- 5 tahun kemudian -
"Chiron! Apa yang kamu lakukan?" teriak Chiarina sambil mendongak ke arah atas pohon dimana disana terdapat seorang laki-laki yang sedang tidur di atas ranting besar pohon tersebut.
"Turun! Turun sekarang juga!" titah Chiarina kepada laki-laki itu sambil menunjuk-tunjuk ke tanah rerumputan yang ia pijak.
Laki-laki itu melirik Chiarina yang berdiri di bawahnya, "iya, iya. Kamu menyingkir dulu nanti tertimpa." kata laki-laki itu.
Mengikuti ucapan laki-laki itu, Chiarina menjauh dari bawah pohon. Tidak lama laki-laki itu melompat turun dengan sempurna. Padahal ranting yang ia tiduri sebelumnya berjarak cukup jauh dari tanah.
"Ada apa Chia?" tanya laki-laki itu yang tidak lain adalah Chiron. Dibanding 5 tahun yang lalu, kini Chiron telah tumbuh sebagai laki-laki yang tampan. Tubuhnya bahkan jauh lebih tinggi dari pada Chiarina dengan tubuh yang proposional dengan otot di perutnya. Mata merah pria itu terlihat semakin tajam dari sebelumnya.
Sedangkan Chiarina, Chiarina juga tumbuh sebagai putri yang sangat cantik.
Chiron menatap Chiarina, ia terkejut saat mendapati wajah Chiarina yang telah berlinangan air mata. Hidung dan matanya memerah, matanya pun berkaca-kaca. Chiarina bahkan tidak berusaha sedikitpun untuk menutupi air matanya.
Chiron yang melihat itu panik segera menghampiri Chiarina, refleks memeluknya.
"Kenapa? Ada apa? Apa kamu terluka?" Chiron memeluk Chiarina dengan erat.
Chiarina terus saja menangis di dalam pelukan Chiron sampai Chiron merasa jika pakaiannya basah oleh air mata Chiarina.
Chiron tidak tau mengapa Chiarina menangis, jadi dia membiarkan gadis itu menangis dan menunggu dia mengatakan alasannya pada dirinya.
Tangisan Chiarina berlangsung cukup lama, sampai gadis itu telah berhenti barulah Chiron melonggarkan pelukannya, ia menatap wajah Chiarina yang telah sembab dan merah dengan sedih. Tangan Chiron mengusap sisa air mata Chiarina. "Ada apa Chia? Kenapa kamu menangis? Aku terluka melihatmu menangis seperti ini."
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Chiarina berbicara, "i- itu.. Ka- hiiks karena Chiron!!"
Chiron terdiam, dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Chiarina. Dia segera memikirkan kesalahan apa yang telah ia lakukan. Namun sekeras apapun dia mengingat, dia benar-benar tidak melakukan sesuatu yang akan membuat Chiarina kesal.
"Apa yang telah aku lakukan Chia? Kumohon jangan menangis... Aku memang bersalah." meskipun begitu, Chiron tetap meminta maaf.
"Karena Chiron akan meninggalkan ku!"
Kata Chiron langsung menimpali ucapan Chia, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"
"Bohong!"
"Aku tida--"
"Chiron berbohong! Chiron berbohong padaku! Aku membencimu!"
Mendengar kata-kata Chiarina membuat Chiron untuk sesaat memaku di tempatnya, laki-laki itu terlihat terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Chia... Apa yang harus aku lakukan agar Chia tidak membenciku?"
"Kalau begitu jangan pergi!"
"Tapi aku memang tida--"
"Chiron akan pergi ke medan perang kan?!" teriak Chiarina.
Chiron kembali terdiam, seketika suasana menjadi hening dengan angin yang berhembus cukup kencang.
"Udara disini cukup kencang Chia, ayo kita masuk kedalam dulu. Kamu bisa masuk angin." Chiron melepas jubah ksatrianya dan hendak memakaikannya pada Chiarina namun Chiarina menolaknya.
"Jangan mengubah topik pembicaraan, Chiron! Jawab aku. Apa benar kamu akan pergi ke medan perang?"
"Chia.... Aku... Dari mana kamu tahu itu?"
"Semua putri bangsawan mengetahuinya, hanya aku yang tidak tahu! Sebenarnya kamu menganggap ku teman mu atau tidak? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku dan membuat ku tahu dari mulut orang lain?"
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku akan mengatakannya padamu, hanya saja... Aku menunggu waktu yang tepat. Karena aku tidak ingin kamu menangis seperti sekarang ini."
"Benarkah? Kapan kamu akan memberitahu aku kalau begitu? saat kamu sudah pergi?"
Chiron terdiam untuk beberapa saat, ia menundukkan kepalanya."Chiron... Jangan pergi... Kumohon, jangan pergi! Jangan pergi... Jangan tinggalkan aku." Chiarina memegang kedua lengan Chiron, meremasnya dengan kencang sementara wajahnya yang telah di banjiri oleh air mata bersandar ke d**a laki-laki yang merupakan ksatrianya itu.
"Maafkan aku, Chia. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Ini adalah kewajiban ku dan perintah dari yang mulia raja."
Chiarina menggigit bibir bawahnya cukup keras, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Chiron nanti, bagaimana jika Chiron terluka? Bagaimana jika Chiron tidak kembali? Aku akan kembali sendirian."
Chiron melepaskan tangan Chia yang menggenggam lengannya, lalu menggenggam kedua tangan Chiarina. "Tidak akan. Aku pasti akan kembali pada Chia dengan kemenangan bersamaku. Aku berjanji."
Tangis Chiarina mereda, dia berusaha untuk mempercayai ucapan Chiron. "Berjanjilah padaku, kamu tidak akan terluka." kata Chiarina.
"Itu... Chia..." Chiron ragu-ragu menjawab Chia.
"berjanjilah Chiron!" Chiarina menuntut. Hanya di depan Chiron, Chiarina tidak perlu berpura-pura, dia bisa menjadi gadis keras kepala bahkan kekanakan.
Chiron sudah terlihat pasrah, dia juga tidak ingin Chiarina kembali sedih bahkan menangis jika dia tidak memberikan apa yang gadis itu inginkan. "Baiklah Chia, aku berjanji jika aku tidak akan terluka."
Chiarina tersenyum puas, rasanya beban di hatinya sedikit berkurang. "Kau sudah berjanji padaku, Chiron!" katanya refleks memeluk tubuh Chiron.
Chiron mematung di tempatnya, jantungnya berdebar sangat keras saat penciumannya mencium aroma parfum dari tubuh Chiarina yang memeluknya. Aroma buah persik yang membuat candu. Ini bukan pertama kalinya Chiarina memeluk Chiron. Namun tetap saja Chiron selalu berdebar dan tidak akan pernah terbiasa dengan itu.
Chiron ragu-ragu membalas pelukan Chiarina. "Ayo sekarang kita masuk dulu, angin benar-benar sedang kencang, kamu bisa sakit." ucap Chiron kembali hendak menaruh jubahnya dan kali ini Chiarina tidak menolaknya seperti sebelumnya.
Chiarina menuruti ucapan Chiron tanpa bantahan, dia mengikuti langkah Chiron yang memandu dirinya. "Sebaiknya Chia beristirahat saja, Hari juga sudah mulai gelap dan cuacanya kurang bagus hari ini." ucap Chiron sambil mengarahkan Chiarina kembali ke kamarnya.
Selama perjalanan melewati para pelayan, mereka hanya diam dan membungkuk saat Chiarina dan Chiron melewati mereka. Sudah 5 tahun berlalu, kini kedekatan Chiarina dan Chiron bukan lagi sebuah rahasia. Dan saat ini posisi Chiron bahkan jauh lebih tinggi dari pada posisinya 5 tahun yang lalu sebagai kesatria termuda yang jenius. Dalam 5 tahun terakhir Chiron benar-benar membuktikan kemampuannya, sehingga selain menjadi kesatria pelindung Chiarina, Chiron juga merupakan komandan di pasukan pertama menggantikan Darius Nightingale, adipati muda yang menjadi kesatria pelindung Etienne.
Darius sebentar lagi akan menikah dan menjadi adipati yang memiliki tugas dan kesibukannya sendiri, menjadi komandan pasukan akan sangat memberatkan baginya.
Selain itu kemampuan Chiron juga tidak bisa di pandang sebelah mata, Chiron sudah bisa menyamai kemampuan Darius yang usianya lebih 6 tabun lebih tua darinya.
"Mana mungkin aku bisa beristirahat saat tahu jika Chiron akan pergi sebentar lagi. Aku tidak ingin membuang waktu dengan percuma."
Chiron menghela napasnya, "Jangan keras kepala Chia, jika kamu sakit bukankah itu lebih menyayangkan?"
"Tapi kalau kita bermain di dalam istana aku tidak akan sakit." Chiarina menggerutu.
"Chia... Hari sudah gelap. Bukan aku tidak ingin bermain denganmu. Tapi kamu pasti lelah. Aku berjanji besok aku akan menemanimu bermain."
Mata Chiarina kembali berbinar, "baiklah... Aku akan istirahat sekarang agar aku bisa bangun lebih pagi besok." kata Chia sambil tersenyum.
Mereka telah sampai di depan pintu kamar Chiarina. Chiron membukakan pintu kamar untuk Chia. "Sampai jumpa besok, Chiron." kata Chiarina seraya masuk kedalam kamarnya. Chiron hanya membalasnya dengan senyuman lalu menutup kembali pintu kamar Chia.
***
Cuaca sangat baik hari ini, matahari tidak terasa terik karena langit yang berawan, udara terasa sejuk dan tidak terlalu berangin. Cuaca yang sangat cocok untuk latihan.
Sambil menunggu Chiarina bangun dan bersiap-siap Chiron memutuskan untuk berlatih sebentar bersama dengan para kesatria lainnya.
Suara gesekan pedang terdengar nyaring di sekitar mereka. Chiron sedang melatih anak buah kesatrianya dengan bertanding dengan mereka. Tentu saja tidak ada seorang pun yang berhasil menang melawan Chiron. Meski tahu itu, mereka senang hanya karena bisa berlatih melawan Chiron. Bagi mereka itu adalah sebuah kehormatan. Dan mereka juga tidak sabar pergi berperang bersama Chiron di perang pertama laki-laki itu. Mereka penasaran seperti apa laki-laki itu, komandan mereka, komandan termuda di seluruh kerajaan di medan perang. Mereka menaruh banyak harapan pada Chiron.
Trang!!!
Suara pedang yang jatuh di susul sorakan terdengar, pedang Chiron mengarah ke leher lawannya yang sudah jatuh terjerembab ke tanah. Chiron kembali memenangkan pertandingan.
Setelah suara tepuk sorakan mereda, Chiron menurunkan pedangnya dan membantu lawan tandingnya bangun. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Chiron.
"Saya baik-baik saja komandan. Memang ya, komandan sangat hebat. Saya bahkan tidak mendapat celah untuk menyerang."
"Itu karena aku memiliki seseorang yang harus aku lindungi. Aku tidak ingin orang itu terluka karena diriku yang kurang mampu. Aku berusaha untuk tidak memberikan celah apapun pada diriku." kata Chiron, bayangan Chiarina yang tersenyum padanya terlintas di benaknya. Dia tidak akan pernah membiarkan senyum itu menghilang dari wajahnya. Dia akan mempertahankan senyuman itu selama mungkin.
"Ahh.. Orang yang anda maksud itu pasti adalah putri Harriet, benar bukan? Seperti dia sangat berharga bagimu, komandan." seorang kesatria lain menyahuti ucapan Chiron sebelumnya.
"Ya, dia sangat berarti bagiku." balas Chiron.
"Kalau diingat-ingat kalian memang teman masa kecil. Komandan juga merupakan teman satu-satunya yang mulia putri."
Para kesatria mulai membicarakan Chiron dan Chiarina. Chiron tidak keberatan dengan hal itu, itu berarti hubungan mereka memang sangat dekat bahkan di pandangan para anak buahnya. Dan Chiron sangat bangga dengan itu, selain itu juga tidak ada seorangpun yang berani berbicara kurang ajar tentang dirinya ataupun Chiarina, mereka semua tahu seberapa mampunya Chiron untuk membunuh seseorang.
"Sepertinya komandan menyukai putri."
"Itu tidak mungkin, komandan hanya menyayangi putri karena putri adalah teman masa kecilnya."
"Yah, itu mungkin saja. Lagipula sepertinya putri juga sudah memiliki tunangan."
"Aku hampir lupa soal itu sudah lama dan tidak ada kabar lagi soal pertunangan itu tapi sepertinya pertunangan itu masih berlanjut. Betapapun juga itu adalah permintaan ratu dan pondasi kerjasama antar kerajaan."
Mereka tidak tahu bagaimana raut wajah Chiron saat mereka bergosip tentang pertunangan putri karena mereka terlalu bersemangat membahasnya. Itupun juga karena mereka sedang istirahat dan Chiron tidak pernah keberatan jika mereka membicarakan tuan putri ataupun dirinya selama itu bukanlah hal yang buruk. Dan mereka tidak berpikir jika pertunangan putri adalah hal yang buruk.
Namun pertunangan Chiarina adalah sesuatu yang baru Chiron dengar dan ketahui. Selama ini Chiarina maupun yang lainnya tidak pernah membahas atau memberitahunya tentang hal itu.
Chiron yang awalnya telah duduk dan beristirahat di dekat para kesatria yang sedang bergosip kembali berdiri. Chiron mengepalkan tangannya yang masih memegang pedang dengan erat. Rasanya aneh, rasa seperti dia ingin menebas leher seseorang. Ini adalah perasaan yang baru baginya juga. Perasaan sesak dan ingin marah.
Chiron mengeraskan rahangnya saat membayangkan jika Chiarina akan memegang tangan pria selain dirinya. Hanya dia. Chiron hanya ingin dirinya yang memegang tangan hangat dan mungil Chiarina dan melindungi gadis itu.
Siapapun pria yang berani menyentuh Chiarina. Chiron tidak akan pernah membiarkannya.
Chiron menggelengkan kepalanya, ia berusaha menyingkirkan niat itu. Lebih tepatnya menyembunyikannya, Chiron tahu tidak ada hal yang baik terjadi jika dia bertindak dengan gegabah. Untuk saat ini dia harus tenang.
Chiron perlahan menghampiri kerumunan anak buahnya. "Siapa?" chiron bertanya, meskipun sudah berusaha untuk menyembunyikan emosinya. Kemarahan masih terpancar jelas di raut wajahnya.
Tatapan dan aura mengintimidasi Chiron membuat para kesatria berhenti bergosip dan gugup. "Si... Siapa yang anda tanyakan ko.. Komandan?"
Dengan suaranya yang rendah dan dingin Chiron kembali mengulangi pertanyaan nya, "siapa orang itu? Tunangan putri maksudku."
Saat itu juga mereka semua sadar jika mereka telah membahas sesuatu yang tidak seharusnya mereka ucapkan.
Keringat dingin mengucur di kening mereka. Mereka menelan ludah dengan susah. Semuanya takut hanya untuk menyebut nama tunangan putri. Bukan karena tunangan putri adalah seorang pangeran dari negara sekutu namun takut jika ternyata menyebut nama orang itu juga merupakan kesalahan dan membuat Chiron bertambah kesal. Tidak ada yang menjamin keselamatan mereka.
Dengan reaksi Chiron saat ini, mereka juga menyadari jika ternyata Chiron melihat Chiarina lebih dari seorang teman ataupun putri yang harus laki-laki itu lindungi
Chiron masih menatap mereka dengan matanya yang tajam dan dingin sampai seseorang dari mereka memberanikan diri untuk berbicara, "I.. Itu... Orang itu adalah putra mahkota dari kerajaan Ecryphia." jawab kesatria itu.
"Putra mahkota..." gumam Chiron pelan. Mereka pikir mereka bisa bernapas dengan lega setelah memberitahu siapa tunangan putri pada Chiron. Namun tidak mereka duga, komandan mereka malah tetap berdiri di tempatnya, di depan mereka sambil melamun.
Jangankan bernapas lega, bergerak pun mereka takut-takut.
"Chiron!"
Saat sebuah suara yang mereka kenal memanggil nama komandan mereka, barulah mereka bisa bernapas dengan lega.
To Be Continued