MEMORIES 11.5

1135 Words
Chiarina semakin penasaran karena kata-kata Athen. Tapi Chiarina tidak mungkin memaksa Grand Duke muda Altair untuk menceritakan kisah kematian penyihir menara sebelumnya ketika dia menolak. Chiarina melirik kearah Grand Duke muda Altair yang tengah fokus pada apa yang dia lihat, Chiarina menghela nafasnya. Dia pasti akan dinilai tidak sopan jika masih saja bertanya pada Grand Duke, kan? apalagi yang di bicarakan saat ini bukanlah orang biasa melainkan penyihir menara yang agung. BRAKK!! Mereka berempat berbalik pada saat yang sama menuju pintu ketika mereka mendengar suara pintu terbuka dengan bantingan. Tentu saja itu sangat tidak sopan, baik bangsawan maupun rakyat biasa yang memiliki sopan santun tidak akan melakukan itu, tetapi anak laki-laki itu melakukannya. Ah, Chiarina merasa sangat kesal melihat wajah bocah itu sekarang. Apakah tidak ada yang mengajarinya sopan santun? Penyihir menara memperhatikan bocah itu dalam diam, "Icarus, ini penyihir menara. Sampaikan salammu." Grand Duke Adams sepertinya telah melupakan kesalahan yang baru saja dilakukan bocah itu dan tidak mempermasalahkannya. Melihat ini, Chiarina mengerti mengapa anak itu memiliki temperamen yang buruk. Apakah anak tidak pernah ditegur sebelumnya? Padahal Chiarina selalu ditegur setiap kali melakukan kesalahan sekecil apapun. Bocah itu mendekati penyihir menara dan grand duke yang sedang menatapnya dengan tatapan yang terlihat sangat bangga pada Icarus. "Apakah dia akan menjadi guruku?" anak laki-laki itu berbicara santai sambil menatap penyihir menara dengan pandangan menilai. Chiarina tidak tahan melihat sikap tidak sopan anak laki-laki itu lebih dari ini. Dia hanya berharap sikap bocah itu tidak akan memengaruhinya setelah ini Penyihir menara tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Icarus. "Tuan penyihir menara akan melihat kemampuan mu lebih dulu sebelum menjadikan mu sebagai muridnya. Jadi mau kah kamu perlihatkan sedikit sihir mu pada tuan penyihir?" Kata Grand Duke Adams. Icarus mengernyit, "hah? Kenapa aku yang harus menunjukkan sihir ku? Harusnya dia yang menunjukkan sihirnya padaku." Grand Duke tersenyum canggung pada Penyihir menara yang menunjukkan ekspresi wajah datarnya. "Eh... Tuan penyihir, putra saya memang sedikit unik tapi dia adalah anak yang baik." Penyihir menara yang sejak tadi hanya menatap Icarus akhirnya bicara. "Tentu saja, saya akan memperlihatkan apa yang bisa saya ajari pada anda. Saya belum pernah melihat mana sebesar ini sebelumnya. Saya yakin saya bisa membuat anda menjadi Penyihir menara yang hebat jika anda membiarkan saya menjadi guru anda." Chiarina tercengang mendengar ucapan penyihir menara itu. Ia tahu Icarus akan menjadi Penyihir terhebat sepanjang sejarah tapi apa ini tidak berlebihan? Hei, mereka melupakan sikap kurang ajar anak itu. Grand Duke yang mendengar itu terlihat senang, "terimakasih, terimakasih banyak tuan penyihir menara telah menerima anak saya sebagai murid anda. Saya percaya kan putra saya pada anda." "Tapi aku tidak mengatakan akan menerima mu sebagai guru ku." Cetus bocah itu. Grand Duke membelalakkan matanya, "Icarus." Katanya menegur bocah laki-laki itu. Chiarina merasa puas melihat grand Duke yang menegur anak laki-laki itu meskipun hanya sekedar teguran ringan. Anak itu pantas mendapatkannya. Tapi Icarus tampak tidak peduli dengan teguran yang di berikan grand duke padanya. "Cepat tunjukkan padaku, apa yang bisa aku dapatkan jika aku menerima mu sebagai guru ku!" Penyihir menara tersenyum miring, "kamu memiliki mana yang lebih sempurna daripada keturunan ----" Chiarina mengernyit, dia tidak bisa mendengar nama yang diucapkan penyihir menara itu seperti ada seseorang yang sengaja menutupi pendengarannya atau menyabotase isi percakapan. Chiarina tidak bodoh. Sepertinya penyihir menara menyebutkan sebuah nama yang tidak boleh dia ketahui ataupun orang lain yang masuk ke dalam buku ini. Chiarina melirik Grand Duke muda Altair, pria itu terlihat tidak memperhatikan percakapan yang disamarkan itu. Penyihir menara itu menjentikkan jarinya, saat itu juga seluruh ruangan di penuhi oleh tumbuhan dan akar-akar yang besar. Chiarina bahkan bisa merasakan rumput yang sangat tebal di kakinya meskipun menggunakan sepatu. Bukan hanya pohon, terdapat burung-burung yang berterbangan di langit-langit atap ruangan serta air sungai yang mengalir. Sungai?! Bagaimana bisa? Chiarina tidak bisa menahan dirinya untuk tidak kagum dengan kemampuan sihir penyihir menara yang ia saksikan di depan matanya. "Apa ini? Kamu sedang melucu?" Ejek bocah laki-laki itu. Anak kecil itu memejamkan matanya, sedetik kemudian ia membuka matanya dan pada saat itu udara dingin langsung menusuk tulang. mereka semua tidak tahu apa yang baru saja terjadi sampai anak itu berkata. "Pertama-tama sihirmu tidak bisa dibandingkan dengan milikku, apakah kamu tidak malu menyebut dirimu penyihir menara yang hebat? Aku tidak membutuhkan seorang guru, apalagi yang sepertimu." Kata anak laki-laki itu dengan nada sombong. Chiarina tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dia penasaran dari mana datangnya udara dingin ini, jadi dia memutuskan untuk mengintip ke luar jendela tepat di belakangnya. Seluruh mansion berada di udara di tengah hujan salju. Chiarina melebarkan matanya. kenapa tiba-tiba turun salju? Dan yang lebih penting, bagaimana kastil ini bisa melayang di udara? "Tidak seperti kamu yang menumbuhkan pohon agar terlihat seperti hutan. Aku bisa membawa kastil ini beserta isinya ke mana pun aku mau." Setelah Icarus mengatakan itu, udara dingin menghilang begitu saja menjadi udara hangat. Dan pemandangan hujan saljy di luar jendela yang dilihat Chiarina pun seketika berubah menjadi suasana tropis di pegunungan. Pluk! Penyihir menara itu tiba-tiba menundukkan kepalanya sedang berlutut di hadapan Icarus. Chiarina melongo melihatnya. Hei! Dia itu 224 tahun lebih tua dari mu. Kamu tidak seharusnya membiarkan dia berlutut padamu seperti itu! "Saya mengakui kemampuan sihir tuan muda Icarus Leona Adams yang sangat brilian. Setelah saya kembali, saya akan mengatakan pada semua penyihir menara tentang apa yang saya saksikan saat ini. Saya yakin, tuan muda akan menjadi Penyihir menara termuda sepanjang sejarah." Ucap penyihir menara itu. Grand Duke yang menyaksikan itu tersenyum penuh kebanggaan pada putranya, satu-satunya putra dan pewaris kediaman keluarga Adams. "Kata siapa aku akan menjadi Penyihir menara?" Kata Icarus dengan nada angkuhnya. "Apa? Tuan muda tidak berniat menjadi Penyihir menara? Kemampuan tuan sangat luar biasa, akan sangat disayangkan jika tuan tidak bergabung dengan penyihir menara. Disana anda bisa mengembangkan sihir anda dan belajar mengendalikannya." Penyihir menara yang awalnya terlihat acuh dan angkuh itu mendadak berubah dan memohon pada Icarus. Chiarina tidak percaya pada matanya sendiri. "Kau yakin dengan keaslian cerita ini?" Tanya Chiarina pada Athen. Ia bukannya menuduh penulis menceritakan kisah palsu tapi ini terlihat terlalu berlebihan. Bahkan sampai penyihir menara berusia 231 tahun pun menunduk pada bocah laki-laki itu. Sebenarnya sehebat apa kekuatan sihirnya pada usia 7 tahun? Maksud Chiarina adalah, anak laki-laki itu memang anak yang akan. Menjadi penyihir menara terhebat sepanjang sejarah. Tapi saat ini usia anak itu masih 7 tahun. Athen menoleh pada Chiarina, dia terkekeh melihat ekspresi wajah serius perempuan itu. "Buku ini... Tidak memiliki penulis." "Hah?" Chiarina membeo. Tidak memiliki penulis? Bagaimana bisa? Athen menatap Chiarina dengan raut wajahnya yang serius, mereka saling berpandangan untuk beberapa saat sampai Athen tersenyum dan Chiarina yang langsung mengalihkan pandangannya karena kesal. " Berhenti bercanda pada ku, tuan muda Altair. Aku bisa benar-benar kesal padamu." Athen terkekeh, "maafkan atas sikap saya, tuan putri. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi." Kata Athen. Chiarina mendengus. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD