Sam's Point of View
Ah tidak, apa yang sedang terjadi? Apa bumi mengalami ayunan lagi? Tapi kenapa getarannya begitu kuat? Guncangannya terlalu kuat hingga menguras seluruh tenagaku, aku membutuhkan karbohidrat kompleks dengan kadar gula tinggi jika ini tidak segera berhenti! Bahkan disini silau sekali, aku tidak sanggup membuka mata sedikitpun. Dimana aku? Seseorang tolong aku! Tolong! Tolong!
“Selamat pagi, Tuan”
Suara wanita yang sangat lembut dan memanjakan untuk pagi hari yang akupun tak tahu cerah atau tidak, karna aku belum membuka mataku. Aku yakin seratus persen itu bukan istriku, karena aku belum pernah menikah.
Sebentar, ternyata tadi hanyalah sebuah mimpi. Ini bukan kali pertama aku memimpikan guncangan dan cahaya sekuat itu, tapi mendengar suara wanita? Ini sesuatu yang baru. Perlahan mataku terbuka. Tidak ada sorotan sinar pagi yang menghampiri kamarku, “oh tidak begitu cerah rupanya” ucapku sangat pelan. Tunggu dulu, apa aku masih di Yugyert? Ah, aku lupa kalau mereka menggunakan kaca khusus sehingga pantulan sinar matahari tidak begitu kuat. Aku bertengkar dengan diriku sendiri lagi, padahal masih pagi dan baru saja bangun.
Itulah salah satu keunikan di bumi bagian tiga ini, semua penduduk wajib menggunakan kacamata khusus saat pagi dan siang hari karna penggunaan logam mulia pada bangunan yang bisa dibilang tidak wajar, tentunya karna harga batuan tidak lebih murah ketimbang logam mulia.
Seperti yang pernah ku bilang, pola orbit matahari tidak berubah, hanya waktu siang dan malam menjadi lebih lama karna ada perluasan keliling yang mempengaruhi waktu rotasi.
Masih banyak hal yang kuketahui mengenai sejarah bumi. Aku seorang pembaca yang handal. Selain matematika terapan, revolusi dan evolusi merupakan obsesi bacaanku. Terkadang, banyak institusi belajar yang mengundangku sebagai pemateri sejarah bumi. Aku bahkan sampai mendapatkan gelar professor dibidang ini saat umurku 26 tahun.
Dengan posisi mata yang sudah terbuka, aku meyapu pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Hingga mata ini menemukan sesosok wanita tepat di depan pintu kamar yang melihatku entah apa ekspresinya masih terlalu kabur untuk didefinisikan.
“Sitma? Apa yang sedang kau lakukan?” aku baru kenal dengannya kemarin dan sekarang dia masuk ke kamar tidurku? Tidakkah itu terlalu cepat? Lagi pula ini masih pagi. Tidak masuk akal.
“Maaf, Tuan, ada panggilan masuk di telepon anda yang tertinggal di mobil kemarin, lalu saat di depan pintu kamar saya mendengar tuan meminta tolong, lantas dengan spontan saya hanya ingin mengetahui apa yang terjadi.”
Astaga, kenapa aku harus berburuk sangka. Lagi pula dia wanita, tak mungkin dia akan memperkosaku, ya aku kaum konservatif.
“Oh, baiklah. Kemarikan telponku.” Pintaku yang masih duduk di atas kasur dengan nada terbata.
Setelah memberi telepon milikku sitma tetap diam diposisinya, aku meliriknya kemudian pintu sebagai tanda kalau dia harus keluar. Namun ia masih tak berpindah dengan kepala menunduk dan terus menyelipkan rambutnya ke belekang telinga dengan anting bulat itu.
“Sekarang kau boleh keluar Sitma,” tegurku diimbuh dengan senyum kecil dan kelopak mata tertutup yang bukan berarti kebahagiaan.
“Tapi, Tuan, saya mau minta maaf lagi,” ucapnya dengan penuh ketakutan. Kali ini dia sungguh gugup. Bagaimana wanita yang memiliki kesan pertama tangguh terlihat gugup seperti ini?
“Untuk apa?” tanyaku dengan menaikkan sebelah alis, ya aku sangat penasaran.
“Untuk melihat Tuan yang sedang berereksi,” jawabnya lebih terbata, sampai beberapa tetes keringat muncul di pelipisnya.
“Tapi secara biologis, itu wajar terjadi dipagi hari.” Lanjutnya dengan kecepatan berbicara lebih.
Ya tuhan. Apa lagi ini? Sangat memalukan! Aku tahu ini wajar, tapi ini di depan wanita yang baru saja ku kenal.
“Oh, OK… Sekarang… bisakah kau keluar dari kamarku?” Jawabku menahan semua kepanikan. Kali ini aku lebih gugup darinya.
Wanita itupun mengangguk dan meninggalkanku sembari seperti masih berpikir dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Rasa malu ini terasa sudah tidak dapat ku pikul lagi. Setelah Sitma keluar dari ruangan ku, hal pertama yang ku cari adalah sumber gula yang sangat kuat. Walaupun tadi hanyalah mimpi, tapi hal itu benar-benar menguras tenaga dan setiap bermimpi seperti itu aku benar-benar membutuhkan asupan gula sesudahnya. Sebotol minuman berkarbonat tanpa tulisan bebas gula aku habiskan pagi ini. Memang bukan minuman yang bersahabat dengan lambung di pagi hari, tapi aku tidak punya pilihan. Selain meminum segelas s**u segar setelahnya.
Setelah sedikit tenang kuhela napas dan mulai membuka teleponku. Benar saja, ada 12 panggilan tak terjawab dan 2 pesan masing-masing suara dan teks. Semua dari Zlo, temanku.
Pesan suara: Sam, bisakah kau bangun dan mengangkat teleponku? Ini Penting.
Pesan teks: Sam sialan! Cepat telepon balik! Ini sangat penting dan mendesak! Aku tahu kau sudah bangun saat membacanya!
Dia lebih lembut di pesan suara pasti karna tak mau terdengar kasar oleh rekan-rekan kerjanya. Lagi pula tidak mungkin aku membacanya saat tidur. Selain pintar, selera humor Zlo cukup baik. Hanya aku yang berpendapat seperti ini.
Sebentar, bukannya Zlo sedang di pedalaman Iedhla untuk sebuah proyek penelitian? Lalu kenapa ada hal penting dan mendesak yang berhubungan dengan ku? Iedhla atau bagian bumi ke 7 merupakan satu-satunya bagian bumi besar yang belum terjamah secara keseluruhan. Masyarakat di sana sedikit tertutup dan jarang mau menerima hal baru dari luar. Iklimnya dan kontur tanah yang unik membuat tempat ini sangat subur dan dan dapat ditanami berbagai varietas tanaman. Beberapa kali bumi bagian dua atau Bogola menawarkan teknologi untuk meningkatkan produktifitas di Iedhla namun mereka menolaknya karena meanggap efek samping dari teknologi yang ditawarkan Bogola akan merusak keseimbangan alam di Iedhla. Perpolitikan di Iedhla juga selama ini tidak pernah sepanas dan pelik dari bumi bagian lain. Mereka tidak memperdulikan kekuasaan.
Karna terlihat sangat mendesak, terpaksa kutelepon balik Zlo, awas saja kalau dia hanya mengerjaiku. Aku harus menyikat gigiku sebelum menelponnya. Jika kalian berpikir agar Zlo tidak mencium aroma pagi mulutku, kalian salah. Hey, aku tidak mau teleponku bau.
Panggilan tersambung
S: ha… *kalimatku belum selesai*
Z: Sam? Kemana saja kau! Kau sekarang dimana? Tim kita sudah menunggu sejak pagi. Aku akan kesana sekarang juga.
S: Apa? Tim? Tim apa?
Z: Dimana posisimu Sekarang?!
S: Pilot camp Y-1453
Z: OK
S: Tunggu, tunggu, Itu nomor kamarku. Kita tidak akan berbincang di sana bukan?
Z: Tetaplah di sana.
Zlo memutuskan sambungannya. Apa yang Zlo maksud dengan tim? Apakah ada sesuatu yang sangat penting? Yang ku tahu selama ini aku dan Zlo hanya seorang teman dan bukan rekan kerja atau apapun secara profesional. Dari dulu aku tidak pernah mengerti dengan segala tingkahnya, dia sepertinya sudah gila, atau dia mau menyeretku menjadi gila sepertinya? Sial! Ada apa ini? Aku buta kondisi.