Tiwi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun ketika Darwin kembali menyatakan cintanya kepada Tiwi dihadapan semua orang. Tapi ada sebuah ketakutan di diri Tiwi atas ucapan Darwin. Seolah Darwin akan pergi.
"Tiwi berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi setelah ini, ku mohon bersabarlah. andai pun kita terpisahkan oleh jarak, ruang bahkan waktu, satu hal yang harus kau ingat, aku selalu menyayangimu dan akan slalu menjagamu, meski ragaku tak didekatmu saat itu,"ucap Darwin penuh kesungguhan.
Kata yang di ucapkan Darwin seolah mengisyaratkan bahwa Darwin mungkin akan pergi.
setelah mengucapkan kata-kata itu dan juga menyanyikan lagu romantisnya di panggung. DJ kemudian memutarkan sebuah lagu romantis membuat semua orang di acara itu kemudian berdansa. Tak kecuali Tiwi dan Darwin. Kali ini Tiwi melakukannya dengan baik. mereka menjadi pusat perhatian sebagai raja dan ratu pesta.
"Tiwi... Aku mencintaimu dan aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun. suatu hari nanti aku akan menghalalkan dirimu dan menjadikan aku milikmu selamanya. Bersabarlah sama ibu. dia pasti akan lelah dan lalu merestui kita. Kita hanya harus bersabar. Ingatlah selalu aku akan selalu mencintaimu selamanya,"bisik Darwin mesra ditelinga Tiwi.
Tiwi hanya mengangguk dalam senyum manisnya. Selesai berdansa, keduanya turun dari panggung. diiringi tepuk tangan riuh para penonton yang hadir.
"Darwin, bisa kita bicara sebentar? ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu?"ucap Tiwi bernada serius.
Darwin mengangkat alis dan menatap Rio yang berdiri didekat Amel. Darwin lalu mengangguk.
Mereka lalu keluar dari aula besar dan sedikit menepi ke arah halaman sekolah agar bisa leluasa bicara.
"Mereja sweeet banget ya? Aku iri. Kapan ya ada pria yang berani menyatakan cinta dihadapan semua orang seperti Darwin? Darwin juga menyanyikan lagu romantis untuk Tiwi. ah sweet sekali. Aku sangat iri,"ucap Amel iri.
"aapa?"tanya Rio.
"Em. tak ada,"elak Amel.
"Owh ada yang iri rupanya diaini. kau mau ditembak seperti Darwin menembak Tiwi tadi? aku akan melakukannya,"ucap Rio lalu berlutut dihadapan Amel.
Melihat Rio berlutut dihadapan Amel, Amel jadi malu sendiri.
"Riio hentikan! Apa yang kau lakukan?"pekik Amel. Malu karena keduanya jadi pusat perhatian. Rio akhirnya urung bicara dan segera berdiri karena Amel marah dan menarik narik tangannya agar berdiri.
"ckckc. apa sih Mel?"tanya Riio kesal.
"Apa apaan kamu berlutut begitu? Aku malu dilihat orang!"Amel cemberut.
"bukannya kamu bilang mau seperti Tiwi ditembak romantis oleh Darwin?"tanya Riio heran.
"ah sudahlah jangan menggodaku Riio. sudahlah,"ujar Amel meninggalkan Riio yang bengong melihat Amel.
Sementara itu, Darwin dan Tiwi..
"kenapa sayang?"tanya Darwin.
Tiwi yang berdiri mengahadap halaman sekolah dan berdiri membelakangi Darwin hanya diam dan menarik nafas berat.
"Apa ada sesuatu?"tanya Darwin lagi.
Tiwi menggeleng cepat.
"Kata katamu tadi seolah mengisyaratkan kalau kau akan pergi menjauh dariku. benarkah? kenapa?"tanya Tiwi hampir menangis.
"kamu bicara apa? aku tidak mengerti kau bicara apa Tiwi?"tanya Darwin heran lalu memegang bahu Tiwi agar menghadap Darwin.
"Enthlah kau bicara seolah-olah kau akan pergi dariku darwin. Karena itu aku mohon jangan pernah pergi dariku. apalagi hanya karena ibu mu. bukankah kau bilang, ibumu banyak pekerjaan lain Dan tak kan selalu mengganggu kita kan? jadi aku mohon jangan pergi darwin?"tiwi memohon.
"jangan begitu. aku kan tidak akan pergi meninggalkanmu Tiwi. jadi Bersabarlah. Aku tidak suka melihat dirimu menangis seperti ini. aku sangat senang karena kita bersama sekarang. Jadi janganlah menangis. oke? Kau cantik jika tersenyum tiwi,"ucap Darwin mencoba menguatkan diri Tiwi.
Tiwi tertawa kecil.
"Hapus air matamu. pesta juga akan segera berakhir. Jangan sampai yang kau ingat hanya air matamu saja Tiwi. Bahagialah. Kita bahkan sudah memennagkan. piala raja dan ratu malam ini. Kau ingat kan?"tanya Darwin.
Tiwi tertawa.
"Yeah.. lucu sekali rasanya. bagaimana bisa kita menang? hei apa kau menggunakan uqngmu? ah ya. Apa kau sudah menyogok mereka? begitukah?"tanya Tiwi bercanda.
"hei hei hei.. tuduhan apa itu? aku tidak mungkin melakukan hal kotor begitu,"ucap Darwin pura pura marah.
"hahaha."Tiwi tertawa renyah.
"Baiklah. aku bercanda,"ucap Tiwi berhenti tertawa melihat wajah serius Darwin.
"Aku akan melakukan apapun agar kau selalu bahagia dan tersenyum Tiwi. Akan aku korbankan apapun juga demi membuatmu bahagia. Aku janji itu. Tapi jangan pikir apapun itu termasuk menyogok mereka. Kali ini aku tak melakukan apapun. sungguh,"ucap Darwin.
"iya iya aku percaya,"ucap Tiwi kembali tertawa renyah.
Tiwi dan Darwin kembali ke dalam aula.
"Amel! Kau kenapa? wajahmu cemberut begitu?"tanya Tiwi khawatir dengan sahabatnya itu.
"Rio,"ucap Amel ketus.
"Hei bodoh! Apa yang kaublakukan?"maki Darwin begitu melihat Rio berjalan kearah merwka bertiga.
"Hei!! Apa?"tanya Riio tak mengerti.
"Riio terus saja menggodaku. Aku malu dilihat semua orang karena Rio yang berlutut didepanku. Aku peringatkan kau Rio! jangan terus menggodaku. Biar aku jomblo begini. Tapi aku jomblo berkelas,"ujar Amel marah.
"Amel! Amel! tunggu!" Pekik Tiwi melihat Amel bergegas pergi.
"bodoh!"ucap Darwin pada Riio.
"Apa? aapa karena sudah jadian dengan Tiwi kau jadi lebih baik dariku? lihat wajah bodohmu saat kemarin mau menembak Tiwi. kalau bukan karena saranku mana mungkin sekarang Tiwi jadi kekasihmu. dasar!"ujar Rio merajuk.
"ahei hei berhentilah jadi bodih!"ujar Darwin lagi.
"Riio dengarlah. Aku rasa ibuku akan melakukan sesuatu. tadi kulihat orang suruhannya ada dihalaman sekolah,"ucap Darwin dengan wajah serius.
"lantas? kau ingin aku melakukan apa?"tanya Rio malas. Dia masih malas dan merajuk karena tadi Darwin mennggodanya.
" Rio Aku serius dengan ucapanku. Aku yakin ini tidak akan berakhir baik-baik saja. Aku yqkin. kali ini Ibu aku melakukan sesuatu kepada Tiwi. apapun itu akan berusaha melindunginya. Jika nanti pada akhirnya, aku kemudian berakhir di Amerika, aku nohon agar kau menjaga Tiwi dengan baik-baik. Aku akan melakukan apapun untuk Tiwi. Kau tau aku bwlum ada kekuasaan apapun saat ini,"ujar Darwin menatap Rio serius.
"Aku serius Rio. tak ada yang bisa kupercaya selain kau. Tak ada yang bisa aku andalkan saat ini. Semua masih dikendalikan ibuku. Tapi aku mohon Rio lakukan apapun untuk mellindungi Tiwi,"Darwin menatap Tiwi dari kejauhan.
"Tiwi.. dia segalanya untukku Rio. aku akan sangat berhutang padamu jika kau mau menjaganya. Hei! tapi aku ingatkan. dia gadisku. kau tau itu? jangan coba coba! apalagi mengambil posisiku,"ancam Darwin.
"bodoh kau! apa kau pikir aku gila? Tiwi bukan tipeku,"ucap rio serius.
"Aku serius kawan. Aku tak mau kau mengambil gadisku,"ujar Darwin.
"dia bukan tipeku bodoh. Aku menyukai gadis lain. Lagip pula apa kau pikir aku akan menusukmu? mengambil milik temanku? teman yang sudah seperti saudara, begitu?, apa aku orang yang masih tidak bisa kau percaya, begitu?"Rio kembali merajuk.
"Hei hei jangan marah jadi gadis mana yang kau sukai itu? haa? siapa dia?"darwin bertanya usil.
"adalah..,"elak Rio.
"ah kau suka sama Amel? benar? ah ternyata iya benar. haha,"Darwin tertawa.
"jangan mengejekku bodoh!"rio marah melihat Darwin menertawakannya.
"bukan begitu saudaraku. kau tau. Amel sudah tertarik padamu. tapi kau suka tebar pesona pada gadis lain. kau tau itu?"ujar Darwin merangkul Rio.
"tebar pesona? kapan? bukankah itu justru kau?"elak Rio.
"sudahlah. kau sudah terkenal sebagai playboy cap bawang Rio."ucap Darwin.
"cap bawang?"Rio tak percaya.
"ya itu kau kawan, hahaha,"Darwin terbahak bahak.