Author's Point of View
Masih dalam diam. Kedua orang yang saling berhadapan saling berharap agar lawan bicaranya membuka mulut duluan, membuka kembali percakapan. Bukannya tidak ada yang mau memulainya, mereka hanya bingung harus bagaimana di awal. Dua pasang mata saling berlari menghindari dari tatapan mata lawannya, hingga termakan waktu.
"Lalu, apa yang bisa kau lakukan?" Sitma bertanya, kali ini dengan tatapan penuh.
"Membawamu pergi dari sini." Sam mengatakan itu dengan spontan, entah bagaimana ia memikirkannya, ia tidak punya pilihan lain selain membawa Sitma ke camp rahasia itu. Di sisi lain seharusnya ia tahu dengan membawa Sitma ke camp rahasia, sama dengan mengantarkan Sitma ke kuburannya sendiri.
"Kemana? Kerumahmu? Atau ke camp rahasia kalian? Mereka tak akan menerimaku di sana."
Sitma terbangun dari kursinya. Ia menatap jendela ke arah luar dan melakukan monolog pengakuan dosa.
"Mereka (XIX Company) takkan membunuhku karna aku mereka jadikan umpan untuk mengetahui camp rahasiamu termasuk semua yang berhubungan dengan misi rahasia itu. Mereka tak tau cara menghancurkan portalnya, yang mereka bisa hanya menghancurkan kelompok kalian."
Suasana tetap hening dengan Sam yang bungkam dan Sitma yang sedikit emosional. Sitma tidak tahu mengapa mulutnya bisa berkata seperti itu. Mengakui dirinya sebagai umpan sama saja dengan menghancurkan misi yang ia lakukan selama ini di bawah Mr. Anaro, ini adalah bunuh diri.
"Sekarang kau sudah mengetahuinya. Pergilah! Jangan pernah kemari!" Usir Sitma.
"Tapi Sitma---"
"Cepat! Mereka ada di sini!"
"Kalau begitu kau harus ikut!" Sam memohon, karna ia tahu jika ia meninggalkan Sitma, wanita itu tidak akan lepas dari genggaman Mr. Anaro.
Sam menarik tangan Sitma. Pada awalnya Sitma menolak, namun ini pertama kali baginya merasakan sesuatu yang tulus di hadapannya. Ia menangis. Sam menyadari tangisan penyesalan Sitma. Sam menatap mata Sitma dalam-dalam. Jari-jarinya menyentuh pipi Sitma dengan dua tangan. Seakan ingin meyakinkan sesuatu.
"Percaya padaku."
Muka serius Sam nampak sangat jelas. Dia sangat jantan saat meyakinkan seseorang.
"Aku ingin s**u segar dari peternakan keluarga Bobe." Lanjutnya dengan suasana yang masih serius tadi.
Tak kuat menahan diri, Sitmapun tertawa kecil di tengah tangisnya sambil meninju badan bagian atas Sam, tinjuan itu sudah dipastikan cukup untuk menghadirkan memar di badan Sam mengingat Sitma yang atletis.
Dubrak brak dor dor
Suara dari pintu belakang mengagetkan dua orang dalam adegan. Ternyata apa yang dikatakan Sitma semuanya benar, ia hanyalah umpan dan semua ini hanya jebakan. Skema awalnya, jika Sitma tidak memberi tahu Sam mengenai umpan itu, akan ada mata-mata lain yang siap menguntit mereka berdua hingga Sam dengan sendirinya menunjukkan letak camp rasahasia. Semua sudah direncanakan sangat rapih. Berhubung dengan pengakuan yang Sitma lakukan, skema utama ini tidak dapat dieksekusi dengan baik. Mereka yang sudah memasang perekam suara dan kamera tersembunyi di setiap sudut ruangan menyadari pergerakan Sitma. Dari mengunjungi titik buta tepat depan jendela dan mematikan perekam suara yang dipegangnya. Karena kecurigaan tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk menangkap Sam dan Sitma.
"Itu mereka" Sitma mengingatkan.
"Ikuti aku!" Perintah Sitma. Dia membawa Sam ke lantai dasar. Tangannya mengambil kunci di atas meja berhiaskan vas bunga bermotif kulit sapi. Pasti itu cinderamata ifralert dan sudah dipastikan itu kunci kendaraan.
Dengan terus berlari menghindari anak buah Sir Anaro, Hujan tembakan dari belakang sudah diusahakan untuk dihindari.
Sitma memencet tombol yang bersatu dengan mobilnya, seketika pintu terbuka. Sitma masuk kedalam alat transportasi yang disebut mobil itu diikuti Sam setelahnya. Untuk kali ini kemudi dipegang Sam. Hujannya belum berhenti. Keadaan masih gentir. Jangan sampai ada yang basah.
Kecepatan mula-mula yang sudah ditingkat cukup kencang membuat stir tak terkendali. Walau aman dari basah peluru, mobil Sitma menabrak westafel minum di jalan. Bagian depan sedikit penyok ditambah kepala penumpang yang terbentur airbag. Kejadian menabrak westafel bukanlah sesuatu yang menyedihkan atau menegangkan. Tapi kejadian besar yang dianggap kecil hingga munculnya tawa diantara mereka. Setidaknya mereka masih selamat dan sudah tidak ada lagi yang mengejar mereka dari belakang.
Dengan stir mobil yang sedikit 'oleng' mereka bertukar posisi dalam tugas. Kini Sitma yang memegang stirnya.
"Di darat itu bukan ahlimu." Ucap Sitma dengan senyum yang menunjukkan sarkasme setalah Sam berhasil mengelabui musuh tapi dengan konsekuensi menabrak westafel. Sam juga hanya membalas senyum dan menyadari apa maksud tersirat di dalamnya.
Selama perjalanan mereka tak mengobrol sedikitpun. Tentunya karena tidak ada bahan obrolan.
"Sitma! Aku melupakan sesuatu!" Sontak Sam yang membuat Si penyetir kaget. Bagaimana tidak, intonasinya jelas menggambarkan kalau ada hal penting terjadi.
"Hal penting? Apa itu?" Jawabnya dengan mimik yang sedikit tegang. Pertanyaan itu diajukan dengan sesekali mata menuju penumpang di sampingnya.
"Aku belum beli s**u produksi keluarga Bobe."
"Aku serius" Lanjut Sam. Ia benar-benar serius tentang itu.
"Astaga.. Setidaknya kau tak perlu mengagetkanku. Aku punya kenalan produksi s**u yang lebih enak dari keluarga Bobe. Mungkin kau harus mencobanya----. Sitma terus berbicara dan menceritakan semua hal tentang peternakan penghasil s**u yang ia sukai. Tentunya itu menjadi dongeng favorit Sam hingga membuatnya tertidur.
***
"Hey bangun" Suara wanita yang sama yang pernah membangunkan Sam saat di Yugyert. Sam terbangun.
"Kita sudah sampai."
Tempat itu sangat luas, bukan bangunannya, tapi ladang rumputnya.
"Ini rumah produksi s**u keluarga Orlan. Mereka tak memproduksi secara masal. Ayo ikut."
Sam dengan mata yang masih berat mengikuti arah wanita di depannya berjalan.
"Hola. Satu atau dua gelas dapat setengahnya gratis." Sambut pria berotot besar dengan keramahannya.
"Hola Jup Orlan! Jup aku pesan dua gelas untuk yang tersegar." Jawab Sitma.
Sam hanya terdiam melihat mereka saling tersenyum seperti sudah menjadi kebiasaan mereka berbicara lewat batin. Tak lama menunggu gelas bervolume 800ml dan setengahnya berisi s**u datang dihadapan Sam dan Sitma.
"Silahkan." Tawaran Sitma.
Tanpa ditawar Sam juga akan tetap meminum s**u itu. Saat Sam meneguknya dengan nafsu dia bisa merasakan sensasi yang berbeda disetiap papila lidahnya. Ini luar biasa!
"Ini. Ini. Ini sangat enak Sitma!"
Sam melanjutkan minumnya. Selama ini ia menyukai s**u hasil keluarga Bobe karena itulah produsen paling terkenal dan menyediakan kemasan yang dapat dibawa kemanapun. s**u keluarga Orlan ini jelas terasa sangat segar. Peternakan sapi yang merawat hewan ternaknya sangat baik, membuat hewan ternak tidak merasa bahwa mereka adalah hewan yang diternakkan. Ladang rumput yang luas dan asri, menunjukkan bagaimana kualitas hidup sapi perah di sini.
"Bisakah aku pesan 2 kardus untuk anjingku di rumah? Pasti dia akan menyukainya."
Sitma hanya tersenyum memerhatikan seluruh lekuk wajah Sam.
"Tidak bisa. s**u keluarga Orlan dikenal dengan minum di tempat. Kau harus membawa anjingmu ke sini."
"Pasti Hobit akan sedih mendengar jawabanmu." Gurau Sam.
****
Camp rahasia
Setelah melalui petualangan yang cukup menegangkan dalam rangka penyelamatan Sitma, mencicipi s**u segar ter-enak di Ifralert akhirnya Sam sampai di Disep. Sam menuruni tangga helikopternya dengan kaos hitam 2/4 menutupi lengannya. Aksesorisnya juga dilengkapi topi Bugs Bunny yang baru dibeli beberapa menit sebelum keberangkatan dari Ifralert ke Bisep. Baru 25 menit yang lalu ia sampai di Disep dengan pesawat segitiga itu.
Kini jalan yang ia lalui bukan seperti pertama kali datang. Sam tidak melewati kedai Ding Dong lagi melainkan jalan lain khusus untuk kedatangan menggunakan pesawat. Sam diperiksa dengan beberapa alat deteksi, salah satunya ditempelkan hingga ke kulitnya. Zlo dan Kare sudah menunggu kedatangan Sam yang sedang memperjuangkan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka, bahkan dapat dibilang sebagai ancaman besar. Mulanya Zlo tersenyum melihat kedatangan Sam sendirian. Ini berarti Sitma tak ikut dan Sam menepati janjinya untuk hanya sekedar memberi tahu kalau Sitma dalam bahaya dan melupakan semua tentang Sitma. Itu yang ada di dalam pikiran Zlo.
Tapi antrian pemeriksaan belum selesai. Selisih dua pria berbadan besar ada seorang wanita yang sekiranya kita semua tau siapa itu, Sitma.
Wajah Zlo langsung berubah dari senang, menjadi sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan. Zlo tak kuat dengan apa didepan matanya. Ia langsung menghampiri Sam dan melepaskan tinjuan kidalnya ke wajah Sam yang sudah dalam keadaan “steril” setelah pemeriksaan. Semua kaget. Sampai pihak keamanan meleraikan pertengkaran mereka berdua yang sebenarnya Sam tak melakukan apapun. Sungguh ini pukulan kejutan sekaligus sambutan untuk Sam yang takkan ia lupakan.
"Kau terlalu bodoh Sam."
Zlo berjalan menjauh dengan penuh emosi.
Kare tetap diposisi yang sama sejak awal adegan. Sesekali Kare melihat mata Sam dan membuat padangan tanpa arti.
"Dia sudah mengingatkanmu Sam."
Ucap Kare sambil meninggalkan Sam pula. Ungkapan rasa kecewa akhirnya terlepaskan.
Tanpa wajah ketakutan sedikitpun, mungkin kejadian ini sama sekali tidak menggoyahkan hati Sitma. Ia telah menyaksikan kekerasan lebih dari ini. Ancaman lebih dari ini. Jauh lebih, yang Sitma rasakan hanya tidak enak dengan Sam saat diperlakukan seperti itu karena dirinya.
Sam yang masih kesakitan dengan darah yang keluar dari hidungnya hanya diam dan sesekali membersihkan tetesan darah itu.
Kare menyusuli langkah Zlo yang panjang hingga berada pada langkah kaki yang sama. Zlo yang masih dalam emosinya merasa bingung apa yang akan Kare lakukan, mengapa ia mengikuti Zlo. Mereka tidak saling berkata hingga rasa penasaran Zlo mendorong suatu pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulutnya.
“Kenapa kau mengikutiku?” Zlo menghentikan langkahnya, Tindakan ini juga dilakukan oleh Kare.
“Kupikir acting mu tadi cukup bagus. Aku tidak mengikutimu, ruangan kita memang searah” Jawab Kare.
“Acting? Maksudmu?” Oke untuk arah ruangan yang sama memang itu benar, mungkin hanya karna sedang sensitif Zlo merasa Kare mengikutinya. Tapi untuk kata acting itu, Zlo tidak mengerti apa arti sebenarnya.
“Kau hanya pura-pura marah kan? Untuk menunjukkan kalau seolah-oleh kita tidak ada niat untuk menjadikan Sam umpan?” Jawab Kare tanpa basa-basi sedikitpun. Sekarang Zlo tambah tidak mengerti denga napa yang Kare ucapkan.
“Umpan? Apa yang sedang kau bicarakan Kare?” Zlo sedikit membentak karena katidaktahuannya.
“Bodoh, apa kau tidak menyadarinya? Kau pikir kenapa Mr. Ekuador mengizinkan Sam untuk menyelamatkan Sitma? Ia tahu kalau Sam akan membawa Sitma ke camp ini, yang berarti kita tidak perlu repot untuk menangkapnya.”
Seketika semua terasa jelas, Zlo tidak mengerti jika arahnya akan kesana.
Di sisi lain Sitma mencoba melarikan diri tanpa sepengetahuan siapapun. Kondisi ini sangat pas, perkelahian dua pria atau lebih tepatnya p*********n oleh seorang pria membuat semua konsentrasi tertuju ke pertunjukan tadi. Ia tak mau melihat orang yang peduli padanya diacuhkan orang lain. Sialnya, Sitma memang selalu menemui nasib buruk hidupnya, ia bertabrakan dengan Mr. Ekuador yang berada tiga langkah di belakangnya tadi.
"Mau kemana kau Nn. Sitma?"
"Siapa kau! Dari mana kau tau nama ku?!"
Mr. Ekuador hanya tersenyum sinis melihat kegelisahan wanita malang nan jahat di matanya itu. Sam melihatnya. Sudah pasti, karna percakapan mereka telah menjadi peralihan kejadian tadi. Yang Sam tidak tau adalah, kenapa C.E.O XIX Company itu menyapa Sitma.
"Penjaga. Bawa dia ke tempat tahanan."
"Apa? Tunggu Mr. Ekuador! Apa yang ia perbuat sampai kau memasukkannya ke dalam penjara?"
“Mr. Ekuador tolong jangan lakukan ini”
Sam terus mengajukan pertanyaan dan memohon pada Mr. Ekuador selagi dua penjaga membawa Sitma kedalam penjara. Camp ini memang dilengkapi penjara kecil didalamnya. Bisa dibilang penjara sementara, karena biasanya tahanan yang kebanyakan seorang mata-mata akan dipindahkan keesokan harinya. Tentu ini bukan penjara yang legal. XIX Company tidak berhak untuk melakukan tidakan penangkapan.
Merekapun sampai. Sitma dan kedua penjaga di ruang tahanan lalu Mr. Ekuaor bersama Sam di ruang kerja Mr. Ekuador tentunya.
"Aku tidak mengerti. Jadi kau membolehkanku bertemu dengannya agar kau bisa menangkapnya? Itu maumu?"
"Kau menjadikan aku umpan untuk itu? Aku tak menyangka." Tambah Sam.
"Dengarkan aku Sam. Tadi ia mau lari dari tempat ini. Aku menyangka ia hanya memanfaatkanmu untuk mengetahui informasi tempat ini."
Sam tidak dapat membalas jawaban dari Mr. Ekuador, apa yang dikatakannya bisa jadi sebuah fakta. Namun hati kecil Sam masih percaya bahwa Sitma tidak berniat untuk melakukan apapun yang dipirikan oleh Mr. Ekuador. Belum lagi kejadian yang jelas-jelas dialami Sam saat menjemput Sitma. Sitma sudah membuat Sam percaya dengan kejujuranya yang sebenarnya mengacam hidupnya. Kini sangat sulit bagi Sam untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.