Galeri Semarang sore itu beraroma campuran antara cat minyak yang tajam, kayu tua, dan parfum mahal yang menguar dari leher para pengunjungnya. Lampu-lampu sorot warm white diarahkan presisi ke dinding-dinding bata ekspos, menerangi kanvas-kanvas besar yang bagi Prem terlihat seperti tumpahan cat yang tidak disengaja.
Prem merasa seperti alien.
Ia berdiri kaku di dekat pintu masuk, mengenakan kemeja hitam yang disetrika licin dan celana bahan. Di sekelilingnya, orang-orang berlalu-lalang dengan gaya nyentrik: celana kodorai gombrong, syal etnik, kacamata bingkai tebal, dan topi baret. Prem menarik kerah kemejanya yang mendadak terasa mencekik.
"Gila, Prem! Bagus banget tempatnya!"
Sakura berdiri di sebelahnya, matanya berbinar memantulkan cahaya lampu sorot. Hari ini Sakura tampil beda. Ia mengenakan dress selutut bermotif bunga matahari dan jaket denim favoritnya. Rambutnya dicepol asal, menyisakan anak rambut yang jatuh di leher jenjangnya. Cantik. Sangat cantik sampai membuat d**a Prem sesak.
"Bagus apanya, Sa?" gumam Prem pelan, matanya menyapu lukisan di hadapan mereka—sebuah kanvas hitam dengan satu titik merah di tengah.
"Itu cuma titik merah. Aku bisa bikin itu pakai sisa cat tembok kamar mandi."
Sakura menepuk lengan Prem, separuh gemas separuh kesal.
"Ih, kamu tuh ya! Itu namanya minimalism, Prem. Itu simbol kesepian di tengah kegelapan semesta. Paham dikit kenapa sih?"
"Aku paham struktur, Sa. Aku paham fondasi. Kalau cuma titik merah dibilang seni..."
"Prem! Sakura!"
Suara bariton itu memotong debat kusir mereka. Dari ujung ruangan, Sino berjalan mendekat. Ia terlihat seperti pusat gravitasi ruangan itu. Semua mata seolah mengikuti gerakannya. Ia mengenakan kaos hitam polos yang dimasukkan ke celana kain high-waist, dan sebuah blazer kasual yang disampirkan di bahu.
"Dateng juga akhirnya," sapa Sino, matanya langsung terkunci pada Sakura, mengabaikan Prem sejenak.
"Lo kelihatan beda, Sa. Lebih... hidup."
Pipi Sakura merona merah, kontras dengan warna bunga matahari di bajunya.
"Ah, biasa aja kok, Sin. Btw, pameran lo keren banget! Rame!"
Barulah Sino menoleh ke Prem. Senyumnya ramah, tapi tidak mencapai mata.
"Halo, Pak Arsitek. Welcome to my chaotic world. Gimana? Pusing liat ginian?"
Prem membalas senyum itu dengan tipis. "Lumayan. Sedikit... abstrak buat selera saya yang simetris."
Sino tertawa renyah. "Seni itu emang buat dirasain, Bro, bukan buat diitung pake kalkulator."
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti tamparan halus di wajah Prem. Sino kemudian memberi isyarat agar mereka mengikutinya. "Yuk, gue mau tunjukin sesuatu. Lukisan yang gue bilang kemarin."
Mereka berjalan membelah kerumunan. Sakura berjalan di samping Sino, mendengarkan dengan antusias setiap kali Sino menjelaskan karya-karyanya. Prem berjalan dua langkah di belakang mereka, persis seperti bodyguard atau sopir pribadi yang sedang menunggu majikannya selesai belanja.
Prem mengamati punggung Sakura. Dulu, Prem lah yang selalu berjalan di samping gadis itu. Menjelaskan sejarah gedung Lawang Sewu, menjelaskan kenapa Simpang Lima didesain melingkar, menjelaskan nama-nama rasi bintang. Dulu, Prem adalah ensiklopedia berjalan bagi Sakura.
Sekarang, Prem hanya catatan kaki yang tidak dibaca.
"Ini dia," kata Sino berhenti di depan sebuah lukisan paling besar di ujung ruangan.
Judulnya: Distorted Bloom.
Lukisan itu penuh warna. Ledakan warna kuning, oranye, dan biru muda yang saling bertabrakan, namun entah bagaimana membentuk siluet samar seorang wanita yang sedang menengadah ke langit. Goresannya kasar, liar, tapi memancarkan energi yang hangat.
Sakura ternganga. Ia melangkah maju, seolah terhipnotis.
"Ini... indah banget, Sin."
"Waktu gue ngelukis ini, gue mikirin kebebasan," suara Sino melunak, terdengar lebih intim. Ia berdiri tepat di samping Sakura, bahu mereka hampir bersentuhan.
"Gue mikirin seseorang yang punya banyak warna di kepalanya, tapi sering terjebak rutinitas. Seseorang yang butuh... meledak."
Sino menoleh ke Sakura.
"Pas ketemu lo kemarin, gue sadar. Lukisan ini mirip lo."
Prem terpaku di tempatnya berdiri. Ia melihat tangan Sakura yang sedikit gemetar karena terharu. Ia melihat tatapan memuja yang diberikan gadis itu pada Sino.
Dalam hati, Prem mencoba menganalisis lukisan itu secara teknis. Komposisi warnanya tidak seimbang. Perspektifnya kacau. Pencahayaannya tidak logis.
Tapi Prem tahu, analisisnya tidak berguna. Karena Sino tidak menawarkan logika. Sino menawarkan perasaan. Sino menawarkan cermin di mana Sakura bisa melihat versi dirinya yang lebih indah dan puitis.
Sementara Prem? Prem hanya menawarkan cermin datar yang jujur. Cermin yang memperlihatkan jerawat, kantung mata, dan realita.
"Gimana menurut lo, Prem?" tanya Sino tiba-tiba, membuyarkan lamunan Prem.
Prem tersentak. Sakura menoleh padanya, menunggu jawaban.
Prem ingin bilang: Jelek. Berantakan. Nggak jelas.
Tapi ia melihat binar di mata Sakura. Binar itu adalah segalanya bagi Prem. Mematikan binar itu adalah dosa terbesar dalam kamus persahabatan mereka.
Prem menelan ludah, menelan egonya bulat-bulat.
"Bagus," jawab Prem singkat, suaranya terdengar parau.
"Warnanya... mirip Sakura."
Sakura tersenyum lebar, lalu tanpa aba-aba memeluk lengan Prem sekilas.
"Tuh kan! Prem aja setuju! Makasih ya, Prem, udah nemenin aku liat ini."
Pelukan itu hanya berlangsung dua detik, lalu Sakura kembali berbalik menghadap Sino, bertanya tentang teknik kuas yang dipakai.
Prem mundur selangkah. Lalu dua langkah.
Ia merasa oksigen di ruangan itu menipis. Udara terasa sesak oleh pretensi dan romansa yang mulai tumbuh di antara dua orang di depannya. Prem butuh udara segar. Prem butuh lari.
"Sa," panggil Prem pelan.
Sakura tidak mendengar. Ia sedang tertawa menanggapi lelucon Sino.
"Sakura," panggil Prem lagi, sedikit lebih keras.
Sakura menoleh, alisnya terangkat. "Kenapa, Prem?"
"Aku keluar bentar ya. Cari angin. Di sini agak... engap."
"Oh, oke! Jangan jauh-jauh ya. Nanti kita pulang bareng kan?"
Pulang bareng. Kata-kata itu terdengar ironis. Mereka mungkin pulang ke arah yang sama, naik motor yang sama, tapi Prem merasa tujuan mereka sudah berbeda.
Prem berbalik, berjalan cepat meninggalkan galeri. Saat ia mendorong pintu kaca berat itu dan melangkah ke trotoar Kota Lama, hujan menyambutnya.
Bukan hujan deras. Hanya gerimis halus yang menusuk-nusuk kulit. Prem bersandar di tiang lampu jalan, merogoh saku celananya, mencari rokok—kebiasaan lama yang sudah ia tinggalkan demi Sakura, tapi kini rasanya ia butuh asap untuk mengusir sesak di d**a.
Nihil. Ia tidak bawa rokok.
Prem menatap ke dalam galeri dari balik kaca yang basah. Di sana, di antara bingkai-bingkai mahal dan lampu sorot, Sakura dan Sino terlihat seperti lukisan sempurna. Pasangan serasi dari dunia yang sama.
Sementara Prem berdiri di luar, di trotoar yang basah, terpisah oleh kaca tebal yang dingin.
"Garis yang tak terlihat," gumam Prem pada rintik hujan. "Ternyata garis itu bukan cuma membatasi, tapi juga memisahkan."
Malam itu, di Kota Lama, Prem menyadari satu hal: Ia bukan lagi pemeran utama dalam cerita Sakura. Ia sedang didegradasi menjadi figuran yang berdiri di latar belakang, menunggu layar ditutup.