Angin malam di daerah Gombel terasa jauh lebih menusuk dibandingkan di pusat kota. Prem memarkir motornya di tepi jalan, tepat di titik di mana lampu-lampu kota Semarang terlihat seperti tumpahan berlian di atas hamparan beludru hitam. Di kejauhan, pelabuhan Tanjung Mas berkedip malu-malu, sementara hiruk pikuk kendaraan di jalan tol terlihat seperti aliran lava cahaya yang lambat.
Prem melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang acak-acakan diterpa angin. Ia menyandarkan punggungnya pada jok motor, menatap kosong ke arah cakrawala.
Tempat ini adalah "santuari" mereka. Dulu, jika Sakura sedang stres dikejar tenggat tulisan atau jika Prem sedang pening menghadapi revisi desain, mereka akan lari ke sini. Mereka akan duduk di atas motor sambil berbagi satu cup jagung s**u keju (jasuke) yang panas.
Tapi malam ini, jasuke itu hanya ada satu di tangan Prem, dan rasanya hambar.
Ponselnya bergetar lagi. Nama Sakura berkedip di layar. Prem membiarkannya sampai getaran itu berhenti sendiri. Ia tidak siap mendengar suara ceria Sakura yang mungkin akan menceritakan betapa enaknya makan malam dengan Sino tadi.
Namun, satu menit kemudian, sebuah pesan masuk.
Sakura: Prem, aku tahu kamu di Gombel. Motor kamu tadi lewat pas aku baru mau pesen makan. Kamu kenapa sih? Kenapa kabur gitu aja?
Prem menghela napas. Sakura memang tidak peka soal perasaan, tapi dia sangat peka soal kebiasaan Prem.
Prem: Cuma mau cari angin. Kontraktornya batal dateng.
Sakura: Bohong. Tunggu situ. Aku ke sana. Sama Sino.
Membaca kata "Sino", Prem merasa perutnya mual. Ia tidak ingin melihat mereka berdua di sini. Di tempat ini. Ini adalah tanah suci persahabatan mereka, dan kehadiran Sino terasa seperti sebuah invasi.
Sepuluh menit kemudian, sebuah motor Megapro hitam berhenti di belakang motor Prem. Sakura turun dengan langkah terburu-buru, wajahnya menunjukkan campuran antara khawatir dan kesal. Sino menyusul di belakangnya dengan langkah yang lebih santai, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
"Prem! Kamu tuh ya, bikin panik aja!" Sakura berdiri di depan Prem, berkacak pinggang. "Kenapa tadi di kafe nggak bilang kalau mau pergi? Terus kenapa nggak angkat telepon?"
Prem tetap tenang, meski di dalam hatinya badai sedang berkecamuk.
"Aku nggak apa-apa, Sa. Cuma butuh waktu sendiri."
"Sendiri atau menghindar?" Sino menyambar, suaranya tenang tapi tajam. Ia berdiri di samping Sakura, seolah-olah sedang menunjukkan posisi barunya sebagai pelindung.
"Sakura merasa ada yang salah sama lo sejak pameran itu, Prem. Lo kayak... narik diri."
Prem menatap Sino. "Ini urusan aku sama Sakura, Sin. Kamu nggak perlu ikut campur."
"Urusan Sakura itu urusan gue juga sekarang," balas Sino tanpa ragu. Ia menoleh ke arah Sakura, memberinya senyum tipis yang menenangkan, lalu kembali menatap Prem. "Gue orang seni, Prem. Gue biasa baca ekspresi. Gue tahu apa yang lo rasain tiap kali liat gue sama Sakura."
Darah Prem mendidih. Ia tidak suka dibaca. Ia tidak suka rahasianya ditelanjangi di depan orang yang paling ia waspadai.
"Sin, jangan sekarang..." Sakura mencoba menengahi, suaranya terdengar cemas.
"Nggak, Sa. Dia harus tahu," Sino melangkah satu langkah lebih maju.
"Lo suka kan sama Sakura? Udah lama, kan?"
Hening.
Hanya ada suara angin yang menderu dan suara klakson jauh dari bawah bukit. Sakura tertegun, matanya melebar menatap Prem. "Prem? Apa yang diomongin Sino? Kamu... itu nggak bener kan?"
Prem merasa dunia di bawah kakinya seolah runtuh. Ia menatap Sakura—wajah polos itu, wajah yang sangat ia sayangi. Ia melihat ketakutan di mata Sakura. Bukan takut kehilangan cinta, tapi takut kehilangan zona nyaman persahabatan mereka.
Prem melihat ke arah Sino. Pria itu tampak menang, seolah ia baru saja melakukan skakmat dalam permainan catur yang panjang.
"Prem, jawab..." suara Sakura mulai bergetar. "Katakan kalau Sino salah."
Prem mengepalkan tangannya kuat-kuat. Inilah saatnya. Pengakuan atau penyangkalan? Jika ia mengaku, tembok yang selama tujuh tahun ia bangun akan hancur. Jika ia menyangkal, ia akan terus hidup dalam kebohongan yang membunuh perlahan.
Ia menatap gantungan kunci "BFF" yang masih menggantung di tas Sakura.
"Sino salah, Sa," kata Prem akhirnya. Suaranya terdengar datar, mati rasa.
"Aku nggak suka sama kamu... dalam artian yang dia maksud."
Sakura mengembuskan napas lega yang sangat panjang, bahunya merosot.
"Tuh kan, Sin! Aku bilang juga apa. Prem itu udah kayak kakak aku sendiri. Mana mungkin dia ada rasa."
Sino hanya mengangkat alis, tidak terlihat percaya sedikit pun, tapi dia tidak mendesak lagi. Dia tahu dia sudah berhasil menanamkan benih keraguan di kepala Prem.
"Maafin Sino ya, Prem," Sakura mendekati Prem, menyentuh lengannya dengan lembut. "Dia emang kadang suka sok tahu kalau soal perasaan orang. Kita masih baik-baik aja kan?"
Prem memaksakan sebuah senyum. Senyum paling menyakitkan yang pernah ia buat seumur hidupnya.
"Iya, Sa. Kita selalu baik-baik aja."
"Ya udah, yuk balik. Di sini dingin banget," ajak Sakura.
"Kalian duluan aja. Aku masih mau di sini sebentar," kata Prem.
"Yakin?"
"Iya. Duluan aja."
Sakura mengangguk, lalu berjalan kembali naik motor bersama Sino. Sebelum memutar gas motor , Sino menoleh ke arah Prem dan memberikan satu anggukan kecil—sebuah penghormatan bagi musuh yang baru saja menyerah kalah.
Motor itu melaju pergi, meninggalkan Prem sendirian di kegelapan Puncak Gombel.
Begitu lampu belakang motor itu menghilang di tikungan, Prem merogoh sakunya. Ia mengeluarkan cincin perak itu. Ia menatapnya sebentar di bawah cahaya rembulan yang redup, lalu dengan satu gerakan cepat, ia melemparkannya jauh ke dalam semak-semak di lereng bukit.
Cincin itu hilang. Sama seperti harapannya.
Prem berlutut di samping motornya, menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia tidak menangis bersuara, hanya napasnya yang tersengal-sengal menahan sesak.
Di atas sana, langit Semarang tampak begitu luas, sementara hatinya terasa begitu sempit dan terpenjara oleh satu kata yang kini ia benci lebih dari apa pun: Sahabat.
Tiga minggu berlalu sejak insiden di Puncak Gombel. Prem benar-benar telah menjadi hantu. Ia berangkat kerja lebih pagi dan pulang lebih larut. Ia mengganti rute pulangnya agar tidak melewati jalan yang sering ia lalui bersama Sakura. Ia bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengambil proyek renovasi sebuah resor di Karimunjawa selama sebulan—hanya agar ia punya alasan sah untuk tidak berada di daratan yang sama dengan Sakura.
Namun, kota Semarang tidak cukup luas untuk bersembunyi selamanya.
Pagi itu, sebuah amplop bertekstur kasar dengan warna terracotta mendarat di atas meja kantornya. Tidak ada pengirimnya, hanya tertulis nama "Prem" dengan kaligrafi yang sangat rapi. Kaligrafi yang Prem kenali sebagai gaya tangan Sino.
Prem membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah kartu undangan pameran kolaborasi.
"META-MORPHOSIS: A Journey of Two Souls."
Sino_Art x Sakura.
Mata Prem terpaku pada nama kedua. Sakura.
Di bagian bawah tertulis: "Menampilkan peluncuran buku esai visual pertama oleh Sakura, dengan ilustrasi sampul dan kurasi oleh Sino."
Dunia Prem seolah berhenti berputar sejenak. Sakura akhirnya mewujudkan mimpinya menerbitkan buku, sebuah mimpi yang selalu mereka bicarakan setiap malam di Simpang Lima. Namun, di sampul buku itu, bukan nama Prem yang tertulis sebagai pendukung utamanya.
Ponselnya berbunyi. Pesan suara dari Sakura. Prem ragu, tapi akhirnya ia menekan tombol play.
"Prem... kamu udah terima undangannya, kan? Aku tahu kamu lagi sibuk banget, tapi tolong... tolong dateng ya? Ini hari besar aku. Aku nggak mau ngerayain ini tanpa kamu. Please, Prem. Sekali ini aja, muncul ya?"
Suara Sakura terdengar serak, ada nada memohon yang membuat pertahanan Prem runtuh seketika. Kemarahan dan rasa sakitnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang besar. Ia telah membiarkan ego dan luka hatinya menjauhkan dirinya dari momen paling berharga dalam hidup sahabatnya.