Melarikan Diri Dari Cengkeraman Leonardo

1118 Words
"Ukhh ... sakiiit semua badanku!" rintih Gianna saat dia membuka mata menjelang tengah hari. Cahaya matahari yang terik di luar sana menerangi seisi ruangan penthouse milik mafia kelas kakap yang berkuasa di kota New York itu. Namun, sang empunya hunian mewah tersebut masih lelap dalam tidur seusai menggempur gadis perawan obsesi gilanya semalaman. Dalam pikirannya yang kalut, Gianna kebingungan harus bagaimana melarikan diri dari situ. Pakaiannya dirusak parah oleh pria j*****m yang sedang melilit sekujur tubuhnya di atas ranjang. Dia bugil dan lemah secara fisik. Tak mungkin melawan para pengawal di depan pintu yang terkunci oleh kode rahasia. Jalannya buntu! Gerakan kecil gelisah dari sisi tempat tidurnya membuat Leonardo terbangun. Dia menghela napas seraya membuka mata perlahan. Seringai senang menghiasi wajahnya yang bersemak gelap karena belum bercukur tiga hari. "Hello, Cantik. Rupanya kau sudah bangun, bagaimana tidurmu semalam dalam pelukanku, nyaman?" sapa Leonardo dengan suara beratnya yang agak serak. Telapak tangan pria itu mulai bergerilya di balik selimut tebal dan menjamah tubuh polos Gianna tanpa sungkan. Gianna mendesis kesal, "Bisakah kau sedikit sopan pada kaum wanita, Tuan? Tingkahmu itu sangatlah memuakkan!" "Hahaha. Setelah kutunggangi semalaman kuda betina ini masih saja liar, ckckck!" sindir Leonardo tanpa merasa bersalah. Diam-diam dia sedikit terkagum atas kepribadian kuat Gianna. Wanita itu jelas tidak takut melawannya sejak pertama kali mereka bertemu di night club. "Jaga mulutmu!" tukas Gianna sembari meronta-ronta ingin melepaskan diri dari dekapan kuat mafia keji itu. Tanpa disangka justru bibir Leo memerangkap mulut Gianna dan melumatnya dengan ganas. Bunyi decap dua permukaan kenyal itu beradu terdengar nyaring memecah keheningan. Lidah Leonardo mengaduk-aduk seisi rongga mulut Gianna begitu beringas dan penuh napsu. Belum juga pulih dari syok karena dicium paksa, Gianna ditelentangkan dan ditindih oleh Leonardo. Lutut pria tersebut melebarkan kedua tungkai kaki rampingnya. "Uhmm ... mhh ... jangaan ... kumohon berhenti, Tuan! Aku akan minta maaf atas kekasaranku, tapi tolong lepaskan aku dari sini!" Gianna menangis mengiba di hadapan Leo. Kedua tangannya ditahan di atas kepala. Leonardo tersenyum miring. Dia memperlihatkan bukti gairahnya yang nyata kepada Gianna. "Apa mungkin aku melepaskanmu kalau jagoanku sudah terbangun dari tidur lelapnya begini, Nona Manis?" ejeknya. Dia menggesek perlahan-lahan mulut liang sempit wanita itu yang kering. "Cari saja wanita lain—please—aku lelah dan terluka, aku tak sanggup lagi!" tolak Gianna untuk kesekian kalinya. "AAKHH!" Jeritan kesakitan Gianna terlontar saat dirinya diterobos. "Ohh My God! Bagaimana aku bisa berhenti kalau tubuhmu seenak ini, Gianna Malvis? Tinggallah di sini bersamaku, Darling. Kau akan kubayar mahal dan tak perlu bekerja menari untuk para p****************g di luar sana," bujuk Leonardo sembari menghentakkan pinggulnya dalam-dalam berulang kali. Gianna memalingkan wajahnya yang basah oleh air mata ke samping. Dia tak sudi melihat ekspresi puas pria yang sedang merajai tubuhnya itu. Kedua telapak tangannya terkepal ingin meninju Leonardo, tetapi sayang dia tak mampu. Cengkeraman pria itu terlampau kuat untuk dilepaskan meskipun hanya tangan kiri saja. Tangan kanan Leonardo meremas bulatan ranum dengan pucuk merah kecoklatan yang mencuat seperti menantang pria tersebut. "Sudah berhenti protesnya, Darling. Kenapa? Kau pasti menikmati permainan kita, iya 'kan ... jujur saja!" cemooh Leonardo. Dia tak pernah menghadapi wanita sekeras kepala Gianna, semua kaum Hawa yang pernah singgah di ranjangnya selalu merasakan kenikmatan. "Dasar pria otak m***m!" tukas Gianna kesal. Mulutnya berkebalikan dengan sekujur tubuhnya yang berkhianat. Dia malu karena menit-menit berikutnya napasnya memburu karena klimaks dahsyat menyerbu bak gelombang ombak yang menghanyutkan akal sehatnya. "Ohh ... rupanya Nona Angkuh mengalami banjir lokal!" Leonardo tertawa renyah sembari menyindir Gianna yang wajahnya merah merona tak mau melihat dirinya. Leonardo bermain lama sampai dirinya menggapai surga dunia bersama wanita tawanannya itu. Tiba-tiba ponselnya di nakas berdering bising. Pria itu turun dari tempat tidur lalu meraih handphone. "Halo?" "Halo, Boss. Klan Galvacio menyerang beberapa daerah kekuasaan kita, mereka menembaki banyak anggota klan Caprini hingga tewas. Apa Anda bisa ke kantor pusat sekarang?" "Hahh? Bagaimana bisa mereka menyerang tanpa sepengetahuan mata-mata kita? Baiklah, tunggu aku di kantor. Aku segera ke sana!" sahut Leonardo panik. Dia melirik ke atas ranjang di mana Gianna masih tergolek lemas pasca melayaninya barusan. Segera dia menelepon layanan room service agar mengirim makan siang untuk Gianna. Wanita itu praktis belum makan sejak tiba di penthouse Leonardo sampai siang hari berikutnya. "Halo, ini Leonardo Caprini. Tolong antarkan menu makan siang bergizi ke penthouseku. Terserah chef gedung ini saja!" Mendengar beberapa percakapan telepon Leonardo, segera terbersit ide cemerlang di otak Gianna. Dia berharap pria mafia busuk itu berangkat sebelum kedatangan petugas room service. "Kalau kau masih lelah, tidur saja, Gianna. Aku ada keperluan penting di kantor. Nanti ada room service yang akan mengantar makanan untukmu, okay?" ujar Leonardo yang tidak mendapat jawaban sama sekali selain kebungkaman Gianna yang memunggunginya di kasur. Pria itu menghela napas frustasi karena tak juga berhasil menjinakkan kekeras kepalaan Gianna. Maka Leonardo bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantornya. Serangan klan mafia sayap kiri yang dipimpin Alfred Galvacio atau yang dikenal dengan julukan Crazy Fred mulai meresahkan. Dia harus memberi perintah langsung setelah rapat bersama anak buahnya nanti. Seusai mandi Leonardo segera berpakaian setelan jas Armani warna biru tua dipadu padan dengan dasi bermotif diagonal warna burgundy. Penampilannya rapi, gagah, dan mengisyaratkan bahwa dia pria berkuasa. Pomade tipis dioles ke rambutnya yang disisir rapi ke arah belakang kepala. Gianna yang duduk bersandar di headboard tempat tidur menyelimuti tubuh hingga atas dadanya. Dia memperhatikan penampilan pria mafia yang berulang kali telah meruda paksa dirinya itu. Sebenarnya Leonardo sangatlah ganteng minus kelakuan brengseknya dan ego sebesar planet Jupiter. "My Angel Darling, aku pergi dulu ke kantor. Sampai nanti, Gianna Malvis!" Leonardo membungkukkan badan untuk mengecup kening wanita yang masih mengambek kepadanya itu. Dia mengusap lembut pipi mulus Gianna lalu tersenyum tipis. Gianna hanya terdiam menatap Leonardo dengan cemberut. 'Cepatlah pergi, Mafia Sialan!' rutuknya dalam hati. Tak lama setelah kepergian Leonardo, pintu penthouse dibuka dari luar. Sesuai prediksi Gianna, petugas room service masuk mendorong kereta makan susun empat penuh makanan beraroma lezat. Wanita itu mengendap-endap di belakang petugas room service yang sedang memindahkan piring-piring saji dari kereta ke meja makan bundar di dekat jendela yang terbuka mengarah ke pemandangan kota New York. "BUGHH!" Pukulan keras mengarah ke tengkuk petugas room service itu sampai wanita muda itu pingsan seketika. Gianna menyeretnya ke kasur lalu melepas semua pakaian seragam room service. Lekas-lekas dia mengenakannya lalu memindahkan nyaris semua isi kereta ke meja makan. Kemudian segera dia mendorong kereta susun empat itu menuju ke pintu keluar penthouse Leonardo. Tak ada yang memperhatikannya, para bodyguard di depan pintu asyik mengobrol tentang penyerangan di daerah kekuasaan klan Caprini tadi malam. Sementara Gianna mencoba setenang mungkin masuk ke lift bersama kereta yang didorongnya. "Akhirnya, aku bisa kabur. Yess!!" tukasnya di lift yang bergerak turun dengan cepat menuju lantai lobi gedung hunian mewah di jantung kota New York itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD