#R – Tentang Teori Cinta

1494 Words
Setelah kepergian Ulma, Rifqo masih terdiam kaku di tempatnya tanpa sepatahkatapun yang keluar dari mulutnya. Saat itu, dia merasakan sebuah perasaan dilema tentang apa yang dia lakukan benar atau tidak, apakah dia pantas memilih diam dan membiarkan Ulma pergi. Hingga akhirnya laki – laki itu berbalik menatap kearah Alma yang sudah jatuh terduduk dengan tangisnya. Secara perlahan, Rifqo berjalan mendekat kearahnya, kemudian dia berjongkok menyamakan posisinya, tangannya menghapus lelehan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi Alma. “Aku minta maaf, jika perbuatan ku bersama Ulma semalam sudah menjadi bentuk penghianatan yang aku lakukan kepada mu” ujar Rifqo, sambil menangkup pipi Alma. “Seharusnya, kemarin aku lebih bisa menahan diri, tidak tergoda oleh Ulma, seharusnya aku tidak melakukan semua itu ketika aku sadar bahwa kamu adalah orang yang sangat aku cintai” lanjut Rifqo, dan hal itu berhasil membuat tatapan Alma beralih menatap tepat ke bagian matanya. Air mata semakin berjatuhan membasahi pipi Alma ketika dia mendengar pekataan Rifqo, nyatanya perkataan yang menyiratkan pengakuan secara tidak langsung tentang sejuah mana pernikahannya bersama Ulma sudah terjadi, seperti sayatan pisau yang pelan – pelan mengiris hatinya. Saat itu, Alma merasakan kepedihan yang sulit untuk dia definisikan. “Kenapa kisah kita harus menyedihkan seperti ini, padahal awalnya semua berjalan cukup baik, kenapa keadaan memaksa kita untuk terus berpisah, kenapa harus ada takdir saling mencintai diantara kita jika pada akhirnya kita tidak bisa bersama” ujar Ulma, dengan cucuran air mata yang saat itu seakan menjadi bentuk ungkapan perasaannya. “Kenapa Ulma harus melakukan semua ini sama kita, padahal dia sangat tahu kalau kamu segalanya buat aku, kenapa semua ini begini” lanjut Alma, kemudian Rifqo langsung membawa dia ke dalam dekapannya. Tidak ada apapun yang saat itu bisa Rifqo katakan. Kenyataannya dia sendiri tidak memahami kenapa takdir menggiringnya melangkah jauh pada sebuah pernikahan tidak berdasar cinta antara dia dan Ulma. Namun, yang pasti Rifqo menyadari jika dia harus memilih untuk membereskan semua kekecauan yang terjadi dalam hubungan antara dia dan Ulma, serta antara dia dan Alma. “Jika cinta tidak menemukan titik uji, maka cinta itu tidak akan pernah kokoh, mungkin saat ini cinta kita sedang menemukan titik uji, sampai nanti tuhan akan mengiring kita menuju langkah yang memiliki akhir bersama” ujar Rifqo, dengan suaranya yang terdengar tenang berharap ucapannya bisa membuat Alma menjadi jauh lebih tenang. Mendengar perkataan Riqfo, Alma merenggangangkan pelukan mereka. Dalam sejenak, perempuan itu menangkup kedua pipi Rifqo dan menatap laki – laki itu tepat di bagian matanya. Hingga tiba – tiba, Alma manarik wajah Rifqo dan mencium bibir laki – laki itu secara tiba – tiba, hal itu tentu saja membuat Rifqo merasa kaget. Sejenak, Rifqo terdiam, setelah sekian detik laki – laki itu mencoba untuk melepaskan ciuman yang Alma lakukan. Tepat saat Rifqo berhasil, dia masih terdiam dalam bisu dan menatap wajah Alma yang menangis dalam diam. “Apa yang kamu lakukan Al” ujar Rifqo, dengan wajah kaget dan nafas yang tidak beraturan. “Kenapa ? bukankah Ulma bisa menikah dengan mu karena dia melakukan hal – hal semacam itu ? kalau dia bisa melakukannya maka aku juga akan mencobanya, karena sampai detik ini aku tidak pernah ikhlas melihat kamu menjadi suaminya” ujar Alma, sambil menatap Rifqo. Saat itu, Alma sudah hendak menarik wajah Rifqo untuk memberikan ciuman lagi, tapi saat itu Rifqo berhasil menolak dan menarik tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya. Saat itu, tangis Alma benar – benar tumpah dalam pelukan sosok laki – laki yang sangat dia cintai. “Lakukan, mari kita tidur bersama agar setelah itu kita bisa menikah, jadikan aku istri kedua kamu, lebih baik aku menikah dan menjadi madu adik ku sendiri, dari pada harus menikah bersama laki – laki yang bahkan tidak pernah aku cintai” ujar Alma, dan saat itu Rifqo langsung melepaskan tangannya yang sedang memegang pundak Alma. “Apa yang kamu katakan Al, kenapa kamu jadi melantur begini ?” ujar Rifqo, sambil menatap Alma dengan tatapan yang sulit untuk di definisikan. “Aku hancur saat tahu orang yang aku cintai menikah dengan adik ku sendiri, aku sedih saat membayangkan laki – laki yang aku cintai tidur di atas ranjang dan selimut yang sama bersama adik ku, aku marah saat laki – laki yang harusnya menjadi suami ku kini justru sudah resmi menjadi suami seutuhnya bagi adik ku” ujar Alma, sambil menatap Rifqo tepat dibagian matanya. “Menurut mu, apa yang bisa aku lakukan untuk mengobati kehancuran, kesedihan, dan kemarahan ku” tanya Alma, sambil menangkup wajahnya dan saat itu air mata kembali jatuh membasahi wajahnya. Melihat kerapuhan yang ditunjukan oleh Alma, Rifqo kembali menarik gadis itu ke dalam dekapannya lagi. Tangannya membelai kepala Alma penuh kelembutan, berharap hal itu bisa membuatnya merasa jauh lebih tenang. Karena kesedihan, kemarahan, dan kehancuran itu tidak hanya dimiliki Alma tapi juga dirasakan oleh dirinya. “Jangan begini Al, mari kita sama – sama saling berpangku tangan untuk saling menguatkan, aku yakin nanti tuhan akan menuntun kita pada jalan yang bisa membawa kita dalam sebuah kebersamaan” ujar Rifqo, sambil membelai kepala Alma penuh kasih sayang. “Rifqo, apa yang kamu lakukan ? kenapa kamu berpelukan dengan Alma ? dimana istri kamu ?”. Mendengar suara seseorang selain mereka berdua, sontak Rifqo dan Alma sama – sama menolah, dan saat itu mereka menemukan sosok Lina yang sedang berdiri di ambang pintu kamar tempat Alma dan Rifqo berada dalam posisi berpelukan. “Mamah tanya dimana istri mu ?” tanya Lina, untuk yang kedua kalinya, saat itu Rifqo langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Alma dan bangkit dari posisi duduknya karena merasa kaget dengan kedatangan ibunya. Saat itu, Rifqo juga baru mengingat, Subuh tadi dia mengabari ibunya jika Ulma sedang sakit, saat itu Lina mengatakan jika dia akan datang untuk menjenguk, karena pertengkaran tidak terduga yang terjadi antara dirinya dan Ulma, Rifqo sampai lupa jika ibunya akan datang. “Kenapa kamu hanya diam ? dimana istri mu dan kenapa kamu malah berpelukan bersama perempuan lain di sini ? bukannya kamu bilang kalau istri mu sedang sakit ?” tanya Lina, dengan sirat ketegasan dan api kemarahan yang mulai terlihat dari sorot matanya. Sejenak, Rifqo masih tetap diam, sampai akhirnya dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. “Kita bertengkar dan dia pergi” ujar Rifqo, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya dari Rifqo. “Ulma” ujar Alma, sambil bangkit berjalan menghampiri Lina dan Rifqo yang sedang berdiri diambang pintu. “Adik ku yang sudah bersama dengan ku bahkan sejak kami masih dalam kandungan Ibu, dia sudah berubah menjadi gadis picik dan penuh tipuan, dia tidak pantas menjadi istri Rifqo, Tante” ujar Alma, sambil menatap Lina dengan tatapan yang sulit untuk di definisikan. “Dia, berkali – kali menjebak Rifqo dan menghancurkan hubungan ku bersama Rifqo, dia sungguh bukan istri yang pantas berada di samping Rifqo” lanjut Alma, tepat saat dia sudah berdiri di hadapan Lina. Dalam sejenak, perempuan paruh baya itu terdiam dan menatap Alma dengan tatapan yang sulit untuk di definisikan. Kemudian, perempuan itu tersenyum kearah Alma yang saat itu sedang berdiri dihadapannya. “Mendengar kamu berbicara seperti ini tentang adik mu sendiri yang sangat menyayangi mu sebagai kakaknya, Tante merasa bersyukur karena bukan kamu yang ditakdirkan hidup bersama putra Tante” ujar Lina, dengan nada suaranya yang terdengar tenang. “Cara mu berbicara, cara mu menjatuhkan nama adik mu sendiri dihadapan suami dan mertuanya, cukup membuat Tante sadar bahwa kelembutan hati Ulma sudah menuntun dia untuk hadir dalam kehidupan Rifqo, menjawab semua do’a Tante yang selalu meminta kepada Tuhan untuk menghadirkan perempuan berhati baik dalam kehidupan Rifqo, dan Ulma adalah jawaban nyata dari semua do’a itu” lanjut Lina, sambil melebarkan senyumannya dihadapan Alma. Kemudian, Lina berbalik menatap kearah Rifqo yang saat itu hanya diam di dekatnya. Dalam beberapa saat dia menatap putra bungsunya tersebut. “Kamu, Mamah gak tahu apa yang membuat kamu berubah menjadi laki – laki tidak bertanggung jawab seperti ini, Mamah tidak paham kenapa kamu lebih mempertahankan perempuan yang jelas bukan mahrom mu dan tidak mempedulikan perempuan yang jelas tanggung jawab mu” ujar Lina, berhasil membuat Rifqo mendongak dan menatap Lina tepat dibagian matanya. “Pergi, temukan istri mu, bawa dia pulang dalam keadaan baik – baik saja” lanjut Lina, dengan ketegasan yang tersirat dalam setiap ucapannya. Setelah itu, Rifqo memilih langsung pamit kepada ibunya. Tidak lupa Rifqo juga membawa Alma pergi meninggalkan apartemen, karena Rifqo sadar akan menjadi hal yang tidak baik meninggalkan Alma bersama ibunya di apartemen. “Mamah mungkin hanya diliputi oleh emosi sesaat, jangan masukan kata – katanya ke dalam hati mu, nanti saat amarahnya sudah mereda aku yakin dia pasti akan bersikap baik kepada mu” ujar Rifqo, sambil membelai kepala Alma ketika mereka sudah berada di lantai basement apartemen. “Sekarang, kita tidak punya cara apapun untuk melawan keadaan ini, kita hanya bisa menunggu takdir yang tergaris untuk kita selanjutnya, tapi yang pasti yang harus kamu ketahui di dalam hati ini hanya ada kamu” ujar Rifqo, sambil membawa tangan Alma untuk menyentuh bagian dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD