Chiron memaku di tempatnya. Jantungnya lagi-lagi berdebar hanya karena hal sederhana. Suara langkah Chiarina yang menghampirinya terdengar. Saat suara itu semakin dekat, Chiron berusaha untuk merubah suasana hati dan raut wajahnya. Dia tidak ingin Chiarina melihat sisi dirinya yang tidak perlu gadis itu ketahui.
Para kesatria bangun dan memberi salam kepada Chiarina, begitu juga Chiron yang langsung berbalik dan ikut memberi salam. "salam kepada yang mulia putri Harriet."
Chiarina mengangguk samar menerima salam mereka, "maafkan aku, sepertinya aku menganggu latihan kalian."
"Sama sekali tidak, yang mulia." jawab kesatria dengan cepat.
Chiarina tersenyum, "aku lega jika aku tidak menganggu. Aku datang kesini karena tuan Istvan sudah berjanji akan menemani ku hari ini. Jika kalian tidak keberatan, aku ingin meminjamnya sebentar."
"Kami sudah selesai latihan dan sedang beristirahat, lagi pula hari ini komandan memang seharusnya libur." jawab mereka.
"Terimakasih."
Chiarina menatap Chiron yang juga sedang menatapnya, Chiarina tersenyum lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Chiron. Saat itu karena terburu-buru Chiarina tidak terlalu memperhatikan suasana disana. Jadi dia tidak menyadari raut wajah canggung dan juga lega para kesatria.
Chiron juga tidak terlihat seperti biasanya, laki-laki itu biasanya selalu tersenyum dengan ekspresi yang cerah setiap kali Chiarina datang mencarinya. Namun kali ini Chiron hanya menatap Chiarina dengan wajahnya yang datar dengan pikiran yang mungkin saja tidak ada disana.
Chiarina berjalan menuju danau. Sebuah danau buatan di sisi barat istana putri yang juga merupakan pembatas antara istana putri dan pangeran. Danau itu adalah danau yang indah dengan banyak tumbuhan teratai yang tumbuh disana dan semak-semak bunga di pinggirnya.
Danau itu bukanlah milik istana putri maupun istana pangeran, namun milik keduanya. Meski mereka bebas ke danau itu, Chiarina dan Etienne belum pernah bertemu satu sama lain di kawasan bebas kepemilikan itu.
Di pinggir danau sudah terdapat perahu kayu yang cantik seperti selera Chiarina, perahu itu memiliki ukiran bunga dan juga hiasan bunga asli di tiang-tiang yang menjadi penahan kain di atas perahu yang berguna melindungi penumpangnya dari sinar matahari langsung.
Di dekat perahu sudah ada beberapa orang yang menjaga perahu. Chiarina dengan riang menggenggam tangan Chiron dan menariknya agar berjalan lebih cepat. "Hati-hati Chia..."
Chiarina yang mendengar peringatan Chiron hanya tersenyum semakin lebar, "Ayo Chiron! Jalan lebih cepat!"
Saat mereka telah sampai, Chiron masuk kedalam perahu lebih dulu lalu membantu Chiarina dengan menggendongnya dan menaruhnya ke tempat duduk gadis itu. "Jangan banyak bergerak, kamu bisa terjatuh. "Chiron kembali mengingatkan saat ia hendak menjalankan perahunya.
Chiron adalah seorang ahli pedang, namun dia jua bisa beberapa sihir. Contohnya menggerakkan perahu tanpa dayung. Dia menggerakkannya dengan mana miliknya.
Meskipun itu adalah hal kecil bagi Chiron yang sudah melakukan latihan mana dan aura sejak 5 tahun yang lalu. Tapi bagi Chiarina itu adalah hal yang luar biasa, karena Chiarina tidak memiliki apapun itu yang di sebut mana.
Chiarina tidak pernah bosan untuk takjub saat melihat Chiron yang menggerakkan perahu tanpa perlu mendayung. Chiarina suka melihat Chiron melakukan itu, karena itu juga Chiarina sering mengajak Chiron naik perahu bersamanya.
"Wah... Chiron memang luar biasa!" puji Chiarina seraya melihat ke bawah perahu yang bergerak.
"Kamu sudah mengatakan hal itu puluhan kali." Chiron terkekeh geli.
"Aku akan mengatakannya ribuan kali lagi sampai Chiron bosan mendengarnya."
"Kalau begitu kamu akan kesulitan. Karena mendengar ribuan kali pun sepertinya aku tidak akan bosan."
Chiarina tertawa mendengar rayuan Chiron, "kamu tidak akan tahu nanti."
"Kalau begitu coba saja, kamu harus terus bersamaku untuk membuktikannya, dan itu mungkin akan memakan waktu seumur hidup." kata Chiron.
Chiarina menutup telinga, "hentikan! Itu terdengar menyeramkan."
"Apa maksudmu menyeramkan?"
"Aku tidak tahu, itu hanya terdengar agak menyeramkan untukku."
Chiron mengernyit, raut wajahnya sudah berubah muram. "Maksudmu kamu tidak akan selamanya bersama ku? Kamu sudah berjanji padaku bukan?"
"Hentikan Chiron, aku tidak ingin membahasnya lagi."
Perahu tiba-tiba berhenti berjalan. Chiarina melihat ke kanan dan ke kiri, "loh, kenapa berhenti? Kita belum selesai memutari danau."
"Kamu yang menyuruhku berhenti, kan?"
"Astaga... Bukan perahu ini yang ku suruh berhenti." kata Chiarina, sepertinya Chiarina belum menyadari situasinya sekarang.
Chiron menatap Chiarina dari tempat duduknya yaitu di hadapan Chiarina. Jarak mereka hanya sekitar setengah meter, Chiron bisa melihat dengan jelas raut wajah Chiarina begitupun dengan Chiarina."Aku akan kembali menjalankan perahu ini asal Chia menjawab pertanyaan ku, aku ingin Chia menjawabnya dengan jujur." Chiron bertanya dengan wajahnya yang memelas.
Chiarina sadar akan perubahan raut dan suasana hati Chiron tapi dia berusaha untuk menyangkalnya. Menurutnya tidak ada alasan untuk Chiron sedih. Chiarina berpikir jika Chiron justru akan senang jika Chiarina menjauh darinya mengingat betapa dia merepotkan laki-laki itu.
"Chia, apa benar jika kamu sudah bertunangan dengan seorang pangeran?" Chiron bertanya dengan suaranya yang pelan. Rasanya tenggorokan nya kering saat mengatakan itu.
Chiarina mengernyit dengan mata yang membelalak. "Bagaimana... Bagaimana kamu mengetahui hal itu?"
"Itu tidak penting. Jadi benar, Chia sudah memiliki tunangan."
"Chiron... Aku... Bukannya aku tidak ingin memberitahu mu tapi..."
Chiron buru-buru memotong ucapan Chia, "Tidak masalah Chia, aku tidak marah padamu. Yang terpenting adalah apa kamu mencintai tunangan mu? Maksud ku pangeran itu... Apa kamu menyukainya?" dia tidak peduli jika Chiarina bertunangan dengan pangeran atau siapapun itu. Dia hanya ingin tahu apakah Chiarina menyukai pria itu atau tidak.
Karena Chiron tidak bisa, dia tidak bisa dan tidak rela jika Chiarina mencintai laki-laki lain. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat dirinya mendidih.
"Tentu saja tidak! Aku tidak mencintainya! Jangankan cinta, kami bahkan belum pernah bertemu. Itu hanyalah perjodohan politik dan akan menjadi pernikahan politik juga." sanggah Chiarina.
Chiron mengulum senyumannya, jawaban tegas Chiarina sudah membuat dirinya lega. Setidaknya putra mahkota itu tidak akan mendapatkan hatinya Chia sudah membuat Chiron sedikit tenang. Untuk saat ini hal itu sudah cukup untuk Chiron.
Dia akan memikirkan cara agar bisa membatalkan pertunangan itu nanti. Karena Chiarina miliknya.
Selama ini Chiron telah menjaga perempuan itu seperti sesuatu yang paling berharga di hidupnya, lebih dari hidupnya sendiri. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambil Chiarina dari dirinya.
"Itu sudah cukup, terimakasih Chia." kata Chiron.
Chiarina tidak tahu apa maksud Chiron dengan 'cukup' tapi melihat raut wajah Chiron yang kembali cerah bahkan lebih cerah dari sebelum mereka menaiki perahu membuat Chiarina tidak terlalu memikirkannya.
Chiarina menghela nafasnya, "kalau begitu ayok, jalankan lagi perahunya! Aku ingin memetik bunga yang ada di pohon itu!" Chiarina menunjuk pohon bunga yang berjarak tidak jauh dari perahunya saat ini.
Pohon bunga itu terletak di daerah istana pangeran, pohon besar dengan bunga berwarna putih yang cantik. Aroma bunga itu tercium hingga ke penciumannya.
Chiron menuruti ucapan Chiarina. Setelah mereka berada tepat di bawah ranting-ranting pohon itu yang sedikit mencorong ke danau, Chiarina hendak berdiri mengambil bunga di ranting-ranting itu.
"Biar aku saja, kamu bisa jatuh nanti." ucap Chiron menghentikan niat Chiarina yang ingin memetiknya sendiri.
Chiarina mengangguk lalu kembali duduk sedangkan Chiron memetiknya satu persatu bunga yang bisa ia jangkau dengan perlahan. Sebenarnya dia bisa saja mengambil bunga-bunga itu dengan sihir namun Chiarina sepertinya tidak akan menyukainya.
Saat tangan Chiron sudah penuh dengan lusinan bunga, Chiron memberikannya pada Chia setelah merangkainya menjadi sebuah buket bunga yang cantik.
Chiarina menerima buket bunga itu dengan hati yang berbunga-bunga, "terimakasih Chiron." Chiarina tersenyum senang sambil menghirup aroma bunga itu dalam-dalam.
"Etienne?" gumam Chiarina saat tanpa sengaja melihat Etienne yang melihat kearahnya saat menghirup bunga tadi. Namum anehnya Etienne justru berbalik badan dan pergi begitu mata mereka bertemu.
Seperti biasa Etienne di temani oleh adipati muda Darius, sepertinya Etienne baru selesai menghadiri sebuah pertemuan dengan para bangsawan, Chiarina bisa melihat dari pakaian yang di kenakan Etienne dan Darius yang terlihat lebih formal dari biasanya. Yah, meskipun pakaian pria itu selalu terlihat formal dan mewah.
Melihat Etienne yang bahkan langsung memalingkan tubuhnya begitu bertatapan dengannya membuat Chiarina sedih. Ia pikir hubungannya akan membaik setelah 5 tahun Chiarina membantu bisnis Etienne dengan adipati agung keluarga Altair namun nyatanya tidak.
Selama 5 tahun bisa dihitung jari Chiarina berpapasan dengan Etienne yang sedang mengurusi barang-barangnya di gudang istana putri. Bahkan chiarina lebih sering bertemu dengan adipati agung Altair yang memiliki kediaman jauh dari istana putri saja.
Itu tidak buruk juga, Chiarina jadi bisa mengenal adipati agung Altair. Pria itu adalah pria yang baik dan sangat terlihat bijaksana.
Keluarga adipati agung Altair memang terkenal dengan kehebatan dan kekayaannya. Kekayaannya bahkan hampir menyamai kerajaan Centurra itu sendiri. Semua penerus keluarga Altair adalah orang yang hebat, dalam seni berpedang, bela diri, politik ataupun bisnis perekonomian. Bahkan ada rumor jika keluarga Altair memiliki hubungan darah dengan keluarga penyihir menara yang sangat hebat dan keturunannya yang selalu berbakat. Namun belum ada bukti dan konfirmasi tentang kebenaran rumor itu dari keluarga adipati agung Altair maupun menara penyihir.
"Ada apa Chia?" Chiron mengikuti arah pandangan Chia, dimana disana ia melihat punggung Etienne.
Chiron langsung mengerti mengapa tiba-tiba ekspresi Chiarina berubah, "Pangeran Helios mungkin sedang sibuk makanya dia tidak bisa menyapa mu. Bagaimanapun juga dia adalah seorang putra mahkota." hibur Chiron. Chiron tahu betapa inginnya Chiarina dekat dengan kakaknya yang selalu mengacuhkannya. Chiarina selalu menceritakan Etienne padanya.
"Kamu benar, kakak adalah orang yang sibuk." Kata Chiarina merenggut.
"Oh ya Chia, bukankah katamu sebentar lagi kamu akan di berikan wewenang untuk mengatur istana putri sesuai keinginanmu?"
"Ah! Aku hampir saja melupakan itu, aku ingin meminta saran Chiron mengenai siapa saja yang akan ku pekerjakan setelah memecat semua pegawai lama."
Chiron terkejut, "kamu akan memecat semuanya?"
Chiarina mendengus, "pertanyaan macam apa itu, bukankah itu sudah jelas. Mereka berkerja seenaknya saat aku masih kecil bahkan banyak dari mereka yang lalai. Apa kamu ingat 5 tahun yang lalu kita pernah beberapa kali memakan makanan yang tidak layak? Mereka pasti mengambil anggaran ku untuk keperluan pribadi. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang seperti itu terus berada di istana ku dan memanfaatkan ku." ucap Chiarina dengan kesal.
"Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku melupakan apa yang telah mereka lalukan padamu." kata Chiron tak kalah kesalnya dengan Chiarina.
'Berani sekali dia memperlakukan Chia seperti itu.' batin Chiron memaki. 'Lihat saja, setelah mereka di pecat dan keluar dari istana, aku akan memberi mereka pelajaran.'
"Jadi Chiron, aku berpikir mengambil beberapa nona muda ke sisi ku. Bagaimana menurutmu?"
"Itu tidak buruk,"
Chiarina merogoh sesuatu dalam kantungnya, secarik kertas berisi nama-nama nona muda yang ingin ia pekerjakan. Chiarina memberikannya pada Chiron. "Itu adalah nama-nama lady yang ingin ku pekerjakan di istana putri."
Chiron menerimanya dan membacanya sekilas, "aku akan menyelidiki mereka dan memberitahumu nama-nama lady yang bisa kamu percayai."
Chiarina tersenyum tulus, "terimakasih Chiron. Aku benar-benar sangat terbantu karena dirimu."
"Ini bukanlah hal yang besar, aku ingin memastikan kamu aman selama aku pergi berperang. Ini juga demi ketenangan diriku."
To Be Continued