MEMORIES 8

1717 Words
Chiron duduk di ruangan meja kerjanya, hari sudah sangat larut menjelang pagi namun pekerjaannya masih menumpuk karena pergi seharian bersama Chiarina. Sehabis naik perahu Chiarina mengajaknya bermain di taman, dan melihat-lihat kuda. Awalnya Chiarina meminta untuk diajari berkuda namun Chiron menolaknya dengan keras. Chiarina masih berusia 15 tahun, menurutnya gadis itu belum kuat untuk menahan kuda maupun duduk dengan benar di atasnya. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu menghentikan kegiatannya yang sedang membaca dokumen dan beralih melihat ke pintu. Tidak lama seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam masuk kedalam ruangannya. Dengan kepala yang tertunduk dan tubuh yang langsung berlutut, pria itu menyerahkan beberapa lembar kertas berisi sebuah data di dalamnya. "Tuan, ini adalah informasi para lady yang anda cari." kata pria itu. Chiron bangun dari tempat duduknya dan menerima berkas yang pria itu berikan. Chiron segera membacanya dengan teliti dengan posisinya yang masih berdiri di depan pria itu. Pria itu adalah anggota 'Moon' sebuah organisasi yang ia buat secara rahasia untuk membantu dirinya dan melindungi Chiarina saat dia tidak ada di sebelah gadis itu. Saat ini Moon memiliki 50 anggota yang semua anggotanya merupakan ahli pedang yang memiliki keahlian melebihi ksatria tingkat 1 yang dilatih selama 20 tahun. Dari Moon Chiron juga memperoleh banyak uang. Moon menjual informasi yang dapat di pastikan akurat, tidak hanya itu mereka juga menyediakan jasa assassin. Moon telah terbentuk sejak 3 tahun yang lalu dengan anggota awal berjumlah 4 orang. Sekarang tidak hanya menjual jasa, Moon sudah memiliki beberapa bisnis yang cukup besar di kerajaan mulai dari senjata, sampai perhiasan. Tentu saja perusahaan bisnis itu memakai nama dan gelar palsu Chiron yang laki-laki itu beli. "Aku sudah membaca semuanya, kamu boleh pergi." ucap Chiron sambil menaruh berkas yang baru ia baca ke meja. Pria itu mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Saat ini Chiron tidak perlu khawatir anggota akan ketahuan atau tertangkap karena pelayan dan penjaga istana putri adalah orang-orang yang memakan gaji buta. Bahkan sebaliknya, anggota Moon yang justru menjaga istana putri selama 3 tahun belakangan ini atas perintah Chiron. Sebenarnya Chiron di berikan ruang kerja di istana utama namun dia menolaknya, tentu saja alasannya karena Chiarina. Chiron tidak ingin memiliki kantor yang jauh dari gadis itu. Bagaimanapun juga alasan dia menjadi kesatria dan bekerja mati-matian seperti ini adalah demi Chiarina. Lucu bukan jika pekerjaannya yang justru membuat dia jauh dari Chiarina. Chiron menghela napasnya, dia tidak ingat kapan terakhir kali dia memiliki waktu tidur yang cukup. Meski begitu, Chiron merasa pengorbanannya setara dengan apa yang ia dapat. "Aku harus memilih lady yang cocok untuk Chiarina. Meskipun informasi mereka pasti akurat, aku masih ingin menyelidikinya sendiri." Chiron tidak pernah tenang dan lelah jika hal itu berkaitan dengan Chiarina. Dia juga tidak menerima sedikitpun kesalahan karena taruhannya adalah keselamatan Chiarina. Chiron melihat kalender yang ada di mejanya. Tinggal 3 hari lagi sebelum dia pergi berperang. Banyak persiapan yang harus ia lakukan untuk perjalanan perang yang mungkin akan memakan waktu selama 1 sampai 2 tahun itu. Di waktu yang singkat itu juga dia harus memastikan jika Chiarina akan hidup dengan tenang selama dia pergi. Chiron tidak membawa anggota Moon nya, dia lebih memilih anggotanya menjaga Chiarina selama dia tidak ada. Chiron melihat kearah jubah hitam miliknya yang tergantung di gantungan dekat pintu. Perlahan dia berjalan kearah gantungan itu lalu mengambil jubahnya dan memakainya. Chiron berjalan keluar dari istana putri dengan sunyi. * * * Di ruangan itu terdapat sebuah meja bundar yang besar dan kursi-kursi yang di duduki oleh para bangsawan yang mendukung putra mahkota. Hari memang sudah tengah malam, namun waktu-waktu seperti yang justru mereka tunggu. "Yang mulia, menurut saya itu terlalu beresiko. Ratu memiliki Viscount Nelson di pihaknya, dan viscount Nelson memegang pabrik batu bara yang mendominasi kerajaan." ucap Count Hall kepada Etienne. "Saya setuju yang mulia, Viscount Nelson adalah orang yang sulit di tangani." sahut pria bangsawan lainnya. Etienne diam memikirkan pendapat bangsawan yang keberatan, "Viscount Nelson? Maksud anda viscount muda yang baru diangkat itu? Jeno Nelson. Saya ingat, bukankah dia memiliki seorang adik perempuan?" Para bangsawan yang tidak mengerti maksud Etienne saling melempar pandangan, "apa maksud anda yang mulia?" "Hmm... Maksud saya, bukankah hubungan adiknya tidak baik dengan para wanita bangsawan lain? Saya ingat 5 tahun yang lalu dia mengacau di pesta teh adik saya." "Reputasi lady Nelson juga jadi kurang baik sejak saat itu. Bukankah dengan pertengkaran putri dengan lady Nelson saja sudah cukup untuk merenggangkan hubungan ratu dengan viscount Nelson." ucap Etienne. "Maksud anda kita akan menggunakan putri untuk membuat hubungan ratu dan viscount menjadi renggang?" tanya Viscount Allen. Brakk!!! Suara gebrakan meja terdengar nyaring memenuhi ruangan membuat semuanya seketika terdiam dengan wajah mereka yang memucat. "Beraninya terlintas di kepala mu untuk memanfaatkan adik ku!" "Ma... Maaf... Maafkan saya yang mulia, saya pantas mati!" ucap Viscount Allen dengan keringat dingin yang memenuhi keningnya, tangannya bergetar ketakutan. Etienne menatap nyalang kepada semua bangsawan yang duduk disana, "Ingat kata-kata saya! Tidak ada yang boleh menyentuh adik saya! Putri Harriet tidak diizinkan untuk terlibat dengan rencana ini dalam bentuk apapun! Dan saya tidak menerima kesalahan!" Semuanya terdiam dengan kepala mereka yang tertunduk, tidak ada yang berani membantah ucapan Etienne karena pria itu pasti akan menjadi raja mereka di masa depan. Mencari masalah dengannya sekarang sama saja dengan mengaktifkan bom waktu. Mereka semua menunduk kecuali satu orang, yaitu adipati muda agung keluarga Altair, yaitu Athen Everet Altair. Laki-laki bermata ungu yang tidak terlihat takut pada apapun. Pria itu justru tersenyum miring menyaksikan sikap Etienne hanya untuk adiknya. Dia ingin sekali mengejek pria itu saat ini tapi dia menahannya. Etienne bersikap seolah acuh pada adiknya namun pada kenyataannya justru sebaliknya. Pria itu sangat peduli pada adiknya. 'Sayang sekali, adiknya bahkan tidak tahu jika ternyata kakaknya sangat peduli padanya seperti ini.' batin Athen mengejek. "Ja... Jadi, apa yang anda rencanakan yang mulia?" seorang bangsawan memberanikan diri untuk bertanya setelah melihat keadaan yang sedikit lebih tenang. Etienne kembali duduk dengan tenang di kursinya. "Aku dengar Viscount Nelson adalah seseorang yang sangat menyayangi adiknya. Dan aku dengar earl Kahil belum memiliki pasangan. Bukankah itu adalah sebuah kesempatan yang bagus?" kata Etienne seraya melihat kearah Athen yang sejak tadi menatap dirinya dengan tatapan mengejek. Etienne tahu itu, dia bisa merasakan tatapan itu meskipun jarak mereka cukup jauh. Sejak tadi Etienne menahan rasa kesalnya pada Athen, namun dengan ini dia bisa melampiaskan rasa kesalnya sekaligus menjalankan rencananya. *Earl Andrew Kahil adalah tangan kanan dan orang kepercayaan Athen. Athen yang mendengar ide tiba-tiba Etienne tersedak oleh ludahnya sendiri. Senyuman sumringah yang penuh ejekannya sudah hilang entah kemana sedangkan Earl Kahil yang di maksud Etienne sudah berdiri dengan gugup di belakang kursi Athen. "Yang mulia... Bagaimana bisa anda memutuskan sendiri seperti ini. Bagaimanapun Earl Kahil adalah asisten saya, saya akan kerepotan jika dia menikah tiba-tiba." kata Athen menyuarakan keberatannya. Para bangsawan yang lainnya mulai berbisik membenarkan ucapan Athen. Mau bagaimanapun juga kediaman adipati agung Altair bukanlah sesuatu yang bisa di sepelekan seperti ini. Kini giliran Etienne yang menyeringai dengan senyum mengejeknya, "anda tenang saja, saya bukanlah seorang tuan yang tidak bertanggung jawab. Saya hanya perlu earl untuk bertunangan dengan nona Nelson untuk beberapa lama. Jika Earl masih tidak menyukai nona Nelson setelah bertunangan dalam jangka waktu itu. Saya yang akan membantu Earl Kahil untuk lepas dari status pertunangan itu. Saya juga akan memberikan imbalan yang besar atas pekerjaan Earl." "Setelah hubungan ratu dan Viscount Nelson merenggang, maka kekuatan ratu akan turun drastis. Akan semakin mudah untuk kita menjatuhkannya." Para bangsawan kembali berdiskusi kebanyakan dari mereka menyetujui strategi Etienne yang bahkan tidak memiliki resiko kerugian. Berbeda dengan Athen, raut wajah pria itu sudah tidak enak sejak Etienne menyebut nama asistennya dan melibatkannya ke dalam rencana. Athen menghela napasnya, "bagaimanapun juga, Earl Kahil adalah orang yang sangat saya butuhkan. Saya tidak ingin karena ini dia jadi tidak bisa membantu saya. Pekerjaan saya sudah sangat menumpuk." "Saya akan memberikan anda satu orang saya yang sangat kompeten untuk membantu anda." jawab Etienne. "Bagaimana bisa saya percaya dengan orang yang anda kirim." "Apa kediaman Altair begitu lemahnya sampai khawatir dengan satu orang mata-mata. Tapi tentu saja saya tidak mungkin melakukan itu." Mata Athen menyipit, menatap tajam kepada Etienne yang justru semakin senang dengan kekesalan Athen. "Baiklah, saya menyetujui rencana putra mahkota." kata Athen pada akhirnya. Dalam hati, Athen berjanji jika dia akan membalas perbuatan Etienne, dan saat itu terjadi, dia akan menertawakannya. * * * Etienne berjalan menyusuri koridor istana pangeran. Rapat memakan waktu yang cukup lama karena selain membahas rencana menjatuhkan ratu, mereka juga membahas tentang bisnis dan kehidupan sosial kaum bangsawan. Sebagai putra mahkota kerajaan Etienne diharuskan menghafal dan tahu semua yang terjadi di kerajaan. Itu cukup membuat kepalanya sakit dan pusing. Hari sudah subuh menjelang pagi. Etienne bahkan belum sempat tidur dan beberapa jam lagi dia memiliki pertemuan resmi kerajaan dengan raja. Dengan mata yang terlihat lelah, Etienne berjalan menuju kamarnya, "Bagaimana kabar Chiarina?" tanya Etienne seraya menutupi matanya yang terasa berat dengan telapak tangannya. "Tuan putri baik-baik saja, kesatrianya yang bernama Chiron Istvan sepertinya sangat menjaga putri. Untuk saat ini anda tidak perlu mengkhawatirkannya." jawab Darius. Etienne menghela napasnya dengan berat, "bukan itu maksudku, bukankah beberapa hari lagi laki-laki itu akan pergi berperang? Apa adikku menangis mengetahuinya?" Darius diam sesaat ragu-ragu menjawab, "tuan putri... Tuan putri menangis. Namum tidak lama karena tuan Chiron Istvan langsung menenangkannya. Sepertinya laki-laki itu juga sedang bekerja keras agar tuan putri hidup dengan nyaman sementara dia pergi." "Saya pikir tuan Chiron Istvan adalah kesatria yang memiliki kemampuan dan pantas melindungi putri. Laki-laki itu bahkan melakukan segalanya untuk melindungi tu..." Kata - kata Darius terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Etienne. "Berhenti bicara omong kosong. Aku tidak menyuruhmu untuk terus memujinya. Yang dia lakukan bahkan belum seberapa dari yang Chiarina telah berikan untuknya. Setidaknya dia harus tahu diri dengan melakukan apa yang ia bisa lakukan." kata Etienne dengan ketus. "Ah! Mendengar suaramu membuat kepala ku semakin sakit. Sebaiknya kamu pergi!" ucap Etienne begitu sudah dekat dengan kamarnya, pria itu langsung masuk kedalam kamarnya meninggalkan Darius yang kebingungan. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk memuji-muji komandan pasukan pertama. Dia hanya membicarakan faktanya. Dan menurut Darius, Etienne sedikit berlebihan memaki Chiron padahal dengan jelas laki-laki itu melakukan semua hal lebih baik daripada siapapun. Bahkan Dirinya sekalipun tidak bisa menandingi ketekunan Chiron. Karena tidak tahu harus melakukan apa, Darius pun memutuskan untuk ikut pergi dan beristirahat sebentar sebelum kembali ke kediaman keluarganya dan mengurusi pekerjaannya sebagai adipati. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD