Dua bulan sudah berlalu setelah pernikahan Rifqo dan Ulma, dalam waktu dua bulan yang sudah berlalu pernikahan Ulma dan Rifqo tidak mengalami perubahan, Rifqo masih memberikan batasan dan tidak pernah mau di sebut sebagai suami Ulma ketika mereka hanya berdua. Hanya saja, setelah dua bulan berlalu sikap Rifqo terlihat bisa sedikit melunak, dia bersikap sedikit lebih baik kepada Ulma meskipun bara kemarahan masih terlihat dari ucapan dan tindakannya pada Ulma.
Selama dua bulan berlalu, keadaan Ulma juga sudah membaik, dia hanya perlu melakukan pemeriksaan beberapa kali lagi. Kadang – kadang jika waktunya senggang Rifqo juga mengantar Ulma untuk melakukan pemeriksaan, tapi jika memang sedang sibuk maka Ulma akan pergi bersama ibu mertua atau kakak iparnya.
“Kenapa ? kamu mendadak ada janji ketumu seseorang ya ?” tanya Ulma, ketika dia melihat ekspresi kebingungan yang tampak di wajah Rifqo tepat setelah dia menerima sebuah panggilan.
Saat itu, Rifqo memang pergi mengantar Ulma untuk melakukan pemeriksaan, tapi ketika mereka baru masuk ke dalam mobil, Rifqo menerima panggilan dari seseorang yang memintanya bertemu, dan saat itu Rifqo sudah mengiyakannya, padahal dia harus mengantarkan Ulma pulang.
“Enggak papa, aku bisa pulang sendiri ko, nanti aku bilang sama Mamah mendadak kamu ada janji aja” ujar Ulma, sambil tersenyum menenangkan kearah Rifqo.
Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Rifqo. Laki – laki itu masih diam dengan wajah bingung dan lamunannya. Melihat hal itu, Ulma mengelus lengan Rifqo hingga laki – laki itu menoleh dan menatap Ulma yang sedang menatapnya juga dengan senyuman dan tatapan meneduhkan.
“Gak papa, aku bisa ko pulang sendiri, kamu hati – hati ya” ujar Ulma, sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman sebelum dia keluar dari mobil Rifqo.
“Aku mau ketemu Alma” ujar Rifqo, sambil melirik Ulma. “Dia cuma ngajak aku ngopi aja sih, pasti bentaran aja, kalau kamu ikut tapi nanti nunggu di mobil enggak papa ?” tanya Rifqo, sambil melirik wajah Ulma ragu – ragu.
Sejenak, pengakuan Rifqo yang akan bertemu kakaknya berhasil membuat Ulma terdiam dalam waktu yang cukup lama, senyuman di bibirnya hampir saja lenyap. Namun, sesaat kemudian, Ulma tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lagi.
“Iya, enggak papa kalau kamu enggak keberatan aku ikut, nanti aku bisa ko nunggu di dalam mobil kaya yang kamu bilang tadi, makasih ya udah dibolehin ikut” ujar Ulma, sambil tersenyum lebar.
Melihat hal itu, sejenak Rifqo terdiam. Dia merasa tidak habis pikir ada perempuan seperti Ulma, jika perempuan pada umumnya pasti akan marah jika suaminya akan pergi bertemu dengan perempuan lain, tapi Ulma tidak pernah memperlihatkan amarahnya sedikitpun ketika tahu Rifqo masih sering bertemu Alma setelah pernikahan mereka, dan saat itu dia malah berterima kasih karena sudah di ajak ketika Rifqo akan bertemu Alma.
“Ko bilang makasih sih, harusnya aku yang minta maaf” ujar Rifqo, sambil kembali mengalihkan tatapannya kearah depan. “Maaf karena sampai sekarang aku masih cinta sama Alma dan hanya bisa menganggap kamu sebagai adik ku, jika saja kamu di takdirkan menjadi adik ipar ku mungkin keadaan kita bisa jauh lebih baik” ujar Rifqo, masih sambil menatap lurus kearah depan.
Mendengar perkataan Rifqo, Ulma menggelengkan kepalanya sambil menatap kearah Rifqo. “Enggak, aku senang setiap kali tahu kamu ketemu Kak Alma, karena setiap aku tahu pertemuan dan kebersamaan kalian, itu selalu membuat ku kembali tersadar meskipun kamu suami ku tapi kamu bukan milik ku dan tidak akan menjadi milik ku, karena kamu sudah menetapkan sendiri bahwa kamu hanya milik Kak Alma” jawab Ulma, dengan sangat tenang dan hal itu berhasil membuat Rifqo kembali menoleh kearahnya.
“Ayo, nanti kamu telat, kasihan kalau Kak Alma nunggu kamu terlalu lama” lanjut Ulma, sambil menggunakan sabuk pengamannya.
Saat itu, Rifqo tidak lagi mampu menjawab perkataan Ulma. Kenyataannya, Rifqo sadar jika Ulma perempuan yang sangat baik dan tulus, setelah pernikahan mereka yang Rifqo pikir adalah salah satu wujud keegoisan Ulma, tapi Ulma tidak pernah memaksa dan mengekangnya, dia selalu memberikan kebebasan kepada Rifqo untuk pergi bersama Alma, bahkan pengakuannya beberapa saat lalu semakin membuat Rifqo yakin jika dia gadis yang baik, karena dari setiap kalimat yang dia sampaikan, Rifqo bisa merasakan bahwa setiap kali dirinya bertemu Alma, Ulma justru terluka bukan merasa senang seperti yang dia katakan, karena Rifqo bisa melihat luka dan ketersiksaan dari sorot matanya yang selalu berusaha dia sembunyikan dalam senyuman.
***
“Karena keegoisan aku kalian harus terpisah, karena kaserakahan aku kalian harus sama – sama menahan sakit” ujar Ulma, sambil tersenyum kecil ketika dia melihat Alma dan Rifqo di sebuah kafe.
Dari dalam mobil Ulma memang bisa melihat dengan jelas kebersamaan Rifqo dengan Alma, karena mereka duduk di pojok kafe paling dekat dengan kaca yang mengarah ke parkiran tempat dimana mobil Rifqo berada. Saat itu, Ulma memang benar – benar menunggu Rifqo bertemu kakaknya di dalam mobil.
“Aku akan selalu berdoa, semoga setelah tugas ku hidup sebagai istri Rifqo, tuhan memberikan kalian berkah kebersamaan yang penuh rahmat dan kalian bisa bahagia dalam kebersamaan itu, untuk perasaan ku biar aku yang menanggungnya karena sejak awal aku memang sudah salah mencintai laki – laki yang cintanya sudah menjadi milik kakak ku sendiri” gumam Ulma, sambil memalingkan wajahnya dan mengapus air mata yang tiba – tiba menetes dari pelupuk matanya.
Nyatanya, selama pernikahan Ulma memang sering kali bersembunyi dalam senyumannya, dia sering kali berbohong pada hatinya. Ketika hatinya sedang menjeritkan kesakitan dia memilih tersenyum untuk menutupinya, ketika hatinya sedang berdarah karena sebuah luka dia lebih memilih diam dan berbalik untuk mengobati lukanya. Karena Ulma merasa, sekalipun dia menyampaikan kesakitan dan luka yang dia rasakan, semua tidak akan berubah.
Setelah menunggu hampir setengah jam sementara Rifqo dan Alma belum memperlihatkan tanda – tanda mereka akan segera berpisah untuk pulang. Ulma memilih untuk keluar sejenak, karena dia merasa kehausan, dia berniat membeli minum, saat itu punggungnya juga sedikit terasa sakit karena dia gunakan untuk duduk terlalu lama. Saat itu, Ulma memilih mencari warung – warung kecil untuk membeli sebotol minum, setelahnya dia memilih langsung kembali.
Namun, langkah Ulma terhenti dalam beberapa saat, tatapan matanya terpaku pada sosok yang sejak tadi sudah menjadi objek penglihatannya dalam mobil. Matanya tiba – tiba terasa perih ketika dia melihat Rifqo menghapus air mata Alma kemudian memeluk untuk menenangnya.
“Tidak, kamu tidak boleh menangis, kamu tidak boleh menangis Ulma” gumamnya, kemudian dengan cepat dia menghapus air mata yang tiba – tiba jatuh dari pelupuk matanya.
“Tidak boleh ada tangis dalam hidup mu, kamu hanya perlu tersenyum dan semuanya akan membaik” gumam Ulma lagi, sambil mendongak berharap dengan cara itu bisa membuat air matanya tidak lagi berjatuhan.
Kemudian, Ulma melangkahkan kakinya secepat yang dia mampu untuk kembali masuk ke dalam mobil. Tepat setelah pintu mobil tertutup, saat itulah dia tidak mampu menahan tangisnya lagi. Meskipun pura – pura sudah menjadi bagian dari hidup Ulma, tapi ternyata Ulma belum sekuat yang dia bayangkan, dia masih cukup lemah dengan rasa sakit ketika melihat suami yang dia cintai justru memberikan pelukan untuk orang lain.
Tidak lama setelah Ulma masuk, ternyata Rifqo juga datang, sepertinya laki – laki itu sudah selesai berbicara dengan kakaknya. Namun, saat itu Ulma memilih untuk pura – pura tidur, karena dia tidak mampu berhadapan dengan Rifqo. Dia terlalu takut air matanya akan kembali jatuh ketika harus berbicara atau bertatapan dengannya.
“Ulma maaf lama, tadi Alma bercerita cukup banyak, dia sedang sedih jadi aku harus menemani dia sampai dia merasa tenang, ma…” Rifqo langsung menghentikan ucapannya ketika dia menoleh kearah Ulma dan mendapati mata gadis itu tertutup. “Ya ampun, dia ketiduran” gumam Rifqo, sambil membenarkan posisi duduk Ulma dengan hati – hati karena takut membuat punggungnya kesakitan lagi dan takut membuatnya terbangun.
Namun, Rifqo mengerutkan dahinya bingung ketika dia menyadari ada sisa air mata yang mungkin belum sempat Ulma keringkan di bagian pelupuk matanya. “Kamu nagis Ulma ? sekarang apa alasan tangis mu” gumam Rifqo, sambil menatap wajah Ulma dengan matanya yang sedang terpajam, kemudian dengan sangat pelan – pelan Rifqo menghapus lelehan air mata di pipi Ulma.
“Aku tahu dalam pernikahan ini kamu tidak bahagia meskipun kamu selalu tersenyum, tapi aku juga sama, aku mencintai kakak mu, tapi aku malah hidup dengan mu, setiap malam aku menahan ketakutan dan kegelisan membayangkan pernikahan Alma dan Abyan yang akan segera di langsungkan, aku sadar di sini kamu juga banyak terluka, tapi aku masih belum bisa menerima kalau kamu istri ku, dan aku enggak bisa menerima alasan kenapa kamu begitu egois dengan tetap membiarkan pernikahan kita tetap terjadi, Ulma” gumam Rifqo, sambil menatap wajah Ulma dan terdengar helaan nafas berat diakhir kalimatnya.
Setelah itu, Rifqo melajukan mobilnya menuju rumah dengan membiarkan Ulma tetap tertidur di kursi sampingnya. Karena nyatanya setiap kali berdekatan dengan Ulma, dia juga sering merasa terluka atas pernikahan yang terjadi di antara mereka, karena pernikahan mereka menjadikan benteng antara dirinya dan Alma semakin sulit untuk dia robohkan.
Hanya 15 menit waktu yang di tempuh Rifqo, setibanya di rumah Ulma benar – benar tertidur meskipun awalnya dia hanya pura – pura tertidur. Melihat Ulma yang tertidur sangat nyenyak, akhirnya pelan – pelan karena takut membuat punggung Ulma kesakitan lagi, dia membopong tubuh Ulma dan membawanya menuju kamar.
“Tidurlah selagi bisa, dengan tidur setidaknya kamu mungkin akan sedikit rehat dari semua luka yang selalu kamu sembunyikan, dengan kamu tidur akupun akan istirahat dari kepura – puraan ku yang selalu berlajar bersikap baik pada mu, meskipun nyatanya aku masih menyimpan amarah yang tidak kunjung bisa aku hilangkan” gumam Rifqo, sambil menatap wajah Ulma ketika dia sudah membaringkan tubuh istrinya itu diatas ranjang.