MEMORIES 2.5

1385 Words
Chia duduk di kursi depan cermin besar di dalam kamarnya. Penerangan disana sangat minim. Seorang pelayan menyisir rambut Chia dari belakang dengan hati-hati. "Tuan putri, yang mulia raja berpesan jika anda bisa mendatanginya esok hari. Jadi anda harus beristirahat malam ini." kata pelayan itu. Chia diam tidak merespon ucapan pelayan itu yang menyampaikan pesan dari utusan raja. Chia sudah tau jika ayahnya akan memanggilnya besok untuk meminta penjelasan dan pertanggung jawaban atas tindakannya. Chia berpikir bagaimana cara dia menjelaskan pada raja, ayahnya. Tanpa sadar jika dirinya sudah melamun cukup lama. "Tuan muda yang datang bersama anda, mungkin saat ini para pelayan juga sudah selesai membantunya." Setelah pelayan itu selesai merapihkan rambut Chia, Chia pun bangkit dari duduknya. "Aku akan melihat anak laki-laki itu lebih dulu," kata Chia. Pelayan itu mengangguk lalu menemani Chia keluar dari dalam kamarnya. Istana putri terlihat gelap dan sepi. Chia bukanlah penggemar suasana hening seperti Etienne,jadi dia sama sekali tidak menyukai istananya yang selalu sepi. Chia berjalan di lorong gelap, di belakangnya, dia di temani 2 orang pelayan yang memegang lampu lilin di tangannya. Tanpa di beritahu Chia tau dimana anak laki-laki itu berada, yah, dia adalah pemilik istana putri sendiri, tentu saja dia tahu dimana anak laki-laki itu akan di tempatkan di istana putri. Kamar Lily. Itu bukanlah kamar yang besar tapi juga bukanlah kamar yang kecil. Tidak ada yang istimewa dari kamar Lily. Kamar berwarna putih dengan satu buah ranjang queen size, sofa kecil, dan beberapa hiasan sederhana seperti vas bunga. Jarak antara kamar Lily dengan kamar Jasmine -kamar milik Chia- cukup jauh. Mungkin karena itu juga alasan mengapa anak laki-laki itu di tempatkan disana. Di depan kamar Lily dua orang pengawal dan satu orang pelayan berdiri. Mereka membungkuk sesaat begitu melihat keberadaan Chia, "Buka pintunya," titah Chia. Pengawal itu pun membuka pintu kamar untuk Chia. Chia masuk bersama 2 pelayan yang mengikutinya.  Ruangan kamar itu sama seperti kamar lainnya, penerangannya begitu minim. Tapi itu cukup untuk melihat keberadaan anak laki-laki yang sedang duduk di pinggir kasurnya sedang menatap kearah pintu, tepatnya pada Chia dan dua pelayan yang lain yang baru saja masuk. Aroma lily dari bunga di dalam kamar menyerbak ke indera penciuman Chia dan dua pelayan yang ikut dengannya.  Perlahan langkah kaki Chia menghampiri anak laki-laki itu. Terdengar suara gesekan kain saat anak laki-laki itu bangun dari tempat tidurnya. Dia berdiri tepat di hadapan Chia. Gelapnya malam dan redupnya pencahayaan membuat suasana itu semakin intens. Di tengah gelapnya ruangan itu, anak laki-laki itu menemukan sesuatu yang lebih terang daripada bulan yang bersinar di langit malam. Dia menemukan sesuatu yang lebih bersinar daripada bintang kejora di langit. Dia menemukan berlian yang paling berkilau dibanding berlian lain yang bisa ditemukan di bumi. Namun ia juga kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya, yaitu hatinya.  Saat matanya bertemu dengan mata seindah kristal, sebiru lautan yang sedang menatapnya. Sesuatu dari dalam dirinya berdetak dengan cepat. Darahnya terasa berdesir. Seakan dunianya hanya berporos pada satu hal, yaitu mata itu, gadis pemilik dari mata itu.  Bibir yang awalnya hendak mengucapkan banyak hal mendadak kelu, kehilangan kata-katanya. Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Rambut emas Chia yang terkena cahaya bulan berkilau. Itu adalah satu-satunya emas yang anak laki-laki itu ingin miliki seumur hidupnya. Anak laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya erat. Menahan sesuatu dari dalam dirinya yang hendak meledak jika dia tidak menahannya.  Anak laki-laki itupun masih tidak yakin dengan dirinya sendiri. Jadi dia diam. Chia masih memandangi anak laki-laki itu. Matanya menelusuri setiap jengkal tubuh anak laki-laki  yang ia bawa. Anak laki-laki yang awalnya memakai pakaian lusuh yang tinggal di jalanan dalam sekejap terlihat seperti seorang anak bangsawan hanya dengan sedikit sentuhan.  Perlahan bibir Chia melengkung puas. Ia memiringkan kepalanya, "Lihat, kamu sangat tampan. Aku tahu itu meskipun penerangan disini sangat buruk." Itu adalah pujian yang terlontar dengan spontan dari mulut Chia.  Tapi anak laki-laki itu merona seperti kepiting rebus. Dengan malu dia menundukan kepalanya perlahan.  Chia tersenyum jahil "Ah, kamu malu." Tapi itu tidak bertahan lama karena pelayan yang ikut masuk bersama Chia menyela percakapan mereka. "Tuan putri, sudah waktunya anda untuk beristirahat. Hari sudah sangat larut."  Chia hanya melirik pelayan itu sekilas sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada anak laki-laki itu. "Besok adalah hari yang berat, aku tidak akan menganggu waktu istirahatmu terlalu lama. Jadi, selamat malam." Chia berbalik dan berjalan keluar dari kamar anak laki-laki itu.  Sedangkan anak laki-laki itu masih terdiam di tempatnya, saat melihat punggung Chia yang menghilang dari pintu, tangannya terulur untuk menahan perempuan itu, tapi bibirnya masih tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. Ia kembali menarik tangannya.  Dia kembali sendirian di dalam kamar yang besar dan gelap untuk dirinya seorang diri. Kamar mewah yang menurutnya tidak ada bedanya dari tanah gang kumuh itu, hanya saja di dalam kamar ini dia merasa lebih aman, dan mungkin sedikit lebih hangat.  Tubuhnya berbalik melihat kasur berukuran besar yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini. Tangannya menyentuh kasur dan menekannya pelan. Perlahan ia naik keatas kasur dan merebahkan dirinya.  Anak laki-laki itu menggumam, "Rasanya lebih empuk dibandingkan tumpukan kardus."  Matanya menoleh kesamping dimana disana terdapat jendela kaca besar dengan pemandangan bulan purnama yang indah di langit. "Chia terlihat lebih indah dari itu." ia kembali bergumam. Dia tidak tahu sejak kapan tiba-tiba dia merasa aneh dengan tubuhnya, kedua telapak tangannya meraba-raba tubuh bagian depannya dan berakhir di dadanya. Merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. "Apa mungkin karena aroma parfum yang ia kenakan, atau saat pertama kalinya dia menggenggam tanganku?" "Sejak itu tubuhku...." Anak laki-laki itu terdiam cukup lama. "..... Apa ini?" __________________ "Putri Chiarina, apa ini? aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berbuat seenaknya tanpa aturan seperti yang kau lakukan malam kemarin. Apa kamu tahu apa saja kesalahan yang telah kamu lakukan?" Valens Evitus Lopez, raja dari kerajaan Centurra bertanya pada Chia yang sedang menghormat di bawah singgasananya. Matanya memandang rendah Chia yang berada di bawahnya.  Tangan Chia terkepal erat, tubuhnya bergetar oleh ketakutan yang tidak nyata di depannya. Dia tidak pernah bisa menghilangkan ketakutannya saat berhadapan dengan anggota keluarganya, anggota keluarga kerajaan Centurra.  Chia mengumpulkan keberaniannya sebelum menjawab pertanyaan raja yang sebenarnya sudah ia pikirkan sejak kemarin malam. Chia harus memikirkan jawaban dan pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh raja jika dia tidak ingin berdiri diam seperti orang bodoh nantinya karena otaknya tidak bisa memikirkan apapun saat berhadapan dengan raja.  Chia menarik napasnya, "Saya telah melakukan banyak kesalahan dengan tidak menaati peraturan kerajaan dengan pergi ke kota pada malam hari tanpa penggetahuan siapapun. Saya telah bertindak seperti orang yang kasar dengan membiarkan diri saya bersentuhan dengan rakyat biasa dan berjalan di tempat yang kotor."  Chia kembali menarik napasnya saat igin melanjutkan ucapannya, "Karena itu saya meminta kemurahan hati anda dan memohon ampunan anda, baginda raja."   Di ruang singgasana hanya ada Chia, raja Valens, penasehat raja, sedikit pelayan dan ksatria yang menjadi saksi kejadian itu. Chia tersiksa dalam kediaman dan kesunyian raja dan ruang singgasananya. "Aku memaafkanmu, putriku. Tapi meskipun aku memaafkanmu, aku tetap akan memberikanmu hukuman karena melanggar aturan kerajaan."  Kepala Chia menunduk dalam, "Saya menerima hukuman yang anda berikan, yang mulia."  "Selama 1 bulan putri Chiarina akan dikurung di dalam istana putri dan tidak boleh mendapatkan kunjungan dari orang luar."  Mendengar hukumannya, Chia hanya menerimanya dengan matanya yang terpejam dan tubuhnya yang menunduk. Chia tidak bisa mengharapkan hukuman yang lebih ringan dari yang ia dapatkan saat ini.  'Satu bulan bukanlah waktu yang lama...' itu pikirnya. Lagipula dia juga sangat sibuk dengan pelajaran yang ratu akan tambahkan untuknya, jadi Chia tidak terlalu merasa keberatan. Toh, dia belum tentu juga akan memiliki waktu kosong untuk jadwal minum tehnya bersama para putri bangsawan bulan ini dan untuk bulan berikutnya. "Sebelum kamu boleh pergi. Aku mendengar tentang anak laki-laki yang kamu bawa. Aku ingin mendengar alasanmu."  "Menurut saya dia adalah anak yang sangat berbakat. saya yakin jika dia mendapat pelatihan, dia akan menjadi seorang ksatria yang akan berkontribusi besar pada kerajaan Centurra."  "Kerajaan Centurra di penuhi oleh ksatria-ksatria yang berbakat dan anak itu tidak memiliki latar belakang yang jelas."  "T-tolong beri dia kesempatan untuk menunjukkannya pada anda. Saya yakin.."  "Cukup." Raja Valens memotong ucapan Chia, "Bawa putri Chiarina kembali ke istananya."  Tangan Chia mengepal kuat, ia menggigit bibir bawah bagian dalamnya cukup keras sampai dia bisa merasakan aroma besi yang keluar dari tempat dimana ia menggigit bibirnya. Kedua pelayan menghampiri Chia. "Salam hormat kepada yang mulia, saya mohon undur diri."  To Be Continue 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD