Sesuai dugaannya, tubuh Alex mengejang beberapa saat. Hanik tidak bisa menyembunyikan sikapnya lagi, dia tertawa terpingkal pingkal melihat wajah Alex turun sampai ke dadanya yang masih mengenakan kaos oblong dihiasi ceceran s****a yang barusan keluar melesat muncrat dari k*********a sendiri.
Hanik mengambil tisu kering yang ada di meja dan membersihkan tangannya yang lengket, masih sempat sempat nya ia mencium aroma ditangannya itu.
" Lex ayo cepat sana pulang. Malah tidur kamu. "
" Aduh bentar bu,, biar saya meresapi nikmatnya dulu ya bu." Anak itu menjawab seenaknya.
" Buka tuh mata kamu bodoh. cairan kamu ada di pipi kamu tuh. sukurin bajumu juga kena, " Ucap Hanik kesal tapi masih tertawa kecil.
" Ihh ibu gak bener sih bisa bisanya ngarahin k****l saya ke muka saya ya jadinya nyemprot ke muka bu. "
Bukannya marah, Hanik makin tertawa dengan sikap anak ini yang polos. Tapi senyum dan tertawanya segera terhenti saat Alex berdiri dan menaikkan lagi celananya. Kembali terlihat dia menggeleng geleng kan kepalanya tak menghiraukan Alex yang sedang berbenah. Hanik tertegun ia tahu kalau p***s Alex meski sudah nyembur lahar tapi masih saja terlihat keras dan tegak. Semua itu masih sempat dilihatnya tadi. Dan terbukti meski sudah mengenakan lagi celananya batang itu masih kelihatan nonjol kedepan.
" Kenapa Bu.. masih nglihatin k****l saya terus. Kalau ibu mau saya rela kok ngelepas perjaka saya pada ibu. "
Hanik menghela nafas panjang. Kata kata itu terasa menggodanya sekali. Bagian sensitif kewanitaannya dari tadi memang sudah basah. Ingin rasanya dia mengangkangi anak itu menuntaskan hasrat birahi nya. Apa sedemikian mudah ia berbuat serong selingkuh dari suaminya. Tadi saja sudah bisa dikatakan ia sudah mengkhianati suaminya apalagi kalau sampai terjadi persetubuhan.
" Tidak Lex, cukup. Pulanglah kamu. Yang kita lakukan tadi sudah salah. Dan tolong jangan sampai ada yang tahu. Ini rahasia kita berdua. "
Akhirnya wanita itu kembali mendapatkan kesadarannya. Ia dengan sedikit memaksa menyuruh anak itu keluar dari rumahnya. Alex dengan polosnya masih sempat minta maaf padanya. Dibaringkan nya tubuhnya diatas kasur dikamarnya. Kepalanya terasa sedikit berat menahan pikiran yang berkecamuk.
Malam harinya Hanik menjadi agak pendiam. Biasanya Andi sang suami yang mempunyai kebiasaan menggodanya sempat sengaja mengagetkannya dari balik pintu kamar. Namun wanita cantik itu tidak menunjukan sedikitpun keceriaannya seperti biasanya.
" Kamu kenapa sayang. Kok mama kelihatan pucat apa mama sakit. " Suaminya yang kalem itu sempat menanyakan keadaan dirinya saat mereka sedang berbaring bersama diatas peraduan mereka. Hanik hanya menatap suaminya itu dengan pandangan kosong. Sebisanya dia berusaha tersenyum meski senyum yang dipaksakan. Andi juga menatap isterinya dengan tatapan yang penuh arti sambil tangannya membelai rambut panjang isterinya.
" Anak anak sudah tidur kan ma, papa lagi pingin nih ma. "
Lagi lagi perkataan suaminya hanya dibalas Hanik dengan senyuman manis saja. Tidak ada ucapan yang keluar dari bibirnya, Perlahan dilepaakannya gaun tidurnya hingga tinggal BH dan CD saja. Andi menatap tubuh mulus isterinya dengan tatapan b*******h. Direngkuh nya tubuh Hanik. Malam itu sepasang suami isteri itu memadu kasih. Hanik yang masih terbayang kejadian pagi dengan Alex kontan birahi nya bangkit. Dia mengimbangi permainan suaminya bahkan dia tampak lebih beringas dan mendominasi permainan. Dia tidak cukup puas dengan mendapatkan satu kali o*****e, dia ingin mendapatkannya lagi dan lagi tapi apa daya suaminya meski berpostur atletis hanya bisa memberikannya dua kali puncak kenikmatan itupun dia harus bekerja keras diatas tubuh suaminya. Karena batang kemaluan Andi sudah tidak bisa keras lagi meski di oral akhirnya Hanik hanya bisa menjatuhkan tubuhnya disamping suaminya. Mereka tertidur sambil saling memeluk. Senyum bahagia tersungging di bibir mereka berdua.
Kehidupan rumah tangga Andi dan isterinya terbilang harmonis. sekali waktu mereka mengisinya dengan berlibur sekeluarga mereka tampak sangat bahagia tidak kurang satu apapun.
Tibalah akhirnya, saat itu Andi mendapat tugas kantornya selama seminggu di Jakarta bersama teman sekantor nya. Sebelum keberangkatannya Andi dan Hanik sempat ngobrol dengan Pak Elly tetangga dekatnya samping rumahnya yaitu orang Ambon bapak dari Alex. Andi menyampaikan rencana kepergiannya selama 1 Minggu pada tetangganya tersebut, Ia menitipkan barangkali isterinya memerlukan bantuan mereka. Bu Elly mamanya Alex pun diminta kesediaannya kalau bisa mau tidur dirumahnya untuk menemani Hanik isterinya. Toh malam hari mereka bebas dari pekerjaan mereka. Pak Elly dan Bu Elly menyanggupinya sambil berkelakar agar Andi tidak lupa oleh olehnya buat mereka saat kepulangannya.
Pagi itu, Hanik bersama anak anaknya melepas kepergian suaminya didepan halaman rumah mereka. Ia tidak sampai ikut ke bandara karena suaminya dijemput mobil kantor dirumahnya. Setelah cipika cipiki bersama suaminya, berangkatlah rombongan itu menuju bandara. Hanik menjalani aktifitas keseharian seperti biasanya. Mengantar jemput anaknya sekolah, belanja memasak makanan untuk anak anaknya. Saat menjelang malam tiba, ia menerima kedatangan tamu yang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata yang datang Bu Elly ia mempersilahkan masuk tetangganya itu. Sudah dipersiapkan suguhan jajan dan makanan ringan di meja oleh Hanik karena tahu Bu Elly memang mau datang. "Ayo Bu di cicipi makanannya sambil nonton TV acara drama kesukaan Bu Elly hahaha.. " ucapnya tertawa kecil
" Bu Hanik ngapain susah susah pakai nyediain ini seperti saya orang jauh saja bu. " Balas Bu Elly wanita yang usianya diatas usia Hanik.
Mereka akhirnya mengobrol diruangan tamu itu, Yelsa dan Dika ada di ruangan kamarnya sendiri belajar sambil bermain berdua. Mereka ngobrol sambil sesekali terdengar lepas tawa mereka berdua. Kembali hati Hanik terasa berdesir saat Bu Elly menyinggung anaknya yaitu Alex, dia menyampaikan kalau anaknya yang kecil itu sebenarnya tadi mau ikut tidur di situ tapi entah kenapa mengurungkan sendiri niatnya. Mungkin takut tidak bisa tidur dirumah yang bagus karena sudah terbiasa tidur di lantai hanya bergelar tikar, canda Bu Elly kepadanya. Merasa tidak enak akhirnya Hanik pun menawarkan pada Bu Elly kalau Alex memang ingin tidur disini ya silahkan saja. Dan itupun langsung ditanggapi oleh Bu Elly dengan senang hati. Perempuan berambut ikal keriting itu lantas segera memanggil anaknya.
Hanik serba salah dan serba canggung menatap Alex yang sudah berdiri kemudian ikut duduk di samping ibunya. Wanita cantik itu kembali teringat peristiwa seminggu yang lalu, betapa kerasnya batang kemaluan anak itu sekeras genggaman tangannya mengocoknya. Masih terbayang jelas laju semburan s****a dari ujung batangnya yang begitu derasnya sampai nyampai ke pipi dan muka anak itu.
Dalam suasana ngobrol itu, Hanik cuma sesekali melirik Alex yang tidak banyak bicara. Namun dia masih sempat melihat kalau yang dilirik malah senyum senyum genit. Hmmm benar benar anak yang nakal gerutu Hanik dalam hatinya..
Hanik melihat kedua anaknya sudah pulas tidur dikamarnya, giliran dia pamit pada Bu Elly dan Alex mau masuk ke kamarnya sendiri. Hanik susah sekali memejamkan matanya rasa kantuknya terasa hilang. Diambilnya ponselnya berniat mau menghubungi suaminya. Akhirnya untuk melepas kerinduan ia menelephon suaminya itu.
Sementara itu tidak jauh dari kamar Hanik, Alex juga masih terjaga, sedangkan mamanya sudah tidur pulas mendengkur di sampingnya. Dia juga lagi membuka hand phonenya. dibukanya nomer nomer kontak dan berhenti ketika menemukan nomer Hanik. Alex meleleh lelet kan lidahnya menatap foto profil Hanik yang cantik dan memeluk kedua anaknya. k*********a mulai bangun menggeliat sejalan dengan pikiran kotornya. Anak itu beringsut bangun dari pembaringannya. Sejenak diamatinya mamanya yang masih pulas, Otaknya sudah dipenuhi nafsu. Perlahan dibukanya celana pendeknya dan tersembul ah penisnya yang hitam legam tampak keras menonjol sudah berdiri tegang.
" Bu Hanik.. ini punya Alex pegangin bu. " Ucapnya lirih dengan membayangkan wajah Hanik sambil dielus elus nya sendiri burungnya. Dibiarkan nya celana pendeknya masih melorot lalu Alex mengambil HPnya dan mengarahkan kameranya memotret k*********a sendiri. Setelah mendapat hasil yang diinginkan anak itu berdiri berniat keluar dari kamarnya. Sambil celingak celinguk dan memastikan memang sepi, Alex berjalan mengendap pelan menuju kamar Hanik. Dia tersenyum menyeringai begitu berada didepan kamar yang dituju dan masih bisa mendengarkan suara Hanik ngobrol telephon meski tidak begitu keras suaranya. Anak remaja itu kembali membuka hpnya. Setelah mengirimkan sesuatu lewat hpnya, ia beringsut duduk dipinggir guci pot bunga yang ada di depan kamar itu.
Lain halnya dengan Hanik yang baru saja menutup telpon, agak terkejut menerima pesan WhatShap lebih terkejut lagi mengetahui siapa pengirimnya. Tanpa curiga dibukanya pesan itu, alangkah kagetnya sampai bangun dari ranjangnya. Dipandangi nya gambar atau foto yang diterimanya. Seperti tombak panjang dengan ujungnya yang bulat besar berwarna hitam legam. Ia menarik nafas panjang mengetahui itu foto kemaluan Alex.
BERSAMBUNG