BAB 1 Kopi Pahit dan Kota yang Enggan Tidur
Semarang punya cara tersendiri untuk merayakan sepi, bahkan di tengah keramaian Simpang Lima yang tak pernah benar-benar tidur. Cahaya neon dari papan reklame berpendar, memantul di aspal yang sedikit basah sisa hujan sore tadi. Aroma jagung bakar dan knalpot kendaraan bermotor berbaur menjadi satu—aroma yang bagi Prem adalah definisi "rumah".
Prem duduk di kursi plastik sebuah warung tenda di pinggir lapangan, menyesap kopi hitamnya yang nyaris tanpa gula. Panas, pekat, dan pahit. Persis seperti perasaannya yang ia telan bulat-bulat selama lima belas tahun terakhir.
"Kamu dengerin aku nggak sih, Prem?"
Suara itu memecah lamunannya. Prem menoleh. Di hadapannya, Sakura sedang sibuk mengaduk es teh manis—minuman yang warnanya saja sudah membuat gigi Prem ngilu saking manisnya. Gadis itu mengerucutkan bibir, ekspresi andalannya kalau merasa diabaikan.
"Denger, Sa. Kamu bilang klien kamu yang jualan skincare itu minta revisi caption lagi jam dua pagi," jawab Prem tenang, meletakkan cangkir kopinya.
Sakura tersenyum lebar, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Nah! Itu dia! Gila nggak sih? Dipikir aku robot AI apa? Aku butuh tidur, Prem. Butuh beauty sleep!"
Prem terkekeh pelan. Ia hafal betul ritme ini. Sakura akan mengeluh soal pekerjaannya, lalu lima menit kemudian ia akan tertawa menceritakan kucing liar yang ia beri makan di depan kantor, lalu sedetik kemudian ia akan membahas konspirasi semesta. Dan Prem? Prem adalah kanvas kosong yang siap menampung semua tumpahan warna Sakura.
"Ya udah, besok aku jemput jam tujuh. Kita cari sarapan Soto Bangkong sebelum kamu ngantor. Biar mood kamu balik," tawar Prem. Itu bukan tawaran, melainkan rutinitas.
Mata Sakura berbinar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan dagu di atas kedua telapak tangannya. "Sumpah? Kamu emang terbaik sedunia, Prem! Apa jadinya aku tanpa kamu?"
Apa jadinya aku tanpa kamu.
Kalimat itu melayang di udara, ringan bagi Sakura, namun seberat beton bagi Prem. Prem hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang sudah ia latih di depan cermin agar tidak terlihat terlalu mencintai.
"Mungkin kamu bakal telat tiap hari dan kurus kering karena lupa makan," jawab Prem datar.
Sakura tertawa lepas. Tawanya renyah, mampu meredam bising klakson angkot di belakang mereka. Prem memandangi gadis itu—rambut panjangnya yang sedikit berantakan tertiup angin malam, jaket jeans biru mudanya yang kebesaran, dan cara dia menyeruput es teh hingga bunyi slurp yang nyaring.
Mereka berdua adalah anomali.
Prem si arsitek yang kaku, terstruktur, dan monokrom.
Sakura si penulis konten yang meledak-ledak, berantakan, dan penuh warna.
Namun di Semarang, di antara Lawang Sewu dan Tugu Muda, mereka adalah satu paket. Di mana ada Prem, di situ ada Sakura.
Orang-orang sering mengira mereka pacaran. Mas-mas penjual jagung bakar tadi bahkan menyapa mereka dengan sebutan "Mas dan Mbaknya yang biasa pacaran di sini". Prem tidak membantah, hanya mengangguk sopan. Sementara Sakura biasanya tertawa dan berkata, "Ah, Mas bisa aja. Prem ini bodyguard saya."
Bodyguard. Sahabat. Kakak. Sopir. Pendengar setia.
Prem menerima semua label itu, asalkan ia bisa tetap berada di orbit Sakura.
"Eh, Prem," Sakura tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius. Ia meletakkan gelasnya.
"Kenapa?"
"Kamu pernah ngerasa ada yang kurang nggak sih? Kayak... hidup tuh gini-gini aja. Bangun, kerja, nongkrong sama kamu, tidur. Ulang lagi."
Jantung Prem berdesir. Apakah Sakura mulai merasakan hal yang sama? Bahwa persahabatan ini terasa kurang? Bahwa seharusnya ada "lebih"?
"Maksud kamu?" Prem memancing, hatinya berdebar penuh harap.
Sakura menatap langit malam Semarang yang kemerahan memantulkan cahaya kota.
"Aku butuh inspirasi baru, Prem. Sesuatu yang... artsy. Sesuatu yang bikin jantung deg-degan. Kayak lukisan abstrak yang nggak bisa ditebak."
Harapan Prem perlahan surut, digantikan oleh firasat buruk yang dingin.
"Mungkin aku perlu main ke galeri seni lagi," gumam Sakura.
"Katanya di Kota Lama lagi banyak seniman baru yang hot."
Prem kembali menyesap kopinya. Kali ini, rasanya jauh lebih pahit dari sebelumnya.
Seminggu berlalu sejak percakapan di Simpang Lima. Prem sibuk dengan rancangan co-working space di daerah Tembalang. Kertas kalkir, maket, dan revisi dari klien membuatnya nyaris lupa waktu. Namun, ia tidak pernah lupa jadwal "wajib lapor" Sakura.
Biasanya, ponsel Prem akan bergetar setiap tiga jam sekali. Foto makanan Sakura, keluhan soal macet di tugu muda, atau sekadar stiker kucing absurd.
Tapi hari ini, ponselnya sepi.
Prem mencoba fokus pada garis tarikan di AutoCAD-nya, namun matanya terus melirik layar ponsel. Pukul 19.00. Tidak ada pesan. Pukul 20.30. Masih nihil.
Akhirnya, pukul 21.00, sebuah notifikasi masuk. Bukan pesan teks, tapi sebuah tag di i********: Story.
Prem membuka aplikasi itu dengan jempol yang ragu.
Di layar, terpampang video boomerang. Sakura sedang tertawa, memegang gelas es Milo . Di sebelahnya, terlihat potongan bahu seorang pria berjaket kulit dan tangan yang memegang kuas lukis.
Caption-nya: "Nemuin dunia baru di Kota Lama bareng @Sino_Art. Lukisannya magis, orangnya misterius! ✨"
Prem terdiam. Jempolnya menahan layar agar story itu tidak berganti. Ia mengamati potongan sosok pria itu. Rambut agak gondrong, gelang-gelang etnik di tangan, kuku yang ada noda catnya. Sangat bukan tipe pria yang biasanya ada di lingkaran pertemanan Sakura.
Tiba-tiba, sebuah pesan w******p masuk. Dari Sakura.
Sakura: PREM!!! Kamu harus ke sini sekarang! Cafe spiegle kota lama!
Prem: Aku lagi deadline, Sa. Kenapa?
Sakura: Ih, sebentar aja! Aku mau kenalin kamu sama seseorang. Namanya Sino. Dia pelukis yang aku ceritain kemarin! Karyanya "deep" banget, persis kayak tatapan matanya!
Prem membaca pesan itu berulang kali. Tatapan matanya.
Ada denyut nyeri yang tajam di ulu hati Prem. Selama tujuh tahun, Sakura tidak pernah memuji tatapan mata Prem. Paling banter, Sakura hanya bilang, "Mata kamu merah, Prem. Kebanyakan begadang ya?"
Prem mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Prem: Oke. OTW.
Prem menghela napas panjang. Ia meraih kunci motornya. Ia tahu ini adalah ide buruk. Ia tahu ia seharusnya tetap di kamar kosnya, menyelesaikan denah lantai dua. Tapi Prem juga tahu, ia adalah masokis yang rela menyakiti hatinya sendiri demi memastikan Sakura baik-baik saja.
Malam itu, Prem memacu motornya menembus jalanan Pemuda menuju Kota Lama. Angin malam menampar wajahnya, tapi tidak cukup dingin untuk membekukan rasa cemburu yang mulai membara di dadanya.
Kota Lama Semarang di malam hari adalah labirin nostalgia. Bangunan-bangunan kolonial berwarna putih gading berdiri angkuh, disinari lampu jalan yang temaram. Di salah satu sudut jalan yang ramai oleh wisatawan, Prem memarkir motornya.
Ia berjalan menuju Spiegel Bar & Bistro. Dari kaca jendela yang besar, ia bisa melihat Sakura. Gadis itu terlihat bersinar. Ia tertawa, tangannya bergerak ekspresif saat berbicara.
Dan di depannya, duduk seorang pria.
Prem masuk. Lonceng di pintu berbunyi, tapi Sakura terlalu asyik untuk menyadarinya. Prem mendekat perlahan, langkahnya terasa berat seolah kakinya terbuat dari timah.
"Nah, ini dia orangnya!" seru Sakura tiba-tiba saat menyadari kehadiran Prem.
Pria di hadapan Sakura menoleh.
Sino. Usianya mungkin setahun atau dua tahun di atas Prem. Wajahnya memiliki struktur tulang yang tegas, dengan rambut ikal yang dibiarkan jatuh sembarangan namun tetap terlihat estetik. Ia mengenakan kemeja flanel yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan dadanya yang atletis
Kontras sekali dengan Prem yang hanya memakai polo shirt hitam polos dan celana chino krem—pakaian "aman" seorang arsitek.
"Prem, kenalin, ini Sino," Sakura berdiri, menarik tangan Prem antusias.
"Sino, ini Prem. Sahabat aku yang paling setia sedunia. Dia arsitek, lho. Kaku banget orangnya, tapi baik."
Prem tersenyum kecut. Terima kasih untuk testimoninya, Sakura.
Sino berdiri, mengulurkan tangan. Senyumnya miring, sedikit angkuh namun memikat.
"Sino....Sakura banyak cerita soal lo."
"Prem," jawab Prem singkat, menjabat tangan Sino. Telapak tangan Sino kasar, khas tangan pekerja seni, tapi genggamannya kuat. Mengintimidasi.
"Duduk, Bro," kata Sino santai, seolah dia pemilik tempat itu.
"Gue lagi jelasin ke Sakura soal filosofi 'Ketidaksempurnaan dalam Garis'. Lo arsitek kan? Pasti lo obsesi sama garis lurus yang presisi. Gue kebalikannya. Gue suka kekacauan."
Prem duduk di sebelah Sakura. Aroma parfum Sino tercium samar—campuran tembakau dan kayu manis. Sangat maskulin dan... memabukkan. Prem melirik Sakura. Wajah gadis itu merona merah, matanya tak lepas menatap Sino.
"Prem itu emang perfeksionis, Sin," sambar Sakura. "Gelas di meja aja kalau miring dikit dia benerin. Ya kan, Prem?"
Prem hanya mengangguk. "Arsitektur butuh presisi, Sa. Kalau nggak, bangunannya rubuh."
Sino tertawa pelan. "Hidup itu bukan bangunan, Prem. Hidup itu lukisan abstrak. Kalau terlalu terencana, membosankan. Nggak ada kejutan."
Mata Sino menatap lurus ke arah Prem. Ada tantangan di sana. Seolah Sino bisa melihat menembus pertahanan Prem, melihat perasaan terpendam yang Prem sembunyikan rapi di balik garis-garis presisi hidupnya.
"Gue setuju," kata Sakura cepat, seolah takut Sino tersinggung.
"Kadang hidup aku emang terlalu monoton ya, Prem? Makanya aku seneng denger cerita Sino. Petualang banget."
Malam itu, Prem merasa menjadi penonton di kursinya sendiri. Sakura dan Sino berbicara dalam bahasa yang tidak Prem mengerti—bahasa ketertarikan, bahasa godaan halus, bahasa dua jiwa yang baru saja menemukan frekuensi yang sama.
Prem memesan kopi hitam lagi. Ia butuh sesuatu yang pahit untuk mengingatkannya pada realitas. Bahwa di meja ini, ada tiga orang, tapi hanya ada ruang untuk dua hati. Dan hati Prem jelas bukan yang terpilih.
"Besok ada pameran tunggal gue di Galeri Semarang," kata Sino sambil menatap Sakura lekat-lekat.
"Lo harus dateng, Sa. Ada satu lukisan yang........ gue rasa cocok banget sama aura lo."
"Serius? Aku mau banget!" Sakura menoleh ke Prem.
"Prem, temenin ya? Please? Besok Sabtu kan libur."
Prem ingin menolak. Ia ingin berteriak bahwa ia muak menjadi "obat nyamuk". Ia ingin bilang bahwa melihat Sakura jatuh cinta pada orang lain adalah penyiksaan perlahan.
Tapi kemudian ia melihat mata Sakura. Mata bulat yang penuh harap itu. Mata yang selama tujuh tahun selalu menjadi alasan Prem bangun di pagi hari.
"Oke," jawab Prem pelan.
"Aku jemput jam empat sore."
Sakura bersorak girang, lalu kembali fokus pada Sino. Prem membuang pandangan ke luar jendela. Di luar, gerimis mulai turun membasahi Kota Lama. Langit menangis, mewakili apa yang tidak bisa Prem suarakan.