Rifqo tersenyum menatap Alma yang pagi itu masih terlelap dalam tidurnya, gadis itu ketiduran setelah Rifqo tinggalkan untuk berbicara dengan Ulma. Karena sudah hampir siang, meskipun merasa tidak tega, akhirnya Rifqo membangunkannya untuk meminta dia sarapan, terlebih dahulu.
Bibir Rifqo menerbitkan senyuman semakin lebar saat dia melihat Alma perlahan membuka kelopak matanya. Bibir gadis itu memperlihatkan lengkung senyuman pula ketika orang yang pertama kali dia lihat pagi itu adalah sosok laki – laki yang sangat dia cintai.
“Menyenangkan rasanya jika setiap pagi pemandangan pertama yang aku lihat adalah kamu, tiba – tiba aku iri pada Ulma, dia pasti menikmati pemandangan ini setiap hari” gumam Alma, dengan suaranya yang terdengar serak khas bangun tidur.
Rifqo terkekeh mendengar perkataan Alma, kenyataannya Ulma tidak pernah mendapatkan perlakuan hangat seperti yang Rifqo lakukan pada Alma. Karena sekalipun Ulma bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuknya, tapi Rifqo selalu terburu – buru berangkat tanpa pernah menyentuh masakannya.
“Aku udah masak, ayo sarapan” ajak Rifqo, dengan senyuman yang masih terlukis di wajahnya.
Alma menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tangan gadis itu terulur meminta Rifqo untuk menariknya dari posisi berbaring menjadi duduk, melihat tingkah manja Alma sejenak Rifqo terkekeh. Nyatanya, momen seperti ini hanya pernah mereka lalui beberapa kali, sisanya hubungan mereka hanya di warnai pertemuan sembunyi – sembunyi.
“Apa setiap pagi kamu juga suga memasakan sarapan untuk istri mu” tanya Alma, ketika dia sudah duduk di kursi meja makan.
“Kamu perempuan pertama yang mencicipi masakan ku sejak awal, lagi pula dalam pernikahan ini aku sudah menegaskan padanya tidak ada peran suami istri yang harus kami jalankan, semua akan berjalan sebagaimana dua orang asing yang tinggal dalam satu atap, tidak lebih” jawab Rifqo, sambil membantu mengikatkan rambut Alma yang terlihat mengganggu gadis itu ketika dia sedang makan.
“Ya tuhan, berarti selama ini kalian masih belum pernah tidur seperti suami istri, kalian kemungkinan pernah melakukannya satu kali itupun kamu tidak mengingatnya ?” tanya Alma, sambil menatap Rifqo.
“Bagaimana mungkin aku tidur dan menghabiskan malam bersama seorang perempuan ketika pikiran ku setiap malam selalu memikirkan mu, apakah kamu pikir aku akan menikmati malam kebersamaan ku bersamanya, tentu saja tidak” jawab Rifqo, membuat Alma seketika langsung memeluk laki – laki itu.
Dalam sejenak Rifqo terdiam mendapat pelukan mendadak dari Alma, tapi sesaat kemudian dai membalas pelukan gadis itu, dengan lembut tangannya membelai kepala Alma penuh kasih sayang.
“Meskipun aku masih menemukan kebuntuan untuk jalan keluar dari akhir hubungan kita, tapi percayalah tuhan selalu mempunyai cara untuk mempersatukan cinta yang tulus, tuhan akan memberikan kasih sayang yang besar” ujar Rifqo, dan dalam pelukannya Alma hanya menganggukkan kepala. “Mari, kita lanjutkan sarapannya, sepertinya masakan ku cukup enak karena aku lihat kamu memakannya dengan lahap” lanjut Rifqo, sambil terkekeh dan merenggangkan pelukan mereka.
Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan makan mereka, keduanya benar – benar terlihat sangat akrab dan dekat, sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain. Saat itu, mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang hidup romantis dan harmonis di bandingkan kakak dan adik ipar.
***
Ulma duduk di belakang sebuah mobil sambil memeluk lututnya sendiri. Wajah gadis itu terlihat sedikit pucat setelah semalaman dia memilih tidur di basemant apartemen tanpa menggunakan alas apapun, bersembunyi di belakang sebuah mobil agar tidak ada seseorang yang melihatnya. Ulma memilih tidur di basement karena dia benar – benar tidak tahu dimana dia harus tidur ketika Rifqo tidak mengizinkan dirinya pulang, pulang ke rumah ayahnya jelas dia tidak akan di terima sama sekali, pulang ke rumah ibu mertuanya hanya akan menimbulkan permasalahan baru, jadi basement menjadi pilihan terakhir dan satu – satunya yang Ulma punya.
“Hari ini aku ada meeting sangat penting di restoran sebrang kampus tempat mu mengajar, bisakan langsung antar aku ke sana saja ?” Ulma langsung menoleh ketika dia mendengar suara kakaknya.
Ulma bisa melihat dengan jelas ketika Alma dan Rifqo berjalan beriringan dengan penampilan mereka yang sudah terlihat sangat rapih, saat itu senyuman yang tampil di wajah mereka membuat rasa bersalah Ulma sedikit berkurang.
“Sebenarnya aku agak kesal, kenapa meeting itu harus hari ini dan tidak bisa aku undur sama sekali, padahal kesempatan kita untuk bersama hanya sekarang, kedepannya belum tentu kita punya kesempatan seperti ini lagi” ujar Alma, dengan ekspresi wajahnya yang berubah murung ketika mereka sudah berdiri di dekat mobil Rifqo.
“Tentu saja kedepannya kesempatan kita bersama masih tetap ada, jika takdir tidak memberikan kesempatan maka aku yang akan mencari kesempatan agar tertulis dalam takdir kita” ujar Rifqo, sambil tersenyum dan membelai kepala Alma dengan penuh kelembutan.
Ulma membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar oleh Rifqo dan Alma yang saat itu sedang berpelukan di depan mobil yang di belakangnya menjadi tempat persembunyian Ulma semalaman, dan saat itu Ulma bisa melihat dengan jelas bagaimana lembut, penuh kasih dan cintanya Rifqo memperlakukan Alma. Iri, tentu saja Ulma merasakannya, karena selama ini Rifqo tidak pernah memperlakukannya seperti itu, sakit tentu saja karena istri mana yang tidak terluka ketika melihat suaminya sendiri bermesraan dengan perempuan lain.
“Cinta tidak akan pernah salah memilih rumahnya, Al” ujar Rifqo, sambil mengelus kepala Alma dan saat itu Alma langsung memberikan dia pelukan.
Sementara mereka terlihat begitu mesra dengan kemesraannya, maka Ulma terlihat sangat terlantar dengan keadaannya. Tangannya meremas pakaian di bagian dadanya, sesekali dia memukul dadanya sendiri ketika rasa sesak membuatnya benar – benar tidak mampu membuatnya berhenti menangis.
“Mari kita pergi, kamu akan terlambat jika kita hanya bicara di sini” ujar Rifqo, sambil terkekeh dan membuka pintu mobil untuk Alma.
Setelah itu, mobil Rifqo melaju meninggalkan basement. Sementara Ulma, gadis itu benar – benar menumpahkan tangisnya, dia melepaskan seluruh rasa sakit dan sesaknya melalui sebuah tangisan yang sejak tadi berusaha dia tahan.
“Kamu masih punya banyak waktu dan kesempatan sebelum waktu mu selesai Ulma, meskipun kemungkinannya kecil tapi tetaplah berusaha” gumam Ulma, sambil menghapus lelehan air mata di pipinya meskipun akhirnya pipi itu tetap kembali basah karena air matanya tidak berhenti mengalir.
Setelah melihat mobil Rifqo belalu pergi, Ulma memilih untuk kembali ke apartemen Rifqo. Dia berjalan dengan sedikit tertatih karena saat itu tubuhnya lemas dan kepalanya sedikit berkunang – kunang setelah semalan tidur di luar tanpa alas dan semilut, dan tidak makan apapun sejak semalam.
Tepat ketika dia berhasil membuka pintu kamar apartemen Rifqo, sejenak dia terdiam diambang pintu, menatap seliling ruang tamu, bibirnya menyunggingkan senyuman saat dia melihat selimut yang terlipat rapih diatas sofa, setidaknya hal itu membuat Ulma sedikit merasa bahagia, karena dia yakin semalam Rifqo tidur di sana, dan bayang – bayang kesakitannya sedikit berkurang karena kemungkinan mereka tidur satu ranjang tidak terjadi.
Kemudian, Ulma melangkahkan kakinya menuju dapur, bibirnya kembali menyunggungkan senyuman dan tidak lama bersama senyuman itu air matanya mulai mengalir berjatuhan dari pelupuk matanya ketika dia melihat ada bekas jejak memasak di sana.
“Sepertinya hari ini Rifqo memasak” gumamnya, sambil berusaha tersenyum meskipun matanya mengeluarkan air mata.
Ulma merasa sangat yakin jika pagi itu Rifqolah yang memasak, karena dia tahu jika kakaknya tidak bisa memasak sama sekali. Kemudian, Ulma beralih menuju meja makan, senyumannya lagi – lagi kembali mengembang ketika ada bekas sisa nasi goreng di piring yang belum sempat di bereskan. Saat itu Ulma yakin jika itu bekas makan kakaknya.
“Beruntung sekali Kak Alma bisa mencicipi masakan Rifqo, dia sungguh sangat – sangat beruntung karena mendapatkan cinta dan kasih sayang laki – laki itu” gumam Ulma, sambil senyum seakan saat itu dia sedang mengejek dirinya sendiri.
Sambil tersenyum dan air mata yang tidak berhenti mengalir, Ulma memakan sisa nasi goreng yang dia yakini sisa kakaknya itu. Senyuman di bibirnya semakin mengembang ketika satu suap nasi goreng itu masuk ke mulutnya, rasanya terasa sangat enak ketika nasi itu masuk dan mengisi perutnya yang kebutulan sedang kelaparan.
“Seperti ini ternyata rasanya menikmati masakan suami sendiri” gumam Ulma, setelah menghabiskan tiga sendok nasi goreng sisa kakaknya hingga piring itu benar – benar bersih tidak bersisa lagi.
Sejenak, masih bersamaan dengan air mata yang membajiri pipinya, Ulma tersenyum hambar, nyatanya saat itu dia merasa benar – benar sangat menyedihkan. Suaminya tinggal di apartemen bersama kakaknya sementara dia tidur di basement tanpa alas dan selimut dan hanya bisa kedinginan, suaminya menikmati sarapan pagi yang indah bersama kakaknya sementara dia hanya mendapatkan makanan sisa. Saat itu, jika saja Ulma memperbolehkan dirinya untuk mengeluh, dia ingin mengeluhkan segalanya, menangis kencang menumpahkan kesakitannya, tapi Ulma tidak pernah membiarkan dirinya bersedih melebihi batas yang sudah dia tetapkan.