Malam Penuh Derita

1117 Words
Tubuh Gianna bermandikan peluh, bulu romanya berdiri karena dicekam rasa ketakutan yang memuncak. Kesuciannya gadis berusia 23 tahun itu akan terengut karena kekejaman Leonardo Caprini. Sorot mata bermanik hijau itu mengiba, dia tak punya jalan keluar dari jebakan mafia keji yang terobsesi kepada tubuh moleknya. Deru napas pria berbadan kekar yang dirajah banyak tattoo itu terdengar jelas di telinga Gianna. "Kenapa? Kau tegang sekali, Gia Darling. Rileks ... Hahaha. Mungkin kau membutuhkan sedikit bantuan agar permainan kita menyenangkan. Sebentar, tetaplah di sini!" ujar Leo sebelum beranjak menuju meja kerjanya dan menarik laci. Tanpa memedulikan peringatan Leonardo, gadis itu nekad menyambar pakaiannya yang bertebaran di lantai lalu berlari menuju ke pintu keluar penthouse. Namun, sial papan kayu warna cokelat tua itu bergeming di tempat. Gianna tak bisa membukanya. "Tolong! Tolong selamatkan aku, kumohon!" teriaknya pilu dalam kondisi telanjang bulat sambil menggedor-gedor pintu. Dengan tatapan predator lapar, Leonardo Caprini menghampiri Gianna. "Apa kau sudah tuli atau terlalu bodoh, Nona Manis? Aku sudah menyuruhmu tetap berada di ranjangku tadi!" ucapnya seraya menjambak rambut panjang berwarna cokelat itu sehingga kepala Gianna tertengadah ke langit-langit ruangan yang berwarna putih. "Ampun, Tuan—saya ingin pulang!" Gianna menangis terisak-isak. Emosinya bercampur aduk dengan ketidak berdayaan di hadapan sang mafia penguasa kota New York tersebut. "Pulang? Hahaha. Permainan kita bahkan belum dimulai karena kau terus melawanku, Gianna. Ketahuilah, tindakanmu itu bukan hanya membuatku marah, tetapi juga," Leonardo berbisik di tepi daun telinga Gianna, "membuat kejantananku semakin mengeras!" Gianna terisak-isak ketakutan. Dia tak ingin diperkosa oleh pria menyeramkan itu. Keperawanannya dia jaga hanya untuk suaminya kelak yang belum dia temukan hingga saat ini ketika nasibnya pun dipertanyakan. Sementara itu tak ada jaminan nyawanya masih ada sampai esok hari. Dengan garang Leonardo merebut pakaian Gianna lalu merobek-robek hingga tak berbentuk dan melemparkannya ke lantai. "Apa kau mau keluar dari penthouseku dalam kondisi begini, Gia? Mungkin para pengawalku akan tergoda dan memperkosamu juga!" ejeknya dengan senyuman sinis. Otak Gianna serasa buntu, tak ada pilihan yang lebih baik. Meskipun dia tak ingin melayani Leonardo, tetapi diperkosa beramai-ramai oleh anak buah pria itu jauh lebih mengerikan. Belum sempat Gianna berbicara sepatah kata pun, tangannya diseret oleh Leonardo untuk mengikutinya ke tempat tidur. Dengan kasar dia didorong ke atas kasur lalu pria itu meraih segelas air dan memasukkan tablet ke mulut Gianna. Air itu diminum Leonardo untuk disuapkan langsung ke mulut Gianna. Nyaris tersedak, tetapi tablet yang diberikan Leonardo tertelan oleh Gianna. Reaksi selanjutnya terasa aneh di tubuh wanita itu. Ada dorongan ingin disentuh agar sensasi panas dari dalam tubuhnya lenyap. Napas Gianna mulai terdengar memburu dan pandangannya kabur. "Gia, aku bisa membantumu menghilangkan rasa tak nyaman itu. Menurutlah dengan perkataanku ya!" bujuk Leonardo sembari membelai lipatan lembut di antara pangkal paha wanita penari itu. "Akhh ... ini tidak benar! Jauhi aku, kau mencekoki obat terlarang yang membuatku begini!" bantah Gianna sambil beringsut menjauhi Leonardo Pria itu kesal dan hilang kesabaran. Dia segera menindih tubuh Gianna untuk memerangkapnya. "Dasar wanita keras kepala! Kau menolak patuh rupanya, jangan sesali keputusanmu!" hardik Leonardo lalu dia mulai melesakkan batang berurat miliknya kuat-kuat ke dalam diri Gianna. "Argh ... sakit, Tuan!" erang Gianna coba mendorong badan kekar yang mendekapnya. "Malam ini kau akan jadi milikku! Kau tidak akan bisa lagi kabur apalagi sampai jual mahal seperti biasanya." Mafia yang dikenal dengan nama Leo itu tampak menyeringai kegirangan karena wanita yang sering bersikap jual mahal padanya berhasil ia culik dan kini siap melayani segala hasratnya di atas ranjang. "Jangan, Tuan, tolong lepaskan aku!" Gianna masih sekuat tenaga menahan diri meski tubuhnya terasa begitu panas akibat efek obat perangsang yang diminumnya. "Jangan harap! Nikmati malam panjang ini bersamaku, Cantik. Aku pasti akan memuaskanmu lagi dan lagi!" Leo menyeringai seram sembari memacu tubuhnya berulang kali ke dalam lipatan sempit menggigit itu. Sementara Gianna tak henti-hentinya menjerit dan merintih kesakitan. Ada sesuatu yang terkoyak dalam dirinya tadi. Belum hilang rasa perih itu, hunjaman beringas mafia keji itu terus saja menyiksanya. "Tuan ... hentikan, aku tak sanggup lagi!" pinta Gianna mengiba. Namun, tidak didengarkan sama sekali oleh Leonardo. "Berhenti? Yang benar saja, kau ingin menghinaku, hahh?!" Leonardo membalik badan lunglai Gianna di atas tempat tidur dengan seprai bernoda darah itu. Warna merah menyala di kain putih bersih tersebut membuat Leonardo sangat bangga. Dialah pria pertama yang telah mengambil mahkota berharga gadis cantik keponakan Roberto Malvis itu. Dari arah belakang, Leonardo melesakkan sekali lagi senjata pusakanya. Dia menahan napas sejenak saat sensasi tertelan dalam himpitan yang sangat sempit membuat raganya bergetar nikmat. "Apa kau puas dengan keperkasaanku, Gia? Aku sanggup membuatmu melambung hingga ke langit ke tujuh berkali-kali!" ucap Leonardo dengan sombong tanpa memedulikan rasa sedih yang menggelanyuti hati gadis yang kini telah ternoda itu. "Kau iblis. b*****h! Aku membencimu, Tuan. Apa bedanya kau dengan binatang?!" hardik Gianna tanpa merasa takut dibunuh oleh mafia keji yang masih berpesta menjarah tubuh moleknya. Leonardo bukannya tersinggung. Dia justru tertawa nyaring mendengar Gianna memaki-makinya. Jemarinya bermain di tonjolan kecil di atas liang sempit itu dan membuat wanita itu bergerak liar kegelian. "Bagaimana? Enak bukan?" ejek Leonardo sembari melakukan hal-hal terlarang di titik-titik sensitif Gianna. Meskipun wanita itu menolak sentuhan Leonardo di tubuh polosnya. Namun, Gianna merespon dengan cara alami. Cairan cintanya meluap-luap tanpa bisa ditahan. Setiap genjotan pria mafia itu membuatnya lemah. Leonardo membaringkan tubuh lunglai Gianna yang tak mampu lagi menopang dirinya sendiri dengan kedua lututnya. Dia masih enggan berhenti. Tungkai kaki ramping Gianna diangkat ke bahu Leo lalu diciumi. "Sshh ... please!" desah Gianna pelan. Sorot mata Leonardo berapi-api, dia tahu bahwa obat yang ditelan wanita itu telah bekerja sempurna. "Hmm ... tentu saja, Darling. Aku tidak akan berhenti. Kau terlalu menggoda untukku!" jawab Leonardo. Mata Gianna berkabut hasrat, otaknya tumpul hingga tak mampu lagi berpikir jernih. Yang tersisa hanya gairah murni menuntut untuk dipuaskan. Ketika Leonardo mendekapnya lagi dan menyodorkan bibir, Gianna justru melumatnya penuh napsu. Ciuman mereka terasa memabukkan dan tubuhnya menuntut sentuhan intim lebih banyak lagi. Leonardo menyapukan lidahnya di pucuk merah kecokelatan yang mencuat di hadapannya. Dia memuaskan keinginannya tanpa merasa takut ditolak lagi. Wanita cantik yang diinginkannya kini telah takluk dan menyerahkan diri sepenuhnya. "Ohh ... Gia, baru kali ini aku merasakan kenikmatan sempurna dari seorang wanita. Kau berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah kutemui. Mulai sekarang, jangan lari lagi dariku. You are mine, Darling!" ucap Leonardo lalu menumpahkan benih suburnya ke rahim wanita itu. Seolah-olah tak cukup hanya sekali, Leonardo melanjutkan lagi pacuan hasratnya bersama Gianna yang teler berat. Wanita itu hanya bisa mendesah dan meracau lirih tanpa kata-kata yang berarti. Namun, organ kewanitaannya semakin basah dengan dua cairan yang bercampur jadi satu. Langit di luar kaca dinding penthouse mewah milik Leonardo mulai berubah warna, fajar telah merekah di ufuk timur. Namun, pasangan yang bergumul semalaman itu baru selesai bercinta dan jatuh terlelap ke alam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD