Bab 8 Api yang Hampir Padam

1074 Words
Inari menutup laptop pelan. Jemarinya masih gemetar halus setelah menyelesaikan beberapa RPP yang seharusnya ia kumpulkan tiga hari lalu karena sakit. Dokter bilang, dia harus banyak beristirahat dan tidak boleh stress. Namun, sulit rasanya untuk tidak melakukannya dalam kondisi di mana dia sangat merindukannya suaminya yang menghilang tanpa kabar. Tubuh Inari sudah jauh lebih stabil; sakit di pinggang mulai hilang, napasnya tak lagi terasa seperti membawa batu. Ia sudah bisa berjalan tanpa menahan kesakitan, dan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia merasa… hidup. Sedikit saja. Namun pikiran tentang Bramasta kembali menusuk-nusuk seperti duri yang tak bisa dicabut. Ia belum menghubunginya sejak percakapan terakhir. Belum berani atau mungkin belum sanggup bila mendapatkan kenyataan Bramasta masih tidak tersedia untuknya. Inari paham bahwa dia tidak boleh memaksakan dirinya. Ia tahu Bramasta pergi bekerja. Pria itu masih mengiriminya uang nafkah, sekalipun tidak ada pesan atau telpon yang masuk. Dia paham betul kenapa telpon suaminya tidak aktif, tetapi dia juga sangat merindukan suaminya. Tidak biasanya Bramasta menghilang tanpa kabar. Dia khawatir, takut terjadi sesuatu pada Bramasta. Sebuah pesan singkat cukup untuk membuatnya merasa lega meski tidak cukup membuatnya melepaskan kerinduan di dalam hatinya. Saat ia menatap bayangannya di cermin kecil di meja, ponselnya bergetar. Hampir terjatuh. Nama Bramasta tertera di layar. Akhirnya. Apa yang ditunggu tiba. Inari menelan ludah sebelum mengangkat. “Pagi, Sayang,” suara itu sendu tapi tegas. Seolah bicara dari ruangan kosong yang bergema dengan penyesalan. “Pagi juga,” jawab Inari pelan, sedikit serak. “Cinta....?” Inari ingin tahu di mana Bramasta berada, tetapi kalimat itu menggantung, tak sanggup dikatakan. “Aku di Semarang.” Jawaban itu muncul bahkan sebelum ditanyakan. “Kamu gimana?” "Aku baru sembuh dari sakit, Sayang." "Kamu sakit? Kok, nggak ngasih tahu aku?" Bramasta terdengar khawatir. "Ponselmu tidak aktif, gimana aku ngasih kabarnya?" Ada jeda panjang. "Maaf, sekarang kamu gimana?" “Sudah agak baikan, Sayang.” Inari mengusap pelipisnya. “Tapi… kenapa baru hubungi sekarang?” Ada jeda. Sunyi seolah Bramasta menimbang kata-kata, takut memilih kata yang salah. “Aku… sibuk bekerja.” Suaranya merendah. “Aku juga baru pulang dari Sulawesi urusan kerja dan sekarang aku ada acara di Semarang. Kamu ngerti kan?” Hati Inari mencelos sekaligus menegang. “Sayang… tidak apa-apa kalau kamu sibuk,” Inari mencoba tersenyum walau dadanya perih. “Aku cuma… takut kamu kenapa-napa atau menyesal menikah denganku.” “Tidak. Tidak pernah.” Kali ini suara Bramasta terdengar lebih panas dan lebih hidup. “Aku cuma sibuk dan kehilangan sinyal saja.” Inari terdiam. Napasnya seketika berat. Kehilangan sinyal. Itu alasan yang mungkin benar, tapi sulit dipercaya begitu saja. "Sinyalnya nakal ya?" bisik Inari lirih. Di seberang sana, Bramasta tertawa pendek—pahit, hampir mengutuk dirinya sendiri. “Kalau aku bisa, sudah aku hajar sinyalnya,” katanya, “tapi kalau dia ngambek, kita akan hilang kontak. Kamu mau aku hilang dari hidupmu?” Inari menutup mata. Pertanyaan itu seperti pisau yang ditusuk perlahan. “…nggak,” jawabnya akhirnya. Ia membenci jawabannya, tapi ia tidak bisa berbohong. Inari tidak kuat kehilangan Bramasta, meski ia tahu Bramasta mungkin berbohong soal kehilangan sinyal. “Kamu lagi di mana sekarang?” Bramasta mengganti topik. “Di rumah,” jawab Inari. “Sekolah baru selesai ujian, jadi ada masa libur dua sampai tiga hari. Aku juga disuruh istirahat saja sama kepala sekolah biar fit dan nggak drop lagi.” “Aku senang dengarnya.” Suara Bramasta menghangat. “Aku ingin lihat kamu.” Detak jantung Inari berubah kacau. “Lihat aku? Mau video call?” "Aku mau ketemu kamu, tapi aku nggak bisa ke Malang saat ini, Sayang.” Inari menahan napas. “Jadi?” tanyanya pelan. “Kamu mau aku… datang ke Semarang?” “Ya.” Jawabannya cepat. Sangat cepat, seperti itu satu-satunya keputusan yang ingin ia lakukan hari ini. “Aku bisa pesankan hotel lain, bukan hotel tempat aku stay sama tim. Biar urusan kerjaan dan pribadi tidak bercampur. Kamu tinggal datang. Kita… bisa melepas rindu.” Inari memejamkan mata. Ia merasa seluruh tubuhnya ditarik oleh dua arah yang sama kuatnya. “Kamu yakin?” Seberang telepon sunyi sebentar. Ketika Bramasta bicara lagi, suaranya rendah, jujur, hampir rapuh. “Inari, aku… kangen kamu.” Diam yang menusuk. “Aku kangen suaramu. Kangen cara kamu ngomel kalau aku telat balas pesan. Kangen semua tentang kamu… yang selalu aku pendam bertahun-tahun.” Ada sesuatu yang patah di daada Inari. "Kalau nanti aku ganggu kerjaan kamu atau ada temanmu yang tahu, gimana? Kita belum menikah secara negara...." “Aku akan jaga semuanya tetap aman.” Nada Bramasta berubah tegas. “Yang penting kamu datang. Setelah itu, biar aku yang urus resikonya.” “Kalau aku datang…” Inari berkata pelan, “…kamu akan ikut aku pulang ke Malang?” Bramasta menghela napas panjang. Suara yang berat, penuh rasa bersalah. “Aku nggak berani janji hal-hal yang aku sendiri nggak sanggup penuhi, Inar.” Ia menambahkan pelan, “…tapi aku tahu satu hal. Aku ingin kamu. Bahkan setelah bertahun-tahun.” Dunia terasa goyah. Inari memegang tepi meja, takut jatuh oleh emosi yang ia sendiri benci karena begitu mudahnya kembali mengendalikan dirinya. “Kalau gitu…” Inari menarik napas panjang. “Tolong pesankan tiket dan hotelnya.” Ada suara helaan napas lega dari Bramasta. Bukan bahagia—lebih seperti seseorang yang sempat tenggelam lalu kembali menghirup udara. “Baik, Sayang.” Nada itu begitu lembut, begitu familiar, membuat Inari hampir menangis. “Aku kirim lokasinya setelah ini,” sambung Bramasta. “Kamu mau yang datang sore atau malam?” “Aku bisa packing sekarang,” jawab Inari pelan. “Kalau begitu… datanglah malam ini.” Hening kembali jatuh di antara mereka—hening yang mengandung terlalu banyak hal yang tidak boleh terjadi. “Inari…” suara Bramasta mengecil. “…terima kasih mau datang.” Inari menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata. "Aku cinta kamu, Inari." Telepon berakhir. Inari tidak memberikan jawaban. Namun, dia membuktikan dengan kedatangannya. Inari duduk di tepi ranjang lama setelah panggilan itu berakhir. Kamar itu terasa sempit. Sunyi. Ia menatap koper di sudut ruangan—yang sudah berbulan-bulan tidak ia sentuh. Tangannya gemetar saat ia meraih pegangan koper. Satu tarikan napas. Satu keputusan. Yang mungkin akan menjadi awal dari sesuatu… atau mungkin akhir dari semuanya. Dengan getir dan rindu yang sama-sama menyesakkan, Inari membuka koper itu perlahan. Hari itu, ia bersiap menuju Semarang—menuju laki-laki yang ia rindukan karena lama meninggalkannya, yang kini kembali menariknya masuk ke dalam api yang dulu hampir membakar habis hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD