Setelah berpisah dengan Darwin, Tiwi pulang kerumah dengan perasaan campur aduk. Tiwi menolak ajakan Amel menginap dirumahnya. Padahal Amel ingin menghibur Tiwi. Tapi Tiwi amat sangat patah hati. Rasanya tak ada hal yang bisa membuat semangatnya bangkit.
"Ah kenapa kebersamaanku dengan Darwin sangat singkat?"sesal Tiwi merebahkan tubuhnya.
Sedang ingin istirahat, tiba tiba saja pintu kamarnya digedor kuat.
"Tiwi! Tiwi! keluar kamu!"teriak Maria dari depan pintu kamar Tiwi.
Mata Tiwi langsung terbuka lebar mendengar suara ibu tirinya itu.
"Ah ibu, berapa hari ini marah marah saja. Sekarang ada apa lagi?"batin Tiwi beranjak dari kasur dan membukakan pintu.
"creeek!"
"Ya bu, kenapa?"tanya Tiwi.
"kenapa kenapa? asyik main saja kamu. Bukannya masak. Tuh ke belakang masak sana. Baju kotor sekalian cuci. piring juga cuci. Udah pada abis tu piring dirak nggak ada lagi. Malas sekali kamu!"maki Maria.
"ya bu,"ucap Tiwi melangkah ke belakang.
Biasanya ada asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya. Meski bergaji rendah, Maria lebih memilih mendatangkan pembantu kerumahnya daripada berteriak menyuruh Tiwi mengerjakannya. Pasalnya Tiwi juga suka pulang sore dari sekolah.
Namun belum seminggu ini, ART terpaksa diberhentikan untuk sementara waktu.
"Ibuk dipecat lagi?"tanya Willy tak percaya.
Willy anak kandung Maria. Saudara Tiwi. Kerjaannya sehari hari hanya main game saja dirumah. Tak melanjutkan kuliah padahal sudah dibayar semua administrasinya. Willy lebih memilih game daripada kuliah atau membantu ibunya bekerja.
"Ini semua gara gara Kenia. Ibu dipecat karena dia. Dan sekarang baru tiga hari dapet kerjaan yang baru, ibu sudah dipecat lagi. Sial betul. Benar benar siak,"ujarnya kesal.
"Hei Tiwi ini juga gara gara kamu. Harusnya kemarin kamu terima saja uang dari si Kenia itu. bodoh!"makinya kesal.
"Tiwi diberi uang bu?"tanya Willy.
"Ya dia dikasih uang dan disuruh jauhin Darwin. Eh dia nolak tu duit,"Maria makin kesal.
"Nah minta lagi aja sama Darwin,"saran Willy tersenyum
"Hah Tiwi bodoh. Mana mau dia,"Maria makin kesal.
"Heh Tiwi. sekali kali kau manfaatkan si Darwin. minta beliin barang mahal dan mewah. Peras uangnya,"saran Willy mendekati Tiwi yang sedang menggoreng tempe.
"Aku nggak bisa bang,"jawab Tiwi singkat.
"bego! manfaatin dong. Ibunya dia sudah bikin ibu dipecat 2 kali tau tidak. Kamu diam saja liat ibu dipecat? kamu mau makan batu? kalau ibu nggak kerja, gimana kamu makan?"tanya Willy.
Tiwi hanya diam menunduk. Lalu menyajikan makan malam dan beralih ke belakang mencuci pakaian dan piring. Sementara ibu dan saudara tiwinya makan malam sambil terus membicarakan nyonya Kenia yang membuat Maria dipecat dari pekerjaannya.
Entah kenapa air mata Tiwi jatuh sendiri. Sambil mencuci pakaian sambil menyeka air matanya. sejujurnya Ayah Tiwi sudah membelikan mesin cuci agar mempermudah kan pekerjaan rumah istri dan anaknya. namun sekali lagi Maria melarang menggunakan mesin cuci sejak dirinya memberhentikan pembantu rumah tangga mereka karena saat ini mereka Tengah kesulitan keuangan. alasannya tidak lain adalah menghemat listrik.
Bahkan mereka sekarang mengurangi makan menjadi dua kali sehari yaitu pagi dan malam saja. Bahkan Maria menyuruh Tiwi makan 1 kali dalam sehari alasannya diet.
selesai mencuci pakaian Tiwi pun langsung membawanya keluar ke halaman belakang Lalu mengganti pakaian itu agar lekas kering setidaknya airnya menjadi kering agar besok lebih cepat kering yang. setelahnya Tiwi pun kembali ke kamar dan tidak makan malam. dia sudah biasa kelaparan beberapa hari ini. biasanya tengah malam baru dia akan makan. itupun Makan makanan sisa. nasi sisa dan semua hal yang disisakan oleh ibu dan saudara tirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Tiwi belum juga bisa tidur. diraihnya handphonenya. tidak ada satu pesan pun dari Darwin. ingin sekali Tiwi menanyakan apakah Darwin sudah sampai atau belum ke rumah paman Philip. namun Tiwi mengurungkan niatnya. dirinya ingat Betul apa yang dikatakan Darwin.
Darwin berkata bahwa dirinya sama sekali tidak diizinkan oleh ibundanya yaitunya nyonya Kenia, untuk kembali ke tanah air. tidak peduli itu 10 atau 20 tahun lagi. jika darwin belum siap memegang dan mengelola perusahaan menurut penilaian Paman Philip, maka dirinya sama sekali tidak diizinkan untuk kembali.
Tiwi takut jika menghubungi Darwin hanya akan membuat konsentrasi Darwin menjadi buyar. KarenabItulah tiwipun memendam perasaannya dan memendam rasa sedihnya seorang diri. dirinya berjanji akan menunggu darwin. Entah iitu harus 10 atau 20 tahun lagi mereka akan bertemu kembali. Tiwi berjanji dia akan menunggu Darwin. Entah keadaan seperti apa nantinya Darwin kembali. Atau bahkan mungkin darwin sudah tidak lagi mengingat Tiwi sekalipun. Tiwi tak peduli.
Tiwi pun kemudian terlelap dengan rasa rindunya. pagi hari dirinya terbangun lagi-lagi oleh suara ketukan keras di depan pintunya.
"Hi Cinderella Upik Abu cepat bangun. siapkan sarapan," teriak Maria dari depan pintu kamar Tiwi.
"Cinderella Upik Abu siapa Bu? Ibu kok aneh-aneh aja. apa sekarang kita udah ada pembantu baru ya bu?" tanya Willy yang baru saja bangun karena teriakan ibunya yang sangat keras.
"Iya Willy sekarang kita tuh udah punya pembantu baru tahu nggak. itu pembantunya baru bangun. panggil aja Cinderella versi Upik Abu. kau tahu nggak dia itu kan kayak Cinderella yang memimpikan pangeran tampan nan kaya. itu si Darwin. tapi nyatanya si darwin malah ninggalin dia keluar negeri. Ibu baru tahu dari temen Ibu kalau si Darwin itu udah dikirim sama ibunya, si Kenia itu keluar negeri. gara-gara pacaran sama dia. emang bener-bener bego banget ya. coba aja kemarin dia menerima duit dari Kenia.nggak kan kayak gini hidup kita. lah si Darwin malah dibawa kabur ke luar negeri. Ibu dipecat dari kerjaan ibu. duit malah enggak dapat sama sekali. bener-bener bego ini Cinderella," ujar Maria kesal.
"Ya bener bener bego tuh si Cinderella. nggak dapat apa-apa. pangeran tampan di malah kabur. duit enggak dapat sama sekali. pangeran juga kabut. bego bego," kali ini Willy ikut memaki.
"Iya beneran bego nih Cinderella. Coba aja dia terima duitnya, Enggak kan kayak gini hidup kita," ujar Maria makin kesal.
"terus Ibu pagi ini mau ke mana?" tanya Willy. sementara Cinderella Si Tiwi sedang memasak nasi goreng untuk sarapan mereka.
Tiwi hanya diam. ingin menitikkan air mata tapi takut amarah ibunya makin meledak. Makin banyak makian yang akan diterimanya.
"Ibu mau nyari kerjaan lain aja. moga aja kali ini dapat dan nggak lagi diganggu sama si Kenia itu. dia udah berhasil kan misahin si Tiwi sama si Darwin. jadi nggak perlulah Dia ganggu hidup kita lagi kan. Tapi itu menurut kita. Ibu rasa dia enggak berpikir seperti itu. apa perlu Ibu minta maaf sama Kenia dan berjanji bahwa si Tiwi nggak bakalan ganggu si Darwin lagi? percuma aja Ibu nyari kerjaan lagi kalau tiba-tiba si Kenia itu bikin Ibu kenapa pecat Lagi. kenapa enggak sekarang Ibu ngomong sama dia minta pekerjaan sama si Kania itu aja. ya nggak sih. menurut kamu gimana Willy?" tanya Maria kepada Putra semata wayangnya itu.
si Willy hanya diam menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal lalu bicara.
"Kayaknya bener deh. Mending ibu pergi menghadap ke Nyonya Kenia itu dan bilang kalau Ibu bisa menjamin Tiwi nggak bakalan lagi gangguin Darwin. Lagian Mereka kan udah dipisahin. Terpisah pulau dan benua. Lintas negara. Tiwi juga nggak bakalan punya pulsa kalo mesti nelpon Darwin ke luar negeri. Ya nggak si buk? jadi kita biarin aja Si Tiwi. Bahkan Bila perlu nggak punya handphone aja si Tiwi biar dia nggak bisa lagi nelpon Darwin. jadi ibu bisa minta pekerjaan baru sama Nyonya Kenia itu. bila perlu di minta uang sekalian bu. Bilang sajab sebagai kompensasi atau bayaran karena bisa menjamin Tiwi enggak bakal ganggu Darwin lagi. Nah gimana Bu?" ujar Wili sok pintar.
"iya iya Will. Kamu bener banget. nggak usah kita kasih handphone aja tuh si Tiwi. Tiwi handphone kamu siniin!" ujar Maria memanggil Tiwi yang sudah selesai memasak nasi goreng dan menyajikannya di atas meja itu.
"untuk apa Bu handphone Tiwi? Tiwi janji nggak bakalan nelpon Darwin lagi bu. Bila perlu Ibu hapus aja nomor Darwin. nggak papa kok. tapi jangan ambil handphone Tiwi. Tiwi juga kan mesti ngerjain tugas. Ada beberapa tugas yang mesti dikerjain yang pakai handphone, "ujar Tiwi Mencari Alasan.
"iya juga ya. sekarang kan tugas ada yang banyak mesti dikerjain pakai handphone Bu. ya udah nggak usah lah Bu. nah gini aja Bu. Ibu beliin kartu perdana baru aja si Tiwi. si Tiwi nya suruh ganti pakai handphone baru. Nah nomornya yang lama itu kasihin sebagai bukti sama Nyonya Kenia aja Bu. bilang kalau si Tiwi udah ganti nomer handphone, jadi Darwin enggak kan bisa tahu nomor telepon Tiwi yang baru. Tiwi juga nggak tahu lagi nomor handphone Darwin. bilang sama Nyonya Kenia, darwin juga suruh ganti aja nomor handphonenya. biar mereka nggak lagi saling hubungan. benarkan?"ujar Willy sok pinter.
Tiwi hanya diam dan menundukkan kepalanya. Dia sudah bersiap berangkat ke sekolah sekarang. Maria segera mengeluarkan sim card dari handphone Tiwi.
"beli kartu lain sana,"ujar Maria menyerahkan handphone Tiwi lagi.
"satu lagi, tiap pagi ibu bakal cek hape kamu. Ada nomer Darwin nggak. awas! kalau kamu masih berhubungan sama Darwin lagi. Kamu deket deket Darwin cuma bikin sial tau. Ah bukan. kamu saja yang bego nggak bisa manfaatin,"ujar Maria berlalu dan pergi.