#R – Jebakan Takdir

1354 Words
“Astagfirullah, Rifqo apa yang kamu lakukan ? apa yang terjadi pada kalian” gumam Lina, sambil menutup mulutnya sendiri ketika dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat ketika subuh – subuh memasuki kamar anaknya. Pemandangan Ulma yang sedang terlelap tidur tanpa kerudung yang menupi kepalanya dalam pelukan Rifqo yang saat itu bertelanjang d**a berhasil membuat Lina merasa kaget dengan apa yang di lihatnya. Pikirannya benar – benar berubah dan tidak lagi mampu berpikir positif. Kemudian, pelan – pelan Lina berjalan menghampiri Ulma, dan saat itu Ulma langsung menjauhkan tubuhnya dari Rifqo hingga berhasil membuat dia kesakitan karena gerakan terlalu cepatnya membuat dia lupa jika dia sedang mengalami retak tulang. “Pakai kerudung mu dulu sayang” ujar Lina, berusaha tetap tenang. “Tante …” ujar Ulma, sambil menatap Lina dengan tatapan yang sulit di definisikan tetapi Lina cukup memahami apa yang saat itu Ulma pikirkan dan apa yang gadis itu khawatirkan. Melihat sorot ketakutan dan ke khawatiran yang terpancar dari mata Ulma, Lina mengelus kepala gadis itu, kemudian dia duduk di sisi ranjang sambil menggegam tangan Ulma. Sorot matanya terlihat begitu dalam menyelemi mata Ulma yang terlihat mendefinisikan banyak hal. “Jam berapa Rifqo pulang dan kenapa kalian bisa tertidur dalam keadaan seperti ini ?” tanya Lina, dengan suara yang berusaha dia jaga agar tetap terdengar pelan. Sejenak Ulma terdiam, dia menggelengkan kepalanya sambil menatap Lina dengan mata yang sudah terlihat berkaca – kaca. Hingga akhirnya isakan kecil lolos dari bibirnya bersamaan dengan air mata yang berjatuhan membasahi matanya. Saat itu, Lina tidak melanjutkan pertanyaannya, dia tahu jika Ulma sedang ketakutan dan merasakan ke khawatiran, sehingga Lina hanya bisa memeluk gadis itu tanpa membiarkannya bangkit dari ranjang. Kemudian, setelah merasa Ulma jauh lebih tenang, Lina beralih duduk ke samping Rifqo, sejenak perempuan berusia paruh baya itu terdiam menatap kearah luka – luka lebam yang menghiasi wajah putranya. Kemudian dia mengguncang pelan tubuh Rifqo, tapi dia tidak kunjung terbangun. Setelah beberapa kali mencoba, akhir mata Rifqo perlahan terbuka. “Dingin Mah” ujarnya, sambil menarik selimut dan membalik posisi berbaringnya menghadap kearah Lina. “Apa yang kamu lakuin sama Ulma semalam ?” tanya Lina, berhasil membuat Rifqo kembali membuka matanya lagi. “Bukannya semalam Mamah sudah kasih tahu kamu lewat pesan kalau Ulma Mamah suruh tidur di kamar kamu karena kamar tamu belum di bereskan ? tapi kenapa pagi ini Mamah malah melihat kalian tidur bersama dengan aurat masing – masing yang sudah terumbar” perkataan Lina, berhasil membuat Rifqo langsung mengubah posisinya menjadi duduk secara spontan, kemudian dia menoleh kearah samping tepat dimana Ulma masih berbaring sambil menangis dalam diam. Rifqo memukul kepalanya sendiri karena menyesali kecerobohannya, semalam dia ingat jika dia pulang dan langsung tertidur tanpa memeriksa di dalam kamarnya ada orang atau tidak. Tetapi dia benar – benar tidak ingat dengan apa yang terjadi antara dia dan Ulma karena semalaman Rifqo merasa tubuhnya mengigil kedinginan tapi tubuhnya panas. “Mah, aku memang enggak ingat apa yang terjadi, tapi aku jamin kami enggak melakukan apapun, aku jamin itu, Mah” ujar Rifqo, sambil berbalik menatap ibunya yang saat itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di definisikan. “Lalu jika kalian memang tidak melakukan apapun, kenapa Ulma tidak menggunakan kerudungnya dan mana baju mu ? bahkan Mamah liat dengan mata kepala Mamah sendiri kamu tidur memeluk Ulma, Rifqo” ujar Lina, dengan suaranya yang terdengar dingin. “Ulma, katakan sesuatu, jangan diam saja, jelaskan sama Mamah kalau kita memang tidak melakukan apapun !” ujar Rifqo, sambil menoleh kearah Ulma dengan suaranya yang terdengar sedikit penekanan. Namun, bukannya jawaban untuk membantu Rifqo membela diri, yang Ulma lakukan justru menangis, dan hal itu berhasil membuat Rifqo sangat kesal. Karena Rifqo sadar tangis gadis itu akan membuat keadaan menjadi semakin runyam. “Diam Ulma bersama tangisnya, apakah itu yang kamu katakan jika semalam tidak terjadi apa – apa ?” tanya Lina, membuat Rifqo kehabisan kata – kata. “Mamah” panggil Rifqo, dengan suaranya yang tiba – tiba berubah menjadi pelan, terdengar syarat akan rasa lelah dan keputusasaan. “Segeralah bersih – bersih di kamar mandi bawah, dan biarkan Mamah bantu Ulma untuk bersih – bersih di sini, setelah itu mari kita bicarakan langkah apa yang harus kita lakukan untuk hal ini” ujar Lina, sambil bangkit dari posisi duduknya, Saat itu, Rifqo terdiam sejenak sambil menatap ibunya yang tidak lagi mau menatap kearahnya. Kemudian, dia berjalan dengan gontai meninggalkan kamarnya untuk bersih – bersih seperti yang ibunya perintahkan. Rifqo lebih memilih menurut karena dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi antara dia dan Ulma semalam. *** “Sebagai seorang laki – laki yang sudah dewasa Bapak harap kamu sadar apa kesalahan apa yang sudah kamu lakukan dan apa yang harus kamu lakukan untuk menebus kesalahan mu pada Ulma, Rifqo” ujar Rahman, dengan suaranya yang terdengar tenang tapi Rifqo sadar jika saat itu ayahnya sedang memendam kecewa terhadap dirinya. “Tapi Pak, bukan Ulma perempuan yang aku cintai tapi Alma, meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi diantara kami tapi aku merasa aku tidak bisa jika harus menikahi Ulma, aku tidak bisa membayangkan kebahagiaan dalam pernikahan kami nantinya, Pak” ujar Rifqo, sambil mendongak menatap ayahnya. “Apakah kamu pantas masih saja mempermasalahkan tentang cinta saat kamu sendiri merasa jika semalam mungkin sudah menodainya, dimana letak jiwa nurani mu, bagiamana bisa kamu berbicara layaknya seorang laki – laki yang tidak mempunyai tanggung jawab” ujar Rahman, sambil menatap Rifqo dengan sorot ketajaman yang terpancar dari matanya. “Pergilah, pikirkan semuanya baik – baik, bertindaklah untuk memberikan kebaikan bagi semua, dan tolong jangan buat ibu mu menangis kecewa lebih dalam lagi” lanjut Rahman, sambil mengelus pundak Rifqo, dan laki – laki itu hanya bisa menghela nafas panjang mendengar perkataan ayahnya. Dengan langkah gontainya, Rifqo berjalan keluar dari ruang kerja ayahnya, di ruang tamu dia melihat ibunya masih menangis dalam pelukan kakak iparnya. Kemudian, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tempat dimana Ulma berada, meskipun saat itu sebenarnya dia sudah sangat lelah, tubuhnya terasa tidak enak, kepalanya terasa pening, tapi Rifqo sadar keluarganya tidak akan membiarkan dia berdiam diri untuk masalah seperti ini. Ketika tiba di dalam kamarnya, sejenak Rifqo terdiam sambil menyandarkan punggungnya pada pintu dengan kepala tertunduk. Ada helaan nafas berat yang keluar dari mulutnya sebagai bentuk rasa lelahnya. “Apakah sebenarnya ini yang kamu inginkan Ulma, ketika tahu aku tidak mencintai mu dan lebih memilih bersama Kakak mu, kau menjebak ku dengan cara menjijikan seperti ini, iya ?” tanya Rifqo, dengan suaranya yang terdengan sangat tenang. “Apakah ini cara yang kamu gunakan agar aku berakhir menikah dengan mu ?” lanjut tanya Rifqo, sambil mendongak menatap kearah Ulma. “Ulma, aku tahu kau mencintai ku, tapi memaksakan kebersamaan dengan ku menggunakan cara kotor membuat ku berpikir bahwa selama ini aku sudah salah menilai mu” lanjut Rifqo lagi, sambil berjalan pelan – pelan menghampiri Ulma yang memilih diam dalam posisi berbaringnya. Kemudian, secara tiba – tiba sambil mendudukan tubuhnya secara kasar di ujung ranjang Rifqo terkekeh. Sementara Ulma memilih memalingkan wajah tanpa memberikan jawaban atas semua tiduhan yang Rifqo berikan kepadanya. “Katakan pada ku Ulma, apakah sekarang kamu mau aku menikahi mu ?” tanya Rifqo, ketika dia sudah berdiri di samping Ulma. “Tatap mata ku dan jawab pertanyaan ku” lanjut Rifqo, dengan suaranya yang terdengar semakin dingin penuh pengintimidasian. Ulma menghela nafasnya dalam – dalam, kemudian dia menatap laki – laki itu tepat dibagian matanya. “Ya, aku ingin kamu bertanggung jawab dengan menikahi ku, Rifqo” ujar Ulma, dengan suaranya yang mulai terdengar bergetar diakhir kalimatnya. Mendengar jawaban Ulma, Rifqo tersenyum kecut. “Aku sungguh tidak pernah menyangka jika sebenarnya kau adalah wanita sepicik ini Ulma” ujar Rifqo, dengan tatapan matanya yang terlihat memancarkan kekecewaan. Kemudian, dia memilih untuk berlalu pergi meninggalkan Ulma, setelah kepergian laki – laki itu, Ulma benar – benar tidak mampu untuk menahan tangisnya lagi. Nyatanya apa yang saat itu terjadi tidak hanya melukai hati Rifqo tapi juga melukai hatinya. Tangis Ulma benar – benar pecah terlebih ketika setiap ucapan yang Rifqo katakan kembali terngiang – ngiang dalam telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD