MEMORIES 2

1637 Words
Aku akan selalu mempercayai kata-katamu, meskipun aku tahu yang kamu katakan adalah kebohongan. -MEMORIES : THE ENDING TALE OF ECRYPHIA- __________________ "Ikut bersamamu?" Tawaran yang keluar dari mulut Chia terdengar sangat menggiurkan bagi anak laki-laki itu. Apa itu berarti dirinya bisa mendapatkan tempat tinggal dan makanan setiap harinya? "Apa maksudmu ikut bersamamu ke istana?" tapi tawaran itu terlihat mustahil. Bagaimana mungkin dirinya bisa masuk istana begitu saja, Anak laki-laki itu tidak ingin mengharapkan hal yang sia-sia.  Chia mengangguk mantap.  "Tapi aku tidak pantas berada disana. Lagipula kenapa kamu ingin membawaku?"  Chia tersenyum sendu, "karena kita berteman." Teman. Apa benar Chia melakukan ini hanya karena mereka berteman? anak laki-laki itu masih tidak yakin dengan tawaran Chia. "Apa benar tidak apa-apa?" anak laki-laki itu bertanya lagi untuk memastikan. "Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ikut denganmu."  Meskipun dia memiliki banyak keraguan yang tersisa dan alasan yang cukup untuk menahan dirinya untuk ikut bersama Chia. Anak laki-laki itu hanya memiliki 2 alasan untuk ikut bersama Chia. Yaitu tempat tinggal dan bersama Chia.  Ini terlalu cepat jika disebut rasa nyaman, mungkin dirinya hanya tertarik dengan sosok indah Chia. Seorang putri seindah batu permata, seindah cahaya bulan di malam hari. Seorang putri yang sangat menarik.  "Jadilah kesatriaku."  Saat itu, Chia hanya mengucapkan apa yang terlintas di kepalanya agar anak laki-laki itu bersedia ikut bersamanya, dia bahkan belum tahu pasti jika tebakannya benar atau tidak tentang bakat anak itu tapi dia yakin. Dan meskipun ternyata anak itu tidak memiliki bakat yang ia duga sebelumnya, Chia akan menjadikan anak itu kepala pengurus istana putri. Yah, walaupun untuk memberikan posisi itu pada seorang anak tanpa nama, tanpa keluarga, dan tidak punya latar belakang yang jelas akan sangat sulit bahkan untuk seorang putri bangsawan sekalipun. Tapi Chia benar-benar tidak ingin menyerah pada anak itu.  "Aku tahu kamu akan menghadapi hal-hal yang sulit jika kamu ikut denganku, tapi kamu juga akan mendapatkan hal yang tidak akan bisa kamu dapatkan disini."  Anak laki-laki itu masih menatap Chia masih bergeming di tempatnya. "Dan aku ingin kamu menjadi kesatriaku," "....... jadi bisakah kamu buktikan padaku jika kamu layak untuk itu?"  Mata anak laki-laki itu berbinar, dia bangun dari duduknya, saat itu juga Chia baru bisa melihat dengan jelas rupa anak laki-laki itu. Tubuh anak itu lebih tinggi satu jengkal dibanding dirinya. Rambut berwarna hitam anak laki-laki itu berkilau terhembus angin, di bawah cahaya bulan purnama yang bersinar terang, mata anak laki-laki itu bersinar berwarna merah pekat seperti darah. anak itu memiliki sorot mata yang tajam dan terkesan dingin. kulitnya putih dan dia memiliki bibir yang tipis. Chiarina terpesona dengan wajah rupawan anak laki-laki itu.  'Mata merah.' Chia pikir itu warna mata yang tidak biasa dimiliki seeorang, apalagi seorang anak biasa di kota. Sepertinya dia pernah mendengar sesuatu tentang mata merah, namun saat ini Chia tidak bisa mengingatnya. Matanya tidak bisa lepas memperhatikan wajah anak itu sampai dia mengalihkan pandangannya dan sadar jika pakaian yang digunakan anak itu terlihat tidak layak, pakaiannya lusuh dan kotor sedangkan tangannya terdapat beberapa bekas luka sabetan dan memar.  Chiarina terkesiap, refleks ia menarik tangan anak itu, "Astaga! kamu terluka." seru Chia panik.  Tanpa memikirkan apapun lagi, Chia membawa anak itu keluar dari gang tempat mereka bersembunyi sebelumnya dan berlari kearah para kesatria istana.   Para kesatria yang melihat putri mereka keluar dari sebuah gang kecil yang kumuh dengan pakaian yang kotor segera menghampiri sang putri. "Tuan putri Harriet!" seru mereka. Mereka langsung menutupi tubuh Chia dengan sebuah jubah bersih yang baru dan terlihat lebih mewah dari yang Chia pakai dibawah jubah baru itu. Jubah berwarna merah dengan bulu domba asli di sekitar leher dan memiliki lambang kerajaan Centurra di bagian belakangnya. Sebuah lambang bunga mawar berwarna emas, lambang kebanggaan kerajaan Centurra. Warna emas di negara Centurra diartikan sebagai kekuatan. Dan mawar melambangkan cinta Tuhan. "Apa yang mulia baik-baik saja?" "Apa anda terluka?" "Kami telah menyiapkan kereta kuda untuk anda." "Saya mohon untuk menunggu sebentar," "Saya membawakan teh hangat untuk anda, tuan putri." Mereka menyerbu Chia dengan serangkaian pertanyaan mereka. Mereka baru sadar jika Chia tidak datang sendirian setelah melihat tangan Chia yang memegang tangan seorang anak laki-laki sebayanya. "Tuan putri, siapa anak laki-laki yang bersama anda?" Chia melirik anak laki-laki tanpa nama itu lalu, "Dia adalah anak laki-laki yang akan kubawa ke istana." Ksatria itu mengernyit lalu saling berpandangan dengan ksatria lainnya. "Apa maksud tuan putri? Apa saya harus melapor pada yang mulia raja tentang hal ini?" ia bertanya lagi. Chia menggeleng, "Tidak perlu. Aku akan bicara langsung pada yang mulia tentang keputusanku ini." "Saya mengerti, tapi tuan putri..."  ksatria itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun Chia tahu maksud dari ksatria di depannya itu, dia melihat kearah tangan Chia yang menggandeng tangan anak laki-laki itu. Chia tahu, dia tidak boleh melakukan ini, menggandeng tangan anak laki-laki yang baru ia temui di tempat umum, bahkan anak laki-laki itu tidak memiliki asal-usul yang jelas. Tapi untuk saat ini Chia tidak ingin memikirkan hal itu. Karena Chia tau saat ini anak laki-laki itu sedang melihat kearahnya. Chia mempererat genggaman tangannya. Melihat itu para ksatria hanya terdiam. "Tuan putri, kereta kuda anda sudah siap. Saya akan menuntun anda." Chia mengangguk, mengikuti arahan ksatria itu. Tidak perlu berjalan terlalu lama, kereta kuda mewah Chia sudah terparkir di pinggir jalan kota. Chia dibantu ksatrianya masuk kedalam kereta. Saat anak laki-laki itu hendak masuk, ksatria itu kembali bertanya dan membuat anak laki-laki itu berheti di tengah-tengah. "Tuan putri, apa tuan putri yakin dengan keputusan anda ini? Bukankah ini sangat tiba-tiba?" "Aku sangat tau dan yakin dengan keputusanku." Chia menegaskan. Kali ini dia menatap ksatria membuat ksatria itu terpaksa menundukkan kepalanya. "Meskipun begitu, bukankah berlebihan jika anda mengizinkan anak ini untuk masuk kedalam kereta yang sama dengan anda?" Chia tidak tahu ternyata ksatria yang biasanya diam seakan bisu saat bertemu dengannya kini berbicara sangat banyak karena hal yang bahkan bukan urusannya. Chia melirik anak laki-laki itu, sepertinya dia memikirkan ucapan ksatria. Setelah hening beberapa lama anak laki-laki itu membuka mulutnya, "Dia benar, aku akan berjalan kaki saja." "Tidak, kamu tidak bisa, kamu akan ke istana bersamaku. Ini adalah keputusanku." Chia melirik kearah ksatria itu, "Aku tidak tahu kenapa ternyata keputusanku terus dipertanyakan. Aku pikir statusku sebagai putri kerajaan Centurra belum cukup tinggi bagi mereka." Ksatria itu menelan ludahnya susah, "maaf atas kelancangan saya, tuan putri. Saya akan menjaga perjalanan anda." katanya hendak undur diri. "Tunggu," "Bawakan aku beberapa obat luka." kata Chia. Ksatria itu melirik anak laki-laki itu, kemudian melirik kearah tangannya yang penuh dengan luka. Dia mengangguk, "Baik, tuan putri." katanya lalu pergi. Anak laki-laki itu masuk kedalam kereta kuda milik Chia. Kereta kuda itu cukup besar dengan d******i warna putih dan beberapa warna emas sedangkan di dalamnya penuh dengan warna merah muda bahkan sampai pada tempat duduknya. Kereta kuda Chia akhirnya pun mulai berjalan meninggalkan pusat kota. Perlahan kota yang sempat kembali ramai karena pencarian Chia oleh para ksatria mulai kembali sepi. "Aku berpikir sepertinya ini bukan ide yang baik." "Apa yang bukan ide yang baik?" "Membawaku ke istana. Sepertinya mereka tidak menyukaiku." "Tapi aku menyukaimu. Untuk apa kamu memerdulikan pendapat mereka? Kamu akan menjadi ksatriaku, kan? Bukan ksatria mereka." Kata-kata 'suka' begitu mudah terucap dari mulut Chia, Chia tidak tahu jika dia akan menyesali apa yang di ucapkannya. Anak laki-laki itu terdiam dengan kepala yang tertunduk. Chia tidak tahu apa yang anak laki-laki itu pikirkan, tapi dia menunduk cukup lama. "Tuan putri benar-benar ingin aku menjadi kstarianya." anak laki-laki itu bergumam, namun Chia bisa mendengar dengan jelas gumaman anak laki-laki itu. "Sudah kubilang, panggil aku Chia." "Tapi mereka menyebutmu tuan putri." Chia tersenyum tipis, "kamu berbeda dari mereka, kamu temanku." Tidak lama mereka akhirnya sampai di istana putri. Para pelayan dan ksatria kediaman putri telah berkumpul dan berbaris di halaman istana putri. Wajah mereka tampak sedikit pucat, beberapa dari mereka memiliki mata yang bengkak karena menangis. Chia turun dari kereta kudanya dibantu oleh salah seorang ksatria. Begitu Chia telah menampakkan kakinya dengan sempurna di halaman istananya. Para pelayan membungkuk. Chia bingung dengan reaksi mereka. Chia yakin keluarganya telah melakukan sesuatu. "Memberi salam pada yang mulia tuan putri Harriet Chiarina. Selamat datang kembali." Chia mengangguk. Setelah kembali menegakkan tubuhnya, mereka melirik kearah anak laki-laki yang berada di belakang putri mereka. Mereka sudah mendengar kabar jika putri mereka membawa seorang anak laki-laki dari kota bersamanya. Tapi mereka tetap saja terkejut saat melihatnya dengan mata mereka sendiri. "Kami akan membersihkan tubuh anda, tuan putri. Kami telah menyiapkan kolam air panas untuk anda." para pelayan mulai menghampiri Chia dan anak laki-laki itu. Chia melirik anak laki-laki itu yang terlihat kebingungan melihat para pelayan yang mendekatinya. "Kami juga sudah menyiapkan pakaian dan pemandian untuk anda, tuan muda." Setelah itu Chia dan anak laki-laki itu terpisah untuk mandi. Chia yakin setidaknya pelayan akan melayani anak itu dengan benar meskipun dia berasal dari pusat kota. Rupa anak itu sangat tampan, Chia pun terpesona dan tidak percaya pada awalnya jika anak itu benar-benar anak terlantar. Entahlah, hanya dengan melihat warna matanya, Chia tahu jika anak itu bukan anak biasa. Di Centurra dan di beberapa kerajaan lainnya, keturunan bangsawan bisa dilihat dari warna mata mereka. Jadi, anak laki-laki itu mungkin adalah anak diluar nikah atau anak tidak sah sebuah keluarga bangsawan. Itu yang terlintas dipikiran Chia saat melihat mata anak itu untuk pertama kalinya. Seperti biasa, para pelayan tidak banyak bicara. Chia tahu jika pelayan itu sebenarnya penasaran dengan alasan Chia membawa anak laki-laki itu. Untuk pertama kalinya Chia bersyukur memiliki pelayan yang tidak banyak bicara. Karena mungkin Chia juga tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Chia juga tidak tahu kenapa dia sangat ingin membawa anak laki-laki itu ke istana. Karena anak itu satu-satunya teman yang miliki? Ayolah, itu hanyalah alasan yang ia buat-buat agar anak itu ikut dengannya. Entahlah, Chia pun tidak mengerti jalan pikirannya. Yang ia tahu, anak itu sangat berbakat dan Chia tidak ingin bakat anak laki-laki itu sia-sia. Dan.... Mereka berteman. To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD