Sepi mungkin Ulma sudah terlalu terbiasa dengan keadaan itu, sejak dia kecil Ulma sudah terbiasa menghadapi kesepiannya, dalam setiap sakit dan luka yang dia alami, Ulma hanya bisa memeluk tubuhnya dalam kesepian. Dia tidak pernah menuntut siapapun untuk hadir dan menemaninya, karena sejak dulu dia sadar bahwa hadirnya bukan untuk di temani seseorang, tatapi keberadaannya untuk kesendiriannya.
Setelah memakan sisa nasi goreng yang tersisa di piring, Ulma memilih untuk membaringkan tubuhnya sejenak, karena dia merasa kepalanya sakit, tubuhnya lemas, dan merasa mual tidak tahu karena asam lambungnya naik atau karena masuk angin, yang pasti Ulma merasa jika dia butuh untuk tidur di tempat yang sedikit nyaman dan hangat. Sofa dengan selimut yang sebelumnya Ulma yakin sudah digunakan oleh Rifqo pagi itu dia gunakan juga untuk menghangatkan tubuhnya, setidaknya menggunakan selimut itu Ulma akan merasa bahwa saat itu Rifqo ada di sana dan memeluknya.
“Aku tidak tahu seberapa hangat pelukan suami ku sendiri, tapi dengan selimut ini setidaknya aku bisa sedikit merasakan kehangatan pelukannya walaupun itu hanya hadir dalam harap ku saja” gumam Ulma, sambil memejamkan matanya.
Namun, baru saja dia memejamkan matanya, tiba – tiba seseorang dari luar menggedor pintu apartemennya dengan kecang, beberapa kali orang itu juga membunyikan bel tidak sabaran, sehingga Ulma yang saat itu baru saja memejamkan matanya terpaksa harus kembali terbangun dan membuka pintu untuk memastikan siapa yang datang.
Tepat ketika pintu terbuka, saat itulah Ulma langsung mendapatkan hadiah pukulan hingga membuat dia jatuh tersungkur ke lantai. Dalam sejenak, Ulma terdiam merasakan sensasi rasa panas yang menjalar di pipinya, hingga setelah beberapa saat kemudian dia menoleh dan menatap sosok yang saat itu sedang berdiri di hadapannya.
“Aku sudah pernah memperingatkan mu untuk menjaga suami mu, jangan biarkan dia satu kalipun menganggu putri ku, tapi semalam kau malah membiarkan mereka tidur di apartemen, apa kau bodoh, dimana letak otak mu hah !!” ujar Firman, sambil menoyor kepala Ulma yang saat itu sudah menunduk karena ketakutan.
“Kau memang tidak pernah bisa diandalkan, seharusnya kamu manfaatkan tubuh murahan mu ini untuk memikatnya, jangan gunakan kerudung panjang ini di hadapannya, perlihatkan seluruh tubuh mu di hadapannya, setidaknya hal itu bisa sedikit mengurangi kemungkinan dia tetap mengejar putri ku” ujar Firman, sambil menarik kerudung Ulma.
Kemudian, laki – laki itu manarik tubuh Ulma hingga ke ruang keluarga, saat itu Firman berjongkok selama beberapa saat, tangannya mencengkram pipi Ulma hingga membuat wajah gadis itu mendongak sehingga memperlihatkan wajahnya yang sudah banjir air mata.
“Hapus air mata mu, Nak” ujar Firman, sambil menghapus air mata Ulma dengan sangat kasar, cara Firman membersihkan air mata di pipi Ulma lebih pantas di katakan meremas pipi Ulma, karena tangannya menimbulkan bekas warna merah di pipi Ulma, dan saat itu bukannya reda tangis Ulma justru semakin menjadi karena dia merasa kesakitan, hanya saja dia sadar jika dia mengakui apa yang ayahnya lakukan menyakitkan maka ayahnya akan semakin menjadi – jadi menyiksanya.
“Jangan gunakan pakaian seperti ini lagi, buang seluruh harga diri mu di hadapan laki – laki itu, jadilah p*****r yang sungguh sangat murahan di hadapan laki – laki itu, kalau bisa kau lahirkan anak cacat juga dari perkawinan kalian, setidaknya keberadaan anak itu nantinya akan membuat dia semakin kesulitan mendekati Alma” gumam Firman, sambil mencengkram pipi Ulma, kemudian menampar pipi Ulma sebanyak beberapa kali untuk melampiskan seluruh amarahnya.
Kemudian, secara tiba – tiba Firman menggunting bagian lengan gamis yang Ulma gunakan hingga memperlihatkan pundaknya yang terlihat sangat putih bersih, setelah itu dia juga mengguntin bagian bawah baju Ulma hingga memperlihatkan paha putih Ulma yang selama ini tidak pernah terlihat siapapun, karena Ulma selalu menggunakan gaun Muslimah dalam kesehariannya.
“Begini, setidaknya suami mu itu akan datang kemudian meniduri mu jika penampilan mu sudah seperti ini” ujar Firman, sambil menampar pipi Ulma untuk yang kesekian kalinya.
“Aku peringatkan sekali lagi, jaga suami mu dengan baik, jangan sampai dia berniat aneh – aneh dengan putri ku, karena kalau kejadian semalam terulang lagi kau akan tahu apa yang akan aku lakukan kepada mu” ujar Firman, sambil menendang pundak Ulma hingga kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah, dan tendangannya saat itu berhasil membuat tubuh Ulma terhuyung jatuh ke lantai.
Dalam sejenak, Ulma hanya bisa menangis dalam hening sambil meringkuk memeluk tubuhnya sendiri menggunakan pakaian yang sudah tidak jelas, tangan dan pahanya terekspos sempurna, karena roknya benar – benar di gunting pendek oleh ayahnya.
“Jangan sekalipun kau berani mengulang kesalahan mu dengan membiarkan suami mu bersama putri ku” ujar Firman, sambil menendang perut Ulma hingga membuat gadis itu merintih kesekitan.
Setelah itu, Firman berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ulma yang masih merintih menahan sakit akibat ulahnya, padahal Ulma baru saja akan sembuh dari tulangnya yang mengalami keretakan akibat ayahnya, tapi kini laki – laki itu sudah menambah luka baru di hati dan fisik Ulma. Tidak ada yang Ulma lakukan saat itu selain menangis sambil meringkuk di lantai karena dia sudah benar – benar tidak berdaya, kepalanya yang sakit, tubuhnya yang lemah, dan kini pukulan ayahnya semakin membuat Ulma tidak mampu melakukan apapun.
“Papah, terima kasih untuk semua ini, tapi sampai kapanpun, tidak akan pernah ada kebencian yang aku miliki untuk Papah, di dalam hati ku hanya ada cinta untuk Papah, hanya ada rasa sayang yang aku yakin suatu hari akan terbalaskan, tidak papa semua ini hanya akan aku anggap sebagai rintangan kecil untuk menggapai kasih mu, karena aku percaya nanti pasti akan ada saatnya Papah datang dan memberikan pelukan seperti yang selama ini aku rindukan” gumam Ulma, sambil terisak kecil dalam keadaan apartemen yang saat itu sudah kembali hening dan sepi setelah kepergian Firman bersama amarahnya.
***
Rifqo terburu – buru masuk ke dalam apartemennya karena saat itu dia merasakan tubuhnya sangat panas padahal saat itu masih sore tapi dia memilih pulang karena merasa ingin mandi dan berendam air dingin untuk meredakan rasa panas di tubuhnya. Namun, langkah Rifqo seketika terhenti ketika laki – laki melihat tubuh Ulma yang tergeletak diatas lantai hanya di balut pakaian minim meskipun dalam bentuk yang tidak jelas, Hanya saja, yang membuat Rifqo aneh ketika melihat tubuh Ulma yang meringkuk dengan sebagian besar tubuhnya yang selama ini tidak pernah Rifqo lihat, tiba – tiba membuat jantung laki – laki itu berdetak lebih kencang.
“Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tidur di sini dengan pakaian seperti ini” tanya Rifqo, sambil berdiri dan berusaha untuk tidak melirik Ulma.
Namun, tidak ada jawaban apapun yang saat itu Ulma berikan, Ulma masih tetap membisu dalam posisi meringkuk sambil memunggunginya. Karena merasa kesal diabaikan, akhirnya Rifqo berjongkok, menarik pelan lengan Ulma hingga membuat posisi gadis itu jadi terlentang, dan saat itu jantung Rifqo semakin berdegup kencang ketika melihat Ulma dalam posisi terlentang seperti itu. Namun, Rifqo berusaha mengesampingkan perasaannya aneh yang dia rasakan ketika menyadari jika Ulma tidak sadarkan diri, belum lagi darah mimisan yang keluar dari hidungnya membuat Rifqo merasa sangat panik.
“Ulma ….” ujar Rifqo, sambil mengguncang tubuh Ulma dan berusaha membersihkan darah dari hidungnya.
Kemudian, Rifqo langsung menggendong tubuh Ulma menuju kamar ketika sadar tubuh gadis itu sangat panas. Saat itu, Rifqo juga tidak berhenti berusaha mebangunkan Ulma meskipun saat itu tubuhnya juga semakin merasakan gejala aneh.
“Ulma bangun…” guncang Rifqo, sambil menepuk – nepuk pelan pipi Ulma.
Namun, gadis itu masih belum membuka matanya. Hal itu, membuat Rifqo merasa putus asa, hingga akhirnya Rifqo memutuskan membawa Ulma pergi menuju rumah sakit, laki – laki itu bahkan memberanikan dirinya untuk menggantikan pakaian Ulma lebih dulu sebelum mereka pergi, tetapi ketika Rifqo baru hendak membuka baju Ulma, tiba – tiba mata gadis itu terbuka. Dalam posisi jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat keduanya saling bertatapan dalam jarak yang dekat pula, dan saat itu tidak tahu kenapa Rifqo merasa jika dia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri apalagi ketika melihat tatapan meneduhkan Ulma.
“Kamu suami ku, kamu milik ku, dan aku berhak atas diri mu” ujar Ulma, dengan wajah tanpa ekspresi tapi tatapan matanya seakan menyiratkan banyak hal yang tidak terdefinisikan.
Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba – tiba Ulma mengalungkan tangannya pada leher Rifqo dan mendaratkan satu buah kecupan hangat di dahi Rifqo. Perlakukan Ulma tersebut berhasil membuat tubuh Rifqo benar – benar membatu, tapi di balik itu Rifqo sedang mati – matian manahan perasaan aneh yang seakan bisa saja meledek dalam waktu dekat.
“Aku tulus, aku ridho, dan aku ikhlas mencintai mu” lanjut Ulma, sambil mendaratkan satu kecupan di bibir suaminya.
Saat itu, Rifqo benar – benar tidak mampu menahan dirinya lagi. Apa yang Ulma lakukan sungguh berhasil membuat Rifqo tidak mampu menahan dirinya. Rifqo merasa perlakuan Ulma membuat dirinya benar semakin merasa tidak berdaya dalam situasi yang sejak tadi dia sendiri tidak mengerti.
“Ulma aku minta maaf jika melakukan hal ini ketika hati ku masih memilih kakak mu sebagai perempuan yang aku cintai, aku minta maaf karena melakukan hal ini dalam keadaan kita yang sama – sama tidak baik” ujar Rifqo, yang tiba – tiba kembali mencium Ulma dan selanjutnya hanya merekalah yang tahu.