Dua puluh menit kemudian, pintu kaca galeri terbuka. Sakura keluar dengan langkah ringan, seolah kakinya tidak menapak trotoar basah. Wajahnya berseri-seri, masih menyisakan sisa tawa dari percakapan terakhirnya dengan Sino di dalam sana.
"Maaf ya, Prem! Lama banget ya?" tanya Sakura, meski nada suaranya tidak terdengar benar-benar menyesal.
"Tadi Sino cerita soal inspirasi warna birunya, seru banget sumpah. Ternyata dia pernah tinggal di pesisir waktu kecil."
Prem menegakkan tubuh dari sandaran tiang lampu. "Nggak apa-apa. Udah kelar?"
"Udah. Dia masih harus ngeladenin kolektor lukisan. Sibuk banget orangnya," Sakura menghela napas kagum, lalu melirik langit yang kian gelap.
"Yah,,,, gerimisnya makin deres. Kita terobos aja yuk?"
Prem mengangguk tanpa suara. Ia menyerahkan helm KYT warna hitam milik Sakura—helm yang baru beli karena helm lama Sakura hilang dicolong sewaktu parkir. Sakura menerimanya, memasangnya dengan cekatan, lalu naik ke jok belakang motor CBR SPORT milik Prem.
"Udah?" tanya Prem.
"Siap, Kapten!" seru Sakura.
Biasanya, di detik ini, Sakura akan melingkarkan tangannya ke pinggang Prem, atau setidaknya memegang bahu Prem sambil bercerita heboh. Biasanya, perjalanan pulang mereka adalah sesi podcast berjalan di mana Sakura menjadi penyiar tunggal yang membahas segala hal mulai dari tukang parkir yang galak sampai bentuk awan.
Tapi malam ini, Prem merasakan kekosongan di punggungnya.
Sakura duduk sedikit berjarak. Tangannya memegang behel belakang motor, bukan pinggang Prem.
Prem memutar gas. Motor melaju membelah jalanan Kota Lama yang licin, melewati Gereja Blenduk yang berdiri angkuh di bawah guyuran hujan.
"Prem!" teriak Sakura melawan suara angin.
"Apa?" sahut Prem, sedikit menoleh.
"Sino keren banget ya!"
Prem mengatupkan rahangnya. Di balik helm full face-nya, ia mendengus kasar. Dari sekian banyak topik—kenapa harus Sino lagi?
"Iya!" jawab Prem singkat, suaranya terendam deru angin dan hujan yang mulai menderas.
"Dia bilang... minggu depan mau ajak aku sketching bareng di Brown Canyon! Dia bilang aku punya bakat visual yang terpendam!"
Prem tidak menjawab. Ia fokus menatap jalanan aspal Jalan Pemuda yang memantulkan lampu kendaraan. Bakat visual terpendam? Sakura menggambar orang saja masih seperti lidi. Sino jelas sedang membual, atau sedang melancarkan jurus rayuan kelas kakap. Dan yang menyedihkan, Sakura memakannya mentah-mentah.
Hujan turun semakin deras. Bukan lagi gerimis romantis, tapi hujan marah yang menampar-nampar kaca helm. Jalanan mulai kabur. Lampu merah di depan menyala buram.
Prem merasakan getaran di jok belakang. Sakura tidak sedang memeluknya kedinginan, tapi sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Cahaya layar ponsel memantul di kaca spion. Prem bisa melihat sekilas: chat room dengan background gelap. Sino.
Bahkan di atas motor, di tengah hujan, di momen yang seharusnya hanya milik mereka berdua, Sakura sedang "berada" di tempat lain.
Ada rasa perih yang bukan berasal dari dinginnya air hujan. Prem merasa seperti supir taksi online yang sedang mengantar penumpang asing, bukan membonceng sahabat yang sudah ia kenal separuh hidupnya.
Jarak fisik mereka hanya beberapa sentimeter, tapi jarak hatinya sudah terentang ribuan kilometer.
DUAR!
Suara petir menggelegar, disusul kilatan cahaya yang menyilaukan. Hujan tumpah ruah dari langit, seolah bendungan raksasa di atas sana jebol. Jarak pandang Prem turun drastis, hanya tersisa beberapa meter.
"Prem! Basah kuyup nih!" jerit Sakura, kali ini panik. Ponselnya buru-buru ia masukkan ke dalam tas.
"Kita neduh!" teriak Prem.
"Di mana?"
Prem menyipitkan mata. Di depan sana, siluet gedung megah dengan ratusan pintu dan jendela berdiri kokoh. Lawang Sewu. Landmark ikonik Semarang yang selalu terlihat mistis sekaligus romantis saat hujan.
"Lawang Sewu! Pegangan!"
Prem membelokkan motornya tajam ke arah trotoar lebar di depan gedung tua itu. Ia naik ke emperan yang terlindung atap kanopi kecil di dekat pintu gerbang samping.
Mereka melompat turun dari motor. Prem buru-buru melepas helmnya yang basah, lalu membantu Sakura melepas helmnya. Rambut Sakura sedikit lepek, tapi wajahnya yang basah terkena cipratan air justru terlihat segar.
Mereka berlari kecil menuju area yang lebih kering, berdiri bersisian di bawah atap bangunan kolonial itu. Napas mereka memburu, mengeluarkan uap putih di udara malam yang dingin.
Di depan mereka, Tugu Muda berdiri gagah di tengah guyuran badai. Mobil-mobil melintas pelan dengan lampu hazard menyala.
Suasana mendadak hening di antara mereka, hanya suara "shhh" konstan dari jutaan tetes air yang menghantam aspal.
Prem menoleh ke samping. Sakura sedang sibuk mengibas-ngibaskan jaket jeans-nya. Air menetes dari ujung hidungnya.
"Gila, deres banget tiba-tiba," gerutu Sakura, lalu menoleh ke Prem dan tersenyum. "Untung kamu sigap, Prem. Kalau nggak, aku udah jadi tikus kecebur got."
Prem menatap mata itu. Senyum itu.
Di sinilah mereka. Terjebak hujan. Berdua. Di tempat yang sering disebut orang sebagai lokasi paling romantis di Semarang saat malam.
Darah Prem berdesir kencang. Adrenalin sisa berkendara bercampur dengan perasaan yang sudah ia pendam terlalu lama. Suasana dingin, suara hujan yang mengisolasi mereka dari dunia luar, dan kedekatan fisik ini...
Semesta seolah sedang memberinya panggung. Sekarang atau tidak sama sekali, bisik suara liar di kepala Prem. Sebelum Sino mengambil semuanya. Sebelum kamu benar-benar jadi penonton.
"Sakura," panggil Prem. Suaranya terdengar berbeda, lebih berat dan dalam.
Sakura berhenti mengibaskan jaketnya. Ia menatap Prem, matanya bulat jenaka. "Kenapa, Prem? Kamu kedinginan? Mau pinjem jaket aku..? ...Tapi basah juga sih."
Prem melangkah satu langkah mendekat. Jantungnya memukul-mukul rusuk, sakit sekali rasanya.
"Aku mau ngomong sesuatu," kata Prem. Tangannya terkepal di sisi tubuh, menahan gemetar.
Ekspresi Sakura berubah sedikit bingung, tapi ia tetap tersenyum. "Ngomong apa? Kok serius banget muka kamu? Kayak mau sidang skripsi aja."
Prem menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan aroma hujan dan aroma sampo stroberi Sakura.
Ini saatnya. Persetan dengan Sino. Persetan dengan persahabatan. Prem ingin egois sekali saja.
"Sebenernya, selama ini aku....."
Kata-kata itu sudah di ujung lidah. Tinggal diluncurkan. Tinggal dilepaskan untuk mengubah nasib mereka selamanya.
Prem menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering aspal di musim kemarau, meski udara di sekitar Lawang Sewu sedang sangat lembap. Dunia seolah melambat. Suara hujan yang tadinya riuh, kini terdengar seperti dengung statis yang menjauh. Di matanya, hanya ada Sakura.
"Sebenarnya, selama ini aku..." Prem menggantung kalimatnya. Ia menatap lekat-lekat mata cokelat Sakura yang jernih. Mata yang selalu menatapnya dengan kepercayaan penuh, namun tanpa binar romansa.
"Aku....... aku ngerasa kalau kita........."
Tangan Prem bergerak tanpa sadar, hendak menyentuh bahu Sakura, hendak menarik gadis itu sedikit lebih dekat agar suaranya tidak perlu bersaing dengan guntur. Namun, gerakannya terhenti.
Mata Prem menangkap sesuatu yang menggantung di ritsleting tas selempang Sakura yang tersampir di bahunya.
Sebuah gantungan kunci akrilik berbentuk hati yang sudah agak kusam dan tergores. Di dalamnya ada foto mereka berdua saat bekerja di pabrik semarang bawah , dengan tulisan kecil di bawahnya: Best Friends Forever.
Gantungan kunci itu bergoyang kecil ditiup angin, seolah-olah menjadi papan peringatan yang menyala terang di depan mata Prem.
Peringatan: Jangan Melampaui Garis Ini.
Prem tertegun. Kata-kata "BFF" itu mendadak terasa seperti vonis penjara seumur hidup. Ia teringat kembali semua momen mereka. Saat Sakura menangis karena putus cinta di Tugu muda , Prem-lah yang menghapus air matanya sambil berkata, "Tenang, aku nggak bakal ke mana-mana. Aku kan sahabat kamu."
Saat itu, kata "sahabat" adalah janji keamanan. Sekarang, kata itu adalah rantai yang membelenggu.
Prem sadar. Jika ia mengucapkan kalimat itu sekarang—kalimat "Aku cinta kamu"—maka gantungan kunci itu harus dibuang. Foto itu tidak akan bermakna sama lagi. Dan jika Sakura menolaknya—dan melihat binar di matanya saat bersama Sino, kemungkinan besar Sakura akan menolaknya—maka ia tidak akan punya tempat lagi untuk pulang.
Ia akan kehilangan Sakura. Bukan hanya sebagai kekasih yang belum ia miliki, tapi sebagai sahabat yang selalu ada.
"Sebenarnya selama ini kamu......apa, Prem?" Sakura mendesak, dahinya berkerut kecil karena penasaran.
"Kok malah bengong?"
Prem memejamkan mata sekejap. Ia mengembuskan napas panjang, melepaskan semua keberanian yang tadi sempat terkumpul hingga ke ujung lidah. Ia menarik tangannya kembali, memasukkannya ke dalam saku celana yang basah.
"Sebenarnya selama ini aku...... mau bilang kalau kamu tambah gemuk dech sampai naik motor Sport berasa naik Matic," kata Prem, suaranya berubah menjadi nada mengejek yang dipaksakan. Ia memaksakan sebuah tawa hambar.
Sakura terbelalak. Ia memukul lengan Prem dengan keras.
"Ih! Prem! Aku udah serius dengerin, tahu! Kamu tuh bener-bener ya!"
"Habisnya kamu dandan kayak gitu cuma buat liat lukisan titik merah doang," lanjut Prem, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang masih menggila.
"Sino pasti ketawa di dalem hati liat kamu seantusias itu."
"Sino nggak kayak kamu ya!" bantah Sakura sambil merengut.
"Dia itu menghargai ekspresi. Kamu tuh emang dasarnya kaku, beton, semen! Nggak ada seninya!"
Sakura kembali mengomel, menceritakan betapa Sino sangat berbeda dengan Prem yang dianggapnya "tidak asyik". Setiap kata pujian untuk Sino yang keluar dari mulut Sakura terasa seperti jarum yang ditusukkan ke hati Prem satu per satu. Namun, Prem tetap tersenyum.
Ia memilih rasa sakit ini—rasa sakit mendengarkan gadis yang ia cintai memuji pria lain—daripada risiko tidak bisa mendengarkan suara gadis itu sama sekali
Hujan mulai sedikit mereda, berubah menjadi gerimis tipis.
"Udah nggak terlalu deras, yuk pulang," ajak Prem, suaranya kembali datar dan profesional.
"Yuk! Aku laper banget, gara-gara tadi cuma minum es Milo doang. Kita mampir beli Nasi Kucing dulu ya di deket simpang lima ?"
"Iya, Sa. Apa sih yang enggak buat kamu."
Mereka kembali menaiki motor. Di sepanjang jalan pulang, Sakura kembali bercerita. Kali ini tangannya sudah kembali memegang bahu Prem untuk menjaga keseimbangan. Prem merasakan sentuhan itu—sentuhan seorang sahabat.
Di bawah lampu-lampu jalan Semarang yang berpendar di aspal basah, Prem berbisik dalam hati, sebuah janji yang hanya diketahui oleh Tuhan dan rintik hujan.
"Tak apa, Sakura. Biar aku jadi penunggu garis ini. Biar aku jadi penjaga pintu hatimu yang tak pernah terbuka untukku. Asal kamu tidak pergi, aku rela pura-pura tidak punya hati".