Setelah semalaman di kurung oleh ayahnya di dalam kamar, akhir Alma di perbolehkan keluar kamar setelah ayahnya meminta dia bersiap – siap di bantu oleh seorang penata rias yang memang sengaja ayahnya persiapkan untuk membantu Alma agar gadis itu bisa benar – benar tampil cantik dalam pertemuannya bersama keluarga Abyan. Namun, tidak ada senyuman sedikitpun yang terbit dari bibir Alma, karena nyatanya gadis itu tidak pernah menginginkan pertamuan ini terjadi.
“Papah, kenapa Papah maksa aku menikah dengan laki – laki yang tidak pernah aku cintai, aku enggak mau nikah sama cowo yang hobinya main perempuan, kalau Papah sayang sama aku seharusnya Papah mengerti kenapa aku enggak mau menikah sama dia, Pah” ujar Alma, dengan suara yang menyiratkan kelelahan kerena dia sudah tidak tahu lagi harus dengan cara apa membujuk ayahnya.
“Kenapa Papah enggak jodohin aja dia sama Ulma, kenapa harus selalu aku yang Papah perankan dalam setiap perjalanan bisnis Papah sedangkan Ulma bisa hidup memilih kehidupannya sendiri” ujar Alma, sambil mendongak menatap ayahnya.
“Karena aku membencinya, aku tidak akan pernah mau memberikan kehidupan yang akan menjamin kebahagiaan dan kemewahan dalam hidupnya” ujar Firman, sambil berlalu dan mengajak Alma untuk mengikutinya, karena mereka harus segera berangkat ke tempat dimana keluarga mereka akan bertemu.
Tempat pertemuan Alma bersama keluarga Abyan di sebuah restoran mewah yang hari itu memang sengaja di pesan khusus oleh keluarga Abyan sehingga yang bisa masuk hanya keluarga mereka dan keluarga Alma saja, hal itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan suasana yang lebih privat untuk pertemuan keluarga mereka.
Dua puluh menit waktu yang harus di tempuh oleh Alma dan ayahnya untuk sampai ke restoran tempat pertemuan mereka. Saat itu, Alma memang hanya datang bersama ayahnya, karena ibunya jelas sakit dan Ulma sekalipun ada, dia tidak akan pernah diajak.
“Maaf, kami terlambat, tadi anak ku benar – benar sangat mempersiapkan dirinya untuk pertemuan ini, jadi aku harus menunggunya bersiap” ujar Firman, sambil terkekeh dan mengelus kepala Alma, ketika mereka tiba dan menemukan keluarga Abyan sudah tiba lebih dulu ternyata.
“Tidak masalah, kami juga baru saja sampai” ujar ayah Abyan, sambil menjabat tangan Firman. “Ya Tuhan apakah ini putri mu yang akan menjadi menantu ku, cantik sekali ternyata ya, lihatlah Abyan, Daddy rasa kamu akan betah tinggal di rumah jika istri mu secantik dia” ujar ayah Abyan, sambil terkekeh diakhir kalimatnya.
Menanggapi gurauan ayahnya, Abyan hanya tersenyum, tapi sejak awal tatapan laki – laki itu memang tidak beralih sedikitpun dari Alma dan hal itu sudah cukup berhasil membuat Alma merasa risih. Karena, tatapan yang laki – laki itu tunjukan jelas memilih makna yang lain.
“Senang bisa kembali bertemu dengan mu” ujar Abyan, sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya, karena sebelumnya mereka memang sempat beberapa kali bertemu ketika Alma mewakili rapat ayahnya.
Tidak ada apapun yang Alma sampaikan untuk menjawab sapaan Abyan, dia hanya mengulurkan tangan bahkan sambil memalingkan wajahnya. Kemudian, acarapun berlanjut dengan makan bersama dan mengobrol – ngobrol tentang bisnis dan berakhir pada perbincangan perjodohan Abyan dan Alma.
“Diantara kalian berdua tidak ada yang keberatan dengan perjodohan ini bukan ?” tanya ayah Abyan, sambil menatap Abyan dan Alma secara bergantian. “Tapi, Daddy sangat yakin jika kau tidak akan menolak sedikitpun Abyan” lanjut ayah Abyan, sambil terkekeh diakhir kalimatnya seakan dia tahu jika Alma adalah tipe ideal putranya.
“Tentu Dad, aku sangat menerima perjodohan ini” jawab Abyan, berhasil membuat semua tertawa mendengarnya.
“Begitupun dengan Alma, putri ku ini bahkan sangat tidak sabar menanti hari pertemuan ini terjadi, jadi jelas dia tidak akan keberatan” jawab Firman, seakan menjadi perwakilan bagi putrinya, sementara disampingnya Alma hanya bisa tersenyum kaku.
“Kenapa ? kenapa situasi ini terasa kejam, membunuh ku dalam sebuah keadaan, mengiris hati ku hingga rasanya tercerai berai sehingga tidak memiliki kepercayaan pada cinta yang akan berakhir dalam kebahagiaan” batin Alma, sambil meremas jemari tangannya sendiri dengan kepala tertunduk ketika dia merasa benar – benar tidak berdaya pada situasi yang sedang dihadapinya.
Sementara, setelah semalam Rifqo tidak bisa tidur memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan agar ayah Alma mau memberikan restu terhadap hubungannya bersama Alma sehingga pertemuan antara keluarga Alma dan Abyan tidak terjadi. Namun, sampai pagi menjelang laki – laki itu masih belum menemukan solusi terbaik, bahkan semalam dia juga tidak pulang ke rumah, setelah menitip pesan kepada kakaknya agar menjemput Ulma di rumah sakit, laki – laki itu memilih kembali ke kantor dengan harapan bisa menghalihkan pikirannya tapi nyatanya tidak.
Setelah mengetahui pertamuan antara keluarga Alma dan Abyan, Rifqo memutuskan untuk datang dengan tujuan menghentikan perjodohan antara Alma dan Abyan. Namun, semua tidak berjalan semudah yang Rifqo bayangkan.
“Anda tidak di perbolehkan untuk masuk, malam ini restoran ditutup untuk umum” ujar salah satu bodyguard yang sedang berjaga di depan pintu masuk restoran.
“Aku datang untuk menemui kekasih ku, jadi tolong jangan halangi aku masuk” ujar Rifqo, sambil menatap mereka secara bergantian seakan Rifqo tidak memiliki ketakutan sama sekali jika harus berhadapan dengan mereka.
“Sudah kami katakan, anda tidak bisa masuk jadi pergilah” jawab salah satu diantara mereka lagi, sambil mendorong bahu Rifqo hingga membuat laki – laki itu mundur beberapa langkah.
“Tapi aku benar – benar harus masuk, jika kalian tidak bisa menolong ku setidaknya pahami keadaan ku” lanjut Rifqo, dengan matanya yang sudah memancarkan keputusasaan.
Mendengar apa yang Rifqo katakan, sejenak kedua bodyguard itu saling bertatapan, dan tanpa aba – aba mereka menyerang Rifqo. Sepertinya kesabaran mereka habis setelah menghadapi Rifqo yang tidak mau menuruti permintaan mereka. Ketika itu, meskipun Rifqo cukup menguasai ilmu beladari, tapi ternyata malam itu dia kalah ketika salah satu di antara mereka memegangi tubuh Rifqo dan yang satu memukulinya.
Namun, Rifqo yang saat itu sedang di aniaya oleh dua bodyguard itu, fokus laki – laki itu bukan pada rasa sakit yang dia terima dari pukulan – pukulan mereka, tapi rasa sakit yang membuat hatinya merasa benar – benar terluka ketika dia melihat dari luar melalui kaca restoran ketika Alma memasangkan cincin pertunangan di jari Abyan.
“Pergilah, jangan menambah pekerjaan kami jadi lebih banyak lagi, luka pukulan itu seharusnya sudah cukup membuat mu jera dan tidak memaksa untuk masuk lagi” ujar bodyguard yang baru saja bertugas memukulinya, dan memilih berhenti setelah dia merasa keadaan Rifqo cukup parah.
“Sekuat apapun aku berjuang nyatanya jika restu itu bukan milik ku, selamanya tidak akan pernah bisa aku gapai, tapi sampai kapanpun rasanya aku tidak mampu menehan kepahitan saat hati ku sudah memilihnya sebagai pemilik cinta ku” batin Rifqo, dengan kepala tertinduk.
Nyatanya melihat apa yang terjadi diantara Abyan dan Alma di dalam restoran berhasil membuat Rifqo benar – benar merasa ingin menyerah, tapi sebagian hatinya masih belum menerima jika dia harus melihat Alma hidup bersama laki – laki lain.
“Pergilah, datang besok jika kau ingin berkunjung ke restoran ini !” ujar salah satu diantara mereka, sebelum berbalik dan kembali ke tempat mereka semula.
Rifqo, hanya mampu menghela napas berat, kemudian dengan tubuhnya yang terasa sakit dia bangkit dan berjalan dengan sedikit terpincang menuju mobilnya. Saat itu, Rifqo belum memutuskan untuk pulang, dia memilih menunggu sampai keluarga Alma dan Abyan keluar dari dalam restoran.
Satu jam waktu yang Rifqo gunakan untuk menunggu, akhirnya mereka keluar. Saat itu, dari dalam mobilnya Rifqo bisa melihat Alma tidak masuk ke dalam mobil ayahnya tapi masuk ke dalam mobil yang sama dengan Abyan. Melihat hal itu Rifqo benar – benar merasa hatinya seperti tergores untuk yang kesekian kalinya. Cepat – cepat Rifqo langsung membuntuti mereka, tepat ketika mereka berada di tempat yang sudah tidak terlalu ramai, Rifqo mencegat mobil Abyan yang di dalamnya tentu saja ada Alma juga.
“Apa yang kau lakukan ?” tanya Abyan, saat dia melihat Rifqo turun dan berjalan menghampiri mobilnya. “Apa kau sengaja ingin menabrak mobil ku ?” lanjut Abyan, dengan nada suaranya yang sudah terdengar emosi.
“Aku yakin di kalangan mu kau banyak di sukai perempuan, tolong kembalikan kekasihku, hentikan pertunangan kalian, biarkan kami melanjutkan hubungan kami” ujar Rifqo, sambil menatap Abyan penuh keseriusan. “Dia tidak mencintai mu, dan aku yakin kau juga belum mencintainya, jadi sebelum semuanya terlambar berikan kami kesempatan untuk memperjuangkan hubungan kami dan kau temukan kebahagiaan bersama perempuan yang mencintai dan kau cintai” lanjut Rifqo, sambil menatap Abyan tepat dibagian matanya.
Mendengar perkataan Rifqo, sejenak Abyan tersenyum kecut. Kemudian, dia menoleh kearah Alma yang saat itu sudah ikut turun dari dalam mobilnya. “Apakah dia laki – laki yang kau inginkan hingga kau terlihat sangat enggan di jodohkan bersama ku ?” tanya Abyan, sambil menatap Alma tapi tangannya menunjuk pada Rifqo.
Namun, bukan jawaban yang Alma berikan pada pertanyaan yang Abyan ajukan, tapi gadis itu memilih langsung memeluk Rifqo dan hal itu berhasil mengundang kekesalan Abyan hingga membuat tangan laki – laki itu terkepal. Kemudian, secara paksa dia langsung manarik bahu Alma hingga membuat pelukan mereka terlepas, dan saat itu dia langsung melayangkan dua pukulan keras pada wajah Rifqo.
“Apa yang kau lakukan !!” teriak Alma, kaget melihat apa yang Abyan lakukan.
“Menyadarkan kekasih mu untuk jangan pernah berharap lebih lagi, karena sekarang kau milik ku” jawab Abyan, dengan suaranya yang terdengar tenang tapi penuh penekanan. “Dan kau, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan Alma, jadi jangan pernah bermimpi !!” lanjut Abyan, sambil mengalihkan tatapan matanya pada sosok Rifqo yang masih terlihat kesakitan.
Setelah itu, Abyan langsung memaksa Alma masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan, dia bahkan tidak menggubris sedikitpun ketika Alma berusaha memberontak ketika ingin membantu Rifqo. Sementara Rifqo, laki – laki itu masih terduduk diatas jalan, dengan kemarahan, kesedihan, dan rasa kesal yang tidak tahu harus dia luapkan kepada siapa hingga akhirnya rasa itu membuat dia merasa putus asa.
“Kenapa semua jadi seperti ini” gumamnya, dengan air mata yang tanpa sadar jatuh dari pelupuk matanya. “KENAPA !!” teriaknya, meluapkan seluruh perasaan yang dia miliki sambil memukul aspal jalanan jingga membuat tangannya terluka.
***
Rifqo berjalan dengan gontai memasuki rumahnya yang sudah berada dalam keadaan gelap, karena saat itu dia tiba di rumahnya saat jam sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari. Kemudian dia melangkah menuju kamarnya, tanpa mengganti pakaian, tanpa menyalakan lampu kamarnya, dia memilih untuk membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
“Sadarkan aku tuhan, agar aku besok terbangun dari semua mimpi buruk yang menyakitkan ini” gumam Rifqo, dengan suaranya yang terdengar sangat pelan.
Bersama rasa sakit di sekujur tubuhnya, bersama kesedihan dan luka yang hatinya rasakan, Rifqo terlelap dalam gelapnya kamar, karena setidaknya kegelapan kamarnya itu bisa membuatnya merasa sedikit tenang dalam rasa sakit dan kegelisahan.