#R – Tuduhan Tidak Berbukti

1626 Words
Ulma membuka matanya secara perlahan saat dia mendengar suara pintu yang terbuka cukup kasar. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah keberadaan Rifqo yang sedang menatapnya dengan dingin dan saat itu Ulma juga bisa melihat ada amarah yang tampak dalam tatapan matanya. “Rifqo ada apa ?” tanya Ulma, sambil merubah posisinya menjadi duduk. Saat itu, Rifqo masih memilih diam dengan tatapan tajamnya. Hal itu, semakin membuat Ulma bingung, karena semalam Ulma masih mengingat dengan sangat baik bagaimana Rifqo memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan ketika subuh terbagun laki – laki itu sedang memeluknya. Namun, saat itu dia sudah kembali berubah terlihat marah dan menatap Ulma dengan tatapan tajamnya. “Ngapain kemarin Papah datang ke sini ?” tanya Alma, tiba – tiba datang menghampiri Ulma ke kamar. “Ngapain kemarin Papah ke sini nemuin kamu, Ulma ?” tanya Alma, untuk yang kedua kalinya. Saat itu, Ulma benar – benar tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak memahami kenapa tiba – tiba Rifqo dan Alma tiba – tiba datang dengan api kemarahan yang terlihat jelas dari mata mereka. Ulma menatap kearah kakaknya kemudian menatap kearah Rifqo yang saat itu masih menatapnya. “Kenapa kamu enggak jawab, katakan dengan jujur, ngapain kemarin Papah ke sini” ujar Alma, sambil berjalan melangkah mendekat kearah Ulma. “Apa kamu belum puas menghancurkan perasaan aku dengan menikahi Rifqo, kenapa kamu berubah menjadi seperti ini dalam waktu sekejap Ulma ? apa ini kamu yang sebenarnya, picik dan penuh tipuan ?” tanya Alma, sambil menatap Ulma dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Saat itu, Ulma benar – benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa kakak serta suaminya tiba – tiba datang dengan kemarahan mereka. Saat itu, Ulma mengakui jika ayahnya memang datang, tapi ayahnya datang untuk memarahi dan menyiksanya seperti biasa, bahkan luka memar bekas tamparan ayahnya masih terlihat begitu kontras di wajah Ulma, tetapi saat itu baik Rifqo ataupun Alma tidak ada yang menyadarinya. “Ada apa ini sebanarnya Kak?” tanya Ulma, sambil menatap Alma dengan kebingungan di wajahnya. “Kemarin, Papah memang ke sini, tapi dia datang karena marah setelah tahu kalau Kakak menginap di aparemen ini” ujar Ulma, berusaha tetap tenang dan menjelaskan segalanya kepada Alma. “Bohong” sergah Alma, dengan suaranya yang sudah meninggi bersama air mata yang sudah mengalir deras dari pelupuk matanya. “Luka ini, bekas tamparan Papah” ujar Ulma, sambil menunjuk bagian pipinya yang terlihat memar. “Luka ini, adalah bekas tendangan kaki, Papah” ujar Ulma, yang dengan berani memperlihatkan bagian perutnya yang memang terlihat membiru, dia bahkan tidak merasa malu ketika di sana ada Rifqo juga. “Apa bukti itu masih kurang juga ?” tanya Ulma, sambil tersenyum getir. “Kalau memang Kakak sama Rifqo udah gak percaya, yaudah gak usah percaya aja, aku enggak akan memaksa kalian untuk selalu mempercayai apa yang aku katakan, tapi yang pasti dan jelas sudah Kakak tahu juga dari dulu sampai sekarang aku bukanlah anak yang bisa berbicara dalam keadaan tenang bersama Papah, karena ketika Papah menghampiri ku berarti saat itulah Papah sedang marah” lanjut Ulma, sambil tersenyum bersama satu tetas air mata yang jatuh dari pelupuk matanya tapi saat itu Ulma langsung menghapusnya. “Aku minta maaf karena sudah menjadi bagian penghalang dan perusak dalam hubungan kalian, tapi sekalipun aku sudah menikah dengan Rifqo, aku tidak pernah memaksa kalian untuk berhenti berhubungan bukan, tapi jika memang keberadaan ku adalah masalah maka aku tidak akan masalah jika harus pergi” lanjut Ulma, sambil tersenyum dengan air mata yang tiba – tiba berjatuhan dari pelupuk matanya. Kemudian, Ulma berjalan menghampiri Rifqo yang sejak tadi memilih diam mendengar pertengkarannya bersama Ulma, dan saat itu lebih buruk dari biasanya, Rifqo yang biasa hanya memasang wajah cuek maka saat itu dia memperlihatkan wajah dingin sambil memalingkan wajahnya. “Aku minta maaf sudah menghancurkan kehidupan mu, aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu, aku tidak akan pernah muncul dihadapan kamu lagi sampai lima bulan pernikahan kita untuk mengajukan perceraian, sampai saat itu lakukanlah semua hal yang membuat kamu bahagia” ujar Ulma, sambil tersenyum kemudian menarik tangan Rifqo untuk dia cium, tapi saat itu Rifqo langsung menarik tangannya. Sadar dengan penolakan yang Rifqo tunjukan, Ulma lebih memilih berlalu pergi, bahkan saat itu Ulma pergi tanpa membawa apapun di tangannya, tidak ada uang ataupun ponsel. Sementara Rifqo, laki – laki itu tidak berniat mencegah Ulma walau sedikitpun. “Ya, mungkin sejak awal harusnya aku memutuskan untuk pergi begini” gumam Ulma, sambil berlalu pergi dengan tetasan air mata kesakitan yang mengiringi langkahnya. Lelah, itulah yang Ulma rasakan. Dia merasa keadaan terlalu memaksanya untuk selalu kuat menerima kemarahan setiap orang, dia merasa ingin menyerah tapi tidak bisa, jadi lari mungkin pilihan yang saat itu dia miliki untuk merehatkan dirinya dari permasalahan yang tidak pernah usai menghampiri kehidupannya. Meskipun saat itu Ulma sendiri tidak tahu kemana dia akan pergi, tapi dia memilih benar – benar menghilang dan tidak ingin hadir menjadi mengacau dalam kehidupan Rifqo. Setidaknya dengan begitu, Ulma berharap dia bisa menemukan hidup yang jauh lebih tenang meskipun dalam sebuah kesendirian. *** Setelah dua bulan berlalu Ulma cuti karena pemulihan tulangnya yang mengalami retak, akhirnya Ulma kembali menginjakan kakinya ke sekolah tempat dia mengajar. Saat itu, para guru yang lain merasa kaget dengan kedatangan Ulma, pasalnya gadis itu di berikan izin tiga bulan sesuai dengan saran Dokter untuk masa pemulihannya, tapi baru dua bulan lebih dia sudah kembali datang ke sekolah dengan keadaan luka lebam yang menghiasi wajahnya. “Ada apa ? kenapa kamu sudah datang ke sekolah, bukannya kamu masih dalam tahap pemulihan ? seharusnya kamu sehatkan dulu tubuh mu, jangan terburu – buru untuk bekerja” ujar seorang wanita paruh baya, seorang pengajar senior di sekolah taman kanak – kanak tersebut. “Aku datang untuk menemui kepada yayasan, biasanya beliau datang berkunjung ke sini di hari senin awal bulan, apakah sekarang jadwalnya ?” tanya Ulma, sambil menatap perempuan paruh baya itu dengan senyuman yang berusaha dia terbitkan dari bibirnya untuk menyembunyikan kesedihan yang saat itu sedang dia rasakan. “Iya, kebetulan sekali, tadi pagi dia memang datang, tadi dia pergi ke ruang meeting dan aku belum melihatnya keluar” ujarnya lagi, sambil menatap Ulma dengan tatapan bingung dan khawatir, tapi saat itu dia tidak berani menanyakan keadaan Ulma lebih jauh lagi. “Kamu tunggu saja di ruangan atau di kursi depan ruang meeting, sebentar lagi dia pasti keluar” lanjutnya, sambil mengelus pundak Ulma. Ulma hanya menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian, dia berjalan mendekat kearah ruangan meeting dan mengistirahatkan tubuhnya di sebuah kursi yang memang di sediakan di depan meja meeting. Saat itu, dalam keadaan tubuhnya yang sakit, Ulma benar – benar merasa keadannya tidak baik – baik saja, tapi dia tetap memaksa agar dirinya tetap terlihat baik – baik saja di hadapan orang lain, karena jika terjadi sesuatu terhadap dirinya maka tidak ada siapapun yang bisa menolongnya. Tidak lama, hanya lima belas menit, kepala yayasan yang dia tunggu akhirnya keluar. Menyadari jika Ulma ada di depan ruang meeting untuk menunggunya, kepala Yayasan itu akhirnya menyapa Ulma dengan ramah. “Bolehkan saya meminta waktu anda dan Ibu kepala sekolah untuk berbicara sebentar ?” tanya Ulma, sambil menatap kepala yayasan dan ibu kepala sekolah yang saat itu baru saja keluar dari dalam ruangan. “Sepertinya, ada hal penting yang ingin Ibu Ulma bicarakan, mari Bu kita ajak Bu Ulma bicara di dalam saja” ujar kepala Yayasan, kepada kepala sekolah dan langsung di jawab anggukan kepala oleh kepala sekolah kemudian mengajak Ulma untuk masuk ke dalam ruang meeting. Saat itu, bersama kepala yayasan dan kepala sekolah Ulma duduk di kursi meja meeting, mereka benar – benar menyambut dan menerima kehadiran Ulma dengan sangat baik dan terbuka, sehingga Ulma bisa menyampaikan seluruh niatnya dengan baik dan lebih tenang. “Menurut pendangan pribadi saya, Ibu Ulma adalah salah satu guru yang sangat baik, beliau juga sangat digemari oleh anak – anak, selain itu metode pengajaran yang dia sampaikan cukup membuat anak – anak suka berada di dalam kelas, jadi memberikan izin penempatan rumah dinas milik sekolah tidak masalah menurut saya, Pak” ujar ibu kepala sekolah, setelah Ulma menyampaikan niatnya untuk tinggal sementara waktu di rumah dinas sekolah. “Ya, beberapa kali saya juga sempat mendengar beberapa capaian prestasi yang anda capai selama menjadi tenaga pengajar di sini dan membawa nama baik sekolah ini, jadi saya mengizinkan anda untuk menempati rumah dinas sekolah untuk sementara waktu” ujar kepala yayasan, sambil tersenyum hangat. “Terima kasih banyak Bapak dan Ibu, saya janji secepatnya saya akan berusaha mencari tempat tinggal yang baru” ujar Ulma, sambil tersenyum bahagia seligus lega. Setelah melakukan pembicaraan, kepala yayasan akhirnya pulang, sementara itu kepala sekolah langsung meminta Ulma kembali beristirahat di rumah dinas seperti yang sebelumnya Ulma inginkan. Tidak jauh, masih terletak diarea sekolah, dan terletak dibarisan paling pojok, setelah mendapatkan kuncinya Ulma memilih untuk bergegas pergi ke sana. Rumah dinas tersebut biasanya dihuni oleh penjaga sekolah, tapi karena saat itu penjaga sekolahnya memiliki rumah yang dekat dengan sekolah jadi dia memilih pulang pergi sehingga rumah tersebut kosong. Keadaannya cukup bersih karena pihak sekolah selalu meminta para petugas kebersihan membersihkannya setiap hari, meskipun tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. “Sebelum benar – benar bercerai dengan suami mu, ada baiknya jika kau berlantih untuk tinggal sendiri seperti seorang janda, Ulma” gumam Ulma, sambil terkekeh getir saat dia memasuki sebuah kamar. Kemudian, sambil membaringkan tubuhnya, Ulma berusaha memejamkan matanya. Namun, saat matanya terpejam Ulma justru kembali teringat kejadian saat berada di apartemen. Tatapan kemarahan kakak dan suaminya masih terekam dengan jelas dalam ingatan Rifqo, dan hal itu berhasil membuatnya merasa sedih, karena dua orang yang paling dia sayangi dan cintai pagi itu benar – benar marah terhadap dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD