BAB 6 : Undangan yang Tidak Diinginkan

1066 Words
Malam pameran itu tiba. Galeri seni di kawasan Kota Lama didekorasi dengan lampu-lampu gantung yang hangat dan rangkaian bunga liar. Musik jazz halus mengalun, memenuhi ruangan yang dipadati oleh komunitas seni dan media. Prem berdiri di sudut ruangan, memegang segelas air mineral. Ia mengenakan kemeja hitam yang paling rapi yang ia punya. Matanya mencari-cari, dan akhirnya ia menemukan Sakura di tengah ruangan. Gadis itu tampak luar biasa. Ia mengenakan kebaya modern berwarna putih tulang dengan rambut yang disanggul rapi. Ia berdiri di samping sebuah standing poster yang menampilkan sampul bukunya. Di sebelahnya, tentu saja, ada Sino yang terlihat bangga, sesekali merangkul bahu Sakura saat mereka berfoto dengan tamu. Sakura menoleh ke arah pintu dan matanya bertemu dengan mata Prem. Wajahnya langsung cerah. Ia meminta izin pada Sino dan hampir berlari menghampiri Prem. "Prem! Kamu dateng!" Sakura langsung memeluk Prem erat. Prem membeku sejenak, lalu menepuk punggung Sakura pelan. "Selamat ya, Sa. Akhirnya bukunya terbit." Sakura melepaskan pelukannya, matanya berkaca-kaca. "Makasih, Prem. Makasih banget kamu mau dateng. Aku pikir kamu bener-bener bakal benci sama aku." "Mana mungkin aku bisa benci kamu," gumam Prem, nyaris tak terdengar. "Sini, liat bukunya!" Sakura menarik tangan Prem menuju meja pajangan. Di sana, berderet buku berjudul "Garis yang Menghubungkan". Prem membelai sampulnya. Kualitas cetakannya bagus, ilustrasi Sino memang harus diakui sangat artistik. Namun, saat Prem membuka halaman pertama, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam. Di halaman persembahan, tertulis: "Untuk Prem, sahabat yang mengajariku cara melihat keindahan dalam struktur dan kesabaran dalam waktu. Tanpa garis-garis darimu, aku takkan pernah bisa mewarnai duniaku." Prem merasakan tenggorokannya tercekat. Di tengah semua kemesraannya dengan Sino, Sakura tetap menempatkan Prem di halaman pertama hidupnya. "Sino yang usul supaya aku tulis itu," kata Sakura pelan di sampingnya. "Dia bilang, meskipun dia yang kasih warna sekarang, kamu yang udah buatin fondasinya selama bertahun-tahun." Prem menoleh dan melihat Sino berdiri tak jauh dari mereka, sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Kali ini, tidak ada tatapan menantang dari Sino. Pria itu justru mengangguk kecil, seolah mengakui kekalahan atau mungkin... sebuah penghormatan. Namun, momen haru itu terputus saat pembawa acara naik ke panggung kecil. "Selamat malam semuanya! Malam ini bukan hanya perayaan atas terbitnya buku Sakura, tapi juga ada kejutan spesial dari rekan kolaborasinya. Sino, silakan naik ke panggung!" Tepuk tangan riuh pecah. Sino naik ke panggung dengan percaya diri. Ia memegang mikrofon dan menatap Sakura dengan intensitas yang membuat seisi ruangan ikut menahan napas. "Malam ini, buku ini berjudul 'Garis yang Menghubungkan'," suara Sino menggema. "Tapi bagi saya, garis itu hari ini harus berubah menjadi sesuatu yang lebih mengikat. Sakura..." Sino merogoh saku blazer-nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru merah. Seluruh ruangan mendadak sunyi. Prem merasa lantai yang ia injak seolah bergoyang. "Di depan semua saksi di sini, di hari kesuksesanmu... maukah kamu menulis bab-bab selanjutnya dalam hidupmu bersamaku? Sakura, will you marry me?" Lampu sorot kini jatuh tepat pada Sakura yang berdiri terpaku di depan panggung. Mulutnya tertutup tangan, matanya basah oleh air mata kejutan. Prem berdiri hanya satu meter di belakang Sakura. Ia melihat punggung gadis itu gemetar. Ia melihat dunia yang selama ini ia jaga, kini sedang berpindah tangan secara resmi di depan matanya sendiri. Ia melihat ke arah penonton yang mulai bersorak "Terima! Terima!". Prem menarik napas yang terasa seperti ribuan jarum. Ia harus memutuskan sekarang: Tetap berdiri di sana dan melihat Sakura menjawab "Iya", atau pergi sebelum hatinya benar-benar berhenti berdetak. Dunia di sekitar Prem mendadak menjadi sangat bising, namun di telinganya, semuanya terdengar seperti suara di bawah air. Redup dan jauh. Sorak-sorai pengunjung galeri, kilatan lampu kamera ponsel, dan musik jazz yang mendadak berubah temponya menjadi lebih ceria—semuanya terasa seperti gangguan pada sebuah adegan film yang ingin ia lompati. Prem menatap punggung Sakura. Ia melihat gadis itu melangkah maju, mendekati panggung tempat Sino berlutut. Setiap langkah Sakura adalah satu paku terakhir di peti mati harapan Prem. "Iya... aku mau, Sin!" Suara Sakura pecah oleh tangis bahagia. Tepuk tangan meledak. Sino berdiri, memeluk Sakura, dan memutar tubuh gadis itu di udara. Sebuah pemandangan yang sangat artistik, sangat sempurna untuk pameran seni malam itu. Prem mundur satu langkah. Lalu dua langkah. Ia berbalik, menabrak bahu beberapa tamu tanpa meminta maaf, dan berjalan cepat keluar dari galeri. Udara malam Kota Lama yang biasanya lembap kini terasa kering di paru-parunya. Ia tidak pulang ke kosnya. Ia langsung menuju kantor, mengambil tas kerjanya yang berisi paspor dan dokumen proyek, lalu memacu motornya ke arah Pelabuhan Tanjung Mas. Ia tidak sanggup lagi berada di Semarang. Ia tidak sanggup bangun besok pagi dan melihat update i********: Sakura tentang pertunangannya. Ia harus pergi ke tempat di mana sinyal ponsel buruk dan hanya ada suara ombak. Karimunjawa. Proyek resor itu adalah penyelamatnya. Tiga hari kemudian. Prem berdiri di atas dermaga kayu di salah satu pulau kecil di gugusan Karimunjawa. Di hadapannya, air laut berwarna biru toska gradasi hingga biru tua membentang tanpa batas. Di sini, tidak ada Lawang Sewu. Tidak ada Simpang Lima. Tidak ada aroma kopi pahit yang sering ia minum bersama Sakura. Hanya ada bau garam dan keringat para pekerja bangunan yang sedang memasang fondasi cottage di atas air. "Mas Prem! Ini denah untuk bagian bar-nya ada yang kurang presisi!" teriak seorang mandor. Prem menghampiri mereka. Ia menenggelamkan dirinya dalam kerja keras. Ia ikut memanggul kayu, ikut berjemur di bawah matahari yang membakar kulitnya hingga menghitam, dan menghabiskan malam dengan menggambar ulang denah di bawah lampu teplok yang berkedip. Ia kelelahan secara fisik, dan itulah yang ia cari. Karena jika tubuhnya terlalu lelah untuk bergerak, otaknya pun akan terlalu lelah untuk mengingat. Namun, di minggu kedua, sebuah kapal logistik datang membawa bahan bangunan—dan sebuah surat. Di pulau ini, surat fisik kadang lebih bisa diandalkan daripada pesan digital yang sering pending. Surat itu dari Sakura. Prem, Kamu pergi gitu aja. Kamu nggak ada pas Sino masangin cincin itu. Kamu bahkan nggak jawab pesan singkatku. Sino bilang aku harus kasih kamu waktu. Tapi Prem, aku nggak butuh waktu, aku butuh sahabatku. Kenapa kamu harus ke Karimunjawa di saat aku paling butuh kamu buat bantu milih dekorasi pernikahan? Aku tahu kamu sibuk dengan proyek resor itu, tapi tolong... jangan jadi orang asing. Aku akan menikah tiga bulan lagi di Semarang Atas. Aku ingin kamu yang jadi saksi dari pihakku. Kamu adalah orang paling penting setelah orang tuaku, Prem. Pulang ya? — Sakura. Prem meremas surat itu hingga lecek. Ia duduk di pinggir pantai, membiarkan ombak kecil membasahi kakinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD