Tak!
Terdengar suara seperti sebelumnya, namun kali ini mereka kembali ke tempat mereka semula. Yaitu perpustakaan.
Chiarina menoleh ke kanan dan ke kiri. Mereka memang kembali tapi hari sudah menjelang malam. Perpustakaan terlihat gelap karena tidak ada pencahayaan.
Chiarina menoleh kearah grand Duke muda yang berdiri di sebelahnya, "Apa ceritanya sudah habis? Kenapa kita kembali?"
Athen tersenyum, "saya juga tidak tahu, tuan putri. Tapi sepertinya kembali adalah hal yang bagus berhubung hari sudah gelap. Putri juga pasti lelah."
Perkataan Athen benar. Hari sudah malam, orang-orang di istana pasti mencarinya. Dan tidak baik jika mereka terlihat bersama di malam hari see seperti ini. Tapi Chiarina merasa belum puas. Ia ingin tahu kelanjutan dari kisah itu. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak mungkin merengek pada Grand Duke muda untuk membuka bukunya kembali.
Tunggu, tapi buku itu ada di perpustakaan istana putri. Bukankah itu berarti buku itu miliknya?
"Sangat disayangkan. Padahal saya ingin mengetahui kelanjutannya." Chiarina melirik buku yang di pegang Athen. "Bolehkah saya membacanya, tuan Grand Duke muda Altair?" Tangan Chiarina terulur untuk meminta buku itu. Dia tahu dengan dirinya yang seperti ini akan sulit untuk grand Duke muda itu menolak permintaannya.
Athen melirik buku yang ia genggam. "Tentu saja tuan putri. Anda bisa membacanya, saya sudah selesai membaca buku ini berulang kali." Athen memberikan buku itu tanpa ragu pada Chiarina, dan tentu saja dengan senyuman bisnisnya itu.
Chiarina menerima buku itu, langsung memeluknya di dadanya. "Terimakasih, tuan muda Altair. Karena hari sudah malam, saya pamit undur diri lebih dulu." Kata Chiarina, memberi salam lalu berbalik, berjalan kearah pintu keluar perpustakaan.
"Saya senang karena saya berhasil membuat anda terhibur, tuan putri. Saya harap dengan ini anda tidak terlalu merindukan teman anda."
Langkah Chiarina terhenti tepat di depan pintu. Chiarina berbalik, memasang senyum cerahnya, "tentu saja, tuan muda Altair. Terimakasih telah menghibur saya. Saya akan mengirimkan hadiah untuk anda besok."
Tep! Tep! Tep!
Suara langkah kaki dari sepatu yang keras di ruangan yang sunyi terdengar nyaring. Tuan muda Altair berjalan mendekat pada Chiarina, sampai mereka berdiri berhadapan dengan Chiarina yang terampit antara pintu dan juga grand Duke muda Altair. Athen Everet Altair.
Athen tersenyum meraih tangan kanan Chiarina yang tidak memegang apapun lalu mencium punggung tangannya.
Jantung Chiarina berdebar. Di malam hari, berada di perpustakaan yang gelap dan sepi, hanya berdua, dan terpojok di balik pintu. Suasana saat ini adalah hal yang tidak pernah Chiarina bayangkan. Chiarina menatap grand Duke muda dalam diam.
"Jika tuan putri mengizinkan, saya juga ingin menjadi teman tuan putri. Jadi tuan putri tidak bersedih lagi karena kehilangan teman."
Chiarina tidak pernah menduga ucapan itu keluar dari mulut grand Duke muda Altair. Dia adalah pria idaman di kerajaan Centurra selain Etienne. Dia juga merupakan orang yang sangat sibuk. Jadi, menjadi temannya mungkin hanya akan membuang-buang waktunya.
"Saya khawatir jika saya hanya akan menyusahkan grand Duke muda yang sibuk."
Athen tersenyum lembut, "kenapa saya merasa seperti itu jika teman yang saya miliki adalah seorang putri yang sangat menawan? Saya akan senang menjadi teman anda, tuan putri. Jadi, tolong izinkan saya menjadi teman anda."
Ah, Chiarina sering mendengar itu. Mendengar jika dia adalah putri tercantik di dunia. Bukankah itu berlebihan?
Melihat wajah Athen membuat Chiarina tidak bisa menolak permintaan pria itu apalagi dalam posisi seperti ini. Tapi dia juga ragu jika menerimanya. Apakah tidak masalah?
Lalu ia juga teringat dengan Chiron. Bagaimana reaksi laki-laki itu saat tahu jika dia memiliki teman lain?
'ah, bukankah Chiron akan senang jika aku memiliki teman baru? Sejak kecil aku selalu merepotkan Chiron dan bergantung pada laki-laki itu.' pikir Chiarina.
Jadi, dia menganggukkan kepalanya, "anda bisa menjadi teman saya. Saya harap saya tidak merepotkan Anda."
Athen yang mendengar itu tersenyum puas, ia melepaskan genggamannya pada tangan Chiarina. Chiarina segera menarik tangannya menjauh. Akhirnya dia bisa bernafas sedikit lebih nyaman.
"Saya senang tuan putri mau menerima saya sebagai teman anda. Saya akan melakukan yang terbaik untuk menjadi teman anda."
Chiarina mengangguk pelan, ia tertawa canggung, "anda tidak perlu sampai sebegitu nya. Saya juga senang anda menjadi teman saya. Kalau begitu saya pamit dulu, saya ingin beristirahat." Kata Chiarina berbalik membelakangi Athen.
Athen mencegah Chiarina dengan tangannya yang menutupi gagang pintu. Chiarina yang bingung menoleh pada Athen yang saat itu sedang tersenyum penuh arti padanya, "Biarkan saya mengantar anda ke kamar anda, tuan putri. Karena sudah malam dan tidak ada satupun pengawal yang menemani anda, saya khawatir jika sesuatu terjadi pada anda dalam perjalanan, bagaimana pun juga sekarang saya adalah teman anda."
Chiarina diam, dia berusaha bersikap biasa saja meskipun dalam hatinya dia tidak setuju dengan kata-kata Athen. Selama ini bahkan tidak ada pengawal yang menjaga kamarnya sepanjang malam dan dia baik-baik saja sampai saat ini.
Namun akhirnya Chiarina mengangguk pelan, tanda mengizinkan. Melihat itu, Athen membukakan pintu untuk Chiarina.
Athen tampak sangat senang karena Chiarina tidak menolak permintaannya.
Begitu mereka keluar dari perpustakaan, mereka berdua langsung menemukan Etienne yang sedang berdiri di depan pintu perpustakaan dengan pengawal pribadinya.
Mata Etienne menatap lurus pada Chiarina dengan raut wajah yang datar seperti biasanya. "Apa yang kamu lakukan di dalam perpustakaan malam-malam seperti ini bersama tuan muda Altair, putri Harriet?" Suara Etienne terdengar sangat dingin saat bertanya pada Chiarina, membuat Chiarina takut.
Chiarina langsung menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melihat wajah Etienne yang terlihat sangat menyeramkan saat marah. Chiarina mencengkram buku yang ia pegang, jemarinya terasa dingin, namun bukan karena suhu udara.
"Saya memberi salam kepada yang mulia putra mahkota, Pangeran Etienne. Tuhan memberkati mu."
Tatapan Etienne beralih pada tuan muda Altair, berbeda dengan Chiarina yang terlihat ketakutan pada Etienne. Athen terlihat sangat senang. Ia bahkan terang-terangan tersenyum dengan senyuman yang seolah-olah mengejek Etienne. "Kami hanya membaca buku bersama, saya menemani teman saya yang sedih karena tuan Chiron Istvan pergi berperang." Ujar Athen.
Mata Etienne memicing, terlihat jelas jika dia tidak suka mendengar ucapan Athen. "Siapa yang kamu sebut teman mu?" Suara Etienne terdengar lebih dingin dari sebelumnya.
"Ah... Anda pasti belum tahu, tuan putri dan saya baru saja berteman. Selanjutnya saya akan menghabiskan lebih banyak waktu sebagai teman putri. Saya harap anda tidak keberatan dengan hal ini karena ini adalah keputusan tuan putri dan saya." Nada bicara Athen sengaja di buat untuk menas-manasi Etienne. Sepertinya grand Duke muda itu sedang memendam kekesalannya pada Etienne karena memutuskan seenaknya di pertemuan rapat beberapa hari lalu.
Etienne kesal, dia sangat kesal. Ingin sekali rasanya ia meninju wajah grand Duke muda yang sangat sombong itu. Tapi dia menahan diri karena masih ada Chiarina disini.
Etienne mengepalkan tangannya erat. Bahkan urat di lehernya pun sudah terlihat jelas. Itu adalah pemandangan langka. Karena Etienne selalu bersikap tenang seperti air di mata semua orang kecuali pengawal pribadinya. Duke Darius Nightingale.
"Ini sudah malam. Kembali ke kamar mu." Ujar Etienne pada Chiarina sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
Chiarina kembali mengangkat kepalanya saat Etienne sudah berjalan cukup jauh darinya. Chiarina memandang punggung Etienne dengan bingung.
'Mengapa dia berada di perpustakaan istana putri malam-malam begini? Jika dia ingin menemui ku, kenapa dia tidak mengatakan apapun lagi selain bertanya mengenai dirinya yang berada di perpustakaan hingga malam?' pikir Chiarina.
"Tuan putri, mari saya antar." Kalimat Athen, kembali menyadarkannya.
Chiarina melihat Athen, dia bersyukur dia bersama Athen saat ini. Pria itu telah membantunya menjawab pertanyaan Etienne. Dia merasa malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan sepele dari Etienne karena ketakutannya. Dan Chiarina senang Athen tidak membahas alasan mengenai sikapnya tadi.
To Be Continued