Alma terbangun dengan keadaan badannya yang terasa mengigil kedinginan tapi suhu tubuhnya sangat panas, kepalanya berdenyut sakit. Sejenak, dia menoleh kearah samping tepat dimana ada sosok suami yang sudah berhasil menjalankan perannya dengan memberikan Ulma nafkah batin yang seharusnya sudah tunaikan sejak dua bulan lalu. Laki – laki itu sempat menegaskan kepada Ulma bahwa dia tidak akan memberikan nafkah batin kepada Ulma karena dia tidak pernah menganggap Ulma sebagai istrinya, tetapi sore itu dia tiba – tiba melakukannya bahkan dalam kondisi Ulma yang tidak baik – baik saja.
“Meskipun aku tidak tahu apa alasan kamu tiba – tiba berubah, tapi terima kasih untuk ini, setidaknya dengan begini sekarang aku merasa bahwa aku adalah istri mu yang utuh bukan hanya sekedar istri yang tertulis diatas kertas saja” gumam Ulma, sambil menerbitkan senyuman dari bibirnya yang pucat.
“Ulma aku minta maaf jika melakukan hal ini ketika hati ku masih memilih kakak mu sebagai perempuan yang aku cintai, aku minta maaf karena melakukan hal ini dalam keadaan kita yang sama – sama tidak baik”. Kalimat permintaan maaf yang Rifqo ucapkan masih terekam jelas dalam pendengaran Ulma, tapi Ulma lebih memilih untuk tidak mempermasalahkannya, karena sejak awal dia sudah tahu bahwa resiko menikah dengan Rifqo adalah tidak di cintai.
Kemudian, Ulma memaksakan dirinya untuk bangun karena saat itu dia harus bergegas untuk membersihkan dirinya. Sementara itu, Ulma memilih membiarkan Rifqo tetap tertidur karena dia pikir laki – laki itu masih terlihat kelelahan.
Setelah selesai, Ulma pergi ke dapur untuk meminum obat karena dia merasa jika saat itu dirinya benar – benar sakit. Sementara, di kamar Rifqo terbangun, dalam sejenak laki – laki itu terbangun dan kembali mengingat – ngingat apa yang sebenarnya sudah terjadi.
“Gue ngapain Ulma semalam ya tuhan, harusnya gue gak boleh ngelakuin ini” gumam Rifqo, sambil memukul kepalanya sendiri karena dia merasa bodoh atas tindakannya sendiri.
Rifqo, menatap kearah samping, tempat yang seharusnya ada Ulma berbaring, tetapi saat itu Rifqo tidak menemukan keberadaannya. Kemudian, Rifqo melirik kearah jam yang masih menujukan pukul satu dinihari. Rifqo melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tapi dia masih tidak menemukan keberadaan Ulma, dia hanya melihat lantai kamar mandi yang masih terlihat basah pertanda bahwa Ulma belum lama menggunakannya. Kemudian Rifqo bergegas mencari Ulma keluar kamar, tapi saat itu dia hanya menemukan keadaan ruang tamu dan keluarga masih gelap.
“Ulma …” panggil Rifqo, sambil menyala – nyalakan lampu setiap ruangan agar bisa lebih mudah melihat sekelilingnya.
“Kamu ngapain tidur di sini ? kenapa enggak di kamar ?” tanya Rifqo, sambil berjalan menghampiri Ulma yang sedang duduk di salah satu kursi meja makan dan menelengkupkan kepala diatas lipatan tangannya.
Sejenak, tidak ada jawaban yang Rifqo dapatkan, hingga akhirnya laki – laki itu berjongkok dan menyamakan posisi tubuhnya dengan Ulma, saat itu Rifqo juga tidak dapat memastikan apakah Ulma tidur atau tidak. Hingga akhirnya elusan tangan Rifqo berhasil membuat Ulma mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Selama beberapa saat, perempuan itu terdiam dan menatap kearah Rifqo dengan tatapan yang sulit terdefinisikan, kemudian sebuah senyuman terbit dari bibirnya yang tampak terlihat pucat.
“Kenapa bangun ? aku tahu kamu pasti masih capekan ? tidur lagi aja” ujar Ulma, tampa menghilangkan senyuman yang terlukis dari bibirnya.
“Enggak usah merasa bersalah, kita enggak akan berdosa melakukannya, aku juga enggak papa, kamu besok kerja jadi tidur lagi aja” lanjut Ulma, sambil tersenyum dan mengelus pipi Rifqo ketika laki – laki itu menatap Ulma dengan tatapan yang terlihat menyiratkan rasa bersalah.
Sejenak Rifqo terdiam, laki – laki memperhatikan wajah Ulma dalam sejenak. Kemudian, tangannya mengelus pipi Ulma dan saat itulah Rifqo baru menyadari jika perempuan itu sedang sakit, dan sebuah helaan nafas berat keluar dari bibirnya.
“Kamu sakit sejak kapan, kenapa kamu semalam enggak nolak aja kalau emang kamu lagi sakit jangan memaksakan diri kaya gini” ujar Rifqo, sambil bangkit dari posisinya dan menyentuh dahi Ulma untuk mamastikan kondisinya.
Namun, saat itu Ulma memilih untuk diam dalam senyumannya, ada sedikit kebahagiaan yang saat itu meletup – letup dalam hatinya ketika Rifqo memberikan perhatian sederhana terhadap dirinya. Kemudian, Ulma membawa tangan Rifqo ke dalam genggaman tangannya.
“Jangan menyuruhkan terus tidur kalau kamu lebih membutuhkannya dari pada aku, kalau kamu sakit katakan jangan merasakan dan memendamnya sendirian” ujar Rifqo, sambil menatap Ulma dengan wajah datarnya. “Ayo kembali ke kamar, badan kamu demam, biar nanti aku kompres” lanjut Rifqo, sambil menarik pelan lengan Ulma seakan mengisyaratkan kepada perempuan itu untuk bangun dari posisi duduknya.
Masih dengan senyuman yang merekah dari bibirnya Ulma bangkit, tapi gadis itu terdiam sejanak sambil berpegangan pada sisi meja makan saat tiba – tiba penglihatannya menghitam dalam beberapa detik, tubuhnya seperti melayang.
“Kenapa pusing ?” tanya Rifqo, saat dia melihat apa yang Ulma lakukan.
Ulma menggelengkan kepalanya, kemudian dia menatap kearah Rifqo dengan senyuman yang terlukis dari bibir pucatnya. “Ayo ke kamar, kita tidur lagi, gak usah di kompres besok juga aku pasti sembuh, aku biasa ko demam kaya gini, dan nanti pasti akan sembuh sendiri” ujar Ulma, sambil menarik Rifqo untuk ikut pergi ke kamar bersamanya.
Saat itu, tanpa membantah, Rifqo lebih memilih menurut, dia berjalan mengikuti Ulma dari belakang. Ketika Ulma berhenti sejanak laki – laki itu juga ikut berhanti, hingga tepat di depan pintu kamar saat itulah tubuh Ulma hampir oleng, untungnya Rifqo yang setia berada di belakang Ulma bisa dengan sigap menangkap tubuhnya.
“Maaf – maaf, tadi aku ngantuk banget kayanya” ujar Ulma beralasan, sambil hendak bangkit lagi.
Namun, tanpa memberikan tanggapan apapun terhadap apa yang Ulma katakan, Rifqo tiba – tiba mengangkat tubuh Ulma hingga membuat perempuan itu kaget. Saat itu, Ulma hanya bisa diam sambil menatap wajah Rifqo, sementara laki – laki itu memilih memasang wajah acuhnya sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Ulma penuh kehati – hatian.
“Tidur” ujar Rifqo, saat sudah menyelimuti tubuh Ulma, dan perempuan itu masih terdiam sambil menatap Rifqo dengan wajah yang sulit untuk di definisikan. “Pejamkan mata mu” ujar Rifqo, dan seketika Ulma langsung menutup matanya.
Melihat tingkah Ulma, Rifqo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian, dia kembali pergi untuk mengambil kompresan, karena dia sadar jika malam itu suhu tubuh Ulma cukup tinggi, jadi Rifqo merasa tidak mungkin jika dia harus membiarkan Ulma begitu saja.
Dengan penuh ketelatenan, Rifqo mengompres dahi Ulma. Namun, setelah sekitar setengah jam, dahi Rifqo berkerut bingung ketika dia melihat tidur gadis itu berubah menjadi gelisah, keringat dingin di dahinya terlihat bercucuran padahal saat itu suhu tubuhnya masih cukup tinggi.
“Pah, kepala aku sakit, malam ini saja, tolong temani aku tidur, aku ingin tidur di peluk Papah” gumam Ulma, dalam tidurnya. “Aku kangen” lanjut Ulma, dalam gumamannya, dan saat itu Rifqo benar – benar merasa tertegun sekaligus merasa iba mendengar apa yang gadis itu gumamkan.
Berpikir jika saat itu Ulma kedinginan dan menginginkan pelukan ayahnya, Rifqo berinisiatif tidur di samping Ulma, memeluknya berharap pelukannya bisa sedikit mengobati keinginan Ulma yang ingin mendapatkan pelukan dari ayahnya.
“Tidurlah dengan tenang” ujar Rifqo, sambil mengelus kepala Ulma penuh perhatian.
***
Rifqo menoleh karena merasa kaget sekaligus bingung ketika seseorang tiba – tiba masuk ke dalam apartemennya tanpa salam permisi. Dahinya sedikit berkerut bingung ketika dia melihat Alma berdiri di dekatnya dengan wajah dingin dan datar. Gadis itu, memang mengetahui kode pintu apartemennya sehingga dia bisa keluar dan masuk ke dalam apartemen Rifqo tanpa harus susah payah di bukakan terlebih dahulu.
“Dimana Ulma ? katakan dengan jujur pada ku apa yang sudah kamu lakukan bersama dia semalam atau lebih tepatnya setelah kamu pulang dari kampus ?” tanya Alma, dengan wajahnya yang terlihat menunjukan ke khawatiran.
Sejanak, Rifqo terdiam memperhatikan Alma, saat itu dia sedikit merasa bingung kenapa dia tiba – tiba datang dan menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak dia tanyakan. Kemudian, tiba – tiba dia menyentuh pundak Rifqo, membuat posisi mereka jadi saling berhadapan.
“Apa semalam kalian melakukan sesuatu yang selayaknya suami istri ?” tanya Alma, sambil menatap Rifqo tepat dibagian matanya.
Hingga tiba – tiba tangan gadis itu terkulai lemas dengan tatapan kosong ketika diamnya Rifqo membuat dia sadar bahwa apa yang dia takutkan sudah benar – benar terjadi. Saat itu, Alma seakan merasakan kehancuran yang tidak mampu dia definisikan ketika laki – laki yang dia cintai ternyata sudah menjadi suami seutuhnya bagi adiknya sendiri.
“Kemarin, kamu di kirim air minum lewat office boy kampus ? minuman itu udah di campur obat perangsang sama Papah” ujar Alma, sambil menatap Rifqo dengan matanya yang sudah terlihat berkaca – kaca. “Sebelumnya Papah juga udah ketemu Ulma, apa kamu sadar kalau kamu udah di jebak dan masuk perangkap mereka berdua ?” tanya Alma, sambil menatap Rifqo dengan satu tetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Tangan Rifqo yang sedang memegang sinduk karena pagi itu dia sedang membuat bubur untuk Ulma seketika terjatuh, tiba – tiba dia kembali teringat pada kejadian di hari kemarin saat seorang office boy tiba – tiba datang dan memberikan air minum kepadanya.
Rifqo menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kerjanya setelah berhasil menyelesaikan pekerjaan terakhirnya sebagai pembicara di sebuah seminar yang diadakan oleh sebuah komunitas. Setelah berbicara cukup panjang dan lebar tenggorokannya terasa sangat kering padahal dia sudah menghabiskan satu botol minuman selama perjalanan.
“Akan sangat menyenangkan jika tiba – tiba ada air mineral yang bisa membuat tenggorokan kering ini menjadi lebih segar” gumam Rifqo, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerja miliknya dengan mata terpejam sambil menikmati sisa – sisa rasa lelah yang dia rasakan.
“Tadi saya tidak sengaja lewat di depan ruangan dosen dan melihat anda kehaluasan tapi terlihat kelelahan untuk pergi mencari air, ini saya bawakan untuk anda” ujar seseorang, berhasil membuat mata Rifqo seketika langsung terbuka dan menatap sosok office boy di hadapannya.
Kemudian, Rifqo mengalihkan tatapan matanya pada segelas air minum yang terisi penuh di dalam gelas. Bibirnya langsung melukiskan senyuman ketika dia melihat air minum tersebut.
“Terima kasih, maaf sudah merepotkan” ujar Rifqo, sambil tersenyum dan di jawab anggukan kepala oleh office boy tersebut.
Kemudian office boy itu berlalu pergi. Sementara Rifqo, memilih untuk langsung meneguk air minumnya hingga habis, karena saat itu dia benar – benar merasa kehausan setelah banyak berbicara ketika menyampaikan materi terlebih dalam cuaca yang cukup panas.