Mayang
Langit menghitam pekat, angin bertiup kencang, air berjatuhan membasahi kota Gunung Kidul, membasahi rerumputan, pohon -pohon, juga gedung-gedung. Bau tanah tercium kala mencapai daratan, seluruh hewan mencari tempat berteduh, juga manusia yang sibuk dengan selimut dan secangkir cokelat panas.
Seorang lelaki berkaus hitam polos datang dengan membawa mobil Jeep datang menghampiri wanita cantik, berkaca mata, berwajah bulat dan berambut panjang di depan kampus.
“Kamu langsung berangkat kerja?” Kata lelaki itu.
“Ya, sudah sore nih.” Jawab wanita itu sambil melihat jam tangan miliknya.
“Bagaimana kalo aku antar? Sekalian mau minum!” Ajak lelaki itu sambil tersenyum.
“Okkelah kalo gitu,” Jawabnya.
Mereka berangkat di bawah guyuran hujan menuju tempat kerja Mayang di Bantul. Saat sampai di Imogiri mobil yang mereka tumpangi bannya bocor. Ban depan mobil yang mereka kendarai tiba-tiba meletus, membuat suara yang mengagetkan, beberapa orang yang sedang meneduh di sebuah emperan toko di pinggir jalan sampai terkejut.
“Menepi aja Mas, di situ!” Sambil menunjuk tempat parkir tempat makan di seberang jalan.
Mereka menepi di pinggir jalan, di bawah guyuran hujan mereka mencari cara untuk bisa melanjutkan perjalanannya
Dimas menatap Mayang. “Maaf May jadi merepotkanmu.”
“Sans aja Mas, lagi pula jam masukku kan jam 9, jadi tenang aja.” Mayang tertawa kecil sambil menatap Dimas.
Gini aja, aku telepon Jangki untuk menyusul kita gimana?” Tanya Mayang sambil mengambil handphone miliknya.
“Sip, ide bagus, ajak aja semua sekalian biar rame!” Ajak Dimas sambil mengangkat kepalanya.
“Ok bentar.” Jawaban Mayang mengiyakan tawaran Dimas.
Mayang sibuk mencari satu persatu kontak untuk dihubungi.
“Sayang kamu di mana?” Tanya Mayang kepada Jangki.
“Di rumah, gimana kalo jatahnya malam ini?” Tanya orang hitam, tinggi dan besar itu.
“Bangsat! Ban yang aku tumpangi bocor ni..., hujan lagi! Kamu susul ya? Kalo urusan jatah gampang!”
“Jadi kamu di mana ?” Tanya Jangki sambil mengambil kunci motor miliknya.
“Di depan rumah makan imogiri sama Dimas.” Jawab Mayang sambil menatap Dimas.
“Kok sama Dimas?” Jangki membentak
“Iya, tadi dia mau sekalian minum di barku jadi aku diantar sekalian.” Jawab Mayang sambil menatap ke Dimas lagi.
“Kalo dia macam-macam sama kamu awas ya!” Ancam Jangki sambil menggigit giginya.
Dimas tersenyum sambil menunduk.
“Bangsat kesini aja cepat! Nanti aku terlambat kerja!” dahi Mayang mengkerat.
Telepon diputus dari Jangki. Mayang merasa tidak enak atas perlakukan pacarnya kepada Dimas.
“Maaf ya Mas, aku jadi tidak enak.” Mayang meminta maaf sama Dimas sambil memelas.
“Tenang aja! Ngga usah di pikirin. Gimana kalo kita makan aja di situ? Sambil nunggu? Tanya orang berambut keriting itu.
“Ok, tapi kamu yang traktir ya?” gua belum gajian, he he. Pinta Mayang sambil tertawa.
“Aaaah gampang! Yuk!” Jangki membuka pintu mobil miliknya.
Mereka masuk ke sebuah rumah makan dan makan sambil menunggu teman-temannya selama kurang lebih satu setengah jam. Mayang memesan seafood, sedangkan Dimas Cuma memesan mie ayam bakso, maklumlah orang kampung ngga suka makanan mewah, apalagi makanan dari laut.
“Kamu ngga doyan makanan laut Mas?“ tanya Mayang sambil mengambil udang di mangkuknya.
“Bukanya ngga doyan, tapi ngga selera aja he he, amis.” Jawab Dimas sambil mengeluarkan asap rokok yang dihisapnya .
“Nah itu Jangki udah sampai.” Mayang menunjuk mobil sedan putih yang sedang parkir di depan toko.
“Syukurlah.”
Orang bertato datang menghampiri Mayang dan Dimas.
“Sayang, kamu cepat sekali, ngebut ya?”
Jangki datang dan menyambar rokok Dimas, membuang dan menginjaknya.
“Apa-apaan maksud lho berduaan sama Mayang haa?” Jangki mengangkat Dimas Hingga tercekik.
Kejadian ini menjadi pusat perhatian di dalam restoran itu, Mayang berdiri dan menghampiri mereka berdua untuk menghentikannya. Mayang menampar pacarnya itu dengan keras hingga melepaskan tangannya dari Dimas.
“Bangsat! Aku nggak suka caramu memperlakukan Dimas, dia cuma mau mengantarku dan sekaligus mau minum, apa salahnya!” Mayang emosi hingga mukanya yang putih itu memerah.
Semua orang yang ada di dalam restoran merasa sangat ingin meleraikan mereka, tapi melihat postur tubuh Jangki yang seperti itu, mereka malah takut dan hanya memperhatikan saja.
“Lho belain dia?” tunjuk Jangki ke arah Dimas.
“Bukannya belain, tapi dia itu temen kita, lho tega?” minta maaf ngga apa nanti malam ngga gua kasih jatah.” Muka Mayang tambah memerah.
Jangki merasa malu dan menyesal telah berperilaku kasar pada temannya. Jangki meminta maaf
kepada Dimas dengan perkataan malu.
“Maaf bro , gua kasar sama lho, mungkin gua kerasukan setan jadi kayak gini.”
“Bukan setan, tapi maklampir.” Dimas tertawa terbahak-bahak.
Mereka berdua berpelukan dan tertawa bersama, orang yang melihat kejadian itu pun lega dan ikut senang, Mayang ikut lega dan kembali ke meja duduknya diikuti Dimas dan Jangki. Saat Mayang baru mengangkat sendoknya, gerombolan motor datang seperti geng motor. Gerombolan pemuda itu menghampiri Mayang, Dimas dan Jangki.
“Assalamualaikum.” Ucap seseorang berpeci dan memakai sarung itu.
Semua menjawab salam Amin termasuk pelanggan di restoran itu. Maklumlah dia alumni pondok pesantren jadi lagaknya seperti itu.
“Wah rame nih, aseek.” Mayang gembira.
“Udah dari tadi May?” tanya wanita berambut pendek berwarna pirang.
Cindy menghampiri dan duduk di sebelah Mayang.
Mayang menguap “Haaah..., sampai mengantuk ni, kalian sih lama.”
Orang bertubuh gempal menepuk bahu Dimas “Langsung aja nih nanti kemalaman.”
“Udah pada makan belum? Kalo belum makan aja sekalian di sini.” Sawut Mayang.
“Tadi udah di perjalanan, tapi kayaknya Fatur kurang ni...” Amin tertawa.
Amin memang orang yang suka bercanda dan memiliki selera humor yang tinggi, apalagi sama Fatur, dia suka usil karena gemas dengan tubuh gempalnya.
“Jadi ngga mau tambah? Kalo gitu ayo gas... meluncur.” Tawar Mayang.
Semua keluar meninggalkan restoran kecuali Dimas yang sedang membayar makan di kasir dan segera menyusul.
“Jadi, langsung ke bar?” Tanya wanita berambut agak keriting itu.
“Iya, langsung ke sana nanti takut kemalaman.” Jawab Dimas
Fitri mengangguk.
“Apa! Ke bar? Gua kira mau ke mana kek.” Amin terkejut.
“Iya, ke bar, maaf gua tadi ngga ngasih tau lho he he.” Ujar Rizki tanpa merasa bersalah.
“Aduh, aku enggak suka tempat seperti itu masalahnya.”
“Gua tahu Min kamu masih suci, tapi di sana kita bukan mau ngejerumusin kamu kok, cuma mau kumpul doang kan, itu aja tempatnya khusus.
“Okkelah, tapi kalian jangan maksa gua untuk minum lho?”
“Siap.” Semua menjawab.
Jarak Imogiri ke Bantul kurang lebih 10,3km, jarak yang lumayan jauh untuk jalur Pantura. Menaiki 1 mobil milik Jangki dan sisanya memakai motor masing-masing. Perjalanan masih diguyur hujan deras, tapi tidak sederas saat awal perjalanan. Jam menunjukkan pukul 20.37. Akhirnya, setelah 24 menit perjalanan berekspresi, Mereka sampai di lokasi.
Tiga motor sudah memarkirkan motornya, disusul satu mobil milik Jangki. Setelah melepas semua jas hujannya, mereka masuk ke bar lewat pintu belakang.
Amin mengolet “Alhamdulillah, akhirnya sampai.”
“Lama juga ya, kirain deket, eh ternyata?” Sawut Imel.
“Sebenernya deket tapi kan hujan, jadi ngga bisa ngebut kaya Valentino Rossi, kalo engga hujan gua udah sampai dari tadi.”
“Ngebut-ngebut, jatuh nanti nangis.....” Kata Imel meledek.”
Amin menaikkan kepalanya dan berlagak sombong. “Nangis? Gua aja diputusin pacar ngga nangis, apalagi cuma jatuh dari motor, sepele, he he.”
“Udahlah! Ngomong sama lho ngga ada gunanya, ayo masuk.”
Imelia Maulidina, biasa di panggil Imel, merupakan perempuan yang tidak suka bercanda, tidak sepeti Amin yang malah memiliki selera humor tinggi. Wanita yang paling tinggi di antara teman-teman, berambut panjang dan memiliki tahi lalat persis di sebelah bibirnya. Dia sudah ditinggal kedua orang tuanya sejak masih umur 6 tahun. Dan merupakan pacar dari si Fatur.
“Ini tempat khusus, jadi santai aja, ngga ada bakalan orang masuk ke sini, jadi bersantailah seperti rumah sendiri, oke? Aku mau kerja dulu, nanti nanti gua temenin mungkin jam 1 nan,” ujar Mayang kepada semua teman-temannya.
Amin mengambil rokok di sakunya “Bersantai seperti di rumah? Gua biasa acak-acakin barang di rumah, kalo di sini boleh?” Amin senyum sambil menaikkan kedua alisnya.
“Terserah lho bangsat! Mau acak-acakin kek, mau bantingan kek, jual kek terserah lho!” Mayang marah.
“Baper tu, he he.”
Fitri mencubit Amin “Lho sih paling suka usil, tuh jadi marah kan jadinya.”
Mayang paling tidak suka pada Amin karena bercandanya suka kelewatan, apalagi Mayang yang suka dibuat bahan leluconnya. Mayang sering mengadu kepada pacarnya, tapi malah membiarkan dan malah ikut tertawa.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.48, Mayang kembali menemui teman-temannya. Memakai pakaian sexy, kaos yang tidak sampai pusar dan membelah dadanya, serta celana yang pantas dipakai untuk ukuran bayi.
“Uhuuu...” Pupil Rizki membesar.
Fitri yang ada persis di sebelahnya mencubit pipinya Fatur, greget barcampur rasa cemburu.
Amin yang melihat kejadian itu tersontak kaget dan tidak menyangka temannya seperti itu.
Amin berlagak seperti dukun, menaikkan tangannya seperti sedang mengobati orang yang kerasukan.
“Astagfirullah, tobatlah wahai cucu-cucuku.”
“Diam lho, apa mau gua lempar pake botol.” Mayang menodongkan botol Vodka kosong ke arah Amin.
Amin mengangkat kedua tangannya seperti sedang ditodong pistol. “Ampun nyai.”
Sontak semua teman-temannya tertawa.
“Udah sayang, udah.” Jangki menenangkan Mayang.
Mayang masih melirik ke arah Amin.
Cindy mengalihkan pembicaraan. “ May omong-omong kapan lho selesai skripsi?”
Raut rupa Mayang seketika berubah. “Nah itu mungkin hari kamis, aku juga bingung.”
“Setelah itu libur ngga?” Tanya Fatur.
“Mungkin libur sekitar sepuluh harinan.”
“Aku punya ide, gimana kalo kita liburan sama-sama gimana?” Tanya Dimas kepada seluruh temannya.
“Ide bagus, aku setuju, udah lama kita ngga bareng-bareng kaya dulu.” Rizki menanggapi.
“Ah nanti palingan nangis kaya dulu.” Sindir Amin.
Semua tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Amin. Memang semua pernah menangis tapi tidak untuk Rizki yang sudah berumur 16 tahun. Saat itu mereka study tour ke Bali. Rizki tertinggal bus, dan menangis di pinggir pohon. Untung temannya sadar bahwa Rizki ketinggalan.
Rizki menatap Amin dengan tersenyum. “Bangsat lho Min.”
Rizki memang tidak mudah baper, tidak seperti Mayang, ke singgung sedikit baper, seperti singa senggol dikit maunya di terkam.
“Yang lainnya gimana?” ulang Dimas.
Semua serentak setuju.
“Jadi rencananya mau ke mana nih?” tanya Imel.
“kalo bisa, jangan jauh-jauh, tapi wisatanya bagus.” Tambah Fitri.
Dimas mengambil bungkus rokok miliknya. “Ada tu di daerah Magelang, gimana?”
“Bagus ngga?” tegas Mayang.
“Bagus kok, wisatanya baru, baru buka dua tahun lalu.”
Cindi menapuk bahunya Dimas. “Oh ya sayang, aku juga pernah dengar, nama tempatnya kalo ngga salah Kembang Mayang kan?”
Dimas meyakinkan teman-temannya. “Nah itu, coba kalian browsing bagus ngga?”
“Namaku dong?” Mayang berbangga diri.
“Iya kalo itu kan bunga yang wangi, kalo Mayang yang ini baunyaaa.....” Sambil menyedot rokok kretek yang dibawanya.
Mayang berdiri, kembali menodongkan botol Vodka ke arah Amin.
“Stop! Diem lho! Gua ngga segan lempar botol nih sampe pecah.”
Jangki tertawa kecil. “Udah sayang, Amin kan Cuma bercanda.”
Mimik rupa Mayang mau menangis. “Kok kamu gitu sayang, aaaaaa.....”
Perilaku Mayang membuat seisi ruangan menjadi seperti acara lawakan.
“Jadi rencananya kapan nih enaknya?” tanya Fatur.
Semua berpikir sejenak.
“Minggu depan gimana, hari Sabtu? Skripsiku kelar hari Jumat, jadi enak, kalo Minggu nanti rame.”
Semua menoleh satu sama lain mengisyaratkan dalam hati setuju.
Dimas menepuk tangannya, sontak membuat semua terkejut. Pria paling kalem itu memang paling bersemangat ketika mendengar kata liburan.
“Ok, jadi kita berangkat pake dua mobil. Mobilku dan mobilnya Jangki kan, berangatnya jam tiga nan aja, biar bisa lihat sunset, sekalian kemah semalam di sana, gimana?”
Fatur menanggapi, pria yang jarang bicara itu memang tidak suka banyak bicara, kecuali saat
membahas wanita dan masalah porno, otaknya langsung nyambung bangaikan sinyal 4G.
“Bagus tu, tapi pake tendanya siapa?”
Imel menoleh ke arah Fatur, “Amin kan suka muncak gunung,” Imel beralih menoleh ke Amin, “pasti punya kan, Min?”
Amin menyemburkan asap rokoknya. “Boleh, tapi harus bayar, sebab belum lunas tu tenda.” Amin senyum sinis.
“Bangsat! Serius dong.” Bentak Mayang.
Amin tertawa, menutupi mulutnya. “Canda Mayang.”
Mayang memang tidak pernah kalem kalau urusan sama Amin, Amin yang malah tambah senang ketika ada temannya yang emosi, apalagi Mayang.
Suasana di ruangan itu mendadak sepi, dan kosong tanpa bahan pembicaraan, seperti sepinya malam itu, hingga salah satu dari mereka menyindir Mayang.
Dimas menghisap asap rokoknya dan menatap ke atas seraya senyum-senyum melirik ke arah Mayang. “Ehem! Haus nih.”
Alis Mayang turun seperti sedang berpikir. Mayang menepuk keningnya. “Ya ampun, sorry-sorry maaf Mas lupa, he he.”
Mayang mengambil dua botol Vodka besar lengkap dengan sepiring roti untuk dihidangkan di meja.
Amin merasa tersinggung karena hanya dia satu-satunya yang tidak meminum minuman haram itu. Sudah 14 tahun di pesantren lamanya, pasti ilmunya sudah melekat, dan tidak tertarik akan hal seperti itu, kecuali rokok, dia paling boros di antara lainnya, seharinya bisa habis dua bungkus rokok.
Amin mengangkat tangannya. “Gua pesen kopi May!” sindir Amin.
Mayang membalas ucapan Amin, dan merasa ini saatnya untuk balas dendam karena sering membuat dirinya jengkel. “Makanya jangan terlalu alim Min, ni coba sekali minum minuman surga.”
Amin tidak kehabisan akal, dia selalu satu langkah lebih pintar. Amin merapikan kerah bajunya.
“Di dalam Qur’an surah Al-Lukman dijelaskan نُمَتّـِعُهُمۡ قَلِيۡلًا ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ اِلٰى عَذَابٍ غَلِيۡظٍ
( Numatti’uhum qaliilan summa nadtarruhum ilaa ‘azaabin ghaliiz)
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam
azab yang keras.”
Bukanya Mayang senang, dia malah di comeback, rupa Mayang sangat marah, seperti ingin memukul wajahnya Amin.
Jangki tertawa. “Amin dilawan! Udah sini duduk sayang.”
Meskipun Jangki adalah pacarnya dia selalu cuek kepada Mayang apabila digoda oleh Amin. Seisi ruangan pun tertawa ketika Mayang dan Amin bertengkar.
“Jadi fiks ini jadinya hari Sabtu?” tutup Dimas.
Semua diam mengangguk mengisyaratkan setuju.
Matahari mulai muncul dari ufuk timur, selalu setia menerangi insan-insan di seluruh bentala. Ayam bernyanyi dengan kompaknya seperti paduan suara, menandakan hari sudah pagi. Pagi begitu cerah, secerah hari Mayang. Hari yang ditunggu Mayang telah datang. Hari ini adalah hari terakhir Mayang menyelesaikan tugas skripsinya. Sudah sekitar tiga bulanan Mayang berjuang demi tugas skripsi itu, akhirnya proyek sudah mencapai 95%, tinggal di finishing.
Mayang mengeretakan tulang lehernya, pegal luar biasa sehari hari harus berhadapan dengan laptop dan buku. “Yho sebentar lagi, sebentar lagi, semangat.”
Tiba-tiba telepon Mayang bergetar, berbunyi lagu dangdut kesukaannya, menandakan seseorang sedang memanggilnya. “Apa apaan nih Dimas nelpon, ganggu aja, cih.” Mayang mengangkat telepon. “Gimana mas? Aku lagi sibuk ni.” Mayang sedikit membentak, dia tak ingin tugas skripsinya diganggu, agar ingin cepat-cepat selesai.
Dimas terkejut mendengar bentakan Mayang, sebelumnya dia sudah tahu bakal kejadian seperti ini. “Maaf benget May, gua udah ganggu lho. Gua mau tanya aja lho soal skripsi itu, kelarnya kapan?”
Dimas berbicara sangat kalem, kalem banget seperti hampir tidak terdengar.
“Oh soal skripsi itu, mungkin kelarnya mentok nanti sore lah.”
Dimas tiba-tiba bersemangat. “Naaah! Nanti kumpul-kumpul lagi gimana?”
“Kok lho jadi bersemangat banget ya?” Mayang penasaran.
Dimas diam berpikir, ia juga tidak sadar bahwa dirinya begitu bersemangat. “Eeeeee, yang penting bisa ngga?”
“Kalo bisa, bisa sih ,nanti gampang. Omong-omong mau kumpul di mana sih?”
Dimas ragu menjawab, sebab dia pasti tidak menyukainya. “Di....rumahnya Amin.”
Mayang terkejut. Dia mengangkat handphone yang semula di geletakkan di meja, dan mendekatkannya pada telinganya.
“Apa! Di rumahnya Amin?” Waduh kalo ini aku ngga bisa, ngga kuat gua, mending gua ngga ke sana.”
Dimas tertawa terbahak-bahak.
“Udah gua duga, pasti bakal begini ceritanya. Tapi May, ini penting buat persiapan liburan besok, apalagi barang-barang udah ada disini semua, tinggal berangkat aja.”
Kedua mata Mayang membulat, membesar batinnya tidak percaya.
“Jadi, maksud lho, kita semua menginap di rumahnya Amin gitu?”
“100 poin buat lho.”
“Tapi, gua ogah ah! Males.” Suara Mayang seperti orang yang sedang ingin menangis.
“Lho ngga mau liburan May.”
“Mau mau sih, tapi kenapa harus ke rumahnya Amin ah!”
“Gua juga belum paham. Jadi gimana nih serius ngga lho?”
“Iya iya, nanti gua kesana deh”
Mayang langsung menutup teleponnya, tanpa adanya salam penutup. Mayang begitu kesal, alih-alih mendapat kabar bagus, eh ternyata malah membuat pikirannya jadi berantakan. Mayang tak ingin situasi seperti ini membuat berantakan tugas skripsinya. Mayang terus fokus dan menganggap biasa, padahal dalam hatinya, kesal luar biasa. Batin dalam hatinya, kenapa harus ke rumah Amin.
Sekitar pukul 2, tidak disangka Mayang sudah menyelesaikan tugas skripsinya lebih awal, yang awalnya di target jam 3, ternyata rampung lebih awal. Satu jam berharga, ia gunakan untuk beristirahat, kemudian baru berangkat ke rumah Amin.
Mayang mengucek matanya. "Syukurlah.....sudah kelar, akhirnya bisa tenang gua. Oh lupa gua, tenang apanya bangsat, gua harus ke rumah Amin setelah ini, haaaaahhh."
Satu jam beristirahat, Mayang memberesi barang-barang miliknya, dan dimasukkan ke dalam tas. Mayang kemudian berangkat menuju rumahnya Amin menggunakan jasa ojek online.
Setelah setengah jam lamanya, akhirnya Mayang sampai tujuan, tepatnya di kota Wonosari.
Setelah sampai, Mayang mengamati map yang di share oleh Dimas, tidak salah lagi yang ada di depannya adalah rumahnya si Amin.
Mayang mengamat-mengamati map yang ada di handphone miliknya. "Ngga salah kan gua."
Mayang tidak menduga bahwa rumahnya Amin semewah ini. "Ya, gua ngga bakalan salah, toh di sana ada mobilnya Jangki dan Dimas.
Mayang membuka pintu tanpa ragu, dan di dalam rumah sudah ramai. Tiba-tiba ada yang berteriak. "Welcome to my house Mayang." Sambut Amin.
Mayang sudah merasakan ada yang aneh setelah memasuki rumahnya Amin. "Sepertinya dia mau balas dendam, aku akan di ejek habis-habisan pasti. Batinnya.
"Ngga pakai bahasa Arab lho Min." Tanya Fatur yang ada di pojok ruangan.
Amin berlagak seperti pelayan di hadapan si ratu. "
أهلا بك في منزلي
(Ahlan bika fii manzilii)
Mimik Mayang tiba-tiba berubah, ia langsung menatap Amin dengan sinis.
"Jangan gitu dong May, kan jadi takut gua."
"Hebat juga lho Min, satu lemari besar gini penuh kitab, gila emang." Dimas memotong pembicaraan.
"Oooh, itu belum seberapa, toh di dalam kamar gua masih banyak."
Tiba-tiba wanita tua berkerudung merah datang menghampiri pemuda-pemuda itu membawa beberapa gelas teh panas lengkap dengan camilannya.
"Ngga usah repot-repot bu..." Fitri berdiri dan sedikit menunduk.
Memang Fitri adalah yang paling sopan di antara teman-teman yang lainnya.
"Tidak, tidak repot kok. Omong-omong ini temannya Amin ya? Yang akur ya, Amin itu orangnya nyebelin." Wanita tua berkerudung merah itu senyum sambil menatap Amin.
Amin tiba-tiba senyum sendiri. Dan yang lainnya pun ikut senyum, tidak kaget dengan perilaku Amin.
"Amin santing." Jangki tertawa menutupi mulutnya.
Cindy mendekati Amin dan menepuk bahunya. "Makannya Min, jangan sok usil, nyokap lho aja bilang begitu apalagi kita."
"Mau gimana lagi, udah dari sononya."
Semua menikmati keindahan kebersamaan di rumah Amin. Mereka menyantap hidangan yang di bawa oleh ibunya Amin. Tak berselang lama, ibunya Amin kembali dengan membawa nasi dan ayam bakar besar di atas meja berjalan, sontak membuat teman-temannya iri akan kehidupan mewah Amin.
Fitri merasa tidak enak kepada ibunya Amin. "Wah Bu, kami jadi ngga enak ni, jadi ngerepotin ibu."
Ibu itu menurunkan hidangan itu ke meja berkumpulnya para pemuda itu. "Udah tenang saja, ibu suka direpotkan kok." Jawab ibu itu dengan senyum.
"Ayo Amin, ajak teman-temanmu makan."
Amin mengambil nasi, diikuti yang lainnya, mereka begitu menikmati hingga wanita berkerudung merah itu kembali membawa kerupuk dan dua teko berisi teh panas. "Ayo nambah, habiskan biar cepat gemuk, kaya mas-mas yang itu." Sambil menunjuk ke arah Fatur.
Jangki tersedak. " Itu mah udah beda porsi, kita satu piring, dia tiga piring ludes masuk ke perutnya."
"Bukan 3 piring, tapi sebakul." Amin tertawa terbahak-bahak menepuk-nepuk bahunya Fatur.
Fatur hanya diam senyum-senyum sendiri melihat dirinya dibully.
Jangki menata Amin. "Amin mulai lagi dah." Jangki menepuk dahinya.