"Sampaikan undangan pertemuan dariku ke Alfred Galvacio secepatnya. Aku ingin tahu apa mau pria itu melakukan serangan mendadak ke wilayah kekuasaan klan Caprini!" ucap Leonardo tegas sebelum mengakhiri rapat penting bersama anak buah kepercayaannya.
Bahkan, dalam kondisi genting seperti ini pikirannya masih saja tertuju ke Gianna Malvis yang dia tinggalkan sendiri di penthouse. Segera Leonardo mengayunkan langkah kakinya menuju mobil limousine hitam yang telah menunggunya di depan gedung pusat Caprini Global Corporation yang tinggi menjulang mencakar langit kota New York.
"Ke mana tujuan kita, Master Leo?" tanya sopir di bangku depan.
"Kembali ke tempat tinggalku, Doni!" jawab Leonardo singkat dan jelas.
Lalu lintas petang itu di kota New York begitu padat merayap. Kendaraan tak bisa leluasa bergerak di tengah kemacetan yang mengular hingga beratus-ratus meter.
"Huhh ... sialan, kenapa harus kena macet sih?!" gerutu Leonardo tak sabar. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu mobil yang dinaikinya lepas perlahan-lahan dari pusat kemacetan.
Sekitar pukul 19.30 waktu setempat, Leonardo sampai di tower hunian exclusive dan langsung naik lift ke lantai teratas. Para pengawal yang dia tinggalkan untuk menjaga Gianna masih berjaga siaga di posisi mereka.
Leonardo menekan kombinasi angka untuk membuka pintu penthousenya. Dia melangkah masuk dengan penuh harapan akan bertemu Gianna kembali. Namun, selayang pandang ke meja makan masih penuh piring saji dengan makanan utuh tak tersentuh sama sekali. Dia mengerutkan alisnya karena merasa aneh. Betah sekali wanita bengal itu menahan lapar padahal sudah sejak kemarin petang tak makan sama sekali.
"GIA! BANGUNLAH ... SAMPAI KAPAN KAU AKAN MERAJUK?!" teriak Leonardo seraya bergegas menuju tempat tidur berantakan dengan sosok di bawah selimut yang terlelap.
Ketika dia menyibak selimut tebal itu, Leonardo sontak terperangah. Memang ada wanita telanjang di sana, tetapi jelas bukan Gianna Malvis.
"DAMN IT! Siapa kau? Cepat bangun dari tempat tidurku!" bentak Leo kasar.
Pelayan tower hunian exclusive yang tadi dipukul tengkuknya sampai pingsan oleh Gianna itu mulai siuman. Dia menatap ngeri ke arah Leonardo dan panik karena tubuhnya tak tertutupi pakaian sama sekali.
"Ampuni saya, Tuan. Jangan bunuh saya!" cicit ngeri wanita muda itu dengan bercucuran air mata.
"Bagaimana kau bisa tidur di sini? Di mana wanita yang sebelumnya ada di kamarku?!" cecar Leonardo sembari melengos enggan melihat tubuh polos wanita yang bukan seleranya.
"S–saya tidak tahu, tolong lepaskan saya, Tuan. Saya tiba-tiba pingsan tadi saat menata makanan di meja lalu terbangun di kasur ini!" terang wanita pelayan itu apa adanya.
"Hmm, enyah sekarang juga dari sini sebelum aku menembakmu. Tak perlu memikirkan pakaian sebelum kau menyesal karena membuatku kesal!" hardik Leonardo seraya melangkah cepat ke arah pintu keluar penthouse dan memasukkan kombinasi angka kunci ke mesin.
Wanita muda yang tak bersalah itu lari terbirit-b***t menuju ke lift tanpa memedulikan kondisinya yang tanpa busana. Nyawanya lebih penting!
Amarah Leonardo mengaum bagaikan singa yang terluka. "KALIAN TIDAK BECUS MENJAGA WANITAKU! CARI DIA SEKARANG JUGA SAMPAI KETEMU!" teriaknya dengan emosi yang meluap-luap.
Para pria bersetelan jas hitam itu kocar kacir mencari-cari keberadaan Gianna di seluruh lantai gedung. Namun, hasil penelusuran mereka nihil hasilnya. Carlos Guilermo, tangan kanan Leonardo pun melaporkan kegagalan mereka dengan hati cemas.
"Maaf, Master Leo. Kami tak menemukan Gianna di dalam gedung ini!" ucap Carlos sambil menundukkan wajah.
"t***l semua! Hmm ... apa kalian sudah memeriksa CCTV gedung ini?!" sembur Leonardo galak.
"S—sudah, Sir. Gianna kabur melalui lobi utama langsung ke jalanan. Kemungkinan dia pulang ke rumahnya di apartemen lama!" jawab Carlos menebak-nebak.
Maka segera Leonardo mengajak anak buahnya menyambangi apartemen Gianna tanpa menunda lagi. Iring-iringan mobil klan Caprini membelah kepadatan lalu lintas kota New York di malam hari. Setidaknya ada sepuluh mobil berbagai merk dari sedan, limousine, minivan, dan SUV terparkir berjejer di depan apartemen kelas menengah tempat Gianna tinggal.
"Sebagian berjaga di depan pintu keluar, sebagian di pintu akses belakang gedung. Sisanya ikut aku naik ke lantai unit tempat tinggal Gianna!" perintah Leonardo tegas. Kemudian dia memasuki tower 30 lantai itu dikawal anak buahnya.
Petugas sekuriti menyambut kedatangannya dengan wajah pucat pasi. Dia tak sebodoh itu sehingga tak mengenali sosok pentolan klan Caprini yang disegani di dunia bawah tanah kota New York. "Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sapanya tegang.
"Hmm ... Mister Rudolf York, saya mencari Nona Gianna Malvis. Dia tinggal di apartemen ini, apa Anda melihatnya?" Leo membaca tag nama petugas sekuriti itu di d**a seragam ptia tersebut.
"Sayangnya tadi Nona Gia sudah meninggalkan gedung dengan membawa koper sekitar satu jam lalu, Sir. Katanya akan berlibur ke Hawaii karena menang undian wisata dari tiket lotere!" jawab Rudolf apa adanya.
Leonardo tertawa kesal sekaligus geli. 'Gia, kau memang sangat cerdik!' pujinya dalam hati. Dia semakin terobsesi mendapatkan wanita itu kembali. Ditambah pengalaman mereka semalam yang sulit untuk dilupakan. "Baiklah, Mister Rudolf. Mungkin lain kali aku akan berkunjung ke mari mencarinya sekembali dari Hawaii!" jawab Leo tanpa curiga lalu dia meninggalkan gedung apartemen itu.
"Carlos, cek CCTV gedung ini. Kutunggu di mobil!" titah Leo sebelum naik ke limousine.
Segera tangan kanan Leonardo Caprini itu berlari memasuki gedung lagi. Dia berbincang singkat dengan Rudolf sebelum diantarkan ke ruang pantau CCTV gedung. Seperti pengakuan petugas sekuriti tadi, Gianna memang terlihat menyeret koper di tangannya meninggalkan gedung tersebut.
Setelah memberi uang tip untuk Rudolf, kaki tangan mafia keji itu kembali menghadap Leonardo di dalam limousine. "Benar, Nona Gianna telah pergi dengan membawa koper, Sir!" lapor Carlos Guilermo.
"Damn it! Aku kehilangan jejaknya lagi. Kita ke niggt club milik pamannya. Gia pasti mengadu ke Roberto Malvis setelah semalam kuruda paksa!" geram Leonardo lalu menyuruh sopir menjalankan mobil.
Meskipun dugaan Leonardo tepat, tetapi Gianna tidak tinggal di night club terlalu lama. Dia hanya meminta pinjaman uang ke pamannya di bawah kecaman sang bibi yang merepet panjang lebar bahwa Gianna hanyalah beban bagi pamannya.
"Rob, pastikan uang yang kau pinjamkan ke Gianna kembali. Aku tak ingin kau menghambur-hamburkan uang untuk anak yatim piatu tak berguna itu. Seharusnya dia jual diri saja seperti anak asuhku lainnya di club. Mereka mandiri dan punya banyak uang hasil keringat sendiri!" Sylvia Torens yang sejak dulu membenci Gianna mengomeli suaminya di depan meja bartender sembari menikmati segelas martini dengan buah ceri merah menghiasi tepi gelas.
"Itu urusan Gia denganku, kau tak usah ikut campur. Toh dia tidak berutang kepadamu, Sylvia!" balas Robert kesal. Tak lama dia bicara sosok Leonardo Caprini muncul dari pintu masuk diskotik Excel VVIP night club miliknya. Roberto Malvis merasakan firasat buruk bahwa mafia bengis itu akan mengacau di tempatnya.
Segera dia mendesis ke istrinya, "Jangan bicara sepatah kata pun tentang Gianna di hadapan Tuan Leo kalau kau masih belum bosan hidup, Darling!"