" Hmmm.... Nakal. " Hanik membalas mengirim pesan. Diluar kamar, Alex tertawa kecil membacanya.
" Dingin Bu. Sepi enaknya main kuda kudaan hahaha. " Balas Alex
Hanik rasanya semakin terbakar saja, pikirannya antara iya dan tidak. Alex sudah terlalu berani kepadanya beda dengan awal sebelum kejadian itu.
" Kamu dimana bodoh, apa mama kamu sudah tidur berani beraninya goda isteri orang. "
" Maaf Bu.. saya ada di depan kamar ibu, takut ada yang bangun jadinya saya di pinggir pot bunga hahaha. Sambil lihat lihat kali saja ibu keluar kamar. "
BUSYETT nekat nih anak, apa aku suruh masuk saja ya. Berbagai pikiran semakin berkecamuk di kepalanya. Kalau melihat dari wajahnya tidak ada cakep cakepnya si Alex itu, tapi barangnya itu lah hangat sangat unik hitam, besar dan panjang tidak imbang dengan postur tubuhnya. Tanpa menghiraukan pesan pesan yang masuk bahkan panggilan Miss call wanita cantik itu menutup muka wajahnya dengan bantal. Stress rasanya, disisi lain dia tidak ingin menghianati Andi tapi gairah birahi nya rasanya semakin meletuo mengharap pelampiasan.
Wanita cantik itu kemudian bangun dari pembaringannya. Membuka laci dimeja rias dan mengambil sesuatu didalamnya. Ia mengamati sebentar benda yang ternyata sebuah kondom itu dan segera memasukannya ke saku daster nya. Tekadnya sudah bulat, Berjalan dan pelan pelan membuka pintu kamarnya dan menguncinya pula. Alex yang melihat kehadiran wanita impiannya itu bersorak kegirangan dan memunculkan keberadaannya.
Mereka berdua saling tatap sesaat, tapi itu tidak lama karena Hanik tampak mengkode dengan jarinya agar Alex mengikutinya dari belakang. Penisnya langsung terasa cenat cenut dibalik celana pendeknya sambil berjalan dibelakang Hanik. Hanik nampaknya mau menuju ke garasi mobil yang ada disamping bangunan rumahnya. Dia masuk kedalam garasi dan menyalakan lampunya. Alex juga masuk menyusulnya.
" Kunci pintunya bodoh. " ucap Hanik tetap memanggil anak itu dengan sebutan bodoh. Alex menurut perintahnya. Setelah dirasa aman Hanik mendekatinya, membuat Alex salah tingkah dibuatnya.
" Lepas celana kamu bajumu gak usah Lex dan kamu duduk di situ. " Perintah Hanik sambil tangannya menunjuk ke kursi kayu yang ada di samping mobil. Alex tanpa banyak tanya menuruti perintah itu. Di lepasnya celana pendek dan sempaknya dan ditaruh nya di lantai. Terlihat k****l hitam besarnya sudah ngaceng keras tampak manggut manggut disela pahanya yang berkeringat.
" Jangan bersuara keras Lex khawatir ada yang mendengar. Dan kamu jangan banyak tingkah, ini pake sendiri. " Hanik melempar kondom yang dibawanya tadi ke arah Alex.
" Ini apa bu"
" Udah cepet buka saja itu kondom jangan banyak mulut kamu ah. "
Sebenarnya Alex meskipun masih kecil tapi dia tahu barang itu dan fungsinya. Tanpa banyak omong lagi diambilnya bungkusan itu dan membukanya. Tangannya bergetar ketika memasukan kondom itu ke batang k*********a. Hanya cukup muat sampai pertengahan batangnya saja. Memang jumbo p***s si Alex ini kondom itu cuma sampai di tengah permukaan penisnya saja. Hanik menggigit bawah bibirnya menyaksikan pemandangan yang membakar birahi nya itu. Secepatnya antara diburu waktu takut ketahuan orang lain dan perasaan birahi yang memuncak dia melepaskan celana dalamnya kemudian berjalan mendekati tubuh Alex yang duduk di kursi depannya menanti dengan p***s yang sudah mengacung keras.
Perlahan namun pasti Hanik berusaha duduk diatas tubuh anak itu. Vaginanya dari tadi sudah basah oleh lendir kewanitaannya dipegangnya p***s Alex dengan jemari yang gemetar menuntun masuk ke cela vaginanya. Alex tidak dapat menyembunyikan efek dari semua itu. Remaja abg itu nafasnya memburu tangannya mencengkeram lengan kursi yang didudukinya.
" Bu Hanik masukin iya cepat bu... Alex gak tahan bu. " Rintihnya
" Diem kamu bodoh. Punya kamu kebesaran tahu. "
Pelan tapi pasti ujung p***s Alex mulai masuk ke lubang kewanitaan Hanik. Wanita ayu itu merem melek merasakan deru kenikmatan antara geli dan rasa sakit dimasuki benda keras yang ukurannya diluar normal itu. Hanik dengan gerakan pelan memaju mundurkan pantatnya sementara kedua tangannya mencengkeram kedua pundak Alex. Otomatis payudaranya yang padat dibalik daster tidurnya kadang kala menyentuh wajah anak itu.
" Addduhhh... kontolmu Lex.. Lex... geli Lex... enakkk ahhh. " Hanik merintih mendongakan kepalanya saat batang p***s Alex meski susah tapi sudah masuk separuh.
" Lexxx.. kenapa enak begini. Jelek tapi enak kamu Lex akhhhhh.... "Hanik blingsatan mendongakan kepalanya keatas dengan tangannya tetap mencengkeram pundak Alex. Kata katanya yang keluar dari mulutnya sudah tidak terkontrol lagi. Alex sendiri tidak mau ambil pusing meski dirinya dibilang jelek. Dalam hal bersetubuh anak ini cepat sekali belajarnya. Tangannya yang bebas kini dengan beraninya memegang d**a Hanik, Diremas nya gundukan padat wanita cantik itu bahkan saking gemasnya keras sekali dia meremas buah d**a Hanik. Bagi Hanik sudah kepalang basah, semakin diayunkan pantatnya tanpa memperdulikan apa yang dilakukan anak itu.
" Bu.. buka bajunya Alex ingin nyusu bu. " " Diem bodoh.. aku tidak harus nurut sama kamu. Ini enak banget Lex. Ak.. ak. aku sepertinya mau nyampe Lex.. "
Hanik semakin mempercepat gerakan tubuhnya, sesuatu yang akan diraihnya sudah mau didapatkan. Tiba tiba tubuh indah yang masih mengenakan daster tipis itu mengejang seperti terkena strom aliran listrik. Jemarinya mengusel usel rambut ikal milik Alex didepannya. Mengejang beberapa saat kemudian berhenti total dari segala aktifitasnya. Wanita cantik itu telah mencapai puncak orgasmenya. Tenaganya lemas dan keringatnya keluar semua. Hanik merasa kegelian ketika dalam masa tenang itu Alex menduselkan wajahnya ke payudaranya. Sambil jemarinya masih meremas rambut anak itu dia melepaskan diri dari posisi menduduki tubuh Alex. Diamatinya p***s yang masih berdiri dengan gagahnya itu, nampak basah kuyup oleh lendir kewanitaannya.
" Kamu lama bener keluarnya Lex padahal kemarin dikocok sebentar sudah kelar. " Ucapnya sambil merapikan pakaiannya. Alex hanya melongo mengawasi Hanik yang sudah berbenah.
" Bagaimana dengan saya bu. "
" Kamu selesaikan sendiri saja Lex. Takut ada yang bangun dan melihat. "
Tampak raut kekecewaan pada wajah anak itu. Tapi dia tidak berani memaksa isteri Andi itu. Keduanya pun keluar dari ruangan garasi itu. Hanik langsung memejamkan matanya dia tidak mau banyak berfikir dengan gejolak fikirannya yang telah mengkhianati suaminya.
Lain halnya dengan Alex, anak itu menuntaskan hasratnya dikamar mandi, barulah ia bisa memejamkan matanya tidur.
Paginya Hanik terbangun karena alarm hpnya. Duduk termenung dipinggiran ranjang. Ada sedikit rasa nyeri di pangkal pahanya. Rasanya vaginanya masih terasa sekali habis kemasukan benda ukuran besar. Beda dengan o*****e yang dialaminya dengan Andi meski tadi malam ia hanya merasakan sekali o*****e tapi rasa nikmat yang dirasakannya sungguh luar biasa sampai rasanya tubuhnya seperti tersengat aliran listrik cuma bukan sakit tapi geli yang hebat dirasakannya. Sedang dengan suaminya hanya geli geli biasa saja. Sempat terpikir kasihan Alex nafsunya jadi menggantung belum terselesaikan tapi biarlah pikirnya dengan begitu dia berpikir masih bisa memegang kendali atas anak itu.
Bu Elly tampak sudah rapi diruang tamu mau berpamitan. Ibu dari Alex itu seperti biasa akan melakukan pekerjaan rutinnya berjualan dipasar. Hanik mempersilahkan mereka pergi sambil memberi sedikit tanda rasa Terima kasih. Dengan rasa sedikit tidak enak Bu Elly menerimanya karena Hanik sendiri yang memaksa harus menerimanya. Alex turut berjalan di samping ibunya meninggalkan rumah itu. Entah apa yang dipikir dan dirasakan anak ini, ia sepertinya takut pada Hanik ketika wanita itu menatap tajam padanya. Namun kadangkala wanita itu terlihat ramah sehingga dia berani menggodanya.
Tiga hari sudah berlalu sejak kepergian Andi ke luar kota. Semalam Bu Elly tidak tidur dirumahnya karena Bu Elly bilang subuh sudah harus berangkat ke pasar. Antara perasaan senang terhindar dari Alex dan perasaan kesepian sebagai wanita yang ditinggal suami, Hanik kembali mengisi waktunya dengan menelepon suaminya sampai dia terlelap sendiri. Sesuai jadwal dua hari lagi Andi selesai dengan tugasnya di Jakarta. Anak anaknya sudah sering menanyakan kapan papanya pulang. Dia pun sudah berencana memasak makanan kesukaan Andi saat pulang nanti.
Tepatnya kalau tidak ada hambatan besok sore suaminya sudah nyampe rumah sesuai perhitungan jam keberangkatan pesawatnya. Rencana besok pagi Hanik mau kepasar belanja keperluan untuk menyambut kedatangan nya. Masih satu malam akan dilewatinya tanpa suaminya disampingnya. Dan malam nanti Bu Elly dan Alex sudah memberi kabar kalau mau tidur dirumahnya. Sebenarnya bukan kehadiran Bu Elly yang ada dalam benak pikirannya tapi bocah hitam dekil anaknya itulah yang jadi pikirannya. Terkadang dia rasanya ingin marah pada anak itu tapi disisi lain dia tidak bisa memungkiri dirinya sendiri terasa puas dan lega ketika hasratnya terlampiaskan pada Alex.
BERSAMBUNG