MEMORIES 11

1418 Words
Hembusan angin yang cukup kencang menerpa wajah Chiarina, menerbangkan rambutnya yang tidak terikat, bersamaan dengan seorang anak laki-laki yang berjalan kearah mereka. Chiarina menatap anak laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Anak laki-laki itu terlihat sangat cantik dengan rambut peraknya yang bergerak terkena hembusan angin, dan mata ungunya yang tajam dan dalam. Mata itu bahkan tidak terlihat seperti mata anak berusia 7 tahun pada umumnya. Mata ungu. Chiarina melirik Adipati agung muda yang berdiri di sampingnya yang juga sedang memperhatikan anak itu. Adipati agung muda yang merasa di tatap, menoleh pada Chiarina dengan wajah bertanya-tanya. Mata ungu bukanlah hal yang biasa di kerajaan Centurra maupun kerajaan lain. Hanya orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Grand Duke Altair yang memiliki mata itu. Saat anak laki-laki itu sudah sangat dekat dengan mereka, Chiarina sedikit salah tingkah karena merasa canggung secara spontan berbicara, "Ha-halo, saya adalah Harriet Chiarina Lopez. Senang bertemu dengan mu. Siapa namamu?" Namun anak laki-laki itu mengabaikannya dan duduk di rerumputan tepat di depannya. Ini pertama kalinya Chiarina tidak di gubris saat bertanya, karena tidak menggubris dirinya adalah hal yang tidak sopan. Jadi Chiarina sedikit terkejut dengan hal ini. Sedangkan di sampingnya, Athen mati-matian menahan tawanya agar tidak keluar dari bibirnya. Chiarina menoleh kearah Athen dengan raut wajahnya yang kesal. Dia merasa ini tidak lucu. Sikap anak di depannya benar-benar tidak sopan. Untuk beberapa lama anak laki-laki itu hanya diam di tempatnya. Chiarina tidak ingin repot-repot lagi bertanya karena dia masih kesal karena tidak di gubris sebelumnya. Meskipun begitu, mereka berdua masih memperhatikan anak laki-laki yang tidak melakukan apapun itu. "Tuan muda Icarus! Dimana anda? Tuan muda Icarus." Dari kejauhan terdengar suara riuh memanggil-manggil nama yang terdengar familiar di telinga Chiarina. Chiarina memang tidak pernah mempelajari hal-hal mengenai sihir. Tapi ia tentu saja tahu siapa nama mage terhebat sepanjang sejarah. Icarus Leon Adams. Dan Chiarina terkejut anak laki-laki yang ada di depannya ini adalah orang itu. "Tidak mungkin..." Gumam Chiarina tanpa sadar. Athen menoleh pada Chiarina, "apa yang tidak mungkin?" Chiarina berbalik 90 derajat menghadap Athen, "Apa dia benar-benar mage terhebat sepanjang sejarah itu?!" Tanyanya penuh dengan ketertarikan dan tidak percaya. Athen tersenyum miring, "Coba saja kau tanya sendiri pada anak ini." Katanya mengejek Chiarina. Chiarina mendengus kesal. Setelah memikirkan ucapan Athen. Dia baru sadar dan ingat jika mereka ada di dalam buku. Anak ini tidak akan bisa menjawabnya. "Ah, orang-orang menyebalkan itu." Terdengar suara decakan kasar dari mulut anak laki-laki yang di ketahui bernama Icarus. Terlihat sekali dari raut wajahnya jika anak laki-laki ini sangat kesal. Tidak lama, belasan orang muncul dari tempat yang sama dengan anak laki-laki ini datang. Terdapat 2 orang pelayan wanita, satu telah berusia lanjut dan satu lagi terlihat masih berusia 15 tahun bersama dengan 13 pengawal. "Astaga, tuan muda. Ternyata anda disini. Tuan besar sedang mencari anda." Kata pelayan paruh baya itu. Anak laki-laki mengacuhkan ucapan pelayan wanita itu. Bahkan jika anak laki-laki tidak menyukainya, dia seharusnya tidak bersikap seperti ini. Dia terlihat sangat tidak sopan. "Tuan muda... Mari kita kembali, tuan besar akan memarahi kami jika tidak segera membawa tuan muda kembali." Anak laki-laki itu berdecak lidah. "Katakan pada pria tua itu. Berhenti mencarikan ku guru. Karena tidak akan ada guru yang bisa mengajariku." Pelayan itu tampak gelisah, "ta-tapi tuan muda. Tuan Adipati telah bersusah payah mendatangkan guru anda. Tuan besar yakin jika guru kali ini bisa mengembangkan bakat anda yang sangat brilian. Jadi, tolong temui mereka sebentar saja. Tuan besar akan marah pada kami jika tuan muda tidak kembali sekarang." Icarus mendelik, "tutup mulut mu! Kamu juga tidak pantas bicara padaku. Dasar pelayan rendahan. Memangnya kau pikir aku peduli jika pria tua itu membunuh mu." Chiarina mengepalkan tangannya, menahan dirinya untuk tidak mencekik anak laki-laki di depannya ini. Bahkan dia tidak tahu apa dia bisa melakukan nya atau tidak. "Benar-benar arogan!" Athen lagi-lagi hanya tertawa mendengar ucapan Chiarina. "Ya, dia memang sedikit arogan." Chiarina menatap Athen tajam, "bukan hanya sedikit, tapi dia sangat arogan. Dan menyebalkan!" Saking kesalnya Chiarina sampai tidak peduli lagi dengan kesan lembutnya yang mungkin rusak di hadapan Adipati muda. Chiarina terkejut saat tiba-tiba dua pelayan wanita itu bersujud di kaki anak laki-laki bernama Icarus itu. "Saya mohon tuan muda... Saya mohon..." Anak laki-laki bangun dari duduknya tiba-tiba, "ah, menyebalkan. Kamu membuatku suasana hati ku buruk." Icarus berbalik. Pergi dengan para pengawal meninggalkan kedua pelayan itu yang masih bersujud. Setelah anak laki-laki itu sudah menghilang dari pandangan, pelayan wanita yang masih muda itu bangun terlebih dahulu, lalu membantu pelayan paruh baya itu untuk bangun. "Ibu... Kenapa tuan muda sangat kasar?" Tanya pelayan muda itu. Pelayan paruh baya itu, menjawab, "tuan muda adalah anak yang baik, dia hanya belum memiliki sesuatu yang berharga untuknya. Tuan muda adalah anak yang sangat hebat. Kita hanya perlu menjaga sikap kita agar tuan muda tidak marah." Chiarina berdecak kesal, "ada apa dengan mereka? Mereka mewajarkan sikap tidak sopan anak itu? Meskipun dia seorang bangsawan. Bukankah ini berlebihan?" "Bagaimana dengan putra mahkota? Bukankah dia sama saja dengan anak laki-laki itu." Chiarina mendengus protes, "tentu saja tidak. Meskipun dia sedikit arogan tapi dia adalah pangeran yang baik. Para pelayan juga bilang kalau kakak ku adalah anak yang baik saat dia masih kecil." Jawab Chiarina mengelak. Athen tersenyum mengejek, "bukankah itu berarti mereka sama saja?" Chiarina terdiam. Ia tidak terima dengan ucapan Athen, ia ingin membalas ucapan Adipati agung muda itu. Tapi dia kehilangan kata-katanya karena terlalu kesal. Atau memang dia tidak bisa membantah ucapan Athen. Tidak ada yang tahu. Setelah lama terdiam, "Jangan bicara seperti itu tentang kakak ku." Hanya itu yang bisa Chiarina katakan. Melihat mata Chiarina yang telah berkaca-kaca seperti hendak menangis, membuat Athen bungkam. Kali ini dia akan mengalah. "Baik-baik, putra mahkota adalah anak yang baik." Chiarina mengulum senyumnya. "Dia memang anak yang baik." Athen diam-diam melirik Chiarina, ia tidak habis pikir dengan pola pikir perempuan itu. Meskipun jelas-jelas Etienne bersikap kasar padanya, perempuan itu masih saja berpikir positif dan berusaha mengambil hati Etienne. Bukankah itu membuatnya sama saja dengan pelayan di hadapan mereka sekarang. Dia pasti tidak berkaca saat memaki-maki anak laki-laki dan pelayan itu. Tak! Terdengar sebuah bunyi, sedetik kemudian mereka berpindah ke tempat yang berbeda. Berbeda dari suasana tenang di hutan, kini mereka berada di dalam kastil yang sangat mewah seperti istana. "Saya sangat berterima kasih pada tuan penyihir menara yang sudah datang dan mengabulkan permintaan saya untuk menjadi guru Icarus." Terdengar suara langkah kaki dan suara seorang pria sedang berjalan di lorong mendekat kearah Chiarina dan Athen. Chiarina berbalik ke belakang ke suara itu berasal. Disana terdapat dua orang pria. Salah satunya terlihat telah berumur 30 tahun dan satunya terlihat seperti masih awal 20 tahunan. "Saya tidak mengatakan akan menerima putra anda sebagai murid saya, saya akan melihat kemampuannya lebih dulu sebelum memutuskan." Kata pria yang lebih muda itu dengan nada yang angkuh. "Saya mengerti, tapi tetap saja. Penyihir menara yang hebat seperti anda. , anda sudah datang ke kediaman Adams saja saya sudah merasa terhormat." "Penyihir menara? Dia semuda itu sudah menjadi Penyihir menara? Dan lagi, kenapa nada bicaranya sangat angkuh?" Tanya Chiarina pada Athen. "Ah, kamu mungkin melihat dia masih muda, tapi dia sudah berusia 231 tahun saat itu. Dia menjadi Penyihir menara saat dia berusia 60 tahun, dan ya.. dia tidak menua karena kekuatan sihirnya." Jelas Athen. Chiarina tidak bisa menutupi rasa terkejutnya, "dia sudah berusia 231 tahun?! Apa sampai sekarang dia masih hidup dan masih semuda seperti saat ini juga?" Athen memegang dagunya, terlihat berpikir meskipun Chiarina tahu pria itu tidak benar-benar sedang berpikir. Dia pasti hanya sedang menggodanya saja. Ah, ternyata Adipati agung muda juga sama menyebalkannya. "Tidak, di masa kita sekarang, pria itu sudah tidak ada." "Apa? Bukankah katamu dia tidak menua?" "Menua bukan satu-satunya alasan seseorang mati." "Lalu kenapa?" Tanya Chiarina, dia menghadap kearah Athen dan menatap mata pria itu lekat-lekat. Seakan menuntut Athen untuk menjawab pertanyaan nya dengan jujur. Athen membalas tatapan Chiarina dalam diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu berkata, "tuan putri. Apa benar anda tidak menyukai saya?" "Apa?" Chiarina mengernyit. "Yah, anda terus-menerus menatap saya. Saya pikir, bukankah itu karena anda menyukai saya. Jantung saya jadi berdebar." Chiarina menahan rasa kesalnya, entah kenapa Athen sangat mudah memancing emosinya. Sudah tidak bisa dihitung dengan jari, berapa kali ia hampir saja kehilangan kendali untuk tidak memaki pria di hadapannya ini. "Tuan Adipati agung muda, saya bertanya dengan serius. Berhenti berkata omong kosong." Athen tertawa, "saya juga serius saat mengatakannya, tuan putri." Chiarina mendengus, berbalik, kembali menyaksikan adegan yang terjadi di hadapannya. Saat mendengar, "lebih baik anda tidak mengetahuinya, tuan putri. Itu bukanlah kisah yang menyenangkan." To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD