jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi namun Darwin belum juga berkemas. padahal Ibundanya sudah memperingatkan dirinya untuk secepatnya berkemas karena besok dirinya akan terbang menuju tempat pman Philips.
Ibunda sudah memperingatkan Darwin agar membawa semua keperluannya, karena Kenia sama sekali tidak mengizinkan Darwin untuk pulang 1 kali pun. baik itu hari raya bahkan libur musim dingin dan musim panas sekali pun. Darwin tidak akan pernah kembali ke tanah air jika Dirinya belum berubah dan belum menyelesaikan studinya. Hanya Paman Philip yang berhak menentukan kapan dirinya siap memimpin perusahaan.
Darwin sudah menolak untuk secepat itu datang ke paman Philip untuk belajar bisnia. namun Ibunda yang sudah kecewa. karena melihat Darwin sama sekali tidak bisa untuk dikendalikannya. hanya karena dalam berpacaran dengan Tiwi si miskin itu.
"Ingatlah Darwin sama sekali tidak ada izin untuk mu kembali ke tanah air ini sebelum kamu menyelesaikan sekolah sekolahmu. baik itu sekolah High School maupun juga University mu. dan hanya Paman Philip juga yang bisa menentukan apakah kau bisa segera pulang ke tanah air atau tidak. jika Paman mu mengatakan bahwa kau harus belajar bisnis lagi, maka 10 tahun bahkan 20 tahun lagi jangan pernah menginjakkan kaki mu ke Indonesia," ujar Kenia. ia menatap Putra semata wayangnya itu dengan mata tajamnya.
Ingin sekali Darwin membantah perkataan sang ibu. ingin sekali Darwin berkata tidak. namun apa daya dirinya sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk itu. Darwin paham betul bahwa ada tanggung jawab yang begitu besar di pundaknya.
Ibu tidak bisa mengurus perusahaan selamanya. ibu juga tidak bisa mempercayakan perusahaan mending ayahnya kepada orang lain. perusahaan itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya dan harus tetap berdiri kokoh di tempatnya. Ada begitu banyak orang yang mencari nafkah di perusahaan itu. Itulah salah satu alasan ayahnya berpesan agar jangan sampai perusahaan itu bangkrut karena begitu banyak orang yang mencari nafkah untuk anak istri dan keluarga yang di sana.
semalaman Darwin juga gak bisa tidur. meskipun sudah menelpon Rio dan meminta tolong kepada Rio untuk menjaga kekasihnya Tiwi. namun Perasaan dari cinta juga bisa tenang. pasalnya dirinya baru saja saja berkencan dengan Tiwi dan harus segera 4 itu meninggalkan dirinya. ada perasaan tidak enak di hatinya. Dia sangat mencintai Tiwi dan ingin segera membahagiakannya. namun sebuah tanggung jawab kini sudah dilemparkan sang ibu ke pundaknya.
" ini hari libur, Apakah aku harus menemui Tiwi? aku rasanya tak bisa menjelaskan semua hal ini kepada dirinya. tapi jika aku pergi begitu saja tanpa membicarakan apapun kepadanya Tiwi, dia pasti akan sangat kecewa. aku rasa rio pasti juga kewalahan menjelaskannya kepada Tiwi. apa aku mau ngajak Rio dan Amel saja sekalian ya? setidaknya ada yang menghibur dirinya nanti jika dia menangis, "batin Darwin bicara sendiri.
jadilah Darwin menelpon Rio untuk menyuruh Rio mengajak Amel untuk ikut serta dengan dirinya. Darwin sudah menjelaskan kepada Rio bahwa dirinya akan berpamitan langsung kepada Tiwi.
"Bro, bantuin gue dong gue mau pamitan langsung sama Tiwi ini. entar lo telepon Amel dan aja dia ke tempat yang ntar gue share alamatnya. tapi bilangin ke Amel kalau gue mau pamitan ke Tiwi. Tapi lu juga lu mesti bilang ke Amel ntar kalau si Tiwi marah ke gue dan langsung pergi begitu aja Suruh Amel untuk temenin dia. gue rasa enggak tega bikin dia nangis dan bilang kalau gue bakalan pergi. bujukin Tiwi ya. tapi jangan dulu bilang kalau gue mau pergi sama Tiwi. Bilangin ke Amel juga jangan sampe dia malah keceplosan duluan bilang gue pergi," ujar Darwin sebelum memutuskan teleponnya dengan Rio.
jadilah mereka berempat pun pergi ke sebuah tempat. di sana suasana cukup nyaman membuat Tiwi sangat senang sekali. ini adalah kencan pertama mereka. sebelum kemarin mereka sudah memenangkan acara raja dan ratu pesta dansa.
"Darwin, kok pintar sekali memilih tempat. Suasananya sangat suka. apa sudah banyak wanita yang kau aja kemari?" tanya Tiwi sumringah.
Darwin hanya tersenyum tak mampu berkata apapun. lidahnya terasa sangat kelu sekali. rasa rasanya dirinya tak mampu berkata apapun untuk menjelaskan satu hal pun kepada Tiwi. sementara amel dan Rio sudah mengetahui bahwa Darwin kemari untuk berpamitan dengan Tiwi pun merasa sedih dan hanya prihatin dari dekat.
"Darwin kamu mikirin apa sih diajak ngobrol kok diam aja? kamu melamunin cewek lain ya?" tanya Tiwi masih saja dengan wajah bahagia karena diajak pergi ke tempat sebagus ini.
"mel mel, Lihat deh danaunya bagus banget ya? sini deh," ucap Tiwi mengajak Amel melihat danau yang terbentang luas di hadapan mereka.
Amel hanya tersenyum lalu mengikuti langkah kaki Tiwi dan mendahului kaki Darwin. Rio pun segera mendekati Darwin dan mengajaknya bicara.
"Bro, Kok lu belum ngomong sih sama Tiwi? lo ketakutan ya? udah bilang aja sama Tiwi. daripada lu nggak bilang apa-apa ntar dia lebih kecewa lagi. enggak papa dia nangis sebentar. besok besok kan kalian bisa telepon telponan. mungkin juga lu bisa curi-curi waktu buat pulang sebentar ke Indonesia.terusnkalian bisa ketemu. iya kan? "ujar Rio sambil menuju perut darwin.
"lo ngomong sih gampang. Gimana bisa gue janjiin bakalan pulang secepat itu sama Tiwi? gak mungkin itu bro. nyokap gue udah ngancam gu. Gue bener-bener mesti sekolah di sana. dia juga bilang cuman paman gue aja yang bisa nentuin gue bisa pulang ke Indonesia atau nggak. meskipun itu hari raya ataupun libur musim dingin musim panas sekali pun. gue sama sekali enggak di kasih izin buat gue pulang ke sini. dia juga bilang kalau paman gue belum bilang kalau gue siap jadi pemimpin perusahaan, gue nggak boleh pulang. mau itu 10 tahun bahkan 20 tahun sekali pun bro. gue nggak boleh pulang pulang ke Indonesia ini bro. ngerti nggak sih lo? makanya itu gue sama sekali enggak bisa bilang apa pun ke Tiwi. gimana nih," ucap Darwin kesal sendiri.
"Nah loh. kita nggak bakal ketemu-ketemu dah Bro? Ya udah lu ngomong apa aja deh sama Tiwi. Udah pokoknya Lu bilang kalau mau pergi. nggak ngerti deh gue Gimana cara jelasinnya," ujar Rio pada Darwin.
Rio pun kemudian mendekati amel dan Tiwi kemudian bercanda dan mengajak mereka berdua tertawa. setelahnya Rio pun menarik Amel untuk menjauh dan membiarkan Tiwi dan Darwin untuk berbicara. Amel dan Rio pun hanya memperhatikan keduanya dari jauh.
"Riio sama Amel Kenapa sih kok kayaknya rese banget hari ini? kamu juga kok diem aja sih dari tadi. kamu Lagi sakit gigi ya?" ujar Tiwi masih diliputi rasa bahagianya.
"Aku nggak lagi sakit gigi kok Tiwi. tapi ada sesuatu yang ingin aku bilang ke kamu dan ini mungkin akan membuat kamu sedih. tapi aku mohon sama kamu jangan marah dan jangan membenci aku ya," Darwin memulai pembicaraannya.
raut wajah Tiwi pun kemudian berubah dari senang menjadi sedih.
"kamu Mau ngomongin apa sih Darwin kok aku udah sedih duluan ya? kamu mau ngajakin aku putus ya?" tanya Tiwi dengan nada sedih.
"kamu jangan sedih Tiwi. setelah hari ini kamu harus selalu bahagia dan janji sama aku, Kamu harus selalu bahagia dan tersenyum. Meski aku nggak ada di sisi kamu," ujar Darwin.
"maksud kamu apa sih darwin?"tanya Tiwi tidak mengerti.
"Kamu tahu kan Tiwi kalau Ayahku meninggalkan perusahaannya setelah dirinya meninggal? dan sama sekali tidak ada penerusnya selain diriku ini. Ibu sudah mendesak untuk secepatnya aku belajar ke luar negeri. Iya dia sebenarnya juga marah karena aku memutuskan untuk berpacaran sekarang ini. tapi aku mohon sama kamu jangan membenci ku apalagi membenci Ibuku. aku akan membujuknya dan rajin belajar di sana. Aku Pasti Bisa membujuknya Agar merestui kita berdua suatu hari nanti. aku mohon tunggu lah aku hingga aku pulang dan siap memimpin perusahaan dan juga meminangmu. aku mohon setelah ini kau jangan selalu memikirkan aku dan Berbahagia lah, "ujar Darwin berbicara dengan cepat.
Tiwi hanya diam saja tak bisa menanggapi satu kata pun ucapan Darwin kepalanya terasa berdenyut memikirkan Darwin akan pergi secepat itu dari hadapannya.
"Jadi kapan kita ketemu lagi? apakah liburan semester nanti kau akan pulang?" tanya Tiwi penuh harap.
"Aku sama sekali tidak bisa memastikannya Tiwi. Ibu sudah bilang bahwa hanya Paman Philips yang bisa menentukan kapan aku bisa kembali ke Indonesia. tidak peduli itu 10 atau 20 tahun lagi. Jika Paman belum memutuskan Aku siap untuk memimpin perusahaan maka aku tidak boleh kembali ke tanah air. itu artinya ketika libur semester baik itu musim panas atau musim dingin, baik itu hari raya ataupun akhir tahun, Aku sama sekali tidak bisa kembali ke Indonesia, sebelum Paman memutuskan Aku siap," jelas darwin menunduk.
"jadi apa itu artinya 20 tahun lagi kita akan bertemu?"tanya Tiwi ikut menunduk.suaranya sudah bergetar.
" baiklah jika itu memang keputusan ibumu. Aku tahu betul Seperti apa perusahaan kalian. aku tahu jika di dalam perusahaan itu ada ribuan orang mengais rezeki nya di bawah naungan ibumu. Aku tahu betul itu. jika kau tidak mengurus perusahaan mungkin akan bangkrut dan orang-orang akan kehilangan pekerjaan mereka. Pergilah Darwin! Pergilah! belajar dan kemudian pimpinan perusahaan. Aku akan menunggumu. mungkin, "ujar Tiwi menunduk dan meneteskan air mata.
"Iya Tiwi. Aku akan pergi besok. Maafkan aku Tiwi kita hanya bersama sebentar. semoga saja kebersamaan kita akan secepatnya datang lagi. maafkan aku Tiwi. Aku sangat mencintaimu. tunggulah aku kembali,"ucap Darwin menggenggam tangan Tiwi lalu menghapus titik air di pipi Tiwi.
"Jangan Menangis Lagi tiwi. Berjanjilah bahwa ini Air Mata Terakhir yang kau teteskan. aku mohon Berbahagialah. Meski aku tak disisi mu. Ingatlah selalu bahwa dimanapun Aku berada, aku selalu mengingat dan mencintaimu selamanya," ujar Darwin membuat tangis Tiwi makin deras.
"Tiwi maaf aku harus pulang, Aku mohon jangan menangis lagi Oke? semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dan aku bisa melihat kau lebih bahagia dari hari ini. Berjanjilah kau akan selalu bahagia dan mengingatku Tiwi, "ujat Darwin lalu memeluk Tiwi sebentar lalu kemudian dan kemudian pergi dari tempat itu menyisakan tangis Tiwi.
melihat Darwin sudah pergi amel dan Rio pun mendekati Tiwi. Amel segera menghibur Tiwi dan memeluknya. Agar Tiwi lebih tenang dan bisa melepaskan rasa sedihnya di bahu sahabatnya Itu. Rio hanya diam saja memperhatikan kekasih sahabat itu menangis.