menutupi lubang sebesar jurang dalam diri mereka. Raisa menutup mata sambil memeluk suaminya. Tubuhnya sudah rileks, tetapi hatinya tidak. Ada sesuatu yang masih mengganjal… Sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Sesuatu yang tidak bisa ia berhentikan. Ketika malam semakin sunyi, Raisa duduk sendirian di ruang tengah, memandangi gamis baru itu. Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apa ini hadiah cinta… atau hadiah untuk mengalihkan curiga? Yang ia tahu hanyalah: suaminya berubah kecil demi kecil. melamun lebih sering, tersenyum dengan tatapan yang aneh dan menyimpan ponsel yang tidak ia ketahui. Meski ia berusaha keras berpikir positif… Hatinya tahu. Ada sesuatu yang tidak seimbang. Ada sesuatu yang… hilang. Malam itu, sesuatu dalam diri Raisa patah sedikit. Bukan hancur. Bukan pecah. Hanya… retak. Retak kecil yang tak terdengar oleh siapa pun. Retak yang hanya dirasakan oleh hati seorang istri. Ia menarik napas panjang, menatap langit-langit rumah yang selama ini ia isi dengan doa dan harapan. Raisa mengusap mata yang panas—bukan karena menangis, tapi karena menahan semuanya sendirian. Ia tidak tahu apa yang menunggu di depan. Namun untuk pertama kalinya sejak menikah, Raisa merasa… rumahnya tidak lagi sepenuhnya rumah. Suaminya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Itu memang hanya firasat, tapi feeling seorang istri jarang meleset. Itu membuatnya seperti tertikam dengan hebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD