"Pukul 10 nanti, madam Florance akan datang untuk mengajari anda pelajaran etika, tuan putri." Kata salah satu pelayan yang sedang menyiapkan Chiarina.
Chiarina mengangguk samar, "bagaimana kabar ibu ratu?" Tanya Chiarina, dia ingat betul jika ibunya bukanlah seorang wanita yang akan tinggal diam mendengar apa yang telah dirinya lakukan. Termasuk membawa laki-laki tanpa identitas masuk kedalam istananya. Tapi Victoria -ibu Chiarina- tidak diduga sangat tenang.
"Yang mulia ratu sedang sibuk dengan pesta tehnya dan penyambutan raja dan ratu kerajaan Ecryphia. Mungkin tuan putri akan diminta menyambut yang mulia raja dan ratu kerajaan Ecryphia juga nantinya." Jelas pelayan itu.
Chiarina hanya diam mendengarkan tanpa berniat untuk menjawab penjelasan pelayan itu. Dia sudah bisa menebak alasan mengapa raja dan ratu kerajaan Ecryphia akan datang mengunjungi kerajaannya. Karena apa lagi jika bukan karena perjodohannya?
Tapi mungkin juga karena dia sedang di hukum saat ini, dia tidak perlu menyambut raja dan ratu kerajaan Ecryphia. Meskipun dia seharusnya melakukan itu, tapi Chiarina ingin menjadikan ini sebagai alasannya untuk tidak melakukan itu. Lagi pula, kehadirannya juga tidak terlalu di perlukan. Perjodohan akan tetap dijalankan sesuai dengan keinginan mereka, ratu Victoria beserta raja dan ratu kerajaan Ecryphia.
Chiarina menatap dirinya di pantulan cermin yang menampilkan tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia mengamati wajahnya yang terlihat sangat cantik. Chiarina sadar jika dirinya sangat cantik. Tidak ada yang memiliki wajah secantik dirinya bahkan tidak ibunya sendiri. Dia juga tahu jika dia dijuluki putri tercantik di kekaisaran. Meskipun dia tidak tahu julukan itu benar atau tidak karena tentunya dia belum pernah melihat putri dari kerajaan manapun karena sepanjang hidup hanya berada di dalam istana.
Hari ini dia memakai sebuah gaun setengah lengan berwarna ungu yang dipadu warna biru dan putih. Gaun yang sangat elegan sesuai dengan kepribadiannya. Sedangkan rambutnya dibiarkan tergerai dengan hiasan ringan seperti tusukan rambut berbentuk bunga yang terbentuk dari mutiara-mutiara.
Chiarina memakai sarung tangan transparan yang hanya menutupi telapak dan punggung tangannya. "Yang mulia, yang mulia putra mahkota menunggu anda di taman depan istana putri."
Chiarina menoleh kearah pintu besar yang masih tertutup, membayangkan jika diluar sana Etienne sedang menunggunya. Ini pertama kalinya Etienne mengunjunginya ke istana langsung. Chiarina tidak bisa menahan rasa senangnya saat mendengar kabar itu. Ia tidak memikirkan apapun saat mendengarnya, yang ia pikirkan hanyalah Etienne yang menunggunya. Apapun alasan Etienne mengunjunginya, Chiarina sama sekali tidak peduli.
"Tolong pakaikan aku sedikit riasan, aku ingin terlihat cantik saat kakakku berkunjung untuk pertama kalinya." Ucap Chiarina, dia tahu itu ide yang aneh, Etienne bahkan mungkin tidak peduli dengan penampilannya, tapi tetap saja Chiarina ingin terlihat bagus di depan Etienne. Kakaknya yang selalu bersikap dingin padanya.
Pelayan itu mengangguk samar, menuruti permintaan Chiarina, pelayan itu menambahkan sedikit pewarna bibir pada bibir mungil Chiarina yang sudah berwarna merah muda dari awal. Chiarina melihat-lihat anting di kotak di depannya yang di pegang oleh pelayan lainnya. Awalnya ia tidak berpikir untuk mengenakan salah satunya tapi sepertinya sekarang dia berubah pikiran. Chiarina mengambil sebuah anting sederhana berwarna seiras dengan warna gaunnya, yaitu biru.
Setelah ia memakai anting yang ia pilih sendiri, ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin dengan puas. Dia terlihat cantik. Setelah mendandani putri Chiarina, para pelayan undur diri, mereka hanya menjalankan tugasnya, selebihnya mereka bahkan tidak terlihat memiliki niat sedikitpun untuk mengakrabkan diri dengan Chiarina.
Melihat kepergian pelayan itu setelah sebelumnya meminta izin padanya, Chiarina berjalan keluar kamar, siap untuk menemui Etienne.
Chiarina berjalan dengan sedikit terburu-buru, hampir berlari. Mungkin jika ada orang yang melihatnya, mereka mengira jika Chiarina sedang kabur setelah tertangkap basah mencuri. Suara langkah kaki terdengar begitu jelas dan keras memenuhi lorong-lorong istana putri yang sepi.
Chiarina setengah berlari dengan satu tujuan, yaitu Etienne dan saat seseorang muncul secara tiba-tiba dari belokan ujung lorong di depannya, Chiarina tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak menabrak orang itu.
Bruk!!
Suara terhantam terdengar bersamaan dengan tubuh Chiarina yang menabrak tubuh seorang laki-laki di depannya, "ouch..." Chiarina mengaduh dengan tubuh yang sudah terduduk di lantai, b****g dan telapak tangannya terasa sakit karena tabrakan itu.
"Kamu tidak apa-apa? Kenapa berlari terburu-buru seperti itu?" Tanya sebuah suara dari laki-laki di hadapannya, Chiarina mendongak untuk melihat laki-laki itu yang tidak lain adalah laki-laki tanpa nama yang ia bawa kemarin, maksud Chiarina, teman laki-lakinya.
Laki-laki itu berdiri di depannya, bahkan tidak terlihat kehilangan keseimbangannya ataupun mengaduh sakit karena di tabrak sama sekali. Dia terlihat baik-baik saja, malah dia sedang menatap Chiarina dengan tatapan bingungnya seakan melihat hal yang aneh. Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Chiarina bermaksud untuk membantu perempuan itu.
Chiarina mendengus, menerima uluran tangan laki-laki itu dengan wajah yang kesal. "Kau ini... Kenapa muncul sembarangan!" Ucap Chiarina menyalahkan anak laki-laki itu.
Mata anak laki-laki itu melebar, setelah Chiarina bangkit dan melepaskan tangannya, ia menunjuk dirinya sendiri, "aku? Muncul sembarangan?"
"Iya! Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi?"
"Ya, ya, itu salahku karena muncul sembarangan di depanmu meskipun kamu bahkan sudah bisa melihatku dari jarak 10 meter sebelumnya. Salahku juga karena kamu tidak bisa menghentikan langkah kakimu dan menabrak ku karena kamu berlarian di lorong." Kata laki-laki itu menyindir Chiarina.
Chiarina bersedekap d**a mendengar sindiran sarkas teman laki-laki nya. Dia masih tidak mau menerima kenyataan jika dia yang salah. "Bagus, kamu menyalahkanku? Lorong ini selalu sepi, mana aku tahu kalau akan ada orang yang tiba-tiba muncul!"
"Nah, makanya itu... Kamu sebaiknya tidak berlarian lagi di lorong! Kamu pikir ini taman bermain?"
"Kenapa kamu mengatur-atur ku sekarang? Ini istanaku." Balas Chiarina tidak mau kalah, ia bahkan tidak sadar dan tidak tahu kenapa saat ini dia bersikap kekanakan. Hanya saja, di hadapan laki-laki di depannya ini, dia merasa dia tidak perlu bersikap dewasa seperti putri yang selalu di ajarkan padanya. Dia bisa menjadi Chiarina. Chiarina yang kekanakan.
"Aku bukannya mengaturmu, tapi kamu bisa saja menabrak orang lain dan menyalahkan mereka seperti yang kamu lakukan sekarang ini padaku." Kata laki-laki itu. Apa yang laki-laki itu katakan memang benar, jauh dalam hati Chiarina, dia setuju dengan laki-laki itu. Tapi egonya tidak ingin mengalah, mau bagaimana pun dia harus menenangkan pertengkaran ini.
Ini pertengkaran pertamanya dengan teman laki-laki nya yang benar-benar 'temannya' jadi dia ingin keras kepala.
Chiarina bahkan melupakan tujuan awalnya berlarian di lorong karena pertengkaran kecilnya dengan anak laki-laki itu sampai....
"Harriet... "
Ah, suara itu.
Mendengar suara yang selalu ingin ia dengar membuat tubuhnya membatu. Ia tahu siapa pemilik suara itu tanpa perlu menoleh ke belakang dimana suara itu berasal.
Daripada 'Harriet' dia lebih suka nama 'Chiarina' yang keluar dari mulut orang itu yang tidak lain adalah kakaknya, putra mahkota Helios Etienne Lopez. Dan seperti biasa, laki-laki itu ditemani ksatria pribadinya yang selalu berdiri di sebelah nya bernama Darius.
Suara itu membuat Chiarina kembali sadar dan ingat akan tujuannya, bahkan sampai lupa tentang laki-laki di depannya yang sedang menatapnya dengan aneh dan bingung melihat raut wajah Chiarina yang mendadak kaku dan sedikit pucat.
Rasanya tangan Chiarina mendadak dingin, dia menjadi gugup dan canggung. Perlahan Chiarina berbalik, menghormat kepada Etienne sekilas, ia melirik teman laki-lakinya di belakang dengan kesal lalu menyikat perutnya diam-diam membuat anak laki-laki itu mengaduh sambil memegangi perutnya.
Mengikuti Chiarina, anak laki-laki itu ikut memberi hormat pada Etienne. "Selamat pagi, saudara. Aku dengar kamu ingin menemui ku, apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Chiarina setelah menangani degup jantungnya yang menggila dan kegugupannya.
Chiarina memasang raut wajah datarnya yang sangat kontras dengan apa yang ia rasakan saat ini. Chiarina melihat wajah Etienne setelah selesai memberi hormat padanya. Seperti biasa, Chiarina tidak bisa menebak apa yang sedang Etienne pikirkan, tapi dia terus menatap kearah anak laki-laki yang berdiri di belakang Chiarina, laki-laki yang Chiarina bawa sebelumnya.
Raut wajah Etienne terlihat datar namun entah mengapa Chiarina bisa merasakan aura yang tidak enak dari tubuh Etienne. Chiarina memiliki perasaan tidak enak akan tujuan Etienne menemuinya kali ini. Aura Etienne terasa sangat dingin, apalagi tatapannya pada laki-laki di belakang Chiarina.
Lama tidak mengatakan apapun, Chiarina memutuskan untuk bertanya lagi pada Etienne, "Saudara... "
Namun belum sempat Chiarina selesai bertanya, Etienne berkata, "dia anak laki-laki yang kau bawa itu?"
"Apa?" Chiarina melirik kebelakang sekilas, ke anak laki-laki yang Etienne maksud. "Kau benar saudara, dia adalah temanku. Teman yang aku bawa ke istana untuk menjadi ksatria ku."
"Apa kamu tidak bisa bersikap lebih v****r daripada ini? Kamu menyelinap keluar istana pada malam hari, dan tidak hanya sampai disana, kamu juga membawa sampah dari tempat itu kemari."
Chiarina terdiam mendengar ucapan Etienne yang sangat mengejutkan nya, ia sadar jika Etienne tidak menyukainya tapi Chiarina tidak pernah membayangkan Etienne yang menghina dirinya. Selama ini yang Etienne lakukan adalah mengabaikannya.
Chiarina menundukkan wajahnya, daripada merasa kesal atas hinaan Etienne, Chiarina lebih merasa sedih. Chiarina benar-benar menganggap Etienne sebagai kakaknya dan mendengar kakaknya sendiri mengatakan hal sekasar itu padanya...
Sedangkan anak laki-laki yang di belakang Chiarina, dia merasa kesal dan bersalah. Ia kesal pada Etienne yang berkata begitu kasar pada Chiarina dan merasa bersalah pada Chiarina yang mendapatkan hinaan itu karena dirinya. Anak laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan erat. Dia maju selangkah sehingga sejajar dengan posisi Chiarina. "Aku bukan sampah seperti yang kamu katakan! Aku akan buktikan padamu jika aku layak untuk menjadi ksatria putri Chiarina."
Etienne menatap anak laki-laki itu dengan matanya yang mengernyit tidak suka. "Saat ini pun kamu sudah gagal. Kamu sudah gagal bahkan sebelum kamu memulainya. Kamu sangat tidak pantas berada disini."
"Kamu mungkin putra mahkota kerajaan ini. Tapi kamu tidak bisa memutuskan apa aku pantas atau tidak. Chiarina sendiri yang memilih ku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menjadi ksatria yang layak untuknya. Aku tidak membutuhkan persetujuan mu."
"Kamu.. sebaiknya tidak memanggil namanya dengan begitu santai seperti itu. Nama itu. Bahkan akupun..." Etienne berdecak, "Tanpa perlu persetujuan ku pun kamu sudah kesulitan kan?"
Etienne melirik kearah Chiarina sesaat sebelum akhirnya kembali menatap anak laki-laki itu dengan tatapan dinginnya, " Tidak ada ksatria yang memanggil nama tuannya seperti itu. Putri Harriet. Itulah yang benar. Kamu memang tidak membutuhkan persetujuan ku. Sebaiknya kamu selalu sadar akan posisimu."
Anak laki-laki itu menatap Etienne dengan nyalang, yang dibalas Etienne tidak kalah dinginnya dengan tatapan berapi-api itu.
Tatapan mata Etienne pada anak laki-laki itu adalah tatapan yang merendahkan yang sangat kental tanpa niat di tutupi sedikit pun. "Kamu hanya seekor anjing yang di pungut oleh putri Harriet."
"Jadi sebaiknya..."
Chiarina memotong ucapan Etienne dengan cepat, "Saudara... Terimakasih telah mengunjungi ku. Aku sangat senang, tapi... Aku sedang dalam masa hukuman, sebaiknya saudara kembali sekarang. Yang mulia raja akan marah jika mengetahui saudara datang untuk menemui ku." Ucap Chiarina, Chiarina kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Etienne.
Senyum yang dipaksakan. Etienne tidak merasa senang melihat senyuman itu. Dan Etienne tidak peduli jika raja mengetahui dirinya yang menemui Chiarina. Tapi karena Chiarina berkata seperti itu, mau tidak mau Etienne harus pergi sekarang. Chiarina mengusirnya.
Masih dengan raut wajah dinginnya, Etienne menatap keduanya sekilas, "aku sudah mengatakan apa yang perlu ku katakan, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada istana karena kamu memungut seseorang yang tidak jelas. Dia bisa saja membawa kutukan."
"Saudara, kumohon..." Chiarina kembali menginterupsi ucapan Etienne saat merasa Etienne sudah melewati batas.
Ia tidak tahu jika ternyata Etienne adalah tipe laki-laki bermulut pedas yang tidak bisa berhenti bicara sebelum puas menghina lawannya.
Etienne berdecak pelan, lalu pergi meninggalkan Chiarina, anak laki-laki itu dan istana putri. Darius yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pertikaian mereka di belakang Etienne, ikut mengikuti Etienne pergi.
Kini tersisa Chiarina dan anak laki-laki itu. Dengan perasaan yang penuh dengan rasa bersalah, Chiarina berkata pada anak laki-laki itu, "aku meminta maaf atas nama Etienne. Dia tidak biasanya berbicara seperti itu pada seseorang. Mungkin dia hanya merasa khawatir dan sedikit berlebihan." Ucap Chiarina dengan tulus.
Anak laki-laki itu menatap Chiarina, "kamu tidak perlu meminta maaf, aku justru yang ingin minta maaf karena diriku dia mengatakan hal buruk padamu." Anak laki-laki itu tiba-tiba berlutut di hadapan Chiarina yang membuat perempuan itu terkejut. "Aku berjanji akan menjadi ksatria yang bisa kamu andalkan di masa depan. Aku bersumpah akan selalu melindungimu. Aku akan menjadi orang pertama yang selalu ada untukmu. Aku akan setia padamu." Anak laki-laki itulah menatap Chiarina dengan tekad yang penuh di matanya.
Dan hal itu berhasil membuat Chiarina terpesona. Anak laki-laki itu mencium punggung tangan Chiarina yang diulurkan oleh perempuan itu. Dengan bibir yang di penuhi senyuman. Chiarina menjawab, "aku menerima sumpah setia mu." Itu adalah sumpah yang hanya terdapat diantara mereka berdua tanpa sesuatu formalitas. Tapi untuk saat ini itu sudah cukup bagi mereka.
Chiarina tahu dia sangat egois, karena dia bahkan tidak berniat untuk melepaskan temannya bahkan setelah mendengar makian Etienne. Sudah jelas laki-laki di depannya ini akan menghadapi banyak ujian dan pertentangan dan kedatangan Etienne saat ini adalah bukti kecilnya yang mungkin belum ada apa-apa nya dibanding rintangan yang akan di hadapi nantinya.
Dan bukannya mengirim anak laki-laki itu kembali, dia malah menerima sumpah anak laki-laki itu. Chiarina hanya mengharapkan satu hal. Tidak ada hal yang buruk terjadi pada mereka berdua.
To Be Continued