MEMORIES 10.5

1241 Words
Chiarina melihat sekeliling perpustakaan istananya, dia sudah sangat hafal dengan seluk beluknya karena hampir setiap hari dia datang kesini. Ia tidak tahu apa yang Adipati muda agung ingin tunjukan padanya. Setahunya tidak ada sejenis buku sihir di dalam sini. Chiarina mengikuti Athen dalam diam, sampai Athen berhenti di salah satu sudut rak buku, pria itu menatap sebuah buku yang terpanjang disana. Chiarina mengikuti arah pandangan Athen. 'Story of the great wizard.' itu adalah judul yang tertera di sampul depan buku itu. Chiarina belum pernah melihat buku itu sebelumnya, kenapa dia baru mengetahui keberadaan buku itu sekarang? Dari judulnya saja, Chiarina sudah sangat ingin membacanya. Dia hanyalah seorang manusia biasa, tapi dia selalu penasaran tentang sihir karena temannya Chiron memiliki sihir. Meskipun awalnya laki-laki itu hanya memiliki aura dan hanya bisa menggunakan sihir sederhana. Chiarina tidak bisa menyembunyikan rasa antusias nya terhadap buku itu sejak melihatnya. Athen tersenyum samar melihat ekspresi wajah Chiarina yang sangat jelas menunjukkan ketertarikan. "Apa tuan putri ingin membaca buku ini?" Athen mengambil buku itu dari rak, menunjukkannya pada Chiarina. Meskipun sudah tahu jika Chiarina Sangat tertarik dengan buku tersebut. Athen hanya ingin sedikit menggodanya saja. "Ini adalah buku yang menceritakan perjalanan seorang penyihir. " "Saya belum pernah melihat buku seperti itu sebelumnya." Kata Chiarina. Buku itu memiliki sampul kulit berwarna coklat dengan lambang bulan di atas judul buku itu. "Benarkah? Jadi ini pertama kalinya putri melihat buku yang seperti ini." "Iya, ini pertama kalinya bagi saya. Jadi saya cukup penasaran dengan isinya." "Anda tertarik dengan buku seperti ini, apa mungkin putri memiliki bakat?" Chiarina menyanggahnya dengan cepat, "tidak. Saya hanya orang biasa. Saya penasaran karena saya ingin mengetahui apa itu sihir. Kebetulan teman saya memiliki sihir." "Ah, maksud anda tuan Chiron Istvan?" Chiarina mengangguk pelan, "tuan Chiron Istvan memang sangat berbakat. Ternyata dia juga bisa menggunakan sihir selain aura." Chiarina tersenyum lembut, "benar, tuan Chiron Istvan adalah orang yang luar biasa." Itu adalah pujian tulus yang spontan. Athen terdiam, menatap raut wajah Chiarina yang terlihat sangat senang hanya karena mendengar pujian untuk Chiron, tapi dia bersikap seperti pujian itu tertuju padanya. Athen menyentuh daun telinganya dengan gugup. Dia tidak mengerti, tapi kenapa jantungnya berdebar? Wajahnya juga terasa panas. Apa dia sakit? Tanpa sadar Athen sudah terdiam cukup lama seraya meraba menyentuh dadanya yang membuat Chiarina bertanya-tanya. "Tuan Adipati muda agung, apa anda sakit?" Pertanyaan Chiarina mampu membuat Athen kembali ke kesadarannya. "Maaf?" "Saya lihat anda terus meraba d**a anda, jadi saya khawatir apa anda sakit?" "Ah, itu... Saya sama sekali tidak sakit, tuan putri. Terimakasih karena telah mengkhawatirkan saya, tapi saya baik-baik saja. Saya hanya memikirkan hal lain, maaf atas ketidaksopanan saya." Chiarina menggeleng pelan, "tidak masalah, saya hanya khawatir." Athen melihat mata Chiarina yang terus menatap buku yang ia pegang. Sepertinya Chiarina menunggu Athen memberikan buku itu padanya atau menunggu hal lain. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya ingin menunjukkan buku yang menceritakan isinya sendiri." "Ah, itu benar. Tapi bukan kah Adipati agung muda juga merupakan orang biasa seperti saya? Bagaimana anda bisa membuat buku itu bekerja seperti itu tanpa sihir?" Athen tersenyum, itu hanyalah sebuah lengkungan di bibir tanpa melibatkan perasaan. "Tidak perlu menggunakan sihir untuk melakukan itu, ini adalah buku yang menceritakan seorang mage yang hebat, buku ini sendiri adalah barang sihir." Chiarina hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan mendengar penjelasan dari Athen. Pria itu sepertinya tahu banyak tentang buku itu. Membaca buku mengenai sihir adalah hal yang baru bagi Chiarina. Selama ini dia hanya membaca buku tentang bahasa, ekonomi, politik dan etika. Chiarina juga sedikit belajar tentang filsafat secara otodidak karena keingintahuannya. Dia tidak diajari tentang sihir karena dia memang tidak terlalu membutuhkannya. Adipati agung muda itu membuka bukunya, Chiarina tidak tahu apa yang pria itu lakukan tapi tidak lama keluar cahaya yang sangat terang dari dalam buku itu. Cahaya itu sangat terang sampai dia harus memejamkan matanya. Chiarina memejamkan matanya cukup lama, saat dia membuka matanya kembali, Chiarina membelalak, dia tidak lagi di dalam perpustakaan. Ia sudah berada di tempat asing yang tidak ia ketahui dimana lokasinya. Apa dia masih berada di Centurra? Udara yang berhembus kencang secara bebas, aroma tanah dan rumput yang segar, suara air terjun yang terdengar sangat jelas dan sungai yang mengalir. Saat menatap langit, terdapat banyak burung-burung yang terbang secara berkelompok. Suasana yang sangat baru untuk dirinya. Chiarina belum pernah berada di tempat seperti ini sebelumnya, dia tahu nama-nama pemandangan disini. Tapi dia belum pernah melihat yang asli dengan mata kepalanya sendiri. Ini pertama kalinya dia melihat sungai dan air terjun secara langsung. Dia tidak bisa menahan senyumannya yang merekah lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih. "Tuan putri." Suara Athen mengagetkan Chiarina. Chiarina lupa jika dia bersama Athen saat ini karena terlalu antusias. Chiarina menghadap kearah Athen, salah tingkah karena kelakuan sebelumnya. "Apa ini pertama kalinya anda keluar?" Tanya Athen. Pipi Chiarina memerah merasa malu karena Athen menyadarinya. "Tepatnya ini pertama kalinya bagi ku ke tempat seperti ini. Sebelumnya aku pernah keluar dari istana, tapi saat itu sudah malam, dan aku hanya bisa melihat kota." "Oh.. saat itu ya," Athen tersenyum. Ah, rasanya Chiarina ingin menenggelamkan dirinya ke sungai. Dia sangat malu, dia baru saja membuka aib nya sendiri. Bukan rahasia lagi kejadian dimana dia kabur dari istana saat malam hari beberapa tahun yang lalu. Itu benar-benar kejadian yang sangat memalukan bagi Chiarina. Saat itu dia tidak berpikir panjang. Tapi karena dia keluar malam itu juga dia bisa mengenal dengan Chiron, jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak seburuk itu. "Sebenarnya kita dimana, tuan muda Altair?" Chiarina bertanya, dia juga bermaksud untuk mengalihkan topik pembicaraan nya. Tidak ada yang bisa Chiarina katakan lagi jika mereka membahas kejadian lampau itu. "Kita berada dalam buku." Mendengar jawaban santai Athen, Chiarina terkejut. "Apa? Lalu bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini?" Itu adalah hal yang pertama kali terlintas di kepala Chiarina. Karena mereka berdua adalah orang biasa, jadi Chiarina khawatir. Bagaimana jika mereka berdua terjebak di dalam sini? Berbeda dengan Chiarina yang panik, Athen tertawa. "Kita baru saja masuk dan anda sudah berpikir untuk kembali. Bukankah Anda bilang kalau anda penasaran dengan isi buku ini? Chiarina menggigit bibir bagian dalamnya pelan, ia sangat gelisah tapi ia tidak ingin Athen mengetahuinya. Lagi pula memang benar jika dia yang mengatakan kalau dia yang penasaran dengan isinya. Chiarina menghela nafasnya pelan, "lalu sekarang apa yang akan kita lakukan disini?" "Apa maksud anda, tuan putri? Kita disini untuk melihat cerita. Kita tidak perlu melakukan apapun." Ucap Athen. Chiarina menatap wajah Athen tanpa ekspresi. Senyum itu, Chiarina sedikit kesal melihatnya. pria itu selalu tersenyum meskipun dia tidak bersungguh-sungguh. "Apa ada sesuatu di wajah saya, tuan putri?" Tanya Athen saat menyadari jika Chiarina telah menatap wajahnya cukup lama. "Apa ini? Anda tidak jatuh cinta pada saya, kan? Maksud saya... Saya sangat bersyukur jika anda menyukai saya, tapi bukankah Anda telah memiliki tunangan dari kerajaan Ecryphia? Akan sulit bagi saya untuk bersanding dengan seorang putra mahkota.. bagaimana pun saya hanyalah seorang putra Adipati." Chiarina memelototi Athen, "apa yang anda katakan? Saya tidak jatuh cinta pada Anda." Athen tertawa, bahkan tawanya juga dibuat-buat. "Benarkah? Sayang sekali. Padahal saya pikir, saya akan merasa sangat beruntung jika putri menyukai saya." Chiarina mendengus, dia kesal dengan Athen, padahal sebelumnya dia berkata sebaliknya. Pria ini benar-benar pintar bermain lidah. "Tuan Adipati agung muda, kamu..." Kata-kata Chiarina berhenti saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat kearah mereka. Dengan pandangan was-was, Chiarina melihat dari mana suara itu berasal. Dan benar saja, tidak lama seorang bocah laki-laki berumur 7 tahun muncul dari balik pepohonan. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD