Malam itu, Prem mengantar Sakura pulang sampai ke depan gang rumahnya . Saat Sakura melambaikan tangan dengan ceria dan masuk ke dalam, Prem tetap diam di atas motornya untuk waktu yang lama.
Ia melihat ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari grup w******p kantornya, tapi matanya beralih ke aplikasi i********:. Ia melihat profil Sakura. Foto terbaru sudah muncul: foto Sakura yang tersenyum di samping lukisan Distorted Bloom.
Caption: "Sometimes, someone sees the colors you've been hiding from yourself. Thank you, @Sino_Art."
Prem mematikan layar ponselnya. Ia memacu motornya menuju perlintasan rel kereta api Alas Tua, membiarkan angin dingin menusuk dadanya. Di kota ini, di antara ribuan lampu, Prem adalah rahasia paling sunyi yang pernah ada.
Dua minggu setelah malam di Lawang Sewu, jarak bukan lagi sekadar kiasan bagi Prem. Jarak itu kini memiliki wujud nyata: waktu.
Prem menatap layar monitor di kantornya yang terletak di lantai empat sebuah gedung di Jalan Pandanaran. Garis-garis denah rumah mewah yang sedang ia kerjakan tampak buram. Matanya perih. Bukan hanya karena ia kurang tidur setelah lembur tiga malam berturut-turut, tapi karena setiap kali ia menutup mata, ia melihat senyum Sakura yang berbeda—senyum yang bukan ditujukan untuknya.
Ponselnya bergetar di atas meja kayu jati. Sebuah notifikasi w******p.
Sakura: Prem! Sibuk nggak?
Prem terdiam beberapa detik sebelum membalas. Jari-jarinya menggantung di atas keyboard.
Prem: Lagi cek progres proyek Tembalang. Kenapa, Sa?
Sakura: Yah..... padahal aku mau minta temenin ke pameran komunitas foto di Kota Lama. Tapi ya udah kalau sibuk. Sino juga lagi ada workshop di sana sih, jadi mungkin aku bareng dia aja.
Prem meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia bersandar pada kursi kerjanya, menatap langit-langit kantor yang putih bersih. "Sino lagi, Sino lagi".
Dulu, kata "sibuk" tidak pernah ada dalam kamus Prem jika itu urusan Sakura. Ia pernah rela meninggalkan rapat penting hanya karena ban motor Sakura bocor di TlogoSari . Tapi sekarang, "sibuk" adalah satu-satunya benteng pertahanan yang Prem miliki agar hatinya tidak semakin hancur berkeping-keping.
Ia mulai menarik diri.
Prem mulai sengaja tidak mengangkat telepon Sakura pada dering pertama. Ia mulai jarang mengirimkan meme lucu di tengah hari. Ia mulai melewatkan rutinitas sarapan Soto Bangkong mereka di hari Sabtu.
Hasilnya? Sakura mulai terbiasa tanpa dirinya. Dan itulah ketakutan terbesar Prem yang kini menjadi kenyataan.
Tiga hari kemudian, sore hari di sebuah kafe estetik di daerah Siranda. Tempat ini memiliki balkon yang langsung menghadap ke arah bawah, menyajikan pemandangan kota Semarang yang mulai menyalakan lampunya.
Prem duduk sendirian, memesan kopi hitam paling pahit yang mereka punya. Ia sedang menunggu seseorang. Bukan Sakura, melainkan seorang kontraktor. Namun, takdir rupanya sedang ingin bermain-main dengan perasaannya.
"Prem?"
Suara itu akrab. Terlalu akrab.
Prem menoleh. Di pintu masuk balkon, Sakura berdiri dengan gaun terusan berwarna biru muda yang cantik. Di belakangnya, berdiri Sino. Pria itu mengenakan kemeja linen hitam yang lengannya digulung hingga siku, terlihat sangat serasi dengan Sakura.
"Eh, Sa," Prem berusaha bersikap senatural mungkin, meski jantungnya berdegup tidak keruan.
"Ngapain di sini?"
"Habis dari galeri bawah, terus Sino laper. Nggak nyangka ketemu kamu di sini,"
Sakura mendekat, wajahnya terlihat sedikit heran.
"Kamu... sendirian? Tumben nggak kabarin aku kalau mau ke sini?"
"Ada janji sama orang, sebentar lagi datang," bohong Prem. Kontraktornya memang akan datang, tapi masih satu jam lagi.
Sino mengangguk kecil ke arah Prem, senyumnya tetap terlihat santai dan penuh percaya diri.
"Gimana kabar proyek lo, Bro? Pasti makin sukses ya, arsitek hits Semarang."
"Biasa aja," jawab Prem singkat.
"Prem sekarang susah banget diajak main, Sin," sela Sakura dengan nada yang terdengar seperti keluhan, tapi juga terselip rasa rindu yang tidak ia sadari.
"Diajak makan siang bilangnya rapat. Diajak nonton bilangnya lembur. Kayaknya Semarang mau dibangun gedung pencakar langit semua ya sama kamu?"
Prem hanya tersenyum tipis. "Namanya juga kerja, Sa."
"Tapi jangan lupa hidup juga, Prem," Sino menepuk bahu Prem pelan. Gerakan yang terasa sangat protektif, seolah-olah Sino sedang menandai wilayahnya.
"Kerja terus tapi nggak punya waktu buat orang tersayang, buat apa?"
Prem menatap tangan Sino di bahunya, lalu beralih menatap mata Sino. Ada sesuatu di sana. Sebuah pengakuan. Sino tahu. Sino sadar bahwa Prem memiliki perasaan lebih pada Sakura, dan Sino sedang menunjukkan bahwa dialah yang sekarang memegang kendali.
"Orang tersayang aku pasti paham kok kalau aku lagi berjuang buat masa depan," balas Prem dingin, melepaskan bahunya dari tangan Sino dengan halus.
Suasana mendadak menjadi kaku. Sakura menatap keduanya bergantian, merasa ada tegangan listrik yang tidak ia mengerti sumbernya.
"Eh, itu mejanya udah siap, Sin," Sakura menarik lengan Sino, mencoba mencairkan suasana.
"Prem, kita ke meja sana ya. Kalau urusan kamu udah kelar, gabung aja!"
"Iya, nanti kalau sempat."
Prem memperhatikan mereka berjalan menjauh menuju meja di sudut balkon. Dari tempatnya duduk, Prem bisa melihat bagaimana Sino menarikkan kursi untuk Sakura. Ia bisa melihat bagaimana Sino menyelipkan anak rambut Sakura ke belakang telinga gadis itu.
Dan yang paling menyakitkan, Prem melihat bagaimana Sakura menunduk malu dengan wajah merona.
Itu adalah ekspresi yang tidak pernah Sakura berikan untuknya selama lima belas tahun. Untuk Prem, Sakura adalah buku yang terbuka lebar. Tapi untuk Sino, Sakura adalah sebuah misteri yang ingin dipecahkan.
Prem merogoh saku jaketnya. Ia menemukan sebuah benda kecil di sana. Cincin perak sederhana yang ia beli tiga bulan lalu di sebuah toko perhiasan kuno di kawasan pecinan. Cincin yang rencananya akan ia berikan pada Sakura tepat di hari ulang tahun gadis itu bulan depan.
Prem menggenggam cincin itu erat-erat hingga pinggirannya menekan kulit telapak tangannya.
Retak.
Ia merasa ada sesuatu yang patah di dalam dadanya. Bukan cinta, tapi harapan.
Prem berdiri sebelum kontraktornya datang. Ia meninggalkan uang di atas meja, bahkan sebelum kopinya habis. Ia tidak sanggup lagi duduk di sana, menjadi saksi bisu bagaimana dunianya perlahan-lahan diambil alih oleh orang asing bernama Sino.
Saat ia berjalan melewati meja Sakura, ia tidak menoleh. Namun, ia mendengar suara tawa Sakura yang renyah. Tawa yang dulu hanya miliknya.
Di parkiran, Prem menyalakan mesin motornya. Ia memacu motornya menuju arah Gombel, menuju tanjakan yang lebih tinggi. Ia butuh ketinggian. Ia butuh melihat Semarang dari atas, untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanyalah satu titik kecil yang tidak berarti di kota yang luas ini.
Bahwa hilangnya satu orang dari hidupnya, seharusnya tidak membuat dunianya berhenti berputar.
Tapi Prem tahu, ia sedang membohongi dirinya sendiri.