#R – Diam Agar Semua Tetap Baik – Baik Saja

1518 Words
Setelah melihat keadaan Ulma jauh lebih baik, akhirnya laki – laki itu mengajak Ulma ikut pindah ke apartemen yang sudah Rifqo miliki. Sebuah apartemen yang tidak berukuran besar, hanya memiliki satu kamar, yang berhasil dia beli dengan jerih payahnya sendiri setelah menabung dari gajinya mengajar sebagai dosen selama 3 tahun. Saaat itu, kedua orang tua Rifqo tentu saja tidak bisa terus menerus menahan mereka, karena mereka sadar jika Rifqo dan Ulma sudah berkaluarga, mereka punya cara tersendiri untuk membangun keluarga mereka. “Di apartemen ini hanya ada satu kamar, tidak papa nanti kamu bisa tidur di ranjang aku bisa tidur di sofa” ujar Rifqo, sambil membuka pintu kamar. “Waktu itu aku membeli apartemen ini memang sengaja untuk aku tinggali sendiri makannya kamarnya juga hanya ada satu, tapi karena sekarang aku akan tinggal sama kamu, nanti bisa kamu saja yang menggunakan ranjangnya” lanjut Rifqo, sambil membawakan barang – barang Ulma. “Kenapa kamu harus tidur di sofa, aku enggak keberatan kalau kamu tidur di ranjang juga, lagupula kita sudah suami istri, kamu enggak akan berdosa tidur sama istri kamu sendiri ko” jawab Ulma, berhasil membuat pergerakan tangan Rifqo seketika terhenti. “Aku tahu kalau kamu enggak pernah menganggap aku istri mu, tidak papa tapi menurut ku untuk apa kamu tidur di sofa jika tidur di ranjang bersama ku tidak menimbulkan dosa lagi pula kita tidak akan melakukan apapun sekalipun tidur di ranjang yang sama” lanjut Ulma, sambil melangkahkan kakinya mendekati Rifqo. “Kamu mandi aja, gak papa nanti biar aku bereskan sendiri barang – barang ku” lanjut Ulma lagi, dan saat itu Rifqo lebih memilih menurut tanpa menolak. Mendengar apa yang Ulma katakan, Rifqo lebih memilih menurut. Karena saat itu dia benar – benar kehabisan kata – kata untuk menanggapi perkataan Ulma, gadis itu terlalu penyabar untuk dia hadapi dengan segala sikapnya yang mungkin cukup jahat dan melukai perasaannya. Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit di kamar mandi, Rifqo keluar dengan keadaan yang jauh lebih segar, langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi ketika dia melihat pakaian yang sudah tersimpan rapih di atas ranjang. Itulah salah satu rutinitas Ulma, menyiapkan pakaian setiap dia selesai mandi atau akan berangkat bekerja, sampai sejauh ini meskipun dia sadar masih sering memberikan dia luka, tapi Ulma selalu membalasnya dengan pengabdian dan ketulusan layaknya seorang istri. “Aku sudah sering bilang, kamu tidak perlu menyiapkan pakaian ku, itu merepotkan mu” ujar Rifqo, sambil berjalan ke kamar mandi hendak menyimpan handuk yang baru saja di gunakan setelah selesai berpakaian, ketika dia mendengar seseorang masuk kamar dan Rifqo pikir itu adalah Ulma. Namun, bukan jawaban yang saat itu Rifqo dapatkan, tapi sebuah pelukan yang berhasil membuat dia terdiam dalam waktu yang cukup lama, karena saat itu Rifqo sadar bukan Ulma sosok yang sedang memeluknya. “Apa yang kamu …” “Pernikahan ku di percepat jadi pertengahan bulan depan” kalimat itu, berhasil membuat tubuh Rifqo yang sebelumnya sudah terdiam jadi semakin membantu karena meresa kaget dengan berita yang dia sampaikan. “Apa yang harus aku lakukan” lanjutnya, dengan suara yang sudah mulai terdengar bergetar dan saat itu Rifqo bisa merasakan jika di balik punggungnya gadis itu menangis. Setelah kesadarannya kembali, Rifqo berbalik dan menatap sosok gadis di hadapannya. Dalam sejenak dia terdiam sambil menggenggam kedua tangannya, tatapan matanya terlihat kosong menatap sosok gadis di hadapannya, bibirnya benar – benar diam seribu basa karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, nyatanya kabar yang baru dia dengar berhasil menampar perasaannya. “Aku enggak mau menikah sama Abyan, aku enggak cinta sama dia, b******n itu hanya akan memanfaatkan tubuh ku, kemudian mencampakan ku setelah bosan” lanjutnya, sambil mendongak menatap Rifqo dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Mendengar perkataan itu, Rifqo langsung manarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya, tetapi belum ada satu kalimatpun yang keluar dari mulutnya, sementara gadis dalam dekapannya menangis tersedu – sedu. Alma, gadis itu datang ke apartemen yang baru akan Rifqo tinggali lagi bersama Ulma, dia datang mengadukan seluruh kegundahan dan kesedihannya kepada Rifqo tanpa peduli ada Ulma yang saat itu berstatus sebagai istri Rifqo. “Aku enggak tahu apa yang harus aku lakukan Al, semua ini benar – benar berjalan di luar rencana kita, dan aku enggak punya kuasa untuk melarang mu menikahi dia” ujar Rifqo, sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Alma. “Posisi ku terlalu lemah untuk meminta mu monolak pernikahan itu Al, ada Ulma yang kini menjadi penghalang dalam perjuangan ku juga, jadi aku tidak bisa melakukan apapun, posisi kita sama – sama lemah” ujar Rifqo, berhasil membuat tangis Alma semakin menjadi – jadi. “Kenapa ? kenapa harus Ulma yang berhasil menjebak mu hingga dia berhasil menikahi mu, kenapa dulu tidak aku saja yang menjebak mu lebih dulu, aku benci semua ini, aku benci keadaan yang terus menyeretku pada pernikahan yang tidak aku inginkan ini” ujar Ulma, sambil menatap mata Rifqo dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya. Melihat tangis Alma, Rifqo benar – benar tidak mampu lagi untuk mendeskripsikan perasaannya sendiri. Dia merasa tidak terima saat tahu Alma akan menikah dengan Abyan, dia juga merasa terluka ketika dirinya dan Alma sama – sama saling mencintai tapi keduanya tidak punya kekuatan untuk kembali berjuang. “Duduklah di sini, tenangkan diri mu, tidurlah jika kamu lelah, jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali” ujar Rifqo, sambil memegang pundak Alma dan menatap mata gadis itu tepat di bagian matanya. Sejenak Rifqo tersenyum, tangannya menghapus lelahan air mata yang sudah membasahi pipi Alma, kemudian sebelum benar – benar pergi dia mengelus kepala gadis itu baru setelah itu meninggalkannya sendirian di dalam kamar. Tepat setelah dia tiba di ruang tamu, saat itulah dia melihat Ulma yang sedang berdiri menatap kearahnya dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Melihat hal itu, tidak ada balasan senyuman yang Rifqo tunjukan, laki – laki itu hanya diam dengan wajah datar yang terlukis di wajahnya. “Mana Kak Alma, ayo kita makan malam bersama” ujar Ulma, masih dengan senyuman yang terlukis dari bibirnya. Sejenak Rifqo tersenyum kecut sambil memalingkan wajahnya. Kemudian, dia menolah menatap Ulma dengan wajah dan tatapan mata yang terlihat datar lagi. “Apakah kamu memang seperti ini ? berpura – pura tidak tahu apapun padahal kamu adalah penyebab dari seluruh ke kacauan yang terjadi?” tanya Rifqo, dan pertanyaan itu berhasil membuat senyuman di bibir Ulma perlahan memudar. Setelah itu, Rifqo langsung menarik tangan Ulma dan pergi meninggalkan unit apartemen mereka, langkah keduanya terhenti ketika mereka sudah sampai di basement apartemen. Dalam beberapa saat, Rifqo terdiam menatap Ulma yang saat itu juga sama – sama diam, gadis itu hanya memperlihatkan senyuman saat Rifqo menatapnya dalam waktu yang lama tanpa ada ekspresi sedikitpun. “Apa ini alasan mu sebenarnya meminta agar aku bertahan dalam pernikahan ini selama lima bulan, karena kamu tahu dalam waktu tiga bulan Alma dan Abyan akan melangsungkan pernikahan, kamu sengaja mempertahankan pernikahan ini hanya untuk mengikat ku sehingga aku tidak punya celah sedikitpun untuk mengagalkan pernikahan mereka ?” tanya Rifqo, sambil menyentuh pundak Ulma dan menatap Ulma tepat dibagian matanya. Diam, itulah yang Ulma lakukan. Nyatanya apa yang Rifqo katakan tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Karena tujuan Ulma meminta untuk mempertahankan pernikahan mereka atas permintaan ayahnya agar Rifqo tidak lagi mengejar dan mengganggu kakaknya, sementara alasan pribadinya meminta untuk mempertahankan pernikahan dalam waktu lima bulan setidaknya dalam waktu itu Ulma berharap bisa benar – benar mengabdikan hidupnya pada seorang suami yang sangat dia cintai, karena untuk bertahan selamanya Ulma sadar hanya akan memenjara Rifqo dalam sebuah kesengsaraan. Dalam sepinya lantai basement dan diam membisunya Ulma dalam tundukan. Rifqo tiba – tiba tertawa sementara Ulma benar – benar terdiam. “Aku tidak pernah menyangka jika aku benar – benar menikahi perempuan picik seperti mu” ujar Rifqo, sambil menghentikan tawanya secara tiba – tiba dan menatap Ulma dengan tajam. “Kau” ujar Rifqo, sambil menunjuk Ulma. “Adalah mimpi buruk dalam hidup ku, aku menyesal pernah mencoba berbuat baik pada mu, aku menyesal pernah meminta di perkenalkan kepada mu, dan aku menyesal pernah menyoba berperan sebagai kakak untuk mu, aku menyesal pernah berharap bisa menjadi kakak ipar mu setelah menikah dengan kakak mu, karena kini kamu memutar balik semua harapan ku” lanjut Rifqo, dengan sorot mata tajam yang terpancar dari matanya. “Malam ini, jangan pulang ke apartemen karena Alma akan menginap, kehadiran mu hanya akan membuatnya semakin sedih dan terluka” ujar Rifqo, sambil berbalik pergi meninggalkan Ulma yang masih terdiam kaku di tempatnya. Setelah kepergian Rifqo, air mata yang sejak tadi berusaha Ulma tahan akhirnya tumpah dalam kebisuan. Semua kalimat yang baru saja Rifqo suarakan, sungguh berhasil menyentil hatinya, tapi Ulma tidak ingin memperlihatkan kesakitan yang dia alami karena di sebabkan Rifqo di hadapannya, sehingga diam adalah cara yang Ulma pilih untuk melindungi matanya agar tidak menumpahkan air mata dihadapan Rifqo. “Tidak, aku tidak akan mengganggu kebersamaan mu Rifqo, aku akan menjauh selama kalian menemukan waktu untuk bersama, karena aku sadar aku yang berperan besar dalam perpisahan dan rumitnya hubungan kalian” gumam Ulma, di sela tangisnya sambil mendongakan kepala, berharap cara itu bisa membuat air matanya berhenti berjatuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD