Chiarina termenung di dalam kamarnya, entah sudah berapa lama dia hanya berbaring di atas tempat tidur sambil menatap keluar jendela yang menampilkan langit yang berwarna oranye, dan juga danau yang bersinar terkena pancaran cahaya matahari yang mulai terbenam.
Hari ini dia tidak melakukan apapun selain pergi ke istana utama untuk bertemu dengan ayahnya pagi tadi. Ini pertama kali baginya memiliki jadwal yang sangat kosong sampai tidak tahu harus melakukan apa. Sebenarnya bukan tidak tahu harus melakukan apa, tapi dia benar-benar tidak memiliki suasana hati yang bagus untuk melakukan apapun. Gerakannya sedang dibatasi, padahal tidak dibatasi saja dia sudah kesulitan untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Chiarina menghembuskan napasnya panjang, saat matahari sudah benar-benar tenggelam, maka istana akan menjadi gelap. Chiarina tidak suka itu.
Teringat sesuatu, akhirnya Chiarina memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya. Sebelum mengganti gaunnya menjadi gaun tidur, Chiarina menyelinap keluar dari dalam kamarnya. Chiarina sudah tahu dengan pasti para pelayan menganggapnya remeh, buktinya saat ini dengan perintah raja yang meminta mereka untuk memperhatikan dirinya selama dua puluh empat jam, tapi entah dimana mereka sekarang, tidak ada satu orangpun yang terlihat batang hidungnya.
Itu adalah suatu hal yang menyebalkan tapi juga menguntungkan untuknya. Jadi, untuk saat ini Chiarina tidak akan memusingkan tingkah laku mereka, tapi Chiarina akan pastikan jika suatu hari nanti dia akan membuat mereka semua -para pelayan atau siapapun yang telah memandangnya remeh- akan membayar apa yang mereka telah perbuat saat ini.
Mau bagaimanapun, dia ini putri satu-satunya kerajaan Centurra, dan calon tunangan putra mahkota kerajaan Ecryphia. "Jika aku sudah menggenggam kekuasaan ku. Aku pasti akan membuat mereka menyesal." Gumam Chiarina penuh tekad sambil menatap telapak tangannya yang sedang mengepal dengan erat.
Ia kembali teringat tujuannya keluar dari dalam kamar, buru-buru Chiarina berjalan menuju kamar Lily, kamar tempat dimana anak laki-laki itu berada.
Sepanjang ia berlari di lorong-lorong istana, suara langkah kakinya terdengar cukup keras menggema karena suasana lorong yang begitu sepi. Lampu-lampu lilin sudah di nyalakan. Bayangan mulai menghilang bersamaan dengan cahaya matahari dan langit yang menggelap.
Chiarina berhenti dengan napas yang terengah di depan sebuah pintu berwarna putih yang cukup besar. Dia mengatur napasnya hingga kembali teratur sebelum akhirnya dia mengetuk pintu besar itu.
Krek!
Pintu terbuka dengan perlahan, Chiarina menatap pintu di depannya yang terbuka dengan sabar. Tidak lama sosok laki-laki yang ia cari terlihat di balik pintu besar itu. Mata Chiarina membesar saat melihat wajah laki-laki itu yang dipenuhi oleh luka.
Tangannya tanpa ia sadari bergerak sendiri begitu melihat luka-luka di wajah laki-laki itu. Chiarina menangkup wajah laki-laki itu dengan kedua tangannya sedangkan matanya menatap penuh dengan rasa khawatir dan juga sedih. "Kenapa wajahmu seperti ini? Apa seseorang disini memukulimu?" Chiarina bertanya dengan lirih. Padahal laki-laki itu adalah teman laki-laki pertama nya, teman pertama yang ia rasa benar-benar seperti teman. Melihat laki-laki itu terluka membuat Chiarina merasa sedih dan merasa bersalah. Dia yang membawa laki-laki di depannya ke dalam istana tapi dia malah membiarkan laki-laki itu terluka.
Chiarina merasa gagal melindungi satu-satunya teman yang ia miliki. Chiarina menghela napasnya.
Berbanding terbalik dengan Chiarina yang di penuhi oleh perasaan bersalah, laki-laki itu justru merasa sangat senang dan juga gugup. Perlahan tangannya menyentuh punggung telapak tangan Chiarina yang menyentuh pipinya. "aku tidak apa-apa, Chia. Aku terluka karena aku berlatih sendirian di belakang istana." Kata Laki-laki itu.
Chiarina masih menatap laki-laki itu, seperti bertanya 'mengapa dia melakukan itu?' itu terlihat jelas di mata putri bermata biru laut yang indah itu.
"Kamu bilang kamu ingin aku menjadi ksatria pribadi mu. Aku ingin berlatih agar aku bisa memenuhi tugas itu dan melindungi mu. Dengan kekuatan ku saat ini. Aku bahkan sama sekali tidak bisa melindungimu." Jawab laki-laki itu.
Sejujurnya, Chiarina sama sekali tidak menduga jika akan mendapatkan jawaban seperti itu dari laki-laki di depannya. Laki-laki yang baru saja menjadi temannya bahkan belum lama ia kenal.
Karena sejak awal, menawarkan laki-laki itu menjadi ksatria pribadinya hanyalah salah satu alasannya agar laki-laki itu mau ikut dengannya ke istana. Yah, walaupun sekarang Chiarina baru sadar jika keputusannya benar-benar sembrono dan egois.
Dia bahkan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada laki-laki di depannya ini saat ayahnya datang untuk melakukan sesuatu padanya. Ayahnya terlihat tidak begitu menyukai keputusannya untuk membawa laki-laki asing bahkan tanpa nama ini ke istana.
Chiarina menatap laki-laki itu dengan mata yang berbinar-binar karena terharu dan juga merasa bersalah. Saat matanya telah berair dan air mata hampir menetes dari kelopak matanya. Chiarina buru-buru menundukkan kepalanya. Dengan suara yang pelan dan lirih Chiarina berkata, "maafkan aku. Kamu jadi harus melewati ini semua karena diriku... Aku tahu ini egois. Tapi sejujurnya, aku membawa mu bersamaku karena aku merasa kesepian disini. Tapi meskipun begitu, aku masih tidak mau melepaskan mu pergi."
Laki-laki itu tersenyum tipis, mata berwarna merahnya yang terlihat sangat mengintimidasi menatap Chia dengan pandangan yang meneduhkan. "Aku tahu," kata laki-laki itu.
Mata Chiarina membulat mendengar jawaban laki-laki itu. "kamu tahu?" Chiarina mendongak dengan matanya yang telah sembab, dia semakin merasa bersalah dan malu. "kamu tahu kalau aku sebenarnya hanya ingin memanfaatkan mu? Tapi kamu masih ikut dengan ku?"
"Kamu tidak memanfaatkan ku, kita bertaman." Jawab laki-laki itu.
Chiarina mengernyit, dia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan laki-laki di depannya. Chiarina tidak tahu ini hanya perasaanya atau bukan. Tapi dari kata-kata bahkan perilaku laki-laki di depannya ini, Chiarina merasa aneh dan berbeda daripada saat pertama kali mereka bertemu. Saat mereka pertama kali bertemu yang itu berarti kemarin. Dibanding kemarin, saat ini laki-laki itu lebih bersikap lemah lembut dan penurut yang membuat Chiarina merasa heran.
Melupakan apa yang menganggu pikirannya, Chiarina kembali fokus pada luka gores-goresan seperti terkena ranting yang memenuhi wajah laki-laki itu. "Aku akan mengobatimu, ayok!" Chiarina menarik tangan laki-laki itu masuk kedalam kamar Lily.
Chiarina menutup pintu kamarnya lalu menarik laki-laki itu dan memaksanya duduk di pinggir kasur sementara Chiarina mengambil obat-obatan untuk luka yang terdapat di laci samping tempat tidur.
Dengan perlahan, lembut dan hati-hati Chiarina mulai mengobati luka-luka di wajah laki-laki itu. Chiarina mengobatinya dengan teliti sambil menatap luka-luka itu berbeda dengan laki-laki itu yang justru terus menatapi wajah Chiarina yang sedang mengobatinya wajahnya. Wajah Chiarina berada cukup dekat dengan wajahnya bahkan laki-laki itu bisa merasakan hembusan napas Chiarina yang beraroma seperti bunga mawar.
Chiarina yang terlihat fokus saat mengobati nya membuat jantungnya berdetak tidak wajar apalagi di tambah dengan wajah perempuan itu yang begitu dekat dengannya. Saat mata Chiarina untuk beberapa saat beralih menatapnya, laki-laki itu justru mengalihkan pandangannya karena merasa sangat gugup. Wajahnya terasa sangat panas.
"Kamu demam?"
"Apa?" Suara Chiarina yang bertanya membuatnya kembali sadar.
"Wajahmu terasa sedikit panas." Kata Chiarina lagi.
Dengan cepat laki-laki itu mengelaknya, "suhu tubuhku memasang selalu seperti ini." Katanya.
Chiarina menatapnya, sementara laki-laki itu membuang wajahnya. "Besok pagi, aku akan mencoba meminta seseorang untuk mengajarimu berpedang."
Mendengar itu laki-laki itu menjadi antusias, "benarkah? Apa boleh?"
Chiarina mengangguk pelan, "yah, untuk sekarang kamu harus istirahat. Kamu pasti lelah habis berlatih kan? Besok kamu juga harus berlatih secara rutin."
Laki-laki itu mengangguk setuju, "kalau begitu selamat malam," kata Chiarina setelah menyimpan kembali obat-obatan yang telah ia kenakan pada laki-laki itu kembali ke tempatnya yang semula.
Laki-laki itu mengangguk, "selamat malam, Chiarina." Balasnya.
Chiarina tersenyum lembut, dia berbalik dan berjalan kearah pintu sampai menghilang di balik pintu.
"Sepertinya aku harus terbiasa melihat punggungmu." Gumam laki-laki itu, ia menghela napasnya pelan, raut wajahnya terlihat sedih.
Dia menoleh kebelakang dimana dia mendapati bulan yang sangat indah di luar jendela. "aku akan mencoba yang terbaik agar aku bisa terus berada disini. Sepertinya bukan hanya kamu saja yang egois, Chia."
To Be Continued